Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 39


__ADS_3

Semua orang di sana mengagumi kemahiran Aditya mengemudi. Tampak Vian dan beberapa temannya pergi menjauh. Arnold ikut bergembira karena sahabatnya berhasil mempermalukan Vian. Aditya dan Clarissa kemudian memarkirkan mobil Pandu dan mobil Arnold ke pinggir jalanan karena ada orang lain yang akan balapan.


“Kamu kok bisa-bisanya nantangin Vian balapan Ar? Kamu tahu sendiri kan kalau Vian itu kayak gimana,” gerutu Clarissa.


“Aku nggak nyangka akan begini akhirnya Ris,” jawab Arnold.


“Lah terus kenapa kamu nantangin dia balapan kalau kamu nggak yakin menang?”


“Aku rasa dia terhasut seseorang, mobil sport ini kayaknya baru saja dimodifikasi. Bahkan memiliki sistem NOS juga,” sela Aditya sambil memperhatikan mobil Arnold.


Arnold membenarkan apa yang Aditya katakan. Dia bilang kepada Rissa bahwa sebenarnya dia tidak berniat untuk menantang Vian balapan. cuma beberapa minggu yang lalu ada kakak kelasnya yang bilang kepadanya, kalau tidak ingin terus di bully maka dia harus menunjukan bahwa dia itu pria sejati. Arnold yang penasaran ingin tahu caranya.


Kakak kelasnya bilang kalau saja dia bisa mengalahkan Vian dalam balapan maka sudah pasti Vian akan takut kepadanya bahkan menjadi anak buahnya. Karena itulah dengan lantang dia menantang Vian untuk balapan dengannya, namun ternyata dia malah kalah karena kemampuan menyetirnya belum sehebat Vian yang sudah terbiasa ikut balapan.


Arnold melihat ke sekelilingnya, dia penasaran kemana kira-kira Vian bersama teman temannya pergi. Dia pikir tidak mungkin orang sepertinya pergi begitu saja ketika ada orang mengalahkannya.


“Kamu nyari apaan Ar?” tanya Clarissa.


“Aku heran, kemana Vian pergi ya?” jawab Arnold dengan wajah bingung.


“Sudah biarin saja, dia langsung pulang kali sambil nangis,” kata Clarissa sambil tertawa.


“Kamu ini, mana mungkin lah orang seperti dia nangis kayak begitu. Yang ada juga dia marah-marah kali.”


“Eh, lukamu masih sakit Ar? Ya ampun sampe memar begini.”


Clarissa memegang luka di wajah Arnold. Tampak Arnold tersipu malu karena wajah Clarissa terlalu dekat. Dia kemudian meringis kesakitan ketika Clarissa menyentuh bagian yang memar di wajahnya.


“Sebentar ya, biasanya ada kotak P3K di mobil ayah,” kata Clarissa sambil masuk ke dalam mobil Pandu.


“Beruntung nih masih ada yang bisa di pake,” ujar Clarissa sambil membawa kotak P3K.


“Emangnya kamu bisa makenya Ris?” tanya Aditya sambil tertawa.


“Jiah. Kak Aditya ini, ya bisa lah. Orang ketika turnamen pencak silat saja aku sering cedera,” jawab Clarissa sambil menjulurkan lidahnya.


“Yah, cedera saja bangga,” balas Aditya.


“Biarin.”


Arnold meringis ketika Clarissa meneteskan obat merah ke lukanya yang mengeluarkan darah. Clarissa juga menempelkan plester di luka Arnold. Aditya hanya tersenyum melihatnya, dia perhatikan tampaknya Arnold memendam rasa suka terhadap Clarissa.

__ADS_1


“Nah sudah beres. Kok kamu kayak apa ya? Penuh plester kayak begitu,” ledek Clarissa sambil tertawa.


“Ini juga kamu yang nempelin.”


“Yakin nih nggak perlu ke rumah sakit?” tanya Aditya.


“Yakin kak, aku sudah nggak apa-apa kok,” jawab Arnold.


Ketika mereka bertiga tengah berbincang dari kejauhan tampak tiga mobil sport mendekat ke arah mereka. Dua orang wanita dan tiga orang pria keluar dari mobil-mobil itu. Aditya mengernyitkan dahinya karena tidak mengenal siapa mereka. Beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu juga memperhatikan mereka berlima.


“Siapa tadi yang mempermalukan adik gua di sini?” teriak wanita itu dengan lantang.


“Kamu nanya sama siapa?” tanya Aditya.


“Adik gua bilang tadi di sini dia dipermalukan ketika balapan!” jawab wanita itu dengan wajah emosi.


“Dipermalukan? Perasaan dari tadi di sini tidak ada yang dipermalukan. Lagian gua nggak tahu siapa adik lu.”


“Nama adik gua Vian! Dia bilang tadi ada orang kayak pemulung yang mempermalukannya ketika balapan.” bentak si wanita sambil memperhatikan sekujur tubuh Aditya.


