Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 66


__ADS_3

Selama beberapa minggu kemudian aktifitas Aditya tidak berjalan seperti biasa. Dijahilin Frita, dihukum kepala bagian keamanan. Yang berbeda baginya kini dia sudah mulai dihormati oleh beberapa orang di perusahaan setelah mendapat penghargaan. Heni yang biasanya begitu galak juga sudah mulai bersikap baik kepadanya.


Minggu ini Frita disibukkan dengan berbagai tugas perusahaan hingga beberapa kali dia harus lembur. Hari sabtu ini seharusnya dia libur, namun dia harus pergi mengurus beberapa hal di perusahaan. Siang harinya dia baru pulang ke rumah dengan wajah yang pucat karena kelelahan. Setelah keluar dari mobil dia langsung pergi menuju kamarnya.


“Kelihatannya Frita kelelahan sekali ya,” ucap Pandu sambil menghampiri Aditya.


“Iya Pak, sepanjang jalan dia terus menggerutu karena minggu ini dia sibuk banget. Kelihatannya rencana Pak Pandu akan lancar,” jawab Aditya sambil tersenyum.


“Pah kapan kita mendekorasi rumahnya?” tanya Clarissa.


“Nanti malam saja Ris, nanti tugas kamu ajak Frita keluar ya Dit. Nah saat itu kami akan mempersiapkan pestanya,” kata Pandu.


“Mama jam berapa datang kemarinya pah?”


“Mungkin nanti malam dia baru akan datang, sekaligus jadi kejutan buat Frita.”


Aditya hanya tersenyum mendengarnya. Selama seminggu ini Pandu memang sengaja membuat Frita sibuk agar melupakan hari ulang tahunnya besok. Rencananya Pandu, Clarissa dan Gina akan menyiapkan pesta ulang tahun sederhana untuk Frita malam minggu ini. Tugasnya sendiri hanya mengajak Frita pergi dari rumah selama pesta dipersiapkan.


Frita terbaring di kamarnya sambil menikmati alunan lagu kesukaannya. Tubuhnya kini sudah mulai terisi energi kembali. sebenarnya malam minggu ini dia ingin melepaskan rasa penatnya dengan pergi jalan-jalan, namun Rani lagi-lagi sedang sibuk hingga tidak bisa menemaninya. Tiba-tiba ponselnya berdering.


“Selamat siang Fri,” sapa Jimmy.


“Siang Jim. ada perlu apa ya?”


“Nanti malam kamu ada acara nggak?”


“Nggak ada kok.”


“Begini, aku ingin menjemputmu malam ini.”


“Mau pergi ke mana Jim?”


“Aku mau mengajakmu ke tempat yang bagus banget, Arya juga ikut kok, cuma dia menunggu di tempatnya langsung.”


“Duh gimana ya,” jawab Frita bingung. Dia khawatir Jimmy menyiapkan sesuatu untuknya lagi. Dia tidak mau merepotkan mereka.


“Tempatnya bagus banget loh Fri, Arya juga sekarang sedang menyiapkan tempat untuk kita. Ada beberapa anak buah wanitaku yang ikut kok, kita kesananya rame-rame,” bujuk Jimmy.


“Baiklah Jim. nanti kalau sudah mau berangkat kabari aku ya.”


“Oke.”


Frita menghela nafas, sebenarnya dia tidak ingin merepotkan mereka lagi. Tapi kelihatannya Jimmy ingin sekali dirinya ikut, selain itu sebenarnya dia juga memang ingin mencari sedikit hiburan untuk mengobati rasa lelahnya minggu ini.

__ADS_1


Malam harinya Aditya bersiap siap hendak mengajak Frita jalan-jalan keluar. sebenarnya dia masih bingung harus mengajak Frita kemana. Tiba-tiba terdengar suara beberapa mobil berhenti di depan rumah.


“Eh Jimmy, silahkan masuk Jim,” sapa Pandu yang keluar rumah karena penasaran.


“Nggak Pak, saya di sini saja,” jawab Jimmy sambil bersalaman.


“Loh masuk saja ke dalam.”


“Nggak pak, saya nunggu Frita di sini saja.”


“Memangnya mau pada kemana ya?”


“Kami mau pergi ke—” belum sempat Jimmy menjawab Frita keburu keluar dari dalam rumah.


“Aku pergi dulu yah,” ucap Frita.


“Buru buru amat Fri?” tanya Pandu.


“Takut Aditya lihat, nanti dia malah ikut,” jawab Frita.


Frita pamit bersama Jimmy. Mereka masuk ke dalam mobil. Ada enam mobil yang berjalan beriringan. Semuanya adalah anggota kepolisian. Aditya yang baru selesai berganti pakaian keluar dari rumah.


“Siapa pak?” tanya Aditya.


“Loh. Mau ke mana katanya Pak?” tanya Aditya dengan wajah cemas.


“Entahlah kelihatannya Jimmy merahasiakan tempatnya. Kenapa Dit kok tiba-tiba cemas begitu?”


