
Aditya meringis kesakitan. Dia benar-benar kesusahan jika harus melawan mereka berlima sekaligus. Kemampuan mereka berlima sama rata hanya saja mereka memiliki gaya tersendiri dalam menghabisi lawannya. A terlihat siap menembak Aditya kembali namun tiba-tiba seseorang datang dan menendangnya hingga kedua pistol itu terlempar kembali.
“Brengsek!” gerutu A, semua orang mulai melirik ke arahnya. Listrik kembali menyala, terlihat sesosok perempuan dengan tatapan tajam menatap semua penjahat.
“Bu Heni?” gumam Aditya ketika melihat perempuan itu.
“Cih, siapa yang nyalain lampunya?” tanya si D.
“Katanya sudah tidak ada yang berkeliaran lagi!” gerutu si A.
“Bukankah kita tadi sudah menangkap semuanya?” gumam si C.
“Kalian terlalu meremehkan kami!” tegas Heni.
“Jadi begitu ya bentuk kalian, ternyata kalian hanyalah kumpulan pemalu yang suka membunuh,” ledek Aditya ketika melihat semua penjahat itu memakai pakaian hitam dan menutupi wajah mereka dengan topeng mengerikan.
Heni kemudian menghajar A yang berusaha bangkit kembali lalu menendang kedua pistol itu lebih jauh lagi. Si D segera menyerangnya namun berhasil dihindari. Si E juga hendak menyerang namun Aditya dengan cepat menghalaunya dengan tendangan. B dan C juga mulai menyerang lagi, tapi kali ini Aditya lebih leluasa untuk menghindari serangan mereka.
Perkelahian semakin sengit, Heni menghadapi A dan D, walaupun seorang perempuan tapi ketangkasannya benar-benar luar biasa. Aditya sendiri melawan B, C dan E. karena listrik sudah menyala kembali kini Aditya bisa dengan jelas melihat serangan mereka bertiga.
Sambil menghadapi tiga lawannya Aditya berusaha mendekati Heni untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. C menyerang dengan pisau namun Aditya mengelak dan menghantam kakinya hingga roboh lalu menendang tubuhnya hingga terpental.
“Siapa yang menghidupkan listrik kembali?” tanya Aditya.
“Entahlah, kami tadi berhasil menemukan tempat penyekapan rekan-rekan kita dan staff restoran. Namun ada seorang penjaga di sana. Kalau mereka berhasil meloloskan diri seharusnya mereka sudah memanggil polisi kemari,” jawab Heni.
“Berhati-hatilah, orang besar itu ahli beladiri tangan kosong, sedangkan yang agak kurusnya ahli menggunakan pistol,” kata Aditya sambil menjauh kembali.
“Hemh, jangan remehkan aku,” kata Heni sambil menerjang si D.
Si B menyerang Aditya dengan silet-siletnya, namun berhasil dihindari sementara E mencoba menyerangnya dari belakang namun ditahan oleh tangan Aditya. C yang melemparkan pisaunya berhasil menggores lengan kiri Aditya hingga melepaskan cengkraman tangannya pada si E.
Si B malah bergerak menuju Heni, Aditya segera menendang kursi untuk menghalangi langkahnya. Si E mencoba menyerangnya dengan beberapa teknik beladiri karate. Tapi Aditya membalasnya dengan teknik bantingan beladiri Judo. Aditya bergerak menyerang B yang lengah, tapi refleksnya cukup cepat hingga serangan Aditya hanya mengenai sedikit tubuhnya.
__ADS_1
“Cih, sebenarnya gue nggak terlalu suka menghajar wanita,” ujar Aditya.
“Kalau begitu kenapa lu nggak mati saja di tangan gue?” kata si B sambil tersenyum.
“Siapa juga yang mau mati di tangan psikopat seperti lu!” tegas Aditya sambil melayangkan tinjunya.
“Hihihi,” si B malah tertawa mengerikan sambil menghindari serangan Aditya.
Heni berusaha menghindari serangan si D, si A juga mulai bergerak kembali membantu rekannya. Serangan si D memang cukup lambat dibandingkan si E tapi tenaganya benar-benar kuat. Heni dengan tangkasnya terus menahan dan menghindari serangan si D. beberapa kali dia juga menyerang balik.
Si A mulai bergabung dengan perkelahian dengan menahan sakit di tangan kirinya. Melawan dua orang yang kuat membuat Heni sedikit kewalahan. Dengan bantuan A akhirnya D bisa mendaratkan pukulannya di tubuh Heni hingga dia terhempas menabrak meja. Sambil meringis kessakitan Heni mematahkan kaki meja lalu menggunakannya sebagai senjata untuk memperpanjang jarak serangannya.
