
Ellena kaget dengan kehadiran Sean saat dia sedang berbincang bersama Devan. Sosok Sean benar-benar seperti siluman yang muncul tanpa diduga sama sekali.
Ellena melihat ke arah kedua pemuda yang kini saling berhadapan secara bergantian. Dia bisa melihat ada sinar tidak suka yang keluar dari dua pasang mata tersebut. Ellena semakin bingung dengan apa yang harus dia lakukan saat ini.
“Ell, ayo pulang,” teriak Arina dari meja resepsionis.
“Okey! Maaf semuanya, saya pergi dulu. Selamat malam,” ucap Ellena dan berjalan secepat mungkin untuk menghindari dua pemuda itu.
Ellena undur diri dari hadapan Sean dan juga Devan, dia tidak bisa memilih salah satu di antara dua atasannya yang saat ini mungkin tidak memperdulikan dia karena sibuk menghantarkan aura tidak suka pada ada lawannya.
Ellena segera menyusul Arina yang sudah terlebih dahulu keluar dari lobi menuju ke mobil jemputan mereka. Sean dan Devan melihat wanita itu setengah berlari saat dia mengejar mobil jemputannya itu.
“Apa maksud kamu deketin Ellena?” tanya Devan pada sepupunya yang sekaligus atasannya itu.
“Alasan? Apa aku harus bilang sama kamu?” jawab Sean dengan nada angkuhnya.
“Sean, dia wanita baik-baik. Jangan ganggu dia. Jangan jadikan dia wanita malam yang selalu kamu cari itu.”
Ucapan Devan membuat Sean tersinggung. Matanya menatap tajam pada Devan yang ada di depannya. Pemuda itu kini mulai tersulut emosinya.
Sean mencondongkan badannya ke depan sampai wajahnya ada di sebelah telinga Devan. Dia ingin mengatakan sesuatu yang penting untuk Devan dengar.
“Apa pun alasanku deketin dia, itu bukan urusanmu. Dari dulu dia milikku dan ga akan pernah jadi milikmu! Jadi sebaiknya kamu ga usah ikut campur urusan ini,” bisik Sean pelan di telinga Devan.
Setelah mengatakan itu Sean kembali memundurkan badannya lalu menepuk pundak Devan secara perlahan. Ada senyum meremehkan di bibir Sean saat ini. Bahkan alisnya pun naik turun tanda dia sedang meremehkan Devan yang sepertinya mengajaknya bersaing mendapatkan Ellena.
Devan hanya mampu berdiri sambil melihat Sean. Dia sangat geram saat ini pada Sean setelah mendengar apa yang dia dengar tadi. Tangannya mengepal kuat siap untuk memberikan tinju perdananya pada Sean. Kalau saja saat ini mereka sedang tidak ada di kantor, pasti pukulan itu akan melayang di wajah Sean.
Sean segera pergi meninggalkan Devan dengan senyum kemenangan. Dia tahu Devan marah padanya, tapi bagi Sean, Devan hanya seperti kuman yang bisa dengan mudah dia singkirkan. Masalah Ellena lebih penting saat ini, dari pada mengurusi seekor kuman.
“Kamu sudah dapat informasi tentang Ellena?” tanya Sean pada Mathias.
“Sudah, Bos. Saya sudah mengantongi alamat rumahnya. Saya tinggal mengecek saja tentang alamat rumah itu,” jawab Mathias di kursi depan.
__ADS_1
“Bagus. Laporkan juga semua tentang dia. Lalu apa hubungan dia dan Devan? Apa mereka memiliki hubungan khusus?”
“Menurut berita yang beredar di kantor, mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Pak Devan memang menaruh hati pada Ellena, tapi tidak dengan Ellena. Dia selalu menolak Pak Devan.”
“Kesian banget sepupuku itu. Nasibnya sangat tragis. Apa dia ga malu waktu semua orang tau kalo dia suka Ellena tapi dia cuma cinta sendiri. Gitu mau saingan sama aku buat dapetin Ellena.”
Mobil yang dinaiki oleh Sean dan Mathias segera melaju ke apartemen mewah milik Sean yang ada di pusat kota. Sejak Sean kembali dari Amerika, dia tidak tinggal bersama keluarganya. Sean terbiasa hidup mandiri dan tidak ingin dicampuri urusannya.