“Sebenarnya beberapa minggu yang lalu di Hotel Florida ada orang yang mencoba membuat Frita kehilangan kesadaran Pak.”


“Waduh. Kalau begitu cepetan kamu susul Dit.”


Aditya kembali ke kamarnya. Dia merubah rencananya, kini dia benar-benar rapi seperti saat ada di Hotel Universal. dengan kemeja hitam, celana hitam plus rambut yang rapi membuatnya seolah menjadi orang lain. Tubuh kekarnya tampak jelas bersama dengan wibawa yang akan dirasakan setiap orang yang melihatnya. Dia pamit kepada Pandu untuk mengikuti Frita.


“Barusan siapa yah? kok dia pake mobil kakak?” tanya Clarissa.


“Sebaiknya kita langsung bersiap membuat pesta ulang tahun kakakmu saja yuk,” ajak Pandu mengalihkan pembicaraan.


“Emang kakak sudah pergi pah?”


“Sudah, coba telepon mamamu. Tanyain sudah sampai di mana sekarang.”


“Oke pah.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian pergi ke dalam rumah untuk mempersiapkan pesta ulang tahun Frita malam ini. Aditya mempercepat laju mobilnya di jalan karena takut kehilangan jejak mobil Jimmy. Dari kejauhan terlihat jelas ada enam mobil yang berjalan beriringan. Aditya yakin itu adalah rombongan Jimmy karena ciri-ciri mobilnya sama seperti yang dikatakan Pandu.


“”Sebenarnya kita mau pergi ke mana Jim?” tanya Frita.


“Rahasia lah Fri. nanti kamu juga tahu kalo sudah ada di tempatnya,” jawab Jimmy sambil menyetir.


“Ih, pake rahasia-rahasiaan segala.”


“Iyalah. Nanti nggak bakalan menarik kalau aku sudah mengatakan tempatnya dari awal.”


“Eh iya, kok yang berangkat rame banget Jim. itu semua teman-temanmu?”


“Iya. sekalian aku mengajak mereka semua. Sekalian biar mereka refreshing juga, kasian setiap hari kerja mulu.”


“Iya tuh! Minggu ini aku juga kerja terus, lembur lagi. tadi siang saja nih aku baru pulang habis mengurus beberapa keperluan perusahaan di luar,” curhat Frita.


“Eh kok bisa, memangnya mau ada acara apaan di Glow & Shine Co? sibuk bener kayaknya,” tanya Jimmy, dia sedikit senang karena pada akhirnya Frita mulai terbuka kepada dirinya.


“Nggak ada acara apa-apa sih. Cuma ngurusin beberapa kontrak kerja sama yang mau habis, terus mengurus kerjasama dengan supplier baru juga. Bikin lelah pokoknya.”


“Kamu tenang saja Fri. nanti pas kamu lihat tempat tujuan kita aku jamin deh rasa penatmu itu hilang semua,” ucap Jimmy sambil tersenyum.


“Ih, aku malah semakin penasaran saja Jim.”


Keenam mobil itu terus melaju di jalanan sepi. Mereka memilih jalan pintas melewati hutan jati karena biasanya malam minggu seperti ini jalan raya hampir selalu macet. Walaupun agak jauh namun jalanan hutan ini lebih sepi dari jalan raya pada umumnya.


Ketika mereka semakin jauh menyusuri jalan, tiba-tiba Jimmy menghentikan laju mobilnya ke tepi jalanan diikuti oleh lima mobil lainnya. Di depan mereka sudah ada tujuh mobil yang melintang di tengah jalan hingga tidak ada celah untuk lewat. Beberapa orang terlihat sedang berbincang di luar mobil.


“Ini apaan sih!” gerutu Jimmy sambil terus membunyikan klakson mobilnya.


“Apa mungkin ada kecelakaan Jim?” tanya Frita, tersirat kekhawatiran di wajah cantiknya.


“Entahlah,” jawab Jimmy sambil bersiap hendak keluar, namun anak buahnya menghampiri mobilnya.


“Biar saya saja yang urus pak,” kata anak buahnya membuat Jimmy mengurungkan niatnya.


“Hei ada apa ini!” teriak anak buah Jimmy sambil berjalan menghampiri tiga orang yang sedang berbincang di luar.


Aditya berhenti agak jauh dari mobil Jimmy dan kawan-kawannya. Di depannya ada sebuah mobil hitam dengan kaca hitam tebal. Dia penasaran sebenarnya ada apa hingga mobil Jimmy berhenti di tengah jalan.


Frita menjerit ketika anak buah Jimmy yang keluar menghampiri ketiga orang itu malah dihajar habis-habisan. Semua anak buah Jimmy segera keluar dari mobilnya begitu juga dengan Jimmy.


“Keparat! Kamu diam saja di mobil, jangan sampai keluar ya,” ucap Jimmy kepada Frita yang hanya mengangguk menanggapi perkataan Jimmy itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2