Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 4


__ADS_3

Mata Ellena masih terpaku pada layar ponsel yang ada tangannya. Dia seperti membatu saat ini, sosok yang ada di dalam layar ponsel itu mengingatkan dia pada seseorang.


Seseorang di masa lalu yang ingin sekali Ellena lupakan. Seseorang yang pernah membantunya menuntaskan semua permasalahan hidupnya dan memberinya sebuah hadiah pangeran tampan di dalam kehidupannya saat ini.


“Wooy!! Ampe ga kedip gitu. Benerkan kamu bakalan kaget. Ini baru namanya cowok dengan kegantengan setinggi langit,” ucap Arina sambil menepuk pundak Ellena.


“Ah biasa aja,” jawab Ellena sambil mengembalikan ponsel milik Arina.


“Biasa aja tapi salting. Malu ya ketahuan terpesona?” ledek Arina.


Ellena menjadi sangat gugup saat ini. Dirinya tidak menyangka akan bertemu kembali dengan orang dari tujuh tahun silam yang pernah menghabiskan satu malam kelam bersamanya. Ellena menjadi takut untuk bertemu lagi dengan Sean yang kini sudah menjadi presdir baru di perusahaannya.


Ellena segera meneguk air minum yang ada di depannya. Dia mencoba untuk menenangkan diri dari rasa kaget saat dia melihat foto Sean ada di ponsel Arina. Ellena berusaha untuk tenang agar sahabatnya itu tidak curiga.


“Ell, kamu kenapa sih?” tanya Arina yang sedikit curiga pada perubahan sikap sahabatnya.


“Emang aku kenapa? Aku ga papa kok,” sangkal Ellena masih tanpa berani menatap Arina.


“Itu kamu jadi kaya orang gugup. Kamu ga gugup karena liat kegantengan dia kan??”


“Sembarangan aja kalo ngomong. Udah ah, balik kerja lagi. Ntar di tegur Bu Silvia lho.”


Ellena segera berdiri dari tempat duduknya sambil membawa gelas minumnya yang sudah kosong. Ellena ingin mengisi kembali gelas minumnya dan juga ingin menghindari tatapan curiga Arina yang masih tidak percaya dengan apa yang Ellena katakan.


Ellena kini menjadi lebih waspada. Dia selalu melihat ke berbagai arah saat dia menuju ke suatu tempat Elena takut kalau nanti tiba-tiba sosok Sean muncul di hadapannya. Hidupnya makin merasa di awasi saat ini.


“Ya ampun, Ell. Kok kamu bego banget ya. Mana mungkin dia masih inget sama kamu. Ini udah 7 tahun, Ell. Come on, Ell! Dia pasti udah anggep kamu kaya cwe lain yang biasa dia tiduri,” gumam Ellena menyadarkan dirinya sendiri.


Sampai jam kerja habis, Ellena masih belum bisa menyelesaikan pekerjaannya. Dia masih merasa was-was kalau saja nanti tiba-tiba dia bertemu dengan Sean. Meskipun dia sudah menghibur diri, tapi tetap saja rasa khawatir menyeruak dalam hatinya.


“Ell, mau balik ga?” tanya Arina yang sudah mulai membereskan pekerjaannya.


“Ntar dulu, tanggung neeh,” jawab Ellena tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


“Katanya ada janji ama Nathan. Jangan bikin dia nunggu lho.”

__ADS_1


“Iya bentar aja kok. Abis ini juga aku pulang. Kan masih ada mobil jam kedua. Aku naik itu aja.”


“Ok deh! Aku jalan dulu ya.”


Ellena kembali berkutat dengan laptopnya. Dia ingin segera menyelesaikan apa yang sedang dia kerjakan saat ini lalu pulang untuk menepati janjinya pada Nathan. Namun tiba-tiba Ellena menaikkan kepalanya seperti orang kaget.


“Ya ampun ... kalo aku sendirian di sini berarti aku bakalan ketahuan kalo aku kerja di sini. Nanti kalo ada Sean di lobi gimana. Sebaiknya aku pulang juga deh,” ucap Ellena bermonolog sendiri.


Ellena segera merapikan semua barang pribadinya. Dia mulai melihat ruangan kantornya yang sudah mulai sepi ditinggal para pegawai. Ellena menyapa dan berpamitan kepada beberapa temannya yang masih ada di sana untuk pulang duluan.


Ellena berdiri di depan lift, dia menunggu lift itu akan terbuka untuk dia. Ellena tidak takut dengan pintu lift yang sedang dia tunggu saat ini, tapi dia takut pada saat dia nanti akan keluar dari benda kotak besi ini. Lift khusus untuk petinggi berada bersebelahan dengan lift untuk pekerja dan bisa jadi saat dia keluar dari lift, Sean juga keluar dari pintu yang lain.


