Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 96


__ADS_3

Rani dan Hendrik beserta beberapa pria sangar yang ada di sana terkejut mendengar suara orang berdehem. Aditya sambil tersenyum sudah berdiri di depan pintu ruangan tempat kakak dan ayah Rani tadi masuk. Rani terlihat kaget bukan main dia tidak menyangka jika Aditya akan mengikutinya. Hendrik terlihat mengernyitkan keningnya.


“Wah wah, bukankah ruangan ini terlalu terbuka bos,” ucap Aditya sambil berjalan mendekat. Pria sangar yang ada di ruangan itu juga mulai bergerak waspada.


“Siapa lu hah?! Gue nggak pernah liat lu ada di sini,” tanya Hendrik.


“Lah, Aku kira tadinya kita saling mengenal. Kelihatannya aku salah orang,” jawab Aditya sambil melangkah mendekati pintu. Tapi lima orang pria bertubuh kekar menghadangnya.


“Lu nggak bisa seenaknya pergi dari ruangan ini! Terlebih lu udah mengganggu di sini!” bentak Hendrik sambil bangkit. Rani tampak mulai cemas dengan situasi di ruangan itu.


“Wah, apa itu sambutan lu kepada tamu bar ini?”


“Sikat dia!”


Dua pria langsung maju menyerang, Aditya dengan lincah bisa menghindarinya. Tiga orang lagi menyerang serentak, Aditya dalam sekejap sudah menumbangkan seorang lawannya hingga berdarah. Empat orang lawannya secara bertubi tubi menyerang. Namun Aditya bisa mengimbangi mereka semua. Hendrik terlihat cemas melihat hal itu.


“Kalian yang ada di dalam cepat keluar! Bantu menghajar orang itu,” teriak Hendrik ke ruangan sebelah.


“Kalian!” teriak Hendrik, karena tidak ada yang menjawab dia segera membuka pintu ruangan sebelah, matanya terbelalak karena semua anak buahnya yang ada di sana sudah tergeletak.


“Percuma, aku sudah bermain-main dengan mereka tadi,” ucap Aditya sambil tersenyum.


“Lu jangan banyak tingkah! Atau orang tua wanita ini bakalan gue habisi!” ancam Hendrik.


“Hahaha, mereka sudah ada di tempat yang aman. Lu juga nggak akan bisa nyentuh mereka!” tegas Aditya.


Aditya kemudian sibuk kembali dengan serangan brutal empat musuhnya yang kini menggunakan beberapa benda di dekatnya. Hendrik hanya geleng-geleng kepala, dia tidak menyangka dalam sekejap Aditya sudah bisa melumpuhkan banyak anak buahnya. Mereka berempat adalah anak buah terkuat yang selalu bersamanya.


Seorang pria mengambil kursi dan mencoba menghantamkannya ke tubuh Aditya namun berhasil dihindari. Seorang lagi menggunakan tongkat bisbol untuk menyerang Aditya namun ditahan dengan kursi lain yang ada di ruangan itu. Dua orang sisanya menggunakan pisau untuk menyerang, namun dengan lincah Aditya berhasil menghindari serangan mereka.


Pria yang membawa kursi maju menyerangnya, Aditya dengan cepat menggunakan kursi yang dia pegang untuk menghalaunya. Pria membawa tongkat bisbol menyerangnya dari belakang namun malah mengenai kepala temannya hingga berdarah. Aditya dengan cepat menyapu kaki lawannya, saat sebelum menyentuh lantai Aditya menghantamnya dengan kursi hingga terkapar.


“Ayo kita pergi dari sini!” bentak Hendrik sambil menggandeng Rani yang berusaha berontak melepaskannya.

__ADS_1


“Lu jangan berani melawan ya!” ancam Hendrik sambil menghunuskan pisau ke Rani. Melihat hal itu Rani terpaksa ikut, dia menatap Aditya seolah meminta tolong.


“Eh urusan lu belum selesai di sini,” ucap seorang pria menghadang Aditya yang hendak mengejar Hendrik ke luar ruangan.


“”Lu nggak bis-“ belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya dia sudah ambruk. Aditya dalam sekejap menghantam leher orang itu.


‘Bajing-“ seorang pria yang hendak menyerang Aditya kembali terkapar dengan pisau menancap di lehernya.


