Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 55


__ADS_3

Aditya secepat mungkin mengemudikan mobilnya di jalanan menuju kantor. Sepanjang jalan dia terus menggerutu karena Frita teledor. Setelah sampai di kantor dia segera menemui satpam untuk membukakan pintu kantor yang sudah di kunci. Dia kemudian mencari berkas di sekitar meja resepsionis.


“Di mana sih, tadi dia bilang di taruh di meja resepsionis,” gerutu Aditya sambil terus mencari berkas yang dimaksud Frita.


“Mencari apaan sih Pak?” tanya satpam.


“Ini Pak berkas dengan sampul warna biru. Tadi Bu Direktur bilang kalau berkasnya ketinggalan di sini,” jawab Aditya.


“Saya nggak ngelihat tuh.”


Karena tidak kunjung ketemu, Aditya mengambil inisiatif untuk menelepon pegawai yang bertugas sebagai resepsionis. Menurut resepsionis berkas itu sudah dibawa oleh Rani ketika dia pulang tadi. Aditya kemudian mengemudikan mobilnya menuju rumah Rani. setelah sampai, Aditya segera keluar dan mengetuk pintu rumah Rani.


“Aditya?” sapa Rani kaget ketika membukakan pintu. Jantungnya berdebar debar katika melihat sosok Aditya berdiri di depan pintu rumahnya sambil tersenyum.


“Iya Mbak. Maaf nih ganggu.”


“Nggak apa-apa Dit. Silakan masuk.”


“Terimakasih Ran, tapi aku lagi buru-buru nih, aku datang kemari cuma mau mengambil berkas bersampul biru milik Mbak Frita, resepsionis bilang katanya berkasnya sama kamu ya.”


“Oh berkas hasil meeting ya. Barusan aku sudah paketin pake ojek online.”


“Kok nggak di simpan saja?”


“Aku juga tadinya mau ngasih berkas itu besok saja. Cuma barusan mbak Frita nelpon aku katanya paketin saja sama ojek online soalnya berkasnya penting banget,” jelas Rani. Aditya tertegun mendengarnya. Sekarang dia sadar kalau itu semua adalah tipuan Frita untuk membuatnya sibuk.


“Begitu ya. Aku kira masih di sini berkasnya. Kalau begitu aku pamit ya Ran.”


“Nggak mau masuk dulu nih?”


“Kapan-kapan saja Ran, aku sedang buru-buru nih,” kata Aditya sambil masuk kembali ke dalam mobil. Rani hanya tersenyum mengantar kepergian Aditya.


Sepanjang perjalanan Aditya terus menggerutu karena lagi-lagi dia tertipu oleh Frita. Ketika melihat bungkusan yang berisi ponsel barunya munculah ide iseng untuk membalas perbuatan Frita kepadanya. Ketika Aditya sampai ke rumah Pandu matahari tampak sudah terbenam. Di ruang tamu Pandu dan Frita tampak sedang berbincang.


“Kamu habis dari mana Dit? Tumben jam segini baru pulang,” tanya Pandu.


“Saya tadi ada kesibukan tidak penting pak,” jawab Aditya sambil melirik Frita. Orang yang dilirik malah tertawa kecil sambil memainkan ponselnya.


“Begitu ya, eh iya tadi Clarissa nyariin kamu Dit katanya ada perlu.”


“Iya Pak, saya mau ganti baju dulu,” jawab Aditya sambil pergi menuju kamarnya.


“Kamu ini Fri, jangan ngerjain Aditya terus dong kasihan kan,” ucap Pandu menasihati Frita, dia paham kalau kesibukan yang dialami Aditya hanyalah kejahilan Frita semata.

__ADS_1


“Nggak usah khawatir begitu yah. aku juga nggak bakalan nyelakain dia kok, aku cuma ngelampiasin kekesalan doang,” jawab Frita.


“Pah Kak Aditya sudah pulang ya? Aku tadi dengar suara mobilnya,” tanya Clarissa yang tiba-tiba turun dari lantai dua.


“Iya, sekarang dia sedang istirahat dulu Ris,” jawab Pandu. Clarissa kemudian kembali ke lantai dua. Frita juga pergi ke kamarnya.


Sekitar pukul 20:19 malam Aditya sedang berbincang dengan Clarissa di teras lantai dua. mereka sedang membicarakan hadiah yang didapatkan dari balapan besar yang dimenangkan oleh Aditya.


“Kata Arnold tadi di sekolah Kak Aditya hanya perlu mengganti uang pendaftaran saja,” ucap Clarissa.


“Terus biaya perbaikan mobilnya bagaimana?”


“Dia bilang nggak apa-apa. Lagian mobilnya sudah diperbaiki oleh ayahnya, itung-itung balas budi saja soalnya kak Aditya sudah membantunya mengalahkan Vian.”


