
Orang misterius dengan masker dan tudung jaket menutupi wajahnya perlahan mendekati ruangan Bima. Dua orang yang berjaga mulai menatapnya dengan tajam. Orang itu berhenti tepat di depan dua penjaga yang terus menatapnya.
“Siapa-“ belum selesai seorang penjaga itu bertanya orang itu langsung menghantam lehernya dengan cepat hingga tak sadarkan diri.
“Pe-“ seorang penjaga yang hendak berteriak langsung dihajar oleh orang misterius itu hingga terkapar di lantai.
“Merepotkan sekali,” ujar orang itu sambil membuat kedua penjaga tadi seolah-olah sedang tertidur sambil duduk di kursi.
“Ternyata geng Merak lebih lemah dari yang aku duga,” ujar orang itu lalu masuk ke dalam ruangan Bima. Penjahat itu kemudian mematikan lampu ruangan.
“Dasar tua bangka, sebenarnya aku ingin menghabisimu dalam kondisi prima. Sayang sekali kalau aku harus membunuhmu saat kondisimu seperti ini,” ujar orang itu sambil tersenyum. Orang misterius itu mulai bergerak sembari menghunuskan pisau dari balik jaketnya. Perlahan dia mulai mendekati Bima yang sedang terbaring.
“Dasar pengecut,” ujar Aditya yang keluar dari tempat persembunyiannya. Hal itu sontak membuat orang tadi kaget. Dengan cepat Aditya menendang tangan orang itu hingga pisaunya terlempar.
“Cih, ternyata mereka juga menempatkan penjaga di dalam ruangannya ya. Lumayan cerdik juga,” ujar orang itu sambil menjaga jarak dari Aditya.
“Gue nggak mau ribut-ribut di sini, sebaiknya lu segera pergi,” usir Aditya dengan tatapan tajam.
“Hahaha lu pikir gue takut?”
“Gue bilang pergi malah berisik!” bentak Aditya sambil menyerang.
Perkelahian terjadi di ruangan itu, Aditya berusaha keras menggunakan serangan yang efektip agar keributan di sana tidak berlangsung lama. Orang itu menyerang Aditya secara terus menerus namun berhasil dihindari. Aditya balas menyerangnya dengan lima serangan beruntun. Pria itu terkena empat serangan Aditya hingga membentur tembok.
“Cih!” gerutu orang itu sambil membuka jendela lalu melompat keluar.
Aditya kemudian menutup jendela kembali lalu duduk di dekat Bima. Perlahan Aditya tersenyum saat menatap Bima yang sedang terbaring, perlahan Aditya memegang tangan Bima lalu tersenyum kembali. Aditya kemudian mengambil air minum karena rasa hausnya muncul setelah menghajar orang tadi. Kemudian duduk kembali di kursi yang ada di ruangan itu.
“Jika anda penasaran seharusnya anda membuka mata saja tadi, aku yakin anda sangat ingin melihat siapa orang yang ingin menghabisi anda,” ujar Aditya.
“Anda jangan khawatir di luar juga tidak ada siapa-siapa. Anda tidak bisa terus berakting di depanku seperti itu,” ucap Aditya sambil tertawa kecil.
__ADS_1
“Kejelianmu benar-benar mengerikan, Aditya,” ucap Bima sambil membuka kedua matanya.
“Sejak Ratna pergi saya terus memperhatikan anda, saya sadar kalau tangan anda bergerak perlahan. Aku juga semakin yakin kalau anda tidak koma setelah memeriksa tangan anda,” jelas Aditya.
“Menjadi musuhmu kelihatannya akan sangat merepotkan. Hmmm.. pada akhirnya aku harus ketahuan juga, padahal aku hanya menggerakan tanganku beberapa milimeter saja. Tapi tak kusangka kalau kamu akan tetap menyadarinya,” ucap Bima sambil berusaha untuk duduk. Aditya dengan cepat membantunya bergerak.
“Tapi jujur saja akting anda benar-benar hebat. Saya masih belum cukup yakin sebelum memeriksa tangan anda.”
“Pengetahuanmu juga cukup luas,” puji Bima sambil tersenyum.
“Pengetahuan seperti itu sangat penting bagi seorang tentara, kadang kita tidak akan menduga kalau lawan sedang mencoba untuk berpura-pura pingsan hanya untuk menunggu kita lengah. Lalu kenapa anda berpura-pura masih koma?”
“Dari awal sebenarnya aku tidak koma, aku hanya meminta perawat dan Dokter mengatakan hal seperti itu kepada mereka semua.”
“Untuk apa?”