**
Ellena dan Arina turun dari mobil antar jemput mereka di halte yang dekat dengan rumah Ellena. Dua sahabat itu kemudian berpisah menuju ke rumah mereka masing-masing. Ellena berjalan kaki sambil bersenandung menuju ke gang rumahnya.
Saat baru masuk gang, Ellena menghentikan langkahnya saat melihat ada sebuah motor yang dia kenali sedang menuju ke arahnya. Dia tersenyum melihat bocah kecil yang sedang berdiri di belakang setir.
“Mama ... mama pulang,” teriak Nathan kegirangan.
“Pada mau ke mana ini? Kok Mama pulang malah di tinggalin?” tanya Ellena sambil mencubit gemas pipi putranya.
“Mau ayam goreng? Emang Ibu tadi ga masak?” tanya Ellena balik.
“Masak, cuma Nathan bilang mau minta ayam goreng. Gara-gara liat di TV tadi.”
“Mama mau ayam goreng. Nathan mau makan ayam goreng,” pinta Nathan sedikit memelas.
“Ya udah kita beli ayam tapi makan di rumah ya. Kasian nanti nasi Anma ga ada yang makan. Mama juga mau beli es krim, mau es krim ga?” tanya Ellena sambil melihat ke arah Nathan dengan gemas.
“Maauu! Nathan mau dua, Mama.”
“Ok, kita jalan yuk.”
Ellena segera mengambil alih sepeda motor yang sedang dikendarai oleh ibunya. Mereka kini berboncengan menuju ke minimarket yang dekat dengan rumah Ellena tersebut. Di sana ada tukang ayam goreng yang berjualan di depan minimarket.
Setelah memesan beberapa potong ayam goreng, Ellena mengajak ibu dan anaknya untuk masuk ke dalam minimarket. Ada beberapa barang yang ingin dia beli tapi tidak dijual oleh ibunya di warung mereka. Nathan juga sangat antusias saat dia akan mendapatkan es krim dari mamanya malam ini.
__ADS_1
“Kamu kok tumben belanja buah sama sayur di minimarket, Ell,” tanya Siska.
“Ga papa Bu, sekali-kali kita beli buah sama sayur yang dijual sama mamang sayur kan boleh,” jawab Ellena sambil memasukkan beberapa buah ke dalam troli.
“Emang kamu udah gajian?”
“Ellena dapet bonus agak besar, Bu. Pengen manjain Nathan sama Ibu dulu sekarang. Yang penting tabungan buat keperluan utama ga di ganggu.”
“Makasih ya, Ell. Kamu malah belanjain kita terus. Kamu kerja keras buat kami. Ibu cuma bisa doakan kamu saja.”
“Udah, Bu. Ini juga kan buat kita. Ellena bersyukur, Ibu mau bantu jaga Nathan tiap hari.”
Siska tampak berkaca-kaca melihat putrinya yang sejak dulu selalu saja bekerja keras demi dia. Bahkan Ellena sampai rela menjual kehormatannya untuk menebus dirinya di rumah sakit.
Siska sempat kecewa pada Ellena saat mengetahui putrinya itu hamil tanpa seorang suami. Tapi Siska tidak bisa marah ketika dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dia justru malu karena menjerumuskan putrinya ke jalan yang tidak benar. Oleh sebab itu dia tidak bisa membenci putri dan cucunya yang tampan itu.
“Nathan ... jangan lari-lari donk. Nanti kamu jatuh,” ucap Ellena saat melihat putranya berlari ke arah mesin pendingin untuk menyimpan es krim.
“Nathan mau es krim, Mama,” ucap Nathan bersemangat.
“Awas jatoh,” ucap Siska.
BUG!
Baru saja Siska mengatakan itu, Nathan sudah terjatuh di sudut lorong rak karena terpelesat lantai minimarket yang licin. Dan seketika Nathan mengaduh kesakitan.
“Heeii ... hati-hati jagoan,” ucap seorang pemuda yang datang membantu Nathan berdiri.
“Makasih, Om,” ucap Nathan sambil tersenyum.
Langkah kaki Ellena terhenti saat dia melihat sosok pria yang membantu Nathan di ujung lorong. Dia mengenali pemuda itu.
Bersambung....
__ADS_1