Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 139


__ADS_3

“Kami tidak menyangka jika akan bertemu dengan anda di sini,” sapa seorang pria.


“Maaf, apa sebelumnya kita saling mengenal?” tanya Aditya heran.


“Oh iya maaf. Kami berempat berasal dari tentara angkatan darat. Kami datang ke sini atas undangan bawahan kami Argawijaya.”


“Kami selalu memperhatikan anda sejak pertama kali anda naik ke kapal ini. Kami serasa bermimpi bisa melihat orang yang sangat melegenda kisahnya di dunia militer. Karena itulah kami ragu untuk menyapa anda.”


“Tapi setelah melihat anda dari dekat barulah kami yakin jika adalah Aditya Laksmana, si Belati Maut dari pasukan khusus angkatan darat.”


“Kalian terlalu melebihkannya. Aku hanya orang tak berguna yang pernah bergabung dengan tentara,” jawab Aditya.


“Anda terlalu merendah komandan. Kami tidak menyangka bahkan anda akan sesabar itu menghadapi cacian dan hinaan dari orang-orang bodoh itu,” ujar seorang pria sambil menunjuk Fred yang ternganga karena baru tahu identitas Aditya yang sebenarnya.


“Aku hanya tidak ingin mencari keributan di sini, tolong jangan panggil aku komandan. Aku bukan seorang tentara lagi saat ini.”


“Tetap saja anda adalah panutan para perwira dan tentara angkatan darat. Kehebatan anda dalam menyelesaikan setiap operasi sering menjadi perbincangan dan contoh yang diceritakan oleh para pimpinan. Pangkat anda juga sudah lebih tinggi dari kami.”


“Tapi aku yang tidak enak, sekarang aku hanya ingin menjadi warga sipil biasa. Pangkat setinggi apapun tidak berguna lagi jika sudah tidak jadi tentara.”


“Anda memang rendah hati.”


Aditya hanya tersenyum. Dia sendiri tidak menyangka jika kisahnya akan diketahui oleh para tentara baru seperti mereka. Tapi hal itu juga sedikit mengungkit luka lamanya dulu. Andai teman-temannya masih hidup, kemungkinan kehormatan yang dia rasakan saat ini lebih pantas mereka miliki.


Mendengar pembicaraan Aditya dengan para tentara itu membuat semua orang di sana semakin kaget saja. Mereka tidak menyangka jika sebenarnya Aditya adalah orang sehebat itu. Ratna juga hanya bisa menatap Aditya, rasa penasarannya terhadap Aditya semakin tinggi. Dia ingin sekali mengetahui seperti apa sebenarnya masa lalu Aditya hingga menjadi panutan dan dihormati para tentara itu.


“Fred kamu kan sponsor pesta ini, kenapa kamu tidak menawari mereka uang saja agar mereka mau kamu peralat,” bisik teman Fred.


“Bodoh kamu ya, mereka itu tentara tahu! Mana mungkin mau disuap hanya dengan uang,” jawab Fred.


“Kalian sebaiknya minta maaf kepada dia!” perintah seorang pria sambil menunjuk Fred.


“Itu juga jika kalian ingin berdamai dengan kami,” gertak pria lainnya.


Fred terlihat sangat kesal sambil menatap Aditya. namun dia sadar tidak mampu berbuat apa-apa lagi kepadanya. Dia sendiri merasa takut setelah melihat dan mendengar perbincangannya dengan empat pria tentara itu.

__ADS_1


“Aku benar-benar minta maaf,” ujar Fred sambil tertunduk.


“Yang keras!” bentak seorang pria.


“Laki apa bukan sih! Tadi saja pas bentak-bentak keras!”


“Dasar anak belagu!”


“Saya minta maaf!” teriak Fred.


“Sudahlah, aku juga tidak akan memperpanjang permasalahan ini,” ucap Aditya.


“Makanya jangan hina orang seenaknya! Aku benar-benar malu punya teman seperti kamu Fred,” kata Ratna sambil menggandeng tangan Aditya.


“Terimakasih ya,” ucap Aditya kepada empat pria yang telah membantunya. Mereka hanya tersenyum sambil memberi hormat kepadanya.


Ratna mengajak Aditya untuk melihat lihat ruangan yang ada di kapal pesiar mewah itu. Tersirat rasa senang di wajah Ratna saat bisa berduaan dengan Aditya seperti itu. Aditya sendiri mulai bisa melupakan kegelisahan di dalam hatinya.


Mereka kemudian naik ke lantai dua, ruangan di sana sangatlah luas. Di ruangan itu terdapat restoran mewah dan juga lantai untuk berdansa. Beberapa orang terlihat sedang menikmati hidangan di meja mereka sambil berbincang. Aditya sangat terkejut karena di ujung ruangan terdapat beberapa kursi yang menghadap ke arah pintu masuk.


“Kita makan saja dulu yuk,” ajak Ratna sambil duduk di kursi.


