
Di salah satu rumah sakit di Bandung.
Aditya dan Frita akhirnya menemui Kakek Darma. Beliau sudah dalam keadaan baik-baik saja kini. Bahkan bisa tertawa-tawa bersama beberapa orang cucunya.
“Sudah, kalian pergi sana dulu. Kakek mau bicara sama Aditya,” katanya dengan suara seraknya.
Para bocah itu pun pergi.
“Aditya,” kata Kakek Darma tanpa lagi berbasa-basi. “Aku sepertinya tahu dan kenal dengan pamanmu itu.”
“Oh, ya? Di mana, Kek?” tanya Aditya.
“Ceritanya panjang. Kemarin salah satu bagian cerita itu datang kemari, membikin ribut di sini,” jelas Kakek Darma
Pandu tiba di kamar sang kakek setelah membeli sejumlah makanan ringan dan minuman untuk Frita.
Frita bertanya pada Pandu, “Memangnya siapa yang ribut di sini kemarin, Pa?”
Pandu tak bisa menjelaskan dan hanya menatap sungkan pada Kakek Darma. Maka, lelaki renta itu pun menjawab pertanyaan Frita, “Dia musuhku di masa lalu. Entah apa yang terjadi waktu itu. Kami akhirnya berdamai. Kemarin dia datang kemari, dan tak mau kucegah saat bicara soal masa lalu.”
Kakek Darma terdiam. Menatap Aditya cukup lama.
“Nah, Paman Salim-mu itu, juga kenalan kami saat itu,” lanjut beliau sambil entah tersenyum atau mungkin itu ekspresi kesedihan.
Aditya tampak heran. Ia tak pernah tahu masa lalu Pamannya sendiri. Benar-benar tak tahu sama sekali malah. Hanya tahu Paman Salim tak pernah menikah dan itu saja. Ia dirawat sejak kecil oleh beliau. Itu saja yang ia tahu.
“Apa yang terjadi?” tanya Aditya.
“Dulu pamanmu itu bekerja denganku. Tapi tidak secara langsung. Ada salah satu pamanku yang memiliki bisnis tembakau di Semarang. Nah, dia kerja bersama pamanku yang itu,” jelas Kakek Darma.
“Kalian bisa kenal bagaimana, Kek?”
“Itu setelah pamanku mengirimnya ke Jakarta, untuk membantuku mengurusi apa yang jadi bisnisku sendiri.”
Kakek Darma kemudian menjelaskan masa lalunya yang suram. Dulu dia terlibat di bisnis kotor untuk beberapa tahun, bersama Paman Salim.
“Waktu itu Paman Salim-mu bukan bernama Salim. Kami memanggilnya Salman. Dia dua puluh tahun lebih muda dariku, tapi aku sangat menyukainya dan kami teman dekat,” jelas Kakek Darma.
Aditya tampak tidak mengerti. Kakek Darma barusan terdengar seperti orang yang sedang berdongeng saja alias apa yang diucapkannya sama sekali tak terasa nyata di matanya.
__ADS_1
Frita menyela, “Kakek yakin beliau memang Paman Salim? Salman itu memang Paman Salim?”
“Oh, ya! Sangat yakin. Kami bicara banyak saat pesta kemarin itu. Tapi dia tidak sadar siapa aku, sedangkan aku masih ingat. Dulu dia pemuda yang pemarah. Kini aku bisa melihat dia orang yang sangat sabar.”
Kakek Darma menatap Aditya lagi, tapi kini dengan lebih saksama, dan menangkap sesuatu yang tak menyenangkan di wajah pemuda itu.
“Tenang saja. Kami tidak pernah membunuh orang, Dit. Kami hanyalah kumpulan para penipu. Itu pun berlangsung tidak lama. Pamanmu balik ke kampungnya, dan tak pernah lagi menemuiku setelah kami bekerja sama lima tahun,” jelas Kakek Darma.
Kakek Darma bercerita ia juga pernah datang ke Desa Sumber Kencana. Sebuah desa yang indah dengan danau kecil dan kompleks pabrik sarung bekas zaman Belanda yang telantar.
“Aku ke sana untuk menjemput pamanmu itu, tapi dia memutuskan berkerja yang halal saja. Aku tak bisa melarangnya,” kata sang kakek. Kemudian beliau menuturkan tempat-tempat indah di desa tersebut.
Aditya tidak bisa menolak penuturan deskripsi tempat-tempat di desanya itu, sebab Kakek Darma memang benar.
“Jadi, Kakek pernah ke sana?” tanya Frita.
“Ya. Itulah kenapa aku agak merasakan ada suatu keajaiban ketika menyadari siapa Paman Salim itu, Dit,” kata Kakek Darma. “Aku sudah sangat tua, tapi tidak pikun. Ya, meski ingatanku kadang lambat. Setelah ngobrol panjang lebar dengan pamanmu di pesta, aku mulai mengingat kalau kami pernah kenal.”
