
Aditya bersama Bima mengantar kepergian Ratna, Brian dan Viktor yang akan pergi menuju pertemuan semua geng kota Bandung. Mereka berdua pergi bersama puluhan anak buahnya, sedangkan di kediaman Bima mungkin hanya tersisa belasan orang saja. Mereka semua sudah siap dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi.
“Aku mencemaskan mereka,” ujar Bima.
“Itu memang wajar, terlebih tempat pertemuan kali ini berada di jantung geng Serigala,” kata Aditya sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Putra.
“Ada kabar apa bos?” sapa Putra.
“Kelihatannya kita harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk Put.”
“Kami memang sedang bersiap-siap bos. Aku dengar semua geng yang datang ke pertemuan itu akan membawa semua anak buah mereka. Jika terjadi hal yang buruk di sana kemungkinan akan terjadi perang besar.”
“Ya, dan yang paling diuntungkan dalam perang itu hanyalah para pengatur pasar gelap, Black Mafia. Sebaiknya kamu segera datang ke markas besar geng Merak sekarang juga. Aku sudah punya rencana untuk malam nanti,” perintah Aditya.
“Oke bos, kami akan segera datang ke sana dengan persenjataan lengkap,” jawab Putra.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Bima.
“Kita harus menunggu kedatangan geng Kujang terlebih dahulu, lalu kita akan ikut mendengarkan apa yang terjadi di pertemuan itu nanti,” jawab Aditya.
“Geng Kujang?”
“Ya, mereka adalah satu-satunya geng yang tidak diundang ke acara itu. Aku yakin ini adalah siasat licik Jaja untuk menyingkirkan mereka. Tapi saat ini hal itu akan kita manfaatkan untuk balik mengacaukan rencana mereka,” kata Aditya sambil tersenyum.
Aditya kemudian menelepon Ratna untuk mengetahui dan mendengarkan jalannya pertemuan yang akan dilaksanakan nanti malam. Ratna menerima panggilan darinya, dari suaranya terdengar kalau mereka masih di perjalanan dan belum sampai ke Villa milik Jaja.
“Baru juga sebentar Dit, aku sekarang masih di jalan,” kata Ratna.
“Tidak apa-apa aku cuma ingin dengar suaramu kok,” jawab Aditya sambil tertawa kecil.
“Dasar kamu ini.”
“Ingat kamu jangan matiin teleponnya ya.”
__ADS_1
“Ih kalau aku mau ke toilet mah aku matiin kali.”
“Ya, tapi kalau sudah kamu harus telepon kembali.”
“Iya-iya aku mengerti kok. Nanti aku telepon lagi kalau sudah sampai di lokasi,”
“Oke, hati-hati ya. Jika ada apa-apa sebaiknya kamu segera mengabariku,” kata Aditya sambil mengakhiri panggilannya. Tak lama kemudian terdengar suara kendaraan dalam jumlah banyak berhenti di halaman rumah Bima.
“Kelihatannya tamu kita sudah datang semuanya,” kata Bima.
***
Sementara itu Hans sang dewa judinya Bandung keluar dari mobilnya menuju sebuah bar. Dia kemudian masuk ke dalam ruangan tempat rapat para elit Black Mafia di lantai tiga, namun tidak ada seorangpun rekannya di sana. Dia kembali memeriksa ponsel untuk melihat pesan yang dikirimkan oleh Ketua Black Mafia kepadanya.
“Aneh padahal Ketua menyuruhku untuk datang ke sini sekarang,” gumam Hans sambil mengambil cerutu dari tempatnya.
“Eh?” gumam Han kaget karena tiba-tiba beberapa pria sangar masuk dari beberapa pintu kemudian mengelilinginya.
“Sayang sekali jika aku harus membuang bidak berharga seperti dirimu Hans Juliano, Hahaha,” ucap seorang pria yang menembaknya sambil tertawa.
“Jadi selama ini, lu.. adalah..”
“Ya, Gue Ketua Black Mafia. Hahaha lu benar-benar bisa membodohi gue selama ini, tidak kusangka kalau ada musuh dalam selimut.”
“Rei.. maafkan aku karena tidak bisa membalaskan kematianmu,” gumam Hans, tatapan matanya mulai gelap seiring dengan rasa sakit yang semakin menjadi.
