
Jauh sebelum kejadian di desa yang menyulitkan Paman Salim terjadi, Aditya sudah menyimpan uang pada orang yang dipercayainya. Dia adalah Mister Yori. Sosok yang dikenal luas sebagai ketua sebuah yayasan kemanusiaan internasional. Aditya mengenal Mister Yori ketika dia kebingungan harus menggunakan uangnya yang banyak itu untuk apa.
Waktu itu Komandan Zaki yang masih bertugas dengannya berkata, “Mungkin bisa kamu sumbangkan dan sebagiannya bisa kamu tabung.”
Aditya setuju akan usulan itu. Uang gajinya yang sangat besar itu ia sumbangkan ke beberapa yayasan di dalam negeri, dan satu lagi untuk yayasan kemanusiaan internasional yang diketuai Mister Yori.
Aditya bertemu Mister Yori saat orang itu berkunjung ke Indonesia untuk menjadi pembicara seminar. Mister Yori dengan senang hati menerima sumbangan Aditya, yang lelaki itu minta untuk dirahasiakan.
“Uang sebanyak itu pasti akan membuat orang bertanya-tanya malaikat macam apa yang rela memberikan ini untuk membantu sesama?” kata Mister Yori waktu itu.
Aditya tak enak menerima pujian yang seperti itu, jadi ia hanya berkata, “Sudahlah, Mister. Lagi pula penyumbang yang tidak ingin disebutkan namanya bukan hanya saya saja.”
Sebagian uang lain yang Aditya coba tabung setelahnya ternyata tak bisa bertahan. Selalu saja ada kebutuhan mendesak hingga ia harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Kebanyakan untuk membantu rekan sesamanya di pasukan khusus dan itu pun untuk kepentingan misi bersama.
“Menyimpan semua uang ini di rekening bank sama saja dengan tidak menyimpan apa-apa,” begitu pikir Aditya. Ia waktu itu teringat akan pamannya di desa. Ia sangat ingin membantu paman dan desanya.
Maka, akhirnya Aditya memutuskan untuk menyimpan sebagian uangnya ini pada orang yang bisa ia percayai.
Hanya saja, ia tidak juga menemukannya. Entah kenapa hanya Mister Yori yang saat itu terlintas di kepala. Maka, ia mencoba menghubungi yang bersangkutan untuk meminta bantuan tersebut.
Mister Yori dengan senang hati berkata, “Kamu orang yang baik, Dit. Saya mau jika kamu memberikan kepercayaan itu. Akan saya simpan untukmu.”
Namun, Aditya telah memiliki rencana lain, karena ia tak ingin siapa pun, termasuk sang Paman, tahu bahwa ia memiliki uang sebanyak itu. Maka, ia meminta Mister Yori untuk menyepakati satu hal lagi.
Ketua yayasan kemanusiaan internasional itu hanya bisa berkata, “Baikah, kalau itu yang kamu mau, Dit.”
Aditya meminta Mister Yori mengirimkan sebagian uang itu untuk bantuan bagi kemajuan desanya dan sebagian lainnya kelak untuk sang paman, tapi ia tak ingin namanya disebutkan.
***
Aditya menelepon Mister Yori saat itu. Tidak ada yang mengerti, kecuali Diana dan Yusi karena Aditya menggunakan bahasa Inggris, tapi itu pun keduanya tetap tidak bisa merangkai maksud pembicaraan Aditya dengan entah siapa.
__ADS_1
Pak Lurah mungkin sudah sampai ke rumahnya, begitupun Dirga, saat Diana yang sejak tadi duduk di kursi mendadak izin pulang sekaligus menerima telepon.
Saat itu Aditya duduk bersama Deri, Yusi, Paman Salim, dan Pak Bambang di ruang tamu.
Terdengar dari dalam sini Diana berkata, “Ya, semua sudah baik-baik saja. Aku bisa pulang. Apa? Tidak, tidak usah repot begitu.”
Gadis itu berjalan menjauh ke rumah kontrakannya sambil masih terus bicara di telepon.
Aditya penasaran bicara dengan siapa Diana? Tapi ia tak mungkin bertanya. Tidak, walau besok atau kapan pun mereka memiliki waktu bicara. Mungkin saja itu keluarga atau temannya. Mungkin juga Diana bicara dengan penerbit atau editornya. Siapa tahu?
Mereka yang masih di rumah Paman Salim ingin bertanya tentang apa yang akan Aditya lakukan.
“Sudah. Kalian tenang. Tidak akan ada yang terluka. Semua sudah berada di jalur yang tepat,” katanya.
