
Pertarungan yang tak seimbang itu akhirnya harus selesai.
Rako sadar ia tak mungkin mendapatkan tempat di kerajaan baru Hestu, meskipun Aditya sengaja mengalah darinya.
“Bunuh saja aku!” bisik Rako ketika mereka berada dalam jarak yang cukup dekat.
Aditya terlihat heran. Rako menatapnya dengan pasrah sambil mengeluarkan pisau lipat dari balik jas mahalnya.
Para tamu undangan kini tak lagi bersorak tertawa. Mereka berdiam di tepi lantai dansa, memandang kaku Rako, sang pemilik acara, menggenggam sebilah pisau untuk melukai lawannya.
Tentu Rako tak bermaksud melukai lawan. Ia keluarkan pisau itu untuk dirinya sendiri.
“Lebih baik mati dengan terhormat daripada harus dipermalukan oleh mereka!” kata pemuda itu.
Aditya bisa mendengarnya. Rako mencoba menyerangnya dengan pisau itu, tetapi justru mengarahkan ujung tajamnya pada perutnya sendiri.
Aditya dengan tangkas merenggut pisau itu dari tangan Rako. “Loe gila, ya?!”
Mereka bertabrakan. Membuat hening sesaat situasi di lantai dansa malam itu. Tak ada suara apa pun, kecuali dentam musik disko yang mengudara sejak awal.
Aditya tampak berdiri di dekat tubuh Rako yang berbaring telentang. Tak ada darah di situ. Aditya menyimpan pisau tadi ke dalam saku jaketnya. Dan menendang rahang Rako sampai pemuda itu pingsan.
“Baiklah. Loe maju sini!” bentak Aditya pada Nino dengan kesal.
Nino mencopot jasnya, melemparnya ke salah satu anak buahnya yang berwajah penuh jerawat, dan melangkah maju.
“Lumayan gede badan loe, ya? Tampang boleh boyband, tapi body macam tukang pukul,” ledek Aditya.
“Brengsek!” Nino menerjang maju, tapi dengan cepat Aditya menghindar dan justru menghajar tengkuk Nino dengan cukup keras. Membuat lelaki tampan itu terjungkal ke kaki Benny.
Atari membantu Nino berdiri.
Benny terlihat tak sabaran, dan hampir maju untuk menghajar Aditya, tapi Nino tak terima atas bantuan macam itu.
“Gue bisa sendiri, Bangsat!” katanya pada Benny.
Tanpa segan, Nino mengeluarkan belati tajam dari sabuknya. Sebuah senjata yang biasa ia pakai untuk membunuh para targetny tanpa ampun, termasuk waktu itu ia juga gunakan belati itu untuk menyudahi nyawa Rama Subandi.
Aditya terpaksa mengambil pisau lipat Rako yang dia simpan di jaketnya barusan.
“Oke, kita berdarah-darah saja sekalian!” katanya seraya meludah.
Para tamu kini berlarian menjauh. Beberapa dari mereka tak pernah akrab dengan kekerasan dan sempat mengira tadi cuma perkelahian biasa. Jika ada benda tajam yang dilibatkan, mereka jelas bakal melihat seseorang mati. Dan mereka tak mau itu.
“Biarkan kami pergi!” kata para tamu yang ketakutan pada para penjaga.
“Kalian harus tetap di dalam!” kata para penjaga.
“Sumpah, enggak bakal lapor polisi deh!” mohon mereka.
“Halah, bacot!” balas para penjaga itu lantas menghajar tamu-tamu yang ketakutan itu.
__ADS_1
Suasana di klub malam eksklusif itu benar-benar tampak primitif. Terlalu banyak orang dihajar. Terlalu banyak jerit ketakutan. Sama sekali tak mencerminkan acara pesta ulang tahun.
Di saat yang sama, Hestu berteriak dari sudut ruangan, “Cari gadis-gadis laknat itu! Cari dan bawa mereka kemari!”
Namun tak ada yang mendengar suara perintah Hestu sebab suara musik jauh lebih kencang, mengguncang gendang telinga.
Hestu pun melangkah sebisanya, sambil mrngusapi darah dari wajah dan matanya, ke arah seorang DJ yang masih asyik memainkan musik tanpa peduli lagi pada semua kekacauan di depannya.
Hestu tanpa banyak omong menembak kepala DJ itu dan mematikan musiknya.
Suasana ruang dansa yang luas itu segera berubah. Tak ada musik membuat tiap orang menoleh ke panggung DJ.
“Jangan ada yang keluar sampai aku bilang boleh!” kata Hestu dengan pengeras suara.
Semua orang segera kembali ke urusan masing-masing. Para tamu yang takut coba sembunyi. Para penjaga masih sibuk menghajar para tamu yang coba kabur. Sementara itu, Aditya kini sibuk beradu senjata tajam dengan Nino.
Di satu momen, Nino berhasil menyabet sedikit bagian leher Aditya. Kalau tadi dia agak maju beberapa inci saja, mungkin Aditya sudah mati kehabisan darah.
