
Skuad Malam sudah setengah jam yang lalu menunggu Aditya di pusat kota Tokyo, di sebuah klub malam. Nancy, Teo, Charlie, Baskara, dan Linda seperti biasa, berdandan ala orang biasa. Mereka bahkan memakai pakaian glamour seolah-olah tujuan datang ke Jepang adalah untuk berpesta.
Aditya jadi kikuk berada di samping mereka berlima. “Kalian kenapa berdandan terlalu mencolok begini?”
“Justru kamu yang mencolok,” kata Nancy.
Aditya memperhatikan situasi sekeliling. Benar juga. Penampilannya yang paling sederhana justru kurang cocok. Aditya bilang pakaian ini dipinjam seadanya dari orang yang akan bekerjasama dengan mereka nanti.
“Siapa mereka?” tanya Charlie penasaran.
“Kelompok Pencuri Tanpa Bayangan. Mereka sedang bersiap di hotel. Nanti akan ada kabar dari Rai Siluman, pimpinan kelompok itu, dan barulah kita berangkat,” jawab Aditya sambil mengamati suasana klub malam itu yang hanya berhiaskan lampu merah dan biru.
“Apa?! Pencuri Tanpa Bayangan? Maksudmu, orang-orang profesional itu? Penipu dan pencuri kelas internasional yang menghasilkan ratusan ribu dollar dalam sekali kerja itu?” tanya Teo tak percaya.
“Mereka bisa lebih dari itu. Tapi di sini kita bukan untuk menangkap mereka. Rai bersedia menunjukkan di mana keberadaan dokumen negara yang rahasia itu pada kita, agar kita bisa mengambilnya lagi,” kata Aditya.
“Kita tidak bisa mengambilnya begitu saja, kan?” tanya Linda.
“Tugas kita berbeda. Kita menyelamatkan anak Rai, sedang Rai serta teman-teman pencuri ulungnya itu mengambil dokumen tersebut.”
Mereka menunggu kurang lebih lima belas menit. Aditya mendapat telepon dari Rai Siluman, mengabarkan agar mereka harus pergi ke sebuah gedung setengah jadi yang berjarak beberapa blok saja dari klub malam itu.
“Cukup dekat. Kita bisa sambil jalan kaki saja,” kata Charlie asal-asalan.
“Barang-barang kita?” tanya Baskara.
“Ya, bawa saja.”
“Jangan terlalu mencoloklah,” sahut Aditya. “Mending bawa mobil saja. Kalian ada mobil sewaan, kan?”
__ADS_1
Nancy yang menyetir mobil itu, membelok ke sebuah pertigaan setelah keluar dari basement tempat parkir klub tadi, lalu memasuki area parkir lain dua blok kemudian.
Mereka turun dan mengamati sekeliling. Di seberang tempat parkir itu ada gedung tinggi yang setengah jadi yang hanya diterangi oleh lampu-lampu seadanya. Ada tanda di sana-sini, milik orang proyek, yang tegas memperingatkan agar jangan dekat-dekat sebab bahaya.
“Di mana mereka?” tanya Nancy.
Aditya juga tak tahu.
Lalu terdengar siulan pendek tapi tajam dari sebelah selatan gedung itu. Mereka tahu itulah Rai. Mereka menghampirinya dan Rai menyambut mereka.
“Kita pinjam lokasi ini untuk meeting. Kurasa orang-orang si mafia busuk itu sudah tahu aku ada di Tokyo,” jelas Rai.
“Oh, bagaimana bisa?” tanya Teo memasang tampang kebingungan.
“Yah, karena mereka bisa melacak siapa pun!” sahut Burhan dari balik kegelapan gedung.
Teo tak henti memandangi Vivian yang terlihat paling mencolok dalam grup maling internasional ini. Karena dia satu-satunya wanita dan muda juga. Vivian memang muda dan cantik. Namun Charlie tampaknya juga tak luput memandangi gadis itu.
