Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 44


__ADS_3

“Kamu masih nanyain soal itu? Kamu masih nuduh aku jadi pelakor di kantor kaya yang mereka bilang?” jawab Ellena sambil melihat ke arah Arina.


“Ga gitu, Ell. Aku takut aja ... kamu temen aku soalnya,” ucap Arina.


“Makasih udah ikut khawatir. Tapi kalo aku emang mau jalanin hubungan sama seseorang, aku juga pasti liat dulu kok. Itu orang ada yang punya ato enggak.”


“Maafin aku ya, Ell,” ucap Arina penuh sesal.


Tidak ada jawaban dari Ellena lagi. Kini mereka hanya diam dan tidak lagi saling mengobrol seperti biasanya. Ellena juga tidak ingin meneruskan obrolan karena takut mood-nya nanti akan berubah.


Tapi dalam hati Arina sebenarnya masih meragu, apa benar sahabatnya ini memang menyembunyikan hubungannya dengan Sean, atasan mereka atau mereka hanya kebetulan saja tadi malam. Soalnya Arina sendiri pernah mendengar kalau Ellena pernah diajak Sean secara pribadi bertemu dengan klien. Jadi sepertinya itu hanya kecurigaan tanpa alasan.


Saat mobil jemputan Ellena sampai di depan kantor, Ellena sudah melihat mobil Sean sudah ada di depan lobi. Sepertinya Sean akan pergi karena mobil itu hanya di parkir di sana saja tidak di parkir di tempat parkir khusus pimpinan.


Ellena mulai bingung untuk mencari alasan agar dia bisa berpisah dari Arina saat ini. Dia ingin memberikan sarapan pagi untuk Sean dulu sebelum ke ruangannya.


“Rin ... aku ke toilet dulu ya,” ucap Ellena yang tidak menemukan alasan lain.


“Ke toilet lagi? Kemarin kamu ke toilet sekarang ke toilet lagi. Kamu ga papa kan, Ell?” tanya Arina yang mendapati perubahan sikap Ellena sejak kemarin.


“Ga papa kok. Aku ga papa. Aduh, duluan ya. Aku kebelet.”


Ellena segera berjalan cepat menuju ke toilet yang ada di lobi. Arina yang masih berdiri di sana melihat ke arah Ellena. Rasa curiga yang tadi dia rasakan kini kembali muncul. Arina mencoba untuk mengikuti Ellena masuk ke dalam toilet.


Saat sudah dekat di toilet, Arina masuk dengan mengendap-endap. Kotak makan yang dibawa Ellena masih ada di meja wastafel tapi orangnya tidak ada, sepertinya Ellena masuk ke salah satu bilik toilet. Arina segera masuk juga ke salah satu bilik untuk bersembunyi.


“Duh lega. Kok jadi pingin pipis terus ya aku belakangan ini. Hmm apa aku lagi ada yang salah ya? Ga papa lah, sehat bearti. Jalanlah sekarang,” ucap Ellena setelah dia merapikan penampilannya.


“Ellena sering pipis? Ya ampun ... Ell, kamu ga lagi hamil lagi kan?” ucap Arina dalam toilet sambil menutup mulutnya.


Arina merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar tadi. Dia sering melihat kakaknya yang sedang hamil muda juga sering pipis, sama persis dengan apa yang dikatakan Ellena tadi. Selain itu, belakangan ini Ellena sering sekali pesan makanan saat mereka bekerja. Sahabatnya itu sering bekerja sambil makan.

__ADS_1


Sementara Arina sedang bimbang karena mengkhawatirkan tentang temannya itu, Ellena justru melangkah dengan sangat senang menuju ke arah lift. Dia sudah membayangkan akan segera bertemu dengan pujaan hatinya saat ini di lantai teratas gedung ini.


Ellena kini sudah ada di dalam lift. Dia terus melirik ke kotak makan yang ada di tangannya untuk pujaan hatinya itu. Beberapa pegawai yang ada bersama dia di dalam lift pun sudah turun satu persatu dan kini hanya tinggal dia di dalam lift karena akan turun di lantai teratas.


‘Sean kok udah di kantor ya sepagi ini. Kan ini masih pagi banget. Jangan-jangan dia nungguin aku ... eh sarapan aku maksudnya. Duh jadi malu sendiri aku,’ ucap batin Ellena sambil menutup mulutnya dengan tangan karena malu dengan pikirannya sendiri.


Ting


Pintu lift terbuka. Ellena segera melangkahkan kaki keluar dari dalam lift. Tapi baru saja dia melangkah beberapa langkah, ada suara lift sampai di lantai itu juga. Ellena reflek menoleh ke arah deretan pintu lift itu.