“Oh, cuma segitu kemampuan loe?” ledek Aditya sambil mengusapi lehernya yang sedikit berdarah.
“Belum maksimal, Bro! Lihat ini!” teriak Nino sambil melompat dan menyabetkan lagi belatinya. Kali ini Aditya tersabet di bagian perutnya. Darah mengalir cukup deras, tapi ia tahu ia masih bisa bertahan.
Aditya mundur mengambil celah sebentar untuk berhenti, untuk membalut luka itu dengan kemejanya yang kini dilepas dari tubuhnya.
“Hahaha! Ternyata cuma segini saja? Gue pikir loe bakal bisa ngalahin gue dan akhirnya berhadapan dengan si kekar Benny. Ternyata loe cuma orang lemah!” ledek Nino.
Aditya tak peduli ledekan itu. Ia terus mundur, memberi jarak agar bisa mengikat luka sabetan di perutnya tadi, lalu kini ia siap kembali bertarung.
Dengan cepat, Aditya melempar pisau itu ke arah sang lawan. Pisau itu meluncur deras, seperti roket, melintasi udara nyaris tanpa terlihat, dan menembus tengkorak Nino. Lelaki tampan itu ambruk seketika.
“Nino?!” teriak Atari tak percaya.
Anak buah Nino yang berjumlah lebih dari sebelas orang segera menyerang Aditya. Tapi mereka jelas bukan tandingan. Aditya bisa menghabisi satu, dua, dan tiga anak buah Nino. Tapi Aditya merasa aneh.
“Kok bisa mereka cepat mati?” batinnya.
Ternyata Benny kesal dengan anak buah Nino. “Harusnya Aditya jadi lawan gue! Bukan kalian!” bentak Benny marah. Ia juga menghabisi sebagian anak buah Nino.
Kini, Aditya berhadapan dengan si tubuh besar Benny Watanabe. Keduanya berdiri tepat di tengah lantai dansa yang berdarah-darah.
***
“Hei, mau ke mana loe?” Terdengar bisikan pelan seorang perempuan dari arah belakang.
Ratna menoleh. Ia menatap sosok yang tak dikenalnya.
“Bukan urusan loe kali,” balas Ratna acuh tak acuh sambil mencari-cari cara untuk memanjat ke tembok yang tinggi itu.
“Sini, gue bantu,” kata perempuan itu.
Beberapa orang lelaki berlari menyusul ke situ. Mereka bertanya, “Siapa kamu?”
__ADS_1
“Tahu tuh! Tiba-tiba saja muncul!” jawab Ratna. “Kamu pergi dari sini. Enggak aman!” katanya pada perempuan itu.
Si perempuan malah tertawa. “Duh, Ratna. Aku ke sini juga ada keperluan lagi!”
“Hei, siapa kamu?” tanya seorang lelaki yang tak lain salah satu teman Ratna.
“Aku Rinda. Kalian di sini untuk membantu Aditya, bukan? Ya, aku juga di sini untuk itu,” katanya santai.
Ratna tak kenal siapa Rinda, tapi ia tak peduli. Ia harus bisa masuk ke klub malam ini secepatnya. Di dalam terdengar suara ribut, pertanda bahaya sudah dimulai.
Berkat bantuan beberapa lengan kekar teman-temannya, Ratna bisa segera masuk ke jendela itu. Rinda menyusulnya di belakang.
“Kalian lewat pintu belakang dan depan saja,” kata Ratna pada teman-temannya itu.
Dia segera berlalu, menuruni tumpukan peti kayu di gudang minuman klub malam ini. Dia menoleh pada Rinda.
“Siapa kamu?”
“Rinda. Kan sudah kubilang.”
“Bukan itu!”
“Aku pengganti Amy,” kata Rinda lagi.
“Oh.”
Ratna tak lagi banyak bertanya. Mereka keluar dari gudang itu dan melihat Clarissa dan Shelly D sembunyi di bawah bar.
“Bawa mereka pergi kalau memang mau ngebantu,” kata Ratna pada Rinda.
“Heh, siapa kamu atur-atur segala? Aku pergi ke Aditya, kamu yang bawa dua cewek itu pergi,” kata Rinda.
“Bodoh, kita gak ada waktu kali!”
“Oke, oke!”
Rinda pun menghampiri Clarissa dan Shelly D. “Ayo, lewat sini.”
Ia mengajak keduanya kabur lewat jalan masuknya tadi.
“Kamu siapa?” tanya Clarissa. “Kenapa kamu balik lagi ke dalam?”
Mereka sudah ada di luar bangunan itu. Sudah aman dari incaran Hestu untuk saat ini.
“Aku masih ada urusan,” kata Rinda. “Buruan kalian pergi!”
Rinda kembali memanjat tembok itu, dengan gesit, tanpa bantuan siapa pun. Ia kini kembali berada di dalam klub malam, berjalan pelan ke arah lantai dansa.
“Hmm, di situ rupanya,” gumamnya sambil mengeluarkan sepucuk revolver.
Bersambung....
__ADS_1