“Kamu benar-benar sulit aku mengerti, Nak,” kata Paman Salim. “Ya, sejak dulu dia memang sulit kupahami. Kami pernah bertengkar beberapa kali sampai akhirnya Aditya pergi dari sini.”
Aditya hanya tersenyum sambil memeluk pundak sang paman. Pertanda dia sudah memegang kendali. Entah Yusi dan Deri juga bertanya-tanya, tapi jujur saja sudah tidak khawatir.
Yusi memutuskan tak jadi bilang pada Aditya bahwa Pandu dan Frita sedang dalam perjalanan kemari.
“Terima kasih, Pak. Saya ndak tahu kalau tadi Bapak ndak datang membantu,” kata Paman Salim.
“Sebagai sesama tetangga, harus saling menolong, Pak.” Itulah kata Pak RT.
Mereka tidur dengan nyenyak malam itu. Tidak ada gangguan baik dari Dirga atau Bandi dan Pirlo. Karena memang Dirga masuk rumah sakit malam itu.
Itulah yang akhirnya dijadikan senjata oleh Pak Lurah. Dia datang pagi-pagi sekali, dan berteriak di depan rumah Paman Salim.
“Hei, Aditya! Keluar kamu! Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu pada anak saya!” teriaknya.
Para warga berbondong-bondong datang karena keributan itu. Aditya, Yusi, Deri, dan Paman Salim—yang pagi itu dilarang Aditya berjualan lagi—ke luar rumah dengan tampang serius.
__ADS_1
“Kamu sudah bikin Dirga masuk rumah sakit! Polisi akan datang sebentar lagi ke sini!” teriak Pak Lurah.
Paman Salim jelas segera panik. Ia tahu semalam Dirga pingsan, tapi pukulan sang keponakan apakah separah itu dampaknya? Apa bisa sampai membuat orang dirawat di rumah sakit?
Aditya dengan tenang berkata, “Belum puas juga kalian memfitnah paman saya ini sudah meracuni ubi dagangannya dan sawah di desa kita? Apa yang sebenarnya kalian inginkan, Pak Lurah?”
Dalam hati, Pak Lurah tentu saja hanya berkata bahwa ini semua soal harga diri. Ia tak bisa membiarkan anaknya dipersalahkan terus-menerus dan dicap jelek oleh warga, meski kenyataannya begitu.
Semalam Pak Lurah yang telanjur termakan hasutan sang anak demi menjatuhkan Paman Salim—yang sangat dibencinya karena Paman Salim tidak pernah memujanya seperti warga lain, justru dibikin malu oleh Aditya. Kini, tidak ada lagi cara selain terus mempertahankan harga diri.
“Kalian sudah berbuat kurang ajar! Bisa-bisanya terbang kemari dengan helikopter? Membuat rusuh saja! Kalian juga sudah berkelahi di sini dan membuat anak saya Dirga terluka!” kata Pak Lurah yang jelas-jelas sudah kehabisan ide.
Para warga malah menatap kesal padanya, karena bukankah selama ini yang bikin rusuh justru Dirga dan kedua konconya itu? Bukankah selama ini mereka bisa bebas saja berbuat onar, merusak fasilitas dan properti warga tanpa mendapat ganjaran?
Namun, warga lebih memilih diam. Mereka diam-diam berharap Aditya bisa bikin Pak Lurah yang tak berdedikasi ini jera.
Entah apa pun caranya.
Aditya membalas ucapannya, “Saya tidak menghajar Dirga sampai segitunya, kok. Memang dasarnya saja Dirga yang payah. Ada banyak saksinya. Ada Pak Bambang di rumah semalam.”
Pak RT hanya mengangguk pelan sambil disaksikan mata para warga. Pak Lurah pun semakin kesal.
“Tunggu saja sampai para polisi datang!”
Sungguh tak dipercaya. Aditya pikir tadi itu hanya gertakan, sebab tak lama mereka semua mendengar bunyi sirene dari kejauhan. Pak Lurah terlihat nyengir, bangga atas kemenangan di depan mata. Dia tentu memiliki ‘teman dekat’ di kepolisian yang bisa membantunya.
Pak Lurah hanya belum sadar betapa senjata pamungkas Aditya masih tersimpan rapi.
Namun, belum juga mobil-mobil polisi itu sampai ke tanah lapang depan rumah Paman Salim, ada kejutan lain: bunyi baling-baling helikopter!
Aditya bahkan tampak terkejut juga. Ia tak tahu Mister Yori datang secepat ini. Apa benar?
__ADS_1
“Tidak, itu bukan Mister Yori,” batin Aditya. “Itu jelas bukan Mister Yori. Tapi, siapa?”
Bersambung....