Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 297


__ADS_3

Aditya tertidur di balkon itu selesai merokok. Tertidur di tempat ia duduk, di kursi santai satu-satunya yang diletakkan di sana. Ratna membangunkannya dengan pakaian lengkap keesokan harinya. Matahari menyinari teras balkon itu dengan begitu hangat.


“Kamu mau sarapan?” tanya perempuan itu.


Aditya membuka mata dengan perlahan, mengerjap sejenak, dan untuk sebentar ia mengira itu Frita, tapi ternyata Ratna. Dan ia juga ingat apa yang terjadi semalam.


“Aku tak mau Frita tahu kejadian semalam!” kata Aditya setengah membentak pada Ratna.


Perempuan itu kaget, dan kemudian segera tersenyum. “Aku juga nggak segila itu, Dit. Membiarkan rumah tangga kalian hancur. Kita tetap bersandiwara, kok. Aku tidak akan cerita soal semalam,” kata Ratna.


Aditya hanya mendengus sebal dan melangkah masuk ke kamar mandi. Ratna cuma mengangkat bahu, lalu duduk menunggu di dapur. Ia sudah meminta pembantu untuk menyiapkan sarapan mereka pagi itu, juga dua cangkir kopi panas.


Begitu Aditya keluar dari kamar mandi, Ratna bilang, “Ada telepon tadi subuh. Aku tak berani membangunkanmu. Mungkin kamu lelah.”


“Oh, ya? Telepon dari siapa?” tanya Aditya mencari-cari ponsel pintarnya yang dari semalam tetap tergeletak di meja kamar.


“Kamu lihat saja sendiri. Aku mana mungkin memeriksa hand phone milik suami palsuku,” jawab Ratna sambil mengambil sendok untuk mereka berdua. “Cepat kemari. Sarapan dulu mumpung masih hangat.”


Aditya melangkah ke meja makan sambil membaca pesan dari Guru Tanpa Nama. Isi pesannya singkat: ‘kerajaan mulai runtuh’. Untuk sesaat, entah bagaimana dan tak tahu kenapa, Aditya malah mengira Setiawan Budi mati subuh tadi dengan cara-cara di luar dugaan.


Namun, berikutnya telepon sang guru mengatakan hal yang lain.


“Bukan Setiawan Budi yang mati,” kata Guru Tanpa Nama. “Tapi keponakannya yang paling dia sayangi.”


“Rama?” tanya Aditya tak percaya.


“Yap,” jawab sang guru.


Ratna tidak dengar perkataan mereka. Aditya tak membiarkan wanita itu juga ikut mendengarkan lewat loud speaker. Bukan karena sengaja, tapi memang buru-buru tadi ia mengangkat telepon Guru Tanpa Nama.


Meski begitu, Ratna tampak tidak peduli dan menikmati perannya sebagai istri dari Aditya, sekalipun untuk sementara waktu.


“Kok bisa?” Terdengar suara Aditya bertanya pada gurunya.


“Ada apa, Dit? Setiawan Budi mati?” sela Ratna.

__ADS_1


“Bukan, keponakannya yang mati,” jawab Aditya sambil melirik sebentar Ratna, lalu kembali bertanya pada gurunya. “Pak Gandi tahu Rama mati kenapa?”


Di seberang sana, Rahman Sugandi terdengar bicara, tapi suaranya mendadak tidak terdengar jelas. “Sebentar ... kurang bagus di sini ... Nanti kita telepon lagi,” kata sang guru dalam suara putus-putus.


Maka Aditya termenung menatap ponsel pintarnya. Lalu mengambil sendok dan memakan sarapan bubur ayam hangat buatan sang pembantu Ratna yang terampil untuk urusan dapur. Bubur itu seharusnya lezat, tapi pikirannya terus tertuju pada Rama.


“Apa yang membuatnya mati mendadak? Ada apa? Kenapa Pak Gandi menyebut ini keruntuhan Setiawan Budi?”


***


Aditya tahu jawabannya dari sesosok tamu yang datang siang itu juga.


“Aku heran kenapa Pak Gandi begitu cepat membawa informasi baru, dan tidak kalah cepat juga datang menyambangiku di mana pun aku berada,” kata Aditya sambil menyambut sang guru.


Rahman Sugandi kini mengaku sudah pensiun. “Itulah kenapa aku punya banyak waktu luang.”


Aditya mempersilakannya masuk. Ratna meminta pembantu membuatkan minuman, lalu duduk bergabung bersama mereka di ruang tamu.