“Hahaha menyedihkan, aku tidak menyangka seorang Kakak sampai sebegitu inginnya membalaskan dendam adiknya sendiri.”
Ketua Black Mafia hanya tertawa puas, semua anak buah yang ada di sana kemudian menembak tubuh Hans yang sudah tewas dengan bersimbah darah di lantai. Di luar Bar itu Arya baru saja sampai dengan mobilnya. Dia kemudian masuk ke dalam bar untuk memastikan kebenaran kabar yang dia dengar.
Namun di dalam bar tidak tampak siapapun. Hal itu membuatnya semakin heran, dia kemudian pergi ke lantai dua namun di sana juga tidak ada siapa-siapa. Tiba-tiba saja dari lantai tiga dia mendengar suara tembakan beberapa kali. Tubuhnya bergetar, sekarang dia merasakan firasat buruk. Arya kemudian berlari menuju lantai satu, namun puluhan orang menghadangnya.
“Cih, jadi ini semua jebakan ya,” gumam Arya sambil waspada.
__ADS_1
“Hahaha tikus lainnya datang tepat waktu juga,” ucap seorang pria dengan suara disamarkan, suara itu berasal dari pengeras suara yang ada di dalam bar.
“Siapa kalian?! Ini adalah wilayah kami geng Serigala!” tegas Arya sambil tangannya bersiap memegang pistol.
“Hahaha di saat terdesak seperti ini lu baru membanggakan geng lu, Tri atau harus gue panggil pak penyidik dari kepolisian? Arya,” ucap orang dari pengeras suara sambil tertawa terbahak bahak.
“Bukankah selama ini tugas lu adalah menemukan keberadaan Black Mafia? Hahaha sekarang lu harusnya senang karena mendengar suaranya langsung,” tambah pria itu.
“Jadi kabar yang mengatakan ada pertemuan besar di sini itu hanya untuk memancingku datang ya?”
“Memang kabar itu benar, hanya saja bukan di sini tempat pertemuannya. gue pikir lu tipe orang yang tidak mudah untuk dijebak, tapi nyatanya benar-benar mengecewakan.”
“Cih, kalau lu semua sudah tahu semuanya, gue nggak akan segan-segan lagi!” teriak Arya sambil mengeluarkan pistolnya dan menembak musuh di hadapannya. Namun dari belakang tangannya dihantam tongkat besi hingga pistolnya terpental jauh. Arya berbalik menyerang orang yang menyerangnya.
Dengan ketangkasannya Arya terus bertarung menghadapi puluhan lawan. Dari hidung dan mulutnya sudah keluar darah akibat terkena serangan lawan, namun dia tidak putus asa dan terus melawan mereka. Dia bergerak menyudutkan musuhnya mendekati pintu bar, tujuannya tak lain adalah untuk melarikan diri jika ada kesempatan.
“Jangan biarkan dia kabur!” teriak pria dari pengeras suara.
“Atas nama kepolisian! Kalian semua akan aku tangkap, terutama lu Ketua Black Mafia!” teriak Arya sambil menghadapi semua lawannya.
“Aku harus pulang, aku harus bisa pergi dari tempat ini, Mia..” gumam Arya mengingat istrinya di rumah.
“Nak, papa pasti akan pulang. Papa pasti akan jadi orang pertama yang melihatmu lahir ke dunia ini,” gumam Arya. Namun sebuah hantaman tongkat kayu mengenai kepalanya hingga tatapannya mulai gelap bersama rasa sakit yang terasa amat sangat itu.
“Mia.. maafkan aku..” gumam Arya pelan seiring tubuhnya ambruk ke lantai.
“Maafkan aku.. jagalah anak kita satu-satunya..” gumam Arya lagi, air matanya mengalir menyatu dengan darah yang keluar dari luka di kepalanya.
Beberapa hantaman tongkat terasa menyakitkan mengenai tubuhnya. Dia mengingat kembali kalau dia belum menyiapkan nama untuk calon putranya yang akan segera lahir. Dengan sisa tenaganya dia menggerakan tangan kanannya untuk menulis sebuah nama di lantai menggunakan darahnya sendiri.
“Maafkan papa.. maafkan papa.. Rafa..” ujar Arya seiring dengan tatapannya yang semakin gelap.
BERSAMBUNG…
__ADS_1