“Dari ciri-cirinya sih kayaknya elu deh,” ujar si wanita menunjuk Aditya sambil tertawa.


“Eh jangan seenaknya ya ngatain kakak gua pemulung! Lagian Vian sendiri yang memang nggak bisa nyetir!” bentak Clarissa sambil bangkit menatap si wanita.


Sekilas saja bisa dipastikan.kalau rombongan itu merupakan anggota geng, mereka tampak memiliki atribut yang sama di baju yang mereka kenakan. Sehebat apapun Clarissa dalam beladiri pencak silat dia tidak mungkin bisa menghadapi lima orang anggota geng dewasa.


“Ho, punya nyali juga ni bocah,” ujar si wanita sambil mendekati Clarissa.


“Apa yang akan lu lakuin jika emang gua yang ngalahin adek lu?” tanya Aditya, dia berusaha agar Clarissa tidak terlibat keributan.


“Oh jadi beneran lu orangnya ya,” ujar si wanita sambil mendekati Aditya.


“Jadi lu kakaknya bocah tadi ya?” tanya Aditya.


“Ya. Nama gua Vivi. Adik gua juga bukan bocah!” bentak Vivi sambil memegang kerah baju Aditya.


Walaupun Vivi tampak terus memprovokasinya, Aditya tetap saja bersikap tenang. Kelakuan mereka tampak menarik perhatian orang-orang yang ada di sana. Melihat Aditya yang tidak bisa di provokasi, Vivi melepaskan kembali cengkramannya. Clarissa tampak menahan emosinya karena Aditya terus diolok olok oleh Vivi.


“Terus apa yang lu mau?” tanya Aditya.


“Aku ingin kita balapan. jangan dulu bangga cuma karena menang melawan anak kecil,” ledek Vivi.

__ADS_1


“Lah katanya dia bukan bocah.”


“Lu pinter juga buat orang darah tinggi.”


“Sorry banget gua nggak bisa balapan sama lu. Lihat mobil yang gua bawa, tidak adil bukan jika mobil sport melawan mobil biasa kayak gini?”


Aditya sengaja beralasan seperti itu, dia berniat menghindari balapan lagi. Karena semakin lama dia di sana maka masalah yang muncul pastinya akan semakin banyak. Terlebih lagi dia tidak mungkin menang menggunakan mobil Pandu jika harus melawan mobil sport. Trik seperti yang dia gunakan kepada Vian juga tidak akan berhasil lagi.


“Pake mobil aku saja kak,” tawar Arnold sambil memberikan kuncinya.


“Nah itu. Ada mobil yang setara, gua harap lu nggak bikin alasan lain lagi,” kata Vivi sambil tersenyum.


“Lu jangan belagu ya! Nanti juga nangis-nangis kalo kalah,” ledek Clarissa.


“Nih anak bikin gatal kuping saja ya!” bentak Vivi.


Tampak Aditya menghela nafas dalam ketika ditawari Arnold untuk mengemudikan mobilnya. Tadinya dia sengaja mencari alasan agat bisa segera pulang. Dia yakin Pandu juga pastinya khawatir dengan keadaan putrinya.


“Hemh.. Baiklah akan aku terima tantanganmu,” jawab Aditya.


“Baguslah. Aku mempertaruhkan mobilku ini jika kalah,” kata Vivi sambil menunjuk mobil sport miliknya.


“Kakak gua mempertaruhkan mobil itu,” sela Clarissa sambil menunjuk mobil ayahnya.


“Itu tidak adil lah. Masa mobil sport taruhan sama mobil biasa,” jawab Vivi.


“Oke, mobil gua yang jadi taruhannya!” ucap Arnold.


Aditya geleng-geleng kepala, dia heran sebenarnya apa yang ada di pikiran kedua anak itu. Memangnya mereka tidak mau pulang? Aneh banget. Padahal dirinya sudah merasa tidak nyaman berada di sana. Terlebih lagi dia takut identitasnya terbongkar di sana. Dia juga yakin kalaupun Vivi kalah pastinya dia tidak akan begitu saja menyerahkan mobilnya.


“Oke kita sepakat,” ucap Vivi sambil bersalaman dengan Clarissa.


“Sepakat!” jawab Clarissa.


“Hei yang benar saja,” gumam Aditya.


“Garis start dan finish nya sesuai dengan saat kalian tadi balapan dengan adik gua, ayo segera pergi ke arena!” jelas Vivi.


“Baiklah. Mari kita bertanding secara Adil,” ujar Aditya terpaksa, sambil bersalaman dengan Vivi.


Vivi dan Aditya segera memasuki mobil untuk memulai balapan. Mobil mereka sejajar di garis start. Clarissa dan Arnold mulai berteriak menyemangati Aditya. sedangkan Vivi hanya tertawa saja sambil memandang Aditya. suasana di jalanan juga tampak semakin ramai. Ketika bendera dikibarkan dengan cepat kedua mobil melesat di jalanan.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2