Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 144


__ADS_3

“Jangan bilang mereka lagi-lagi mantan suami tante,” canda Diaz sambil menunjuk orang-orang yang menghadang mereka.


“Kamu ini ada-ada saja Diaz, lagian ada apa ya kok mereka menghadang kita,” ujar Gina sambil terlihat cemas.


“Jangan khawatir, paling juga para preman yang ingin minta jatah uang. Tante sama Frita diam saja ya di dalam,” kata Diaz sambil keluar dari dalam mobil.


Frita tampak pucat, jujur saja kejadian saat ini mengingatkannya dengan kejadian saat dia dihadang oleh penculik saat sedang bersama Jimmy. Gina sendiri sedikit tenang setelah melihat beberapa bodyguard turun dari mobil mengikuti langkah Diaz.


“Kalian bisa minggir tidak? Kami mau lewat,” kata Diaz sambil bertolak pinggang.


“Hahaha kalian denger dia bilang apa?”


“Dia menyuruh kita untuk segera minggir dari sini Bos.”


“Eh lu tahu nggak kalau bos gue ini paling ditakutin di wilayah ini?”


“Memangnya gue peduli gitu?” ledek Diaz sambil tertawa meremehkan, dia sangat percaya diri dengan kemampuan para bodyguardnya.


“Lu ngeremehin gue rupanya. Nih gue Javier Bold! Siapapun yang mencari masalah sama gue pasti bakalan mati!” gertak bos penjahat sambil bangkit menghampiri Diaz.


“Mau Javier, Javiel apaan kek terserah lu! Yang jelas lu semua sekarang minggir dari sini. Kalau nggak nih semua bodyguard gue bakalan ngabisin lu semua,” ancam Diaz.


“Heh, mereka itu paling Cuma modal pakaian rapi doang, sekali pukul juga nangis,” ledek anak buah Javier.


Diaz kemudian menjentikan jarinya. Seorang bodyguardnya maju menghampiri Javier, dengan cepat dia melayangkan tinjunya ke tubuh Javier. Namun dengan santai Javier hanya berdiri menerima pukulan bodyguard Diaz. Tubuhnya tidak bergerak sedikitpun, tidak juga meringis kesakitan. Diaz mulai mundur.


Para bodyguardnya maju melindungi. Tapi anak buah Javier juga turun sambil menghadang lawannya. Javier dengan sekali pukul berhasil menumbangkan satu anak buah Diaz hingga terkapar. Tapi Javier tanpa ampun mengangkatnya dan beberapa kali menghajarnya hingga berdarah-darah. Diaz kemudian memerintahkan semua anak buahnya maju menyerang.


Perkelahian tak terelakan, kedua kelompok mulai baku hantam dengan tangan kosong. Diaz hanya berdiri di belakang para bodyguardnya, Javier juga malah duduk santai di atas mobilnya. Frita semakin gelisah ketika mereka semua mulai berkelahi di jalanan. Baginya sangat aneh karena jalanan di sana sangatlah sepi.


“Bu, sebaiknya kita segera telepon polisi,” saran Frita.

__ADS_1


“Kamu tidak usah khawatir Fri, ibu yakin kalau Diaz dan para bodyguardnya bisa mengusir para preman itu,” jawab Gina dengan tenang.


“Tapi kalau mereka penjahat yang mau mencoba menculikku bagaimana? Dari tadi aku lihat mereka terus melihat ke arah kita.”


“Diaz kan bilang jangan khawatir, percaya deh sama dia. Bodyguard yang dia sewa juga yang harganya paling mahal pasti mereka hebat-hebat. Kamu tenang saja deh Fri.”


“Tapi lihat deh Bu, jalanan sepi banget, padahal kan jalan ini biasanya rame banget. Aneh kan?”


“Kamu tenang saja sayang, kalau mereka itu penjahat yang ingin menculikmu pasti Diaz bisa mengurusnya. Lagipula kan ayah Diaz itu tentara.”


Meski Gina terus menghiburnya tapi Frita masih belum bisa tenang. Sudah beberapa kali dia menghadapi situasi yang serupa dan berakhir dengan diculik, terlintas kembali wajah Aditya yang selalu datang untuk menyelamatkannya. Tapi saat ini tidak mungkin dia akan datang lagi untuk menolongnya setelah apa yang dia perbuat di kapal pesiar.


“Hajar mereka semua! Nanti kalian akan aku beri bonus sepuluh juta satu orang,” teriak Diaz ketika melihat anak buahnya mulai kewalahan.


“Si brengsek itu lumayan kaya juga ternyata bos. Gimana kalau kita tangkap dia juga?”