“Nggak boleh gitu Ris, kita kan nolongin dia tanpa mengharapkan imbalan. Jadi besok kamu bawa saja sisa uangnya dan bagi dua sama Arnold.”


“Loh kakak sendiri gimana? Kan kak Aditya yang menangin balapannya.”


“Nggak apa-apa, lagian aku cuma butuh ponsel baru doang kok,” jelas Adit sambil menunjukan ponsel baru miliknya.


Frita datang ke teras, melihat Adiknya dan Aditya sedang berbincang timbul rasa kesal di hatinya. Kemudian dia menyuruh Clarissa untuk segera tidur karena sudah malam. Lagi-lagi Aditya diomelin oleh Frita. Karena malas meladeni Frita dia segera kembali ke kamarnya.


Hari ini Aditya terlihat tidak ada perlawanan sama sekali. Hal itu membuat Frita semakin senang, kelihatannya upayanya untuk membuat Aditya pergi dari kehidupannya hampir membuahkan hasil. Ketika kembali ke kamar ponselnya tiba-tiba berdering. Tampak ada notifikasi dari WA.


“Nomor siapa nih, nggak ada foto sama namanya juga,” gumam Frita heran karena tiba-tiba ada nomor asing chat dia.


“Malam, maaf ini nomor siapa ya?” tulis Frita.


“Aku penggemar rahasiamu.”


“Namanya siapa? Terus dapet nomorku dari mana?”


“Bukan penggemar rahasia lagi dong kalau dikasih tahu.”


“Kalau cuma iseng doang nanti langsung aku blok deh,” ancam Frita.


Orang itu tidak membalasnya lagi. Frita khawatir kalau itu adalah nomor baru Erik. Tapi mustahil orang sefrontal Erik berbuat seperti itu. dia pasti dengan percaya diri mengatakan namanya sendiri. Karena masih penasaran Frita mengurungkan niatnya memblok nomor itu. hatinya mulai berdebar, mungkin saja ini nomor Arya, sang penyelamatnya.


“Malam ini jiwaku menjerit di bawah salah satu sisi langit.


Ragaku terdiam merasakan rindu yang bertambah setiap menit.


Rembulan, aku menunggumu datang untuk mengobati kerinduan.

__ADS_1


Walau dingin menusuk tulang, malam ini tak ada kata penyesalan.


Rembulan, lihatlah diriku dari kejauhan.


Seseorang yang sedang haus perhatian.


Seseorang yang sedang membutuhkan kasih sayang.


Hanya darimu seorang.


Angin, bawalah kata cintaku bersama semilirmu.


Walaupun jauh, kuharap semuanya sampai pada Rembulanku.


Bintang, tolong bisikan kepadanya jika nanti bertemu.


Aku di sini, selalu setia menantinya di ruang rindu.”


Frita tersenyum sendiri ketika orang misterius itu mengiriminya sebuah puisi. Dia semakin penasaran, siapakah gerangan yang mengaku sebagai penggemar rahasianya itu. Frita tidak membalas pesannya lagi. Saat ini dia malah sibuk dengan lamunannya, hatinya berdebar karena rasa penasaran.


“Apa mungkin Arya? Tapi aku rasa dia bukan tipe orang yang suka dengan puisi. Ah tapi mungkin saja dia memang menyukai puisi,” batin Frita sambil tersenyum.


Pagi harinya, Frita masuk ke dalam mobil dengan wajah yang bahagia. Pandu dan Clarissa cukup heran melihatnya. Padahal tadi malam saja dia masih mendengar dia marah-marah kepada Aditya.


“Kelihatannya pagi ini Mbak senang banget ya?” tanya Aditya sambil menyetir.


“Masalah buatmu?!” jawab Frita ketus.


“Ya heran saja, semalem kan masih bermuram durja. Takutnya pagi ini Mbak tiba-tiba kesambet Joker.”


“Matamu kesambet Joker!” gerutu Frita.


Aditya hanya tertawa kecil mendengarnya. Setelah tiba di halaman utama kantor terlihat Rani, Sherly dan Dani sedang berdiri di halaman. Kelihatannya Sherly dan Dani sudah siap untuk berangkat. Sherly terkejut melihat Aditya menjadi sopir Frita. Tersirat sedikit kekesalan di wajahnya.


“Eh Sherly, kamu sudah siap berangkat?” tanya Frita.


“Iya Mbak sudah siap, kami di sini cuma sedang menunggu Aditya,” jawab Sherly.


“Aditya?” tanya Frita kaget.


“Ya, dia akan ikut bersama saya untuk pergi ke kantor Unesia Corp.”


Frita terkejut, dia mulai ragu dengan kesuksesan tugas yang diemban oleh Sherly. Aditya hanya tersenyum melihat wajah Frita yang berubah cemas.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2