Alhasil, Nancy yang melihat pertanda dari kedua temannya yang saling sikut itu hanya berbisik, “Nanti saja kalian pedekate ke dia! Setelah semua tugas kita kelar!”
Teo dan Charlie hanya nyengir sambil menggaruk kepala mereka yang tak gatal.
Dua mobil pun segera meluncur setelah dua tim itu membagi tugas dan menghafal denah rumah sang mafia yang bernama samaran: Harimau Gunung. Rai Siluman sendiri tak pernah tahu nama asli mafia tersebut dan begitupun banyak orang. Ia hanya terkenal sebagai harimau yang sadis.
Tak butuh waktu lama. Mereka tiba di sebuah rumah di tepi kota Tokyo, yang tidak jauh darinya terdapat sebuah bukit. Rencananya terdengar sederhana: Skuad Malam akan menyusup melalui bukit itu, lalu masuk ke halaman belakang rumah di mana anak gadis Rai mendapatkan ruang kerjanya.
"Kami akan masuk dari pintu samping setelah semua sistem kelistrikan dipadamkan oleh Burhan,” kata Rai saat meeting tadi di bangunan setengah jadi.
Adtiya dan Skuad Malam sudah berada di kaki bukit, dekat pagar belakang rumah Si Harimau Gunung saat lampu akhirnya padam. Orang-orang IT sang mafia pastilah akan bekerja cepat mengatasi dan melacak perbuatan itu. Maka, Skuad Malam juga harus gerak cepat.
__ADS_1
Aditya seperti biasa dengan taktis memimpin pergerakan skuadnya, membawa kelima temannya masuk dan melumpuhkan banyak penjaga di area belakang tanpa ada suara.
Mereka lihat di seberang kolam ikan ada sebuah kamar kecil, yang disebut ‘kantor untuk anak Rai’. Tetapi setelah memasuki ruangan itu, mereka bukan melihat sebuah kantor.
Di situ anak Rai yang masih belia, mungkin berumur 17 atau 18 tahun, disekap dan dibiarkan tidur di kasur tipis yang kotor. Gadis itu terlihat ketakutan dan hanya memakai pakaian robek dalam setengah telanjang.
“Beri dia pakaian! Kalau Rai tahu, rencana kita bisa kacau!” kata Aditya. Berharap Rai tak tahu dulu tentang anaknya untuk sementara ini sampai dokumen itu berhasil Rai dan kawan-kawannya curi.
***
“Bagaimana kalian? Sudah lolos?” tanya Rai melalui alat komunikasi khusus yang tak akan bisa terlacak.
“Sudah. Anakmu berhasil kami amankan. Sekarang kami sudah kembali ke puncak bukit,” kata Aditya.
“Baguslah. Bagaimana keadaan dia? Aku dan kelompokku sudah membongkar isi brangkas Harimau Gunung. Dokumen itu juga sudah di tangan kami,” jawab Rai.
Untuk sesaat, Aditya mengira misi ini nyaris selesai. Tapi tak lama setelahnya ia dengar Rai menghubunginya lagi.
“Omong kosong! Anakku masih ada di dalam, Dit! Ini dia sudah bersamaku! Siapa yang kau bawa keluar tadi?!” kata Rai dengan panik.
Gadis yang mereka selamatkan tadi tak bicara sepatah kata pun. Hanya bilang jika di dalam rumah mewah nan luas itu terdapat banyak gadis-gadis malang yang menderita dan menjadi pemuas ***** anggota mafia itu.
“Baiklah, kami akan kembali!” kata Aditya.
Aditya pun geram. Menyuruh Baskara menjaga gadis tersebut di bukit, lalu ia dan Skuad Malam kembali ke rumah sang mafia.
Saat itu Aditya belum menyadari kalau sang Harimau Gunung sudah tahu keadaan di rumahnya. Harimau Gunung marah ketika markasnya diserbu dari dua arah. Oleh tim pencuri dan tim pasukan khusus yang siap menghabisi para anak buahnya.
Bersambung...
__ADS_1