Si A kembali menyerang namun Heni berhasil menghantam tangan kirinya hingga si A kembali menjerit kesakitan. Tapi beban kayu di tangannya membuat serangan Heni semakin lambat, hal itu dimanfaatkan oleh si D hingga berhasil mendaratkan beberapa serangan kepada Heni. Darah mulai keluar dari mulut dan hidungnya.
“Cih, kalian benar-benar tidak tahu diri!” gerutu Aditya sambil melirik ke arah Heni yang kewalahan.
“Kami tidak pernah segan membunuh siapapun!” jawab si C sambil menyerang Aditya dengan pisaunya lagi. Tapi berhasil di hindari.
“Dasar orang-orang pengecut!” ledek Aditya sambil menggunakan kursi untuk menahan sekaligus menyerang balik si C.
“Jangan samain gue sama psikopat kayak lu, B,” bantah si E sambil membantu menyerang Aditya.
Aditya mengayunkan kursinya untuk menghalau semua serangan lawan. Tapi E berhasil mengelak, tinjunya berhasil mengenai bahu Aditya hingga kursinya terlepas. Si C menghujamkan pisaunya ke dada Aditya namun berhasil dihindari dengan mengelak ke samping, tapi serangan si B kali ini berhasil menyayat tangannya.
Heni sendiri sedang jatuh bangun menghadapi serangan si D dan si A yang tanpa henti. Aditya merasa dia tidak punya pilihan lain lagi saat ini. Dia kemudian mengeluarkan belati dari dalam bajunya. Semua lawannya mundur dengan mata terbelalak. Tersirat kecemasan di wajah mereka.
“Bukankah belati itu hanya dimiliki oleh satu orang saja,” gumam si C.
“Apa yang kulihat ini benar-benar nyata?” ujar si E sambil mengusap wajahnya.
“Hihihi, aku semakin semangat saja,” ucap si B sambil tertawa.
“Hei hei, apa dia benar orang yang harus kita habisi?” tanya si A pelan dengan nada cemas.
__ADS_1
“Ini benar-benar buruk,” gumam si D sambil menatap tajam Aditya.
***
Arya dan Jimmy sedang berbincang di kantor polisi terkait penangkapan William dan barang bukti yang berhasil dikumpulkan oleh kepolisian. Jimmy juga menyinggung penjelasan Aditya terkait penculikan Clarissa dulu.
“Jadi itu yang dia katakan ya,” gumam Arya sambil tersenyum.
“Apa dari jawabannya ada yang mengganggu pikiranmu Ar?” tanya Jimmy.
“Tidak, jawabannya benar-benar tepat. Karena jika dia menjawab ada komplotan penjahat lain tentunya kasus itu akan terus berlanjut,” jawab Arya sambil menikmati kopinya.
“Aku juga masih bingung perihal barang bukti narkoba milik William.”
“Memangnya apa yang membuatmu bingung Jim?”
“Menurutku jumlahnya terlalu banyak, selain itu dari beberapa bukti dan saksi yang didapatkan. William hanyalah seorang penyelundup, anak buahnya juga hanya mengedarkan narkoba dalam jumlah kecil.”
“Jadi menurutmu seharusnya ada Bandar yang lebih besar lagi dari William yang menjadi penadah sebagian besar narkoba yang dia selundupkan?”
“Ya, tapi sampai saat ini tidak ada bukti pasti perihal orangnya, hasil penyelidikanmu bagaimana?”
“Aku juga berpikiran sama, tapi saat ini penyelidikan kami serasa sudah buntu. Kelihatannya dalang dibalik semua kejadian ini benar-benar licin bahkan hanya untuk ditemukan jejaknya saja sudah sangat susah. Tapi aku yakin akan mendapat informasi bagus jika tim interogasi berhasil membuka mulut orang-orang yang berhasil kita tangkap.”
“Aku harap juga begitu, tapi sejauh ini aku dengar mereka enggan untuk berbicara,” kata Jimmy sambil menghela nafas dalam. Tiba-tiba telepon di kantornya berdering, Jimmy menerimanya. Tiba-tiba saja wajahnya berubah pucat setelah mengakhiri panggilan.
“Ada apa Jim?”
“Sebaiknya kita segera berangkat ke penjara, Ar,” jawab Jimmy, dengan tergesa-gesa dia mengenakan jaketnya.
“Kenapa?”
“Para tahanan yang baru kita tangkap terkait kasus narkoba William semuanya tewas seketika,” jawab Jimmy.
__ADS_1
“Mustahil, bagaimana bisa?” gumam Arya sambil ikut bergegas.
BERSAMBUNG…