Aditya segera keluar untuk mengejar Hendrik. Ketika pintu baru dibuka beberapa orang pria langsung menyerangnya, kelihatannya mereka semua memang sudah siap sejak tadi, Aditya melawan terpaksa harus melawan mereka semua. Suasana di sana menjadi sangat gaduh. Beberapa orang dari geng kecil malah sengaja mendekat ingin melihat perkelahian lebih jelas.


Beberapa orang yang menyerang berhasil Aditya robohkan. Dia sengaja menyerang beberapa titik paling lemah di tubuh lawannya dengan begitu Aditya hanya memerlukan satu kali serangan untuk menumbangkan lawannya. Walau begitu dia cukup kelelahan juga karena lawannya terlalu banyak.


Beberapa geng kecil yang menonton malah dihasut oleh anak buah Hendrik agar ikut menyerang Aditya. Lawannya semakin banyak. Beberapa kali Aditya terkena serangan lawan. Namun dia tidak goyah sedikitpun. Dia malah terlihat semakin semangat menghajar semua lawannya.


“Hajar saja orang itu!”


“Hsbisi orang itu!”


“Jangan biarkan dia lolos!” teriak beberapa orang yang ada di sana. Jelas tidak ada seorangpun yang mau membela Aditya saat itu.


“Pukul dia sampai babak belur!” teriak Gugun sambil mengacungkan tongkat billiard.


“Bukankah dia sudah di tangkap polisi?” batin Aditya sambil terus menahan serangan semua lawannya.


Rani mulai mengucurkan airmata ketika melihat Aditya dikeroyok banyak orang. Hendrik terlihat semakin cemas melihat Aditya yang masih mampu mengimbangi semua anak buahnya yang ada di sana. Dia segera membawa Rani ke sebuah ruangan. Rani berusaha untuk berontak tapi Hendrik menariknya paksa hinnga ikut ke dalam ruangan.


Di ruangan itu Rani segera di ikat. Hendrik kemudian menghubungi beberapa anak buahnya yang ada di luar untuk segera merapat ke bar miliknya. Dia rasa untuk melumpuhkan Aditya haruslah dengan jumlah yang banyak. Dia sendiri sadar jika Aditya bukanlah orang sembarangan. Dia harus meminta pertolongan dari bos nya.


“Halo bos.”


“Ada apa Drik?” sapa seorang pria di telepon.


“Bos Gerald, aku ingin berbicara langsung dengan ketua.”

__ADS_1


“Ada masalah apa sampai harus berbicara langsung dengan Ketua?”


“Ini darurat bos.”


“Ada apa Drik?” sapa orang lain di telepon.


“Ini ketua, bar milik kita di sedang di serang.”


“Apa!? Geng mana yang berani menyerangnya? Atau polisi?”


“Bukan, aku tidak tahu dia dari geng mana tapi dia benar-benar mengerikan, semua anak buahku yang ada di bar bisa dia tahan. Aku sekarang sedang menunggu anak buahku dari tempat lain.”


“Itumah memang anak buah lu saja yang lemah! Sudah gue bilang beberapa kali kan kalau jangan sembarang merekrut anak buah!” bentak pria di telepon.


“Maaf Ketua.”


“”Lalu berapa orang yang sekarang sedang mengamuk di bar?”


“Satu orang, Ketua.”


“Hahahaha yang bener goblok, masa satu orang saja nggak bisa lu atasin?”


“Serius Ketua, saya berani bersumpah.”


“Dasar nggak berguna! Gue akan suruh Gerald ke sana sekarang juga sekalian buat ngasih lu pelajaran.”


“Maaf Ketua tap-“ belum sempat Hendrik meminta ampunan panggilan telepon segera diakhiri.


Wajahnya sekarang lebih pucat dari tadi. Dia benar-benar meras frustasi bagai makan buah simalakama. Jika dia tidak minta bantuan pasti Aditya menghabisinya tapi sekarang dia malah akan dihabisi atasannya sendiri. Beberapa anak buah Hendrik mulai berdatangan ke bar untuk membantu mengalahkan Aditya.


“Cih! Aku nggak akan mampu menahan mereka semua. Aku harus segera pergi dari sini sebelum semakin banyak orang merepotkan datang,” pikir Aditya sambil terus berusaha menghajar semua lawannya.


Beberapa orang sudah terkapar tak berdaya di lantai. Aditya berusaha untuk membuka celah menuju ke ruangan Hendrik namun lawannya semakin banyak. Tapi sebuah ide muncul di pikirannya. Aditya hanya tersenyum saja sambil melihat kea rah Gugun dan teman-temannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2