“Soal kematian Rama itu. Sebenarnya menarik, Dit,” kata sang guru.


“Dia mati dirampok semalam. Setelah menghadiri pesta pernikahan kalian. Uang di dompetnya terkuras habis. Wajahnya babak belur. Bahkan tubuhnya penuh luka tusukan. Ada dua lusin luka tusukan, menurut informanku,” lanjut pria paruh baya itu.


Ratna mengambil benda itu di belakang kursi ruang tamu, di sebuah rak buku yang tersusun rapi dan agak berdebu karena akhir-akhir itu bagian ruang tamu jarang disentuh siapa pun.


“Belum tayang di berita TV sepertinya,” sahut Guru Tanpa Nama. “Kalaupun sudah muncul di TV, pasti tak selengkap yang informanku sampaikan.”


“Siapa yang bisa merampok seorang Rama?” gumam Aditya seketika, seolah tanpa dia sadari. “Dan pula, siapa yang berani?”


“Ya, memang aneh, bukan? Siapa yang merampok sang mafia muda, sosok yang dianggap penerus Setiawan Budi itu?” tukas Guru Tanpa Nama sambil tersenyum. Tepat di saat bersamaan sang pembantu membawa nampan berisi minuman. “Terima kasih,” kata Guru Tanpa Nama.


“Aneh, ya? Bukankah Rama selalu bersama body guard?” sahut Ratna.


“Tidak selalu, tapi dia tidak selemah itu,” jawab Guru Tanpa Nama.


Sang guru dipersilakan minum oleh Ratna. Ia pun menikmati minuman dingin di hari yang panas terik ini.

__ADS_1


“Bagaimana reaksi ayah Rama?” tanya Aditya.


“Dia tampak diam saja. Seolah kematian anaknya itu dianggap biarlah berlalu. Dia sempat telepon Setiawan Budi semalam. Katanya disuruh biarkan saja kematian Rama. Sebab anak itu selalu membuat masalah. Itu kata informanku lagi,” jawab Guru Tanpa Nama.


“Maaf, Pak. Memangnya siapa informan itu?” sela Ratna.


“Amy Aurora. Dia pernah bekerja sebagai mata-mata internasional. Dia berbakat di bidang ini. Jadi semua informasi itu pasti akurat,” jawab sang guru.


“Yah, dia punya koneksi di mana-mana. Terutama di sarang penjahat, kecuali tentu saja di sarang Setiawan Budi,” kata Aditya.


Guru Tanpa Nama bilang ini ulah pengkhianat Setiawan Budi. Amy dan dia belum tahu itu siapa, tapi jelas tak lama pasti ketahuan. Pasalnya kematian Rama sangat aneh, dan itu terjadi tepat setelah mereka datang ke pernikahan Ratna dan Aditya.


“Apa mungkin Hestu?” tebak Aditya.


“Kemungkinan besar. Amy sekarang mencari tahu siapa saja sosok lain di keluarga itu yang menonjol,” tukas Guru Tanpa Nama.


“Rako tak mungkin,” gumam Aditya.


“Dia pemuda yang bodoh, asal kamu tahu.”


“Saya jelas tahu, Pak Gandi!”


Guru Tanpa Nama terkekeh. Lalu ia bangkit berdiri.


“Baiklah, kurasa pembicaraan ini harus disudahi. Ini jelas kabar baik. Keluarga itu sedang goyah. Setiawan Budi kehilangan pijakan, tapi semua belum selesai, Dit. Kalian tetap akan bersandiwara sampai semuanya aman,” katanya sambil melangkah ke pintu depan.


“Ya, kami akan jadi suami-istri yang baik,” jawab Ratna tersenyum.


“Ya,” kata Aditya pendek, sambil menggeleng pelan melihat ulah Ratna.


Setelah Guru Tanpa Nama cabut, Ratna bilang ia harus pergi juga ke salah satu kantornya. Aditya bisa tiduran atau melakukan apa pun di rumahnya.


“Untuk saat ini, kamu jangan keluar rumah dulu,” kata wanita itu.


Aditya sepakat. Ia memang tak tahu harus ke mana. Sementara ini mereka hanya perlu menunggu perkembangan berikutnya dari sosok Setiawan Budi.

__ADS_1


Terpikir oleh Aditya untuk menelepon Frita. Semoga saja ia tak mendengar sesuatu yang buruk dari istri sahnya itu. Entah kenapa perasaan Aditya mulai tak tenang.


Bersambung....


__ADS_2