Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 35


__ADS_3

Frita menjalani aktifitasnya di kantor seperti biasa. Sedangkan Aditya kembali mengikuti pelatihan fisik di gedung bagian kemanan. Heni saat ini mulai tidak peduli dengannya. Heni pikir kalau Aditya hanya mantan berandalan yang pernah melamar menjadi tentara, namun gagal. Heni juga tidak menyukai Aditya yang malas malasan mengikuti latihan.


Di ruangannya tampak Frita terus berpikir untuk kembali mengerjai Aditya. namun hari ini belum ada ide jahil sedikitpun yang terlintas di pikirannya. Tiba-tiba HP miliknya berdering. Tampak Jimmy Wijaya yang menelpon. Frita menerima panggilannya.


“Halo Jim ada apa?” tanya Frita.


“Pagi Fri. kamu siang ini ada acara tidak?”


“Pagi juga Jim. kebetulan siang ini aku tidak ada acara kok, ada perlu apa ya?”


“Gini. Kata kamu kemarin kan pengen dikenalin sama yang nyelametin waktu itu.”


“Oh iya bener Jim. terus?”


“Nanti siang aku bersama orang itu akan berkunjung ke kantor kamu, sekalian memberitahukan tentang hasil persidangan Rana kepada ayahmu.”


“Bisa banget. Iya nanti siang aku tunggu,” jawab Frita dengan gembira.


“Oke sampai jumpa Fri.”


“Sampai jumpa Jim.”


“Yes!” teriak Frita kencang di ruangannya.


Rani masuk ke dalam ruangan Frita, karena cemas tiba-tiba Frita berteriak seperti itu. Dia agak lega ketika melihat Frita sedang tertawa gembira. Rani kemudian duduk di kursi yang ada di sana.


“Jadi kenapa nih pagi-pagi teriak kayak orang gila begitu?” tanya Rani penasaran.


“Enak saja orang gila. Ini nih” jawab Frita sambil memperlihatkan baju kemeja dalam plastik.


“Karena bajunya sudah selesai di laundry?”


“Bukan. Jimmy barusan meneleponku, katanya siang ini mau berkunjung ke sini.”


“Oh jadi kamu senang karena mau kencan sama Jimmy?”


“Bukan itu. Dia katanya datang kesini bersama temannya.”


“Terus apa yang buat kamu senang Mbak?”


“Temannya itu adalah orang yang nyelametin waktu aku disandera sama penjahat hotel,” jawab Frita dengan wajah senang.


“Beneran?”


“Iya.”


“Bagus dong Mbak. aku juga ingin bertemu dengan orangnya. penasaran banget mau lihat kayak gimana,” kata Rani ikut senang mendengar perkataan Frita.


Siang harinya Jimmy datang bersama Arya ke kantor Glow & Shine. Tampak para pegawai yang sedang beristirahat memperhatikan kedatangan mereka berdua. Kebanyakan diantaranya adalah para wanita.

__ADS_1


“Seperti biasa, dimanapun kamu berada selalu bisa menarik perhatian para wanita,” kata Arya sambil memperhatikan lingkungan kantor.


“Aku tidak peduli kepada wanita manapun selain Frita,” jawab Jimmy sambil melangkah memasuki kantor.


“Ada yang bisa saya bantu Pak?” tanya resepsionis


“Tolong beritahu Direktur Frita bahwa Jimmy sudah datang.”


“Baik Pak silahkan tunggu,” kata Resepsionis kemudian menelepon Frita.


Arya dan Jimmy duduk di kursi tunggu. Arya tampak berdecak kagum melihat interior kantor yang begitu indah. Dia rasa Glow & Shine memang tidak hanya membangun gedung yang asal jadi, tapi mereka juga memperhatikan setiap detail yang mampu menambah keindahan gedung itu.


Rani muncul menghampiri mereka. Dia mengatakan kalau Frita meminta mereka datang ke café kantor karena sebentar lagi para pegawai lain juga mulai kembali bekerja. Jimmy dan Arya mengikuti langkah Rani menuju café yang ada di kantor Glow & Shine. Di café tampak hanya ada beberapa orang saja termasuk Frita yang sedang menunggu kedatangan mereka.


“Ternyata kantormu punya café juga ya Fri,” puji Jimmy sambil duduk.


“Iya, sengaja memang dibuat agar para pegawai tidak kesusahan mencari tempat untuk makan,” jawab Frita. Dia terus memperhatikan Arya sejak datang ke sana.


“Oh iya, perkenalkan ini Arya orang yang aku bilang telah menyelamatkanmu dari para penjahat,” kata Jimmy.


“Arya Sanjaya.”


“Frita Larasati,” ujar Frita sambil bersalaman dengan Arya.


Entah kenapa perasaan dirinya berbeda dengan yang dia bayangkan ketika bertemu dengan penyelamatnya. Padahal dari tadi sebelum bertemu, jantungnya selalu berdebar-debar. Selain itu hatinya juga terasa begitu senang. Tapi kini ketika bertemu dengan Arya rasanya perasaan senangnya sedikit berkurang, hal itu bukan terjadi karena fisik Arya atau wajahnya karena memang Arya sebelas duabelas ketampanannya dengan Jimmy.