“Hahaha, memang menarik tapi kita tidak boleh mengubah rencana yang sudah diberikan kepada kita. Kalau gagal pasti kalian akan berakhir seperti mantan bos kalian!” ancam Javier.


Pertarungan semakin sengit, tapi sejak awal semua bodyguard Diaz memang sudah kewalahan menghadapi para anak buah Javier. Padahal kebanyakan bodyguard Diaz menguasai seni beladiri, tapi masih kalah berduel satu lawan satu melawan para penjahat itu. Diaz memerintahkan anak buahnya untuk memakai senjata tajam.


Mereka kemudian mengeluarkan senjata andalan masing-masing, pisau, cutter, pentungan, stun gun, dan lain-lain. Para penjahat hanya tertawa. Mereka juga mulai mengeluarkan pisau untuk meladeni serangan anak buah Diaz. Pertarungan kembali berlangsung lebih serius dari tadi. Terdengar beberapa orang mulai menjerit karena terkena serangan lawan.


Frita dan Gina mulai pucat karena melihat banyak darah menetes membasahi jalanan. Kebanyakan orang yang terluka berasal dari kubu Diaz. Melihat hal itu Diaz dan empat anak buahnya segera menuju mobil untuk menggunakan pistol. Beberapa tembakan mulai terdengar. Empat orang anak buah Diaz langsung tumbang dengan luka tembak.


“Cih, kalian berani juga mengajak gue buat main tembak-tembakan,” gerutu Javier kesal karena satu anak buahnya tewas terkena tembakan. Sementara empat lainnya terluka.


“Jika kalian sudah bosan hidup ayo maju lagi!” bentak seorang anak buah Javier. Mendengar baku tembak itu semua orang yang sedang berkelahi mendadak diam.


“Lu yang bakalan mati!” teriak Diaz sambil menodongkan pistolnya. Namun tiba-tiba Diaz menjerit kesakitan setelah tangannya terkena tembakan Javier. Pistolnya juga jatuh ke jalanan.


“Sudah gue bilang jangan belagu lu!” bentak Javier sambil menghampiri Diaz.

__ADS_1


“Jika kalian ada yang ingin maju lagi, maju sekarang!” tantang anak buah Javier namun para bodyguard Diaz tidak berkutik sedikitpun.


“Jika kalian menyerang mereka akan kutambah bonus kalian lima puluh juta, tidak. Seratus juta!” bujuk Diaz sambil memegang tangannya.


Tapi semua anak buahnya hanya terdiam tidak ada yang berani melawan. Mereka hanya tertunduk meminta ampun. Diaz mulai pucat karena dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melawan Javier.


“Dasar, padahal kalian sudah aku gaji ribuan dolar!” gerutu Diaz.


“Cih, berapa dolar lagi yang harus gue siapin buat ngobatin luka ini,” ucap Diaz pelan.


“Lu ngomong apa hah?!” bentak Javier sambil menodongkan pistol.


“Maaf bang. Kalau mau saya bisa beri banyak uang buat abang asalkan mau lepasin kami.”


“Hahaha menarik tapi sayangnya gue nggak tertarik. Kami datang ke sini untuk mendapatkan wanita itu,” ucap Javier sambil menunjuk Frita. Hal itu jelas membuat Gina dan Frita semakin cemas.


“Bang jangan begitu lah, ayah saya seorang tentara loh,” kata Diaz memberanikan diri untuk kembali menggertak Javier.


“Memangnya kenapa kalau bapak lu seorang tentara? Lu pikir gue bakalan takut?” tanya Javier sambil melotot, nyali Diaz kembali menciut.


“Kalau nanti ada orang yang melihat kejadian ini pasti manggil polisi segera datang kemari.”


“Hahaha lu pikir gue takut polisi? Lagian kami sudah mengatur agar tidak ada mobil lain yang lewat ke sini selain kalian,” jawab Javier sambil tertawa diikuti oleh para anak buahnya. Javier kemudian menginjak kaki Diaz sampai menjerit.


“Aaaargh sepatu seribu dolar gue.”


“Lu semua mau selamat nggak?” tawar Javier sambil melihat semua lawannya yang sudah putus asa. Sontak mereka mengangguk termasuk Diaz.


“Lu semua telanjang di sini!” tegas Javier sambil tertawa bersama para anak buahnya.


Awalnya para anak buah Diaz saling pandang, tapi karena ingin selamat mereka segera melepaskan semua pakaian yang mereka kenakan hingga tidak tersisa sedikitpun. Melihat hal itu Gina dan Frita semakin pucat, Gina dan Frita bergerak hendak menelepon polisi namun tiba-tiba dari luar kaca mobil dua orang pria sudah menodongkan pistol kepada mereka berdua.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2