“Ya ampun, Ell. Jangan mikir yang aneh-aneh donk. Pliiss mikir yang baik aja. Pikiran itu bisa aja terjadi, come on, Ell!” ucap Ellena sendirian sedikit berbisik.


Sementara itu Sean sedang menuju ke kantornya kembali setelah dia melakukan kunjungan pabrik yang ada di belakang gedung perkantoran milik keluarganya itu. Dia berjalan bersama Mathias dan juga dua orang manajer di perusahaan yang tengah dipimpinnya itu.


“Kapan produksi untuk ekspor kita mulai lagi? Aku dengar ada permintaan tambahan ke Jepang?” tanya Sean.


“Kami akan memulai produksi mungkin lusa, Pak. Besok barang dasar baru akan dikirim ke pabrik. Kapal pengangkut bahan baku baru saja menepi di pelabuhan.”


“Masih, Pak. Mereka masih belum ada rencana menaikkan harga ke kita.”


“Ya udah, kalian boleh pulang. Saya tunggu laporan kalian selanjutnya. Mathias, siapkan mobil.”


“Baik, Bos.”


Sean dan Mathias tetap berjalan menuju ke lobi kantor. Mathias berjalan di belakang Sean sambil menelepon sopir pribadi Sean agar menyiapkan mobil untuk mengantar Sean kembali lagi ke apartemennya.


Sean melangkah menuju ke lift yang ada di sisi kiri gedung. Tapi entah mengapa ada uang mengganggu sudut mata kanannya. Seolah menyuruh dia menoleh ke arah kanan.


Sean menoleh ke arah kanan di mana di sana ada meja resepsionis kantor. Seorang wanita tampak berdiri membelakanginya dengan postur tubuh yang membuat langkah kakinya terhenti.


“Ada apa, Bos?” tanya Mathias.


“Siapa orang itu?” tanya Sean sambil terus menatap punggung wanita yang dia lihat dari tadi.

__ADS_1


“Kurang tahu, saya belum hafal dengan seluruh pegawai di sini.”


Wanita yang di tatap Sean sejak tadi tiba-tiba melangkah pergi dari meja resepsionis dan melambaikan tangan pada resepsionis itu. Dia melangkah keluar menuju taksi online yang menunggunya di depan pintu kecil di lobi.


Tatapan Sean terus mengikuti langkah wanita itu. Sampai pada saat sang wanita mengibaskan rambutnya yang tergerai, hati Sean menjadi tersentak seolah mendapat pukulan.


‘Ellena? Apa dia di sini?’ tanya Sean dalam hati.


**


Tiga hari sudah Ellena mampu mengatasi kehidupannya tanpa Sean. Kantor ini memang terlalu besar kalau hanya untuk mencari satu orang saja. Bahkan sampai saat ini Ellena belum pernah melihat sosok Sean secara langsung di depan matanya.


Ellena makin tenang bekerja di kantor. Pagi ini pun dia datang ke kantor dengan hati yang ringan dan berjalan masuk sambil bercanda bersama Arina.


“Eh ya Rin, nanti bantu aku ketemu ama klien ya. Aku mau ajarin kamu cara cepat bisa tembus dapet persetujuan mereka,” ucap Ellena sambil menatap sahabatnya itu.


“Asiik ... gitu donk ajaki aku. Punya jurus hebat itu di bagi,” ledek Arina.


“Jurus apaan, jurus matok buaya? Eh udah hampir jam 9. Buruan yuk, itu lift juga rame banget.”


“Ayo.”


Dua wanita itu segera melangkah dengan cepat menuju ke lift. Di sana sudah berjajar empat lift, di mana yang tiga untuk karyawan dan yang satu khusus untuk petinggi perusahaan. Di depan lift khusus karyawan sudah banyak orang yang menanti agar bisa masuk dan menuju ke ruang kerja mereka masing-masing.


Ellena dan Arina masih melanjutkan pembicaraan mereka. Kini bukan hanya dua orang itu saja yang berbincang, tapi ada juga dengan teman lain yang bertemu di depan pintu lift.


Ting


Pintu lift di depan Ellena berdiri terbuka. Dia sedang menunggu orang yang ada di dalam lift keluar lebih dulu lalu mengantri masuk. Dia tidak sadar kalau dia sedang berdiri di dekat pintu lift untuk petinggi kantor yang juga terbuka.


Mata Ellena reflek melirik ke arah pintu lift yang terbuka itu. Dan tiba-tiba lirikan itu membuat Ellena menoleh dan matanya membulat lebar. Mata Ellena bertemu dengan mata orang yang baru saja keluar dari lift tersebut.


“Ka ... kamu ...?!”ucap pria yang keluar dari pintu lift itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2