
Ternyata maksud perkataan Si Tua Leo tentang orang yang ‘lebih hebat’ itu benar juga.
Aditya diperkenalkan pada Garry Lee, sosok yang terlihat gagah, lebih gagah dari dirinya. Menurut Si Tua Leo, dia satu dari empat pemimpin Aliansi Ular Kobra, yakni perkumpulan mafia se-Asia Tenggara, yang bukan hanya mengeruk uang dari penjualan obat-obatan terlarang, melainkan juga terlibat dalam bisnis pembunuhan orang-orang penting yang tak pernah terungkap.
Garry Lee, konon kata si Tua Leo, buronan kelas internasional yang sejak lima tahun lalu belum berhasil diciduk.
Garry Lee menunggu di pelabuhan malam itu, menyamar menjadi seorang nelayan. Si Tua Leo berteriak senang mengenali wajah lelaki bertato ular tersebut, “Apa kabar, Garry? Lama tak jumpa!”
“Keadaan gawat. Sebaiknya kalian buruan naik!” kata Garry Lee, lalu memberi kode pada anak buahnya yang berdiri di atas kapal untuk angkat sauh.
Kapal barang itu tak mencolok, tapi itulah gunanya. Mereka tak membawa kapal pesiar untuk keperluan ini. Bukankah mereka datang kemari untuk menjemput seorang buronan?
Aditya belum terlalu menarik minat Garry Lee karena dikiranya pemuda itu hanya satu dari sekian anak buah ‘biasa’ Leo Kurniawan. Garry belum tahu apa yang satu jam lalu terjadi di bandara pribadi Si Tua Leo.
Aditya mengamati di sudut pelabuhan beberapa mayat tergeletak. Mereka memakai seragam. Oh, tentu, batin Aditya baru menyadari. Tentu saja Garry Lee dan pasukannya barusan membabat habis para polisi yang sudah menunggu Si Tua Leo di sini.
Tadi di mobil Aditya dengar Si Tua Leo berkata dengan sombong, “Kita cabut ke Thailand lewat laut. Begitu mencapai perbatasan, interpol atau bahkan dewa-dewa pun gak akan sanggup menghentikan gue! Hahaha!”
Sombong sekali. Mereka bahkan belum meninggalkan pelabuhan.
Belum berapa lama setelah kapal pesiar mereka itu melaju, terdengar suara sirene menyalak di kejauhan. Sorot cahaya dari kapal-kapal para penegak hukum memburu mereka di belakang.
“Bajingan itu bergerak lebih cepat dari yang gue sangka,” gumam Garry Lee.
Garry dengan tenang meminta Si Tua Leo untuk duduk di ruang istirahat bersama sebotol sampanye dan mungkin wanita-wanita muda penghibur. Aditya ikut bergabung bersama pasukan Garry Lee yang berjalan ke bagian belakang kapal, bersiap menyerbu pasukan polisi dengan kapal mereka.
Garry Lee memberikan senjata pada Aditya tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia lalu bertanya, “Kita bunuh semuanya?”
“Loe idiot atau gimana? Dari mana Leo mendapatkan anak buah macam loe? Siapa nama loe tadi? Adi?!” kata Garry.
“Aditya.”
“Ya, Aditya! Kita bunuh para polisi itu!” balas Garry dengan kesal.
Mendengar itu, para anak buah Garry hanya geleng-geleng kepala, mengira Aditya seperti bocah bau kencur saja.
Aditya terdiam, berpikir betapa ia tidak seharusnya ikut serta di sini, tetapi jika ia masuk, mengikuti Si Tua Leo ke ruang istirahat di mana ia bisa bersantai sejenak, tentu mereka bakal curiga. Penyamarannya langsung terbongkar. Maka, mau tak mau ia juga harus ikut menyerang para polisi yang mengejar kapal ini.
Namun, Aditya dengan sengaja mengarahkan tembakannya ke air, dan bukan pada kapal atau para polisi yang kini adu tembak dengan pasukan Garry Lee. Ia bertindak seolah serangannya mematikan, padahal ia tidak menembak siapa-siapa. Beruntungnya tak ada yang menyadari itu.
__ADS_1
Pengejaran itu berlangsung kurang dari sejam. Saat Si Tua Leo menciumi seorang gadis penghibur di ruang tersembunyi, terdengar ledakan. Dua kapal pengejar kepolisian berhasil dihentikan. Si Tua Leo berteriak girang seperti orang kesurupan, lalu menyuruh semua anak buahnya ikut berpesta.
Sepanjang sisa malam itu, Aditya tak berbuat apa-apa selain memikirkan nasib para polisi dan tentara yang gugur malam ini hanya demi misi ini. Ia berharap semoga saja kematian mereka tidak sia-sia.
Garry Lee baru mendengar cerita tentang Aditya esok harinya. Ia segera mengajak Aditya bicara, tapi pembicaraan itu tak perlu membuat Aditya cemas. Tampaknya lelaki yang satu ini tidak mudah curiga seperti Si Tua Leo. Ia mudah percaya saat mendengar kisah palsu tentang Aditya sebagai seorang pembunuh bayaran profesional.
Saat itu mereka hampir tiba di pelabuhan rahasia di Thailand. Si Tua Leo berkata kepada Garry, “Biar anak baru itu istirahat. Semalam dia membabat habis tujuh anak buah gue, tapi rupanya kematian mereka ada harganya.”
“Apa maksud Paman?” tanya Garry memperhatikan Aditya yang sedang duduk di haluan kapal bersama beberapa anak buahnya.
“Amy Aurora. Wanita misterius itu. Agen penyelundup ternama di Thailand itu.”
“Ya, kenapa?”
“Aditya mengaku kenal dekat dengannya.”