“Aku yakin kamu sudah mendengar awal kejadianku seperti ini dari Ratna. Asal kamu tahu Dit, selama ini jantungku tidak pernah bermasalah. Tapi saat aku meminum air yang ada di meja tiba-tiba saja jantungku serasa akan copot,” terang Bima.
“Begitu ya, jadi anda juga berpikir kalau mungkin ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai anda dengan memasukkan racun ke dalam air yang anda minum?”
“Saya juga berpendapat demikian. Jika memang seperti itu maka orang yang saat itu sedang bersama anda menjadi tersangka utama dalam kejadian itu,” ujar Aditya sambil memegang dagunya seolah sedang berpikir serius.
“Memang benar, hanya saja di ruangan itu hanya ada Verdi, Brian, Viktor dan Ratna. Aku bingung harus mencurigai siapa. Lagipula jika dipikir secara logika kejadian itu terlalu rumit jika memang ada orang yang ingin meracuniku.”
“Rumit seperti apa?” tanya Aditya sambil mengernyitkan dahinya.
“Semua orang di sana meminum air putihnya terlebih dahulu namun baik-baik saja. Sedangkan malah aku yang terkena racun itu.”
“Bukankah hal itu malah mudah? Dengan begitu orang yang paling mencurigakan adalah orang yang membagikan airnya ke semua orang.”
“Masalahnya yang menyodorkan air itu kepadaku adalah Ratna,” jawab Bima. Sontak hal itu membuat Aditya terkejut.
__ADS_1
“Tidak mungkin cucu anda sendiri melakukannya. Apa yang mengambilkan air dari dapur juga Ratna?” ujar Aditya sambil terus berpikir.
“Tidak, orang yang mengambilnya dan membawanya dengan nampan adalah Verdi.”
“Kalau begitu sudah pasti dia yang meracuni anda. Dia bisa saja tahu gelas yang akan anda gunakan.”
“Itu mustahil Dit. Semua gelasnya sama persis. Isinya juga sama air putih semua, jika saja dia yang membagikannya mungkin masih masuk akal tapi dia hanya meletakkan nampannya di atas meja dan Ratna yang menyodorkan gelasnya kepadaku,” bantah Bima.
“Anda benar, dia tidak mungkin hanya mengandalkan keberuntungan semata untuk meracuni anda. Karena jika salah maka orang lain yang malah akan celaka. Jika kita menyelidiki air itu sekarang juga percuma. Pastinya pelakunya sudah menyingkirkan semua barang bukti itu.”
“Itulah yang membuatku bingung, menghadapi musuh dalam selimut memang lebih merepotkan daripada melawan musuh yang jelas terlihat. Hmmm. Sebaiknya kita lupakan dulu masalah itu. Aditya aku ingin meminta satu hal darimu.”
“Apa yang bisa saya bantu?”
“Aku yakin orang yang bermaksud meracuniku itu punya tujuan melakukannya, untuk sementara aku akan terus berpura-pura koma seperti ini untuk memancing pelaku sebenarnya, sementara itu aku ingin kamu melindungi cucuku Ratna. Aku khawatir dia akan menjadi target berikutnya.”
“Baiklah saya akan melakukannya semampu saya.”
“Terimakasih sebelumnya. Oh iya menurutmu siapa orang yang tadi ingin menghabisiku? Apakah mereka adalah anggota gengku sendiri?” tanya Bima.
“Bukan, aku yakin dia adalah orang suruhan geng Gagak.”
“Kenapa kamu bisa seyakin itu?”
“Anggota geng Merak tidak akan berani melakukan hal itu di tempat yang mencolok seperti ini karena bisa saja kelakuannya dicurigai oleh anggota lainnya. Jaja juga tidak akan memerintahkan anak buahnya melakukan hal yang penuh resiko seperti itu di tempat yang berisiko juga. Dia tidak mungkin sebodoh itu. Yang aku tahu hanya ada satu orang bodoh dan licik seperti itu, Goni.”
“Penjelasanmu masuk akal juga, aku akan kembali beristirahat. Maafkan aku karena sudah memintamu untuk melindungi Ratna,” kata Bima sambil berusaha untuk berbaring kembali.
“Tidak apa-apa. Hal seperti itu malah masih kurang untuk membalas budi baik anda,” kata Aditya sambil membantu Bima berbaring.
Sementara itu di seberang rumah sakit, tepatnya di sebuah restoran tempat Jaja, Gerald dan para petinggi geng Merak berkumpul terdengar kegaduhan. Suasana di sana juga terasa begitu tegang. Bahkan Ratna dengan berani menggebrak meja sambil berdiri.
__ADS_1
“Apa maksud perkataan kalian itu!” bentak Ratna, dari sorot matanya dia terlihat sangat marah.
BERSAMBUNG…