
Cafe Delima tempat yang tidak terlalu ramai pada jam sesibuk itu. Mungkin juga karena kafe itu baru diresmikan dan belum banyak orang yang tahu. Benar-benar tempat yang sempurna untuk mengobrol.
Aditya meminta mereka duduk di meja paling pojok, yang jauh dari pintu masuk.
“Karena aku perlu menyiapkan kata-kata. Siapa tahu Frita marah. Aku bisa melihat itu dari wajahnya, kan?” kata Aditya.
Shelly D dan Clarissa hanya saling menatap lalu tersenyum.
Clarissa memanggil pelayan yang berdiri tak jauh dari situ.
“Mbak, minuman terenak di sini apa, ya?” tanya Clarissa begitu pelayan tersebut mendekat.
“Oh, di sini kami menyajikan King Mango Thai. Ada juga peach mojito dan apple cloudy. Minuman lainnya juga ada, bisa kakak lihat di sini,” jawab si pelayan sembari menyodorkan daftar menu.
Clarissa dan Shelly D duduk mendekat dan terlihat sibuk memandangi daftar menu, sementara Aditya terlihat diam di seberang meja.
Aditya bilang, “Saya es teh biasa saja, Mbak.”
“Baik. Es teh satu,” tukas si pelayan sambil mencatat.
Clarissa menatap Aditya seakan-akan baru saja terjadi bencana dahsyat. Ia seketika berkata, “Coba sekali-kali minum yang lain, Kak. Ini pesan King Mango Thai aja sama aku.”
“Ya, sudah deh. Terserah kamu,” ujar Aditya tampak malu-malu.
Si pelayan cuma tersenyum.
Mereka tidak memesan makanan dulu karena masih menunggu Frita datang.
Mereka bertiga lantas mengobrol panjang lebar. Tak terasa waktu berlalu sampai minuman mereka habis. Frita belum juga nongol.
“Di mana sih Kak Frita ini?” gerutu Clarissa.
“Coba kamu telepon,” usul Shelly D.
Clarissa coba meneleponnya. Tapi nomor Frita sibuk.
Sekitar lima belas menit kemudian, setelah mereka memesan minuman lagi serta makanan, Frita pun datang juga.
__ADS_1
“Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu,” kata Clarissa terlihat lega.
Aditya sudah siap mendapat kemarahan Frita, tapi ternyata gadis itu tidak terlihat marah. Ia malah tampak seolah tidak pernah terjadi sesuatu saja beberapa bulan terakhir ini. Padahal saat itu Aditya mendadak ‘pergi’ dan hilang entah ke mana usai mengatasi kekacauan di desanya akibat samurai gila itu.
“Apa kabar, Frita?” tanya Aditya dengan canggung.
Frita menjawab, “Hmm, kamu masih hidup rupanya?”
“Maaf, aku sudah menghilang tiba-tiba,” kata Aditya yang terlihat tidak enak, dan Clarissa tak henti memandangi mereka berdua.
“Iya, itu kan memang sudah tugasmu,” sahut Frita ogah-ogahan sambil duduk di salah satu kursi, yang menghadap tepat di depan Aditya.
“Bukan tugas. Lebih tepatnya janji. Aku sudah bilang aku berhenti dari kemiliteran. Aku bosan dengan dunia itu,” kata Aditya.
Frita terlihat tak begitu berminat menanggapi. Kenyataannya Frita memang kesal, tapi bukan dia ingin menampar atau memukul perut Aditya, melainkan karena ia terlalu cemas pada lelaki yang disayanginya ini.
Betapa tidak? Aditya berkali-kali membahayakan dirinya sendiri demi orang lain. Kapan Aditya bisa memikirkan dirinya bahkan untuk sejenak? Seolah sepanjang hidup Aditya hanya berperan sebagai sosok penolong bagi orang-orang, tanpa bisa menolong dirinya sendiri.
Mereka makan tanpa bicara serius. Mereka terus bercanda. Frita bisa tertawa dan berkisah tentang pengalamannya di dunia TV pada Aditya. Ini membuat Aditya senang karena tak ada pertengkaran hebat antara mereka.
“Ternyata dunia televisi yang selama ini kuanggap sepele, cukup melelahkan dan butuh dedikasi tinggi untuk bisa bertahan,” kata Frita.