“Boleh, aku juga sudah mulai lapar,” jawab Aditya sambil duduk berhadapan dengan Ratna.


“Pesan apa Mbak, Mas?” tanya seorang pelayan yang dengan cekatan segera menghampiri mereka. Aditya dan Ratna kemudian memesan makanan masing-masing. Pelayan itu kemudian pergi meninggalkan mereka.


“Harusnya kamu tadi pesan banyak saja Dit, mumpung gratis loh,” ujar Ratna.


“Kalau banyak nggak mungkin kemakan semua Rat,” jawab Aditya sambil tersenyum.


“Kita berdua kayak lagi kencan saja ya,” kata Ratna sambil tersipu.


“Kencan ya, apa nggak lebih pas dibilang honeymoon saja?”


“Ih, masa tiba-tiba honeymoon sih. Nikah dulu dong.”

__ADS_1


“Kamu ini Rat, harusnya kamu sadar deh dari tadi itu kamu banyak dilirik sama pria-pria kaya.”


“Lah buat apa juga Dit, kebanyakan kelakuan mereka sendiri itu buruk. Kalau cum lihat pria dari kekayaannya saja bisa-bisa nanti sakit hati terus.”


“Btw, kamu kok nggak pernah cerita kalau pernah menjadi tentara?” tanya Ratna.


“Ya kamu sendiri nggak pernah nanya.”


“Gimana mau nanya ih, orang aku juga baru tahu tadi. Harusnya tuh kamu langsung saja ceritain kepadaku. Bisa nggak kamu ceritain sekarang?”


“Aku jadi tentara juga sebentar kok nggak ada yang bisa aku banggakan, lagipula lebih seru kalau kamu yang cerita tentang balapan yang sudah kamu ikuti selama ini, pasti lebih seru,” jawab Aditya mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Ratna hanya terdiam, dia pikir mungkin Aditya punya alasan sendiri kenapa tidak pernah menceritakan masa lalunya sebagai tentara.


Pesanan mereka datang dibawa oleh pelayan. Mereka kemudian berbincang sambil menikmati hidangan yang dipesan. Tiba-tiba saja terdengar suara pengeras suara yang dinyalakan. Lalu seorang pembawa acara muncul sambil berbicara di pengeras suara. Semua orang menoleh ke arah ujung ruangan. Di sana terlihat sudah duduk beberapa orang yang menarik perhatian semua tamu.


Keluarga Fred, keluarga Diaz dan keluarga Gina berada di sana. Frita dan Diaz duduk berdampingan, semua orang yang hadir jelas terpana melihat kecantikan Frita yang memakai gaun indah. Sedangkan Diaz hanya tersenyum lebar karena senang melihat perhatian para tamu tertuju kepada mereka.


Aditya menatap tajam Frita dari kejauhan. Ketika pandangan mereka bertemu Frita segera memalingkan wajahnya atau tertunduk. Perasaan Aditya kembali terasa tersayat melihat wanita idamannya sedang duduk bersanding dengan orang lain. Tatapannya mulai nanar, Ratna juga menyadari hal itu.


“Kamu kenapa Dit?” tanya Ratna sambil mendekatkan kursinya dengan Aditya.


“Tidak apa-apa Rat, aku hanya merasa senang karena pada akhirnya bosku akan segera menikah,” jawab Aditya pelan.


“Kenapa senang? Bukannya kamu nanti bisa saja dipecat karena dia tidak akan membutuhkan sopir pribadi lagi?”


“Ya kemungkinan besar aku akan dipecat. Tapi aku senang karena pada akhirnya aku bisa bebas tiduran sampai siang hari,” jawab Aditya sambil tersenyum.


“Dasar kamu ini,” kata Ratna sambil tertawa kecil.


Frita yang melihat keakraban mereka dari kejauhan hanya tertunduk. Perasaan bimbang di hatinya kembali muncul. Entah kenapa perasaan tidak rela kembali timbul di hatinya saat dia melihat sang penyelamatnya sedang duduk berbincang dengan wanita lain. Suara ayah Fred yang dengan lantang sedang berbicara seolah tidak terdengar oleh Frita yang sedang sibuk dengan perasaannya. Pembawa acara kemudian menyerahkan microphone kepada Diaz.


“Selamat datang para hadirin semua, tamu-tamu undangan yang terhormat. Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada semuanya terutama keluarga teman saya, Fred. Yang sudah mau mengundang kami ke pesta mewahnya. Dalam momen ini saya ingin menyampaikan sesuatu kepada semua orang yang hadir di pesta mewah ini,” papar Diaz sambil tersenyum.


Beberapa orang tiba-tiba datang membawa sebuah meja ke depan Diaz, di atas meja terdapat sebuah kotak hitam. Diaz kemudian membuka kotak hitam di atas meja, semua orang kaget dan terpana dengan apa yang mereka lihat.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2