
Di malam pengeroyokan itu, Aditya dihajar sedemikian rupa oleh puluhan preman suruhan Rama dan Reza. Rama jelas masih ingat bagaimana tubuh Aditya jadi rusak karenanya. Ia juga masih ingat beberapa luka di tubuh lelaki itu.
Rama sendiri jelas tak lupa ia juga meninggalkan bekas luka di tubuh Aditya dari sundutan rokoknya. Aditya mengalami luka sundutan itu empat kali di punggungnya. Dan, Rama yang seharusnya mabuk, malah mengingat luka itu.
“Bangsat! Gue kok seperti ingat tubuh orang ini!” batinnya belum sepenuhnya sadar.
Aditya kini berjalan pasrah ke arah Vanessa Yan. Menunggu sampai Rama lengah agar bisa kabur menyusul Shelly D.
Rama tak henti memandangi punggung Aditya yang telanjang.
Lalu, sebuah lampu bohlam seperti menyala terang di kepalanya.
“Anjing! Loe Aditya, ya?” bentak Rama, lalu menarik tubuh Aditya ke arahnya.
Aditya tak menjawab dan justru mengambil kesempatan itu untuk melawan. Dia tendang ************ Rama yang polos, tanpa ****** *****, membuat mafia muda itu tersungkur dan mengumpat marah.
Kali ini tiga anak buah Dewa tak tinggal diam. Aditya dikepung dari tiga arah. Ini membuat para wanita nakal tadi menggerutu karena mereka belum ‘selesai’, tapi tiga lelaki tadi akan menghajar Aditya.
“Ya, sudah, kita puaskan diri kita sendiri,” kata kelima wanita itu. Mereka segera saling sentuh tubuh telanjang satu sama lain, sambil melihat perkelahian itu.
***
Shelly D menghubungi polisi begitu lolos dari bangunan gedung itu.
“Ya, kantor polisi?”
Shelly D terlihat terisak dan meremas perutnya yang kesakitan akibat ulah kasar Rama.
“Ada pesta ****, Pak. Di karaoke dekat pusat kota. Lantai teratas,” sambungnya.
Lalu Shelly D berjalan masuk ke mobilnya. Antara cemas menunggu Aditya atau ia segera pulang. Tapi ia tak mau pergi meninggalkan Aditya. Akhirnya Shelly D pun memutuskan melajukan mobil hingga beberapa blok, dan menunggu di tepi jalan raya yang agak gelap.
Di situ ia menangis sepuasnya. Tangis yang entah sudah berapa lama tak Shelly D rasakan. Ia tak henti mengutuki Rama, memikirkan cara agar bagaimana bajingan itu mendapatkan hukumannya.
***
__ADS_1
Aditya tak ambil pusing. Ia memakai cara yang sama untuk melumpuhkan Rama.
Ia menendang ‘bola’ ketiga anak buah Dewa itu, dengan sangat keras. Tak peduli itu mungkin bisa membuat mereka cacat atau entah apalah. Aditya tak berpikir sejauh itu.
Ketiga anak buah Dewa tersungkur, berguling, berputar kesakitan atas tendangan maut yang mengarah ke titik vital. Itu justru membuat para wanita tadi tertawa geli.
“Ke mana kamu, Sayang?” tanya Vanessa yang masih juga belum lepas dari efek alkohol.
“Pergi!” kata Aditya sambil memakai bajunya.
“Lalu siapa yang memuaskan kami? Kamu bikin mereka lemas begitu!” sahut satu dari keempat cewek malam tadi.
“Kalian kan bisa memuaskan satu sama lain! Silakan saja nikmati pesta **** yang hebat ini!” kata Aditya lalu melambaikan tangan.
Aditya sadar kedoknya sudah terbongkar. Rama kini tahu ia masih ada di Bandung, tidak ikut kabur ke luar negeri bersama Frita sekeluarga.
Tak disangka, di tempat karaoke itu juga, di lorong menuju pintu keluar, Aditya menjumpai Paman Rudi.
Aditya masih percaya pada sosok yang satu ini.
Jadi ia menyapanya.
“Ya? Anda siapa?” tanya saudara Setiawan Budi itu.