Setelah berkenalan dengan Arya, Rani pergi kembali ke ruangannya untuk mengurus beberapa pekerjaannya yang belum selesai. Padahal alasan sebenarnya hanya untuk menjauhi Jimmy. Rani masih ingat rasanya waktu dia di interogasi olehnya.


“Ada apa Mbak?” tanya Arya.


“Ah tidak. Saya hanya sedang mengingat kembali kejadian saat itu,” jawab Frita.


“Oh begitu. Sebaiknya jangan di ingat-ingat lagi Mbak. Biarkan saja jadi kenangan pahit.”


“Iya juga kamu memang benar. Oh iya aku bener-bener berterimakasih karena waktu itu kamu menolongku.”


“Sama-sama Mbak. Saya juga merasa senang kalau Mbak baik-baik saja.”


“Jangan panggil mbak deh, Frita saja biar agak enak.”


“Baiklah kalau begit-“ jawab Arya namun tidak selesai karena dia langsung menengok ke arah belakang dengan tatapan tajam.


“Ada apa Ar?” tanya Jimmy.


“Aku merasa ada yang sedang ngawasin kita.”


“Di mana?”


“Kayaknya cuma perasaanku saja.”

__ADS_1


Dari kaca jendela luar Aditya sedang memperhatikan obrolan mereka bertiga. Dia tidak menyangka jika Arya akan menyadarinya. Dia rasa Arya akan lebih merepotkan dari kepala bagian keamanan. Aditya berjalan memutar hendak masuk ke dalam café.


Saat makan siang bersama Rani, Aditya mendapat kabar darinya kalau Frita akan bertemu dengan penyelamatnya. Aditya merasa kesal sekaligus penasaran dengan orang yang mengaku sebagai penyelamat Frita. Dia tidak pernah berpikir jika akan ada orang yang mengaku telah menyelamatkan Frita saat di sandera oleh penjahat beberapa waktu yang lalu.


Frita yang ingin meyakinkan bahwa Arya memang adalah orang yang menyelamatkannya dengan sengaja dia menjatuhkan bolpoin ke bawah kaki Arya. Sambil meringis Arya mengambil bolpoin itu dan memberikannya ke Frita.


“Terimakasih Ar. Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Frita.


“Tidak apa-apa kok. Hanya saja luka di punggungku masih belum sembuh sepenuhnya.”


“Tapi sudah di obati Ar?”


“Tenang saja, aku sudah memeriksakannya di rumah sakit.”


Frita mulai sedikit percaya bahwa Arya adalah penyelamatnya. Aditya sedikit kesal melihat Arya yang bertingkah seolah-olah punggungnya terluka hanya untuk meyakinkan Frita. Dia berjalan ke arah mereka dan pura-pura tersandung hingga minumannya tumpah ke arah Arya.


“Dit! Kamu apa-apaan sih? terus kenapa kamu ada di sini?” tanya Frita panik.


“Duh maaf banget pak saya tidak sengaja,” ujar Aditya sambil berusaha mengeringkan baju Arya.


“Eh lu lagi?!” kata Jimmy kaget bertemu Aditya lagi.


“Sudah-sudah pergi sana! Bukannya kamu harusnya latihan bersama yang lain?” gerutu Frita.


“Saya izin membeli minuman Mbak.”


“Nggak di mana-mana lu selalu bawa masalah ya,” ucap Jimmy geram.


“Maaf Pak, saya kan tidak sengaja.”


“Sudah sudah, lagipula aku tidak kenapa napa kok,” ujar Arya mencoba menenangkan.


“Duh. Dit lain kali hati-hati dong kalo jalan!” omel Frita.


Karena Frita terus menyuruhnya pergi, Aditya langsung keluar dari café dan memperhatikan mereka dari kejauhan. Arya hanya tersenyum kepadanya sambil menatap tajam. Frita kemudian meminta maaf kepada Arya. Dia juga begitu kesal kepada Aditya karena telah bertindak ceroboh.


Arya dan Jimmy pamit pulang. Frita ikut mengantarnya hingga halaman depan kantor Glow & Shine. Setiap gerak gerik mereka tidak lepas dari perhatian Aditya yang berada di dalam kantor sopir. Frita tampak mengeluarkan baju kemeja dalam plastik yang sudah bersih dan diperbaiki.


“Ah itu bajuku ya? Wah kelihatan sudah kayak baru lagi,” puji Arya.


“Cuma aku laundry dan jahit seadanya doang kok.” Ucap Frita sambil malu-malu.


“Terimakasih banyak.”


“Sama-sama, ini tidak seberapa kok.”


Ketika Frita hendak memberikan baju itu pada Arya, tangannya berhenti. Entah kenapa keraguan kembali timbul di hatinya setelah melihat cara berdiri Arya yang sedikit berbeda dengan pria yang saat itu menyelamatkannya.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2