“Ellena ... kamu ngapain ke sini?” sapa Nindi, sekretaris Sean yang keluar dari dalam lift.


“Eh Bu Nindi, ini Bu ... mau ketemu sama Pak Sean,” ucap Ellena sedikit panik.


“Ketemu Pak Sean, pagi amat. Emang ada urusan apa? Ga biasanya loh ada pegawai ketemu Pak Sean sepagi ini,” jawab Nindi sambil menuju ke meja kerjanya.


“Hmm ... ini saya ... saya. Saya mau kasih laporan ke Pak Sean.”


Nindi melihat ke arah Ellena. Dia melihat Ellena dari atas ke bawah. Nindi tidak menemukan Ellena membawa sebuah berkas apa pun. Justru dia melihat Ellena membawa sebuah kotak bekal makanan yang sepertinya itu juga sama dengan yang kemarin di temukan di tempat sampah.


‘Mau laporan? Laporan apa kamu? Apa jangan-jangan bener ya kabar itu. Kamu upik abu yang lagi pengen merubah nasib jadi Cinderella. Duh tampang lugu tuh ternyata ga ngejamin ya. Udah dapet Pak Devan, eh masih pengen yang lebih tinggi lagi. Dasar cewek jaman sekarang,’ gumam Nindi sambil memicingkan matanya melihat Ellena yang berdiri di depan meja kerjanya.


“Ellena ... ngapain kamu di sana?”


Terdengar suara Sean dari arah yang berlawanan dengan arah ruang kerjanya. Ternyata Sean dan Mathias baru saja keluar dari ruang meeting yang ada di sudut lain tempat itu. Ellena makin tidak nyaman dengan apa yang terjadi saat ini.


Ellena takut Sean akan mengatakan hubungan mereka pada Nindi. Dia akan merasa tidak enak nantinya kalau sampai sekretaris Sean ini tahu. Ellena berusaha memberikan kode pada Sean lewat matanya.


“Kamu ngapain berdiri di sini. Ikut aku,” ucap Sean yang masih berusaha menahan diri mengikuti apa yang diinginkan Ellena.


“Ba-baik, Pak,” ucap Ellena menjawab apa yang dikatakan Sean.

__ADS_1


Sean berjalan menuju ke ruangannya terlebih dahulu. Ellena menundukkan kepalanya pada Nindi tanda dia akan berpamitan secara sopan pada wanita itu. Ellena segera menuju ke ruang kerja Sean, di mana Mathias sudah menunggunya di depan pintu itu.


“Aduuh aku kangen banget,” ucap Sean sambil memeluk Ellena.


“Eeh ... ini kamu kenapa sih. Sean ih,” ucap Ellena sambil menggerak-gerakkan badannya ingin melepaskan diri.


Sean melepaskan diri dari Ellena, “Kamu kenapa? Ga suka aku peluk?” tanya Sean dengan tatapan tidak suka.


“Ini udah mau jam 9 Sean, bentar lagi jam kerja dimulai.”


“Emang ada ya yang bisa ngatur mau aku di sini? Kamu tetep kerja meskipun kamu di sini. Temani aku makan dulu. Mathias akan urus semuanya.”


Sifat arogan Sean muncul lagi. Pria itu segera duduk di sofa untuk menunggu makanan yang di bawa oleh Ellena datang. Ellena tidak bisa menolak apa yang diinginkan Sean saat ini. Dia akhirnya mengikuti Sean duduk dan mulai sarapan bersama.


“Ell, tadi malam Nathan tanya soal aku ga? Dia nanya ga mana Daddy-nya. Kenapa ga ikut masuk ke rumah. Kaya gitu ga?” tanya Sean kepo.


“Enggak tuh. Dia biasa aja. Dia langsung lupa kayanya, dia langsung mainan kok,” jawab Ellena sambil memberikan kotak makan ke Sean.


“Eh masa? Duh kok gitu amat sih dia. Harusnya kan Nathan bisa tau kalo aku Daddy-nya. Gimana sih. Kamu ga bilangin dia kali ya?”


“Emang,” jawab Ellena santai.


“Kok emang sih. Kamu ga mau aku deket sama Nathan?” tanya Sean meminta penjelasan.


“Bukan ga mau. Tapi aku ga suka kalo kamu minta dipanggil Daddy. Jadi inget kaya anak Bu Luna aja. Aku ga suka,” ucap Ellena tegas.


“Ciee ... cemburu dia ya. Ok, kalo gitu biasakan dia panggil aku Papa ya. Papa Sean dan Mama Ellena. Kayanya Nathan udah pantes punya adek baru tuh,” ucap Sean sambil tersenyum lebar.


“Apaaa??? Adek baru???”


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2