Di situlah Kakek Darma menjelaskan masa lalu Aditya yang sebennarnya. Dulu ia tak pernah dilahirkan oleh saudara kandung Paman Salim. Saudara Paman Salim bahkan mandul dan tak pernah bisa memiliki anak.
Aditya katanya adalah seorang bayi yang diberikan oleh seorang tanpa identitas. Seorang wanita yang kabur dari kota, untuk melahirkan bayi di luar nikah. Keluarga Paman Salim memungutnya dan merawatnya.
Aditya tampak shock. Frita tak tahu harus bekata apa. Harusnya Kakek Darma tahu dan memberi sedikit jeda agar Aditya bisa berpikir.
“Aku sungguh tak mengerti,” gumam Aditya. “Aku malah tak pernah tahu semua ini.”
“Nah, kau bisa bertanya pada temanku yang lain, Dit. Teman yang dulu pernah tak sudi kusebut teman. Dulu kami bermusuhan.” kata Kakek Darma.
Kemudian muncullah seseorang yang sekira seumuran Paman Salim. Ia menyebut nama Rudi Darmawan ketika memperkenalkan diri. Rudi kemarin sengaja menyinggung masa lalu Kakek Darma, sehingga membuat lelaki renta itu marah.
Rudi yang seumuran Paman Salim pun meminta dipanggil Paman juga oleh Aditya maupun Frita.
“Aku juga kenal dekat pamanmu, Dit,” kata Paman Rudi. “Salim itu orang yang baik. Itulah kenapa ia tak betah. Hanya lima tahun itu yang dilakukannya demi sang bos. Alias paman dari kakek Darma ini.”
Kakek Darma cuma bisa geleng-geleng kepala, menyesal atas tiap kenakalannya di masa lalu, membangun kelompok penipu.
Kini Kakek Darma dan Paman Rudi sudah berdamai.
Namun tentu saja kedatangan Paman Rudi yang begitu mendadak bukannya tanpa alasan.
__ADS_1
Aditya diajak keluar ke kamar oleh Paman Rudi, dengan alasan menemani duduk merokok.
“Ada sesuatu yang ingin kusampaikan, Dit,” katanya.
Aditya merasakan firasat buruk. “Kenapa, Paman?”
“Tolong, ini sesuatu yang tak harusnya Kakek Darma tahu. Aku hanya akan bilang ini padamu.”
Paman Rudi membisikkan sesuatu. Aditya tampak terkejut.
“Pemuda tidak tahu diri itu? Yang sok kaya, padahal itu uang orang tuanya?” tanya Aditya geram mengingat tampang Reza Bastomi yang entah bagaimana disebutkan oleh Paman Rudi dalam bisikannya.
“Ya. Kau tahu mereka semua keponakanku? Setiawan Budi adik kandungku. Dialah yang dulu jadi musuh bebuyutan Kakek Darma. Mungkin sampai hari ini,” ujar Paman Rudi.
Setiawan Budi adalah lelaki tua, enam puluh tahunan, pemegang bisnis gelap di Jakarta dan Bandung. Konon kata Paman Rudi, dia juga mengontrol beberapa politikus busuk di Jakarta.
“Reza Bastomi, Rama Subandi, Rako, dan teman-temannya itu. Mereka semuanya keponakanku. Aku hanya datang kemari untuk memberimu info. Agar kamu tak henti waspada, Dit,” kata Paman Rudi.
“Tapi, kenapa? Bukankah itu keluarga besar Anda?”
“Aku tidak suka saja pada mereka. Lagi pula aku berutang budi pada Salman alias Paman Salim-mu itu,” jelas Paman Rudi.
“Kalau Paman Rudi memintaku hati-hati, aku mungkin sudah bisa mengendurkan sabukku. Soalnya beberapa waktu lalu aku harus membunuh seorang pembunuh keji berbaju hijau,” kata Aditya pelan.
“Oh, ya?”
“Apa mungkin dia suruhan Reza?”
“Bisa jadi,” kata Paman Rudi.
Mereka berhenti sejenak untuk menyalakan rokok.
“Kurasa mereka tak akan berhenti di sini. Iblis Hijau itu orang lama, langganan keluargaku. Kau tetap harus hati-hati, Dit,” kata Paman Rudi yang segera pura-pura tertawa, karena Pandu berjalan mendekat ke arah mereka.
Aditya berpikir, mungkin kehidupan yang benar-benar tenang tidak pernah bisa dia dapatkan.
Semua ini. Segala persoalan ini. Entah kapan akan berakhir.
Bersambung....
__ADS_1