“Sudah tujuh belas episode, Mas. Sebenarnya aku merasa enggak cocok jadi host. Aneh saja rasanya, tapi entah banyak yang bilang aku harus tetap jadi host program baru itu,” tukas Frita.
“Memang kamu cocok kok, Kak. Aku termasuk yang paling enggak setuju kalau sampai kamu berhenti. Program itu pasti juga bakal dihentikan, sementara banyak yang sudah ngefans ke Kakak,” sahut Clarissa dengan ketus.
“Hmm, aku juga ada tanggung jawab di perusahaan sendiri, Clarissa. Kesibukanku sekarang jadi berlipat ganda. Aku jadi cepat capek dan enggak mikir apa-apa selain apa yang sudah dijadwalkan di kantor dan studio,” keluh Frita.
“Termasuk enggak mikirin aku?” sahut Aditya.
“Iya, sih,” jawab Frita sambil pura-pura memasang wajah cuek.
Mereka lalu tertawa bersama.
Shelly D bilang, “Memang dunia entertain, dunia di balik layar kaca itu, menuntut komitmen tinggi buat para pelakunya. Kalau kita enggak merasa cocok lagi, kupikir gak ada salahnya untuk rehat. Bukan berhenti, lho.”
“Ih, Kak Shelly malah dukung Kak Frita,” kata Clarissa sambil mencubit lengan si Shelly D.
__ADS_1
Setelah mereka bicara panjang lebar, lompat topik ke sana kemari, akhirnya semua sepakat untuk kembali ke rumah.
Aditya merasa lega dan bahagia tentu saja. Dia tidak menghadapi kesulitan berarti saat untuk kali pertama menemui sang pujaan hatinya, sang rembulan Kota Bandung ini, setelah “hilang” tak tentu arah beberapa bulan lalu.
Berjalan ke tempat parkir, Aditya mendekati Frita yang berada di belakang sendiri, sementara Clarissa dan Shelly D bergandengan jalan paling depan.
“Terima kasih, ya, Frita,” kata Aditya sambil memeluk bahu Frita.
Frita memang masih jengkel, tapi membiarkannya begitu. Toh ia kangen juga pada Aditya. Dan ia tak bisa memungkiri itu.
“Lain kali jangan lagi, Mas. Jangan membuatku cemas begitu. Kamu enggak tahu apa yang kulalui setelah kamu mendadak hilang begitu, kan?” kata Frita sambil mereka terus berjalan.
Clarissa dan Shelly D sudah sampai ke mobil sang penyanyi itu. Aditya melambai, tanda bahwa ia akan menumpang mobil Frita saja. Maka mereka berempat pun berpisah di situ.
“Ya, aku sangat menyesal. Janji enggak akan lagi membuatmu cemas,” kata Aditya sambil membukakan pintu untuk Frita.
“Eits! Jangan kamu yang nyetir! Biar aku saja, Mas,” kata Frita menolak untuk dibukakan pintu penumpang di kursi depan.
Aditya cuma terkekeh geli. “Aku enggak bakal ugal-ugalan kok.”
Frita tetap bersikukuh dia saja yang menyetir.
Setelah mobil meluncur membelah jalanan Bandung, Frita bersuara, “Tadi kamu benar-benar berjanji, ya, Mas? Janji untuk tidak lagi melakukan segala hal yang bahaya seperti di masa lalu?”
“Iya.”
“Serius?” tanya Frita sekali lagi.
“Serius dong. Bukankah kita akan menikah? Apa ada seseorang lain yang datang menggantikanku?” tukas Aditya dengan tatapan menggoda.
“Hih, kamu ini!” sembur Frita lalu tertawa.
Aditya mendadak mengecup pipi Frita yang sedang fokus nyetir, sehingga gadis itu hampir saja lepas kendali, tapi segera dibantu Aditya dengan segera memegang setir di depannya.
Mereka bisa berdamai begitu badai usai. Aditya dan Frita kira tak ada penghalang lagi. Mereka belum tahu bagaimana perasaan Clarissa yang aneh, yang mendadak terbit untuk Aditya.
Clarissa tak banyak bicara dalam mobil Shelly D. Ia melamun, membayangkan apakah ia bisa melihat mereka menikah? Ia jelas tak mungkin merenggut kebahagiaan sang kakak?
__ADS_1
Bersambung...