“Sebaiknya dia gak main-main dengan kita, Paman.”
“Ya. Kita harus pasang mata dan kuping baik-baik. Jangan sampai kita kecolongan. Aurora harga yang pantas untuk tujuh pembunuh terbaik gue,” tukas Si Tua Leo sambil menenggak segelas es.
Selama ini bisnis mereka agak terganggu oleh kehadiran Amy Aurora yang kerap menurunkan syarat-syarat alot untuk segala transaksi, terlebih mereka organisasi kotor. Ini mungkin teratasi jika gadis misterius itu diajak bekerjasama. Aditya kunci untuk masalah mereka.
Namun, bukannya mengajaknya berkenalan dengan orang-orang ‘penting’ tadi, Si Tua Leo menyuruh Aditya membersihkan diri di kamar yang disediakan. Kamar itu ada di sebuah mansion milik Garry Lee. Baru kali itu Aditya tahu ternyata Garry adalah keponakan Si Tua Leo.
Anak buah Garry Lee yang berjalan mengantar Aditya berkata, “Jarang-jarang Si Tua Leo mau merekrut orang baru secepat loe.”
Aditya tak menjawab.
“Sepetinya loe hebat. Atau ada sesuatu yang mesti loe berikan pada mereka?”
“Bukan urusan loe.”
Mereka tiba di depan pintu kamar yang dimaksud. Sebuah kamar yang tampaknya lumayan besar dan mewah. Aditya hendak masuk saat si anak buah itu menarik pundak Aditya dan berkata, “Loe tahu tempat apa ini, Bro? Loe gak usah main-main dengan para mafia itu.”
“Bangsat, bisa diam gak?!” Aditya melotot dan menarik pundaknya, menjauh dari si anak buah yang hanya menunduk-nunduk sambil tersenyum ganjil itu.
“Gue cuma ngasih tahu saja. Garry mungkin gak sepintar pamannya Si Tua Leo itu, tapi dia sangat sadis. Loe jangan main-main.”
“Gue tahu apa yang gue lakuin!”
__ADS_1
Aditya tidak peduli. Si anak buah itu pergi. Ia rupanya memang diutus oleh Garry untuk memberikan pesan psikologis pada Aditya agar tidak main-main dengan ucapan dan janjinya pada Si Tua Leo.
Aditya lalu membersihkan diri di kamar mandi, ganti pakaian yang ada di lemari baju, dan melangkah ke ruang makan seperti pesan Si Tua Leo. Di ruang makan itu tak seperti yang dia sangka. Di sana benar-benar terjadi pesta meriah seperti tak pernah ada peristiwa buruk saja yang menimpa mereka belakangan.
Musik berdentuman. Para wanita penghibur bertebaran di sana-sini. Minuman dan makanan tersebar di meja-meja. Entah apa yang terjadi. Mungkin mereka merayakan kebebasan salah satu pimpinan aliansi.
Si Tua Leo memperkenalkan Aditya kepada dua pimpinan Aliansi Ular Kobra lain: Tony Ho dan John Casino. Memang benar itulah ‘orang penting’ yang tadi sempat dia lihat di pelabuhan. Bisa dibilang target cadangan dari misi tingkat-S ini jika Si Tua Leo tak bisa memberikan informasi tentang Profesor Joe.
Si Tua Leo bilang, “Loe ambil wanita mana pun yang loe mau, Nak! Malam ini loe bebas bersenang-senang. Lucy, Anita, sini!”
Dua wanita penghibur melangkah mendekat.
“Nah, pilih saja yang loe suka. Mereka yang terbaik!” kata Si Tua Leo.
“Saya bisa mencarinya sendiri nanti, Tuan,” kata Aditya dengan kepala menunduk.
“Apa maksud loe? Mereka kurang cantik?” tukas Si Tua Leo.
Mendengar itu, Tony Ho dan John Casino tertawa terbahak-bahak. Lucy dan Anita melangkah pergi dengan ngedumel. Mungkin mereka kira Aditya cowok payah yang tak punya selera berkelas karena sudah menolak mereka.
Tony Ho tanpa basa-basi langsung menyodorkan pertanyaan, “Kapan kau bisa atur janji dengan Aurora itu?”
Aditya tampak terkejut juga. Si Tua Leo bilang ia sudah cerita tentang Aditya pada dua temannya ini.
Aditya dengan santai menanggapi, “Malam ini bisa kalau Anda sekalian berkenan.”
Mereka tampak tak percaya.
Aditya menambahkan, “Saya butuh pesawat telepon dan tempat yang tenang untuk menghubungi Amy Aurora.”
Tak butuh waktu lama, mungkin hanya setengah jam, orang-orang seisi ruangan itu dikejutkan oleh kedatangan tamu yang luar biasa cantik. Seorang gadis usia 25 tahunan dengan penampilan bagai malaikat tersesat, yang segera memeluk dan mengecup bibir Aditya persis di depan para hadirin. Membuat empat pimpinan Aliansi Ular Kobra pun melongo.
“Perkenalkan, saya Amy Aurora,” kata gadis muda itu pada empat orang penting tersebut.
Sebelum mereka menyahut dengan pertanyaan apa pun, Aurora segera menyambar tubuh Aditya dan mengajaknya menjauh dari ruangan.
Si Tua Leo, Garry Lee, Tony Ho, dan John Casino bertanya-tanya di hati: Apa benar wanita itu si Aurora yang selama ini? Sosok di balik banyak penyelundupan besar di Thailand selama beberapa tahun terakhir, sekaligus yang kerap menyusahkan mereka? Sepertinya mustahil!
“Bocah itu gak mungkin main-main,” kata Si Tua Leo. Ia sepenuhnya mulai percaya pada ucapan Aditya.
__ADS_1
Bersambung....