Aditya memberi kode agar mereka menyingkir dari keramaian. “Saya Aditya. Ini saya terpaksa menyamar.”
“Wah, saya pikir orang lain,” sahut Paman Rudi takjub.
“Entah saya tak tahu kenapa Paman Rudi ada di sini. Tapi saya minta tolong. Tadi Rama menyadari kedok saya. Dia masih mabuk berat. Mungkin Paman Rudi bisa bantu meyakinkan kalau sosok ini bukanlah saya?”
Paman Rudi terlihat kurang yakin.
“Setiawan Budi sudah curiga padaku, Dit. Posisiku juga sudah sulit sekarang. Tak ada tempat di keluargaku. Tapi, yah, aku akan membantumu,” jawab Paman Rudi.
Aditya berterima kasih, lalu pamit pergi.
__ADS_1
Paman Rudi memandanginya dari arah belakang. Ia tadi sebenarnya diutus ke tempat ini oleh Setiawan Budi secara sengaja. Rencananya, Dewa dan ketiga anak buahnya akan menghabisi Paman Rudi di tempat ini.
***
Beruntunglah, Paman Rudi tak jadi dibunuh malam ini. Ia melihat tubuh-tubuh itu bergeletakan, bugil tak berdaya, sementara ada para wanita yang menyenangkan diri mereka sendiri dengan sentuhan dan ciuman.
“Eh, ada om-om tua! Sini, Om, ikutan!” kata Vanessa girang.
Paman Rudi dengan malu-malu masuk ruangan itu, sambil menunduk, dan segera menghampiri Rama.
“Rama, ayo kita pulang. Ayo, Nak, kita pulang!” bisiknya.
Rama tak menolak ketika dibantu memakai celana oleh Paman Rudi, dan dipapah keluar dari ruangan karaoke itu. Paman Rudi dengan cemas memandangi isi ruangan yang setengah kacau itu. Ada tubuh yang tergeletak berlumuran darah juga malahan.
Ia harus segera menyingkir dari situ sebelum polisi datang.
Memang polisi datang usai Paman Rudi dan Rama pergi. Jadi mereka tak terkait sama sekali, meski nantinya Vanessa protes pesta itu atas ide Rama Subandi. Rama tak ingin bicara apa-pun saat diwawancarai oleh beberapa wartawan.
Ia hanya terus berpikir, merasa tak yakin, “Apa benar yang dibilang Paman Rudi? Dia bilang melihat Rio si rambut merah itu pergi bersama Irawan? Berarti dia bukan Aditya?!”
Irawan adalah sosok gaul, pecandu narkoba, lelaki malam yang selama ini suka bertentangan dengan polisi dan kurang akrab juga dengan keluarga Setiawan Budi. Irawan jelas sama sekali tak kenal dengan Aditya dan hanya sesekali menggelar pesta dengan teman-temannya yang tak populer.
Tentu saja Paman Rudi hanya berbohong.
Sebuah kebohongan terakhir yang mungkin ia ucapkan.
Sebab tak lama setelah kejadian malam itu, Paman Rudi ditemukan mengambang di sebuah selokan yang baru digali. Orang-orang menemukan mayatnya sudah kaku dan membiru. Diduga sudah lama mati dan baru dibuang ke selokan baru-baru itu.
Setiawan Budi menggelar pemakaman seperti biasa, menghormatinya, memberi saudaranya itu doa-doa yang selayaknya. Padahal semua orang juga tahu, dialah yang berada di balik kematian Paman Rudi.
Setiawan Budi tak bisa menyangkal bukti yang ia temukan sendiri di hand phone milik Rudi. Bahwa Rudi secara diam-diam sudah membantu keponakan sosok yang membuatnya malu di masa lalu.
Sebelum eksekusi itu berlangsung, Setiawan Budi bertanya, “Apa yang kau cari?”
“Aku sudah muak dengan semua ini, dengan kebejatan keluarga kita ini. Tolong hentikan! Harusnya kau sadar. Kita sudah sama-sama tua!” kata Rudi.
__ADS_1
Namun peluru segera melesat. Bersarang ke kepala Paman Rudi yang dirimbuni uban.
Bersambung...