
Klub Malam King atau lebih akrab disebut The King adalah tempat baru bagi para penggemar dunia malam di Bandung. Aditya pergi ke sana. Sesuai dengan yang mereka baca di GPS, ke sanalah Yusi, Clarissa, dan Shelly D menuju.
The King bukanlah tempat sembarangan. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang punya akses masuk ke sana. Aditya tak kesulitan karena ia mengenal salah satu penjaga yang bekerja di pintu masuknya.
“Apa kabar, Bro?” tanya Aditya yang segera melepas topi petnya, membuat penjaga itu segera mengenalinya
“Hei, lama tak jumpa,” kata si penjaga itu. Lalu memberikan jalan pada Aditya.
“Gue tahu loe kerja di sini,” tukas Aditya.
“Ya, sejak tahun lalu memang.”
Aditya diam-diam berpikir beruntung juga dirinya. Selain memiliki banyak musuh, ia juga punya banyak teman di dunia yang kejam ini. Tapi, setelah dipikir-pikir, itu juga mungkin bisa berbahaya bagi orang-orang di sekitar dirinya. Bukankah sudah terbukti dengan penculikan Frita oleh Garry Lee tempo hari?
Dengan mudah ia melenggang masuk, lalu memesan entah minuman apa saja, dan membuat dirinya mabuk. Di bagian dalam klub itu, entah ada berapa ratus orang. Semua tak Aditya kenal dan ia tak peduli.
Lampu warna-warni menyilaukan mata setiap orang, tapi mereka terus menari dan melompat dan sesekali berteriak menyorakkan sebuah nama. Segala keberisikan di dalam klub itu sama sekali tak membuat Aditya lepas memikirkan nasib Frita.
Aditya membatin, “Rembulan kota Bandung hancur, dan aku rasanya juga bakalan hancur.”
Aditya sangat bernafsu menghajar atau bahkan membunuh pelaku pemerkosaan itu, tapi di sisi lain ia sudah merasa sangat lelah. Sebagian dirinya memaksanya lari, dan itulah kenapa ia pergi ke The King.
“Semoga setelah ini aku menemukan sesuatu. Sesuatu yang tak tahu entah apa itu. Kurasa sesuatu yang mengembalikan kemampuan membunuhku!” katanya pada diri sendiri.
Yusi, Clarissa, dan Shelly D sedikit berdebat di tempat parkir yang terletak persis di belakang bangunan klub malam itu. Shelly D mungkin tak masalah, tapi Clarissa yang terlihat begitu muda dan belia, apa mungkin masuk?
Yusi bilang, “Mungkin kami berdua saja yang masuk. Lalu kami ajak Aditya pergi dari sini. Kita bisa cari tempat ngobrol yang lebih nyaman nanti.”
“Ide bagus,” kata Shelly D.
“Kalian yakin kalian bakal dengan mudah saja mengajaknya keluar? Dia lagi emosi, lho! Siapa tahu malah sekarang dia bikin ribut di dalam!” ujar Clarissa sedikit cemas.
Shelly D terlihat heran. Ia memang baru mengenal Aditya kemarin malam sepulang dari konser. Tapi, apa mungkin orang seperti Aditya itu membuat keributan? Ah, seperti mendengar cerita tentang orang yang bukan Aditya saja.
__ADS_1
Namun, akhirnya Clarissa memiliki ide. Ia meminta Yusi dan penyanyi idolanya itu untuk menunggu sebentar.
“Apa yang kamu lakukan, Clarissa?” tanya Yusi sambil setengah berbisik agar tak membuat beberapa pengunjung lain yang barusan parkir jadi curiga.
“Sudah, tunggu saja!” balas Clarissa sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Oh, ternyata gadis itu menebalkan lipstik dan bedaknya. Yah, tak ada cara lain agar dia bisa terlihat lebih sesuai dengan umurnya.
Ketiga lalu berjalan dengan tenang ke pintu depan. Mereka berhasil masuk berkat keberadaan penyanyi terkenal itu. Shelly D bilang pada si penjaga di pintu depan, “Aku ada janji dengan Herman Kusuma.”
Banyak yang tahu, terutama orang-orang penikmat dunia malam, bahwa Herman Kusuma dan kelompoknya yang disebut Lima Bintang, menguasai sebagian sisi gelap Bandung. Lima Bintang itu grup elite yang berisi anak-anak konglomerat atau pemilik partai politik yang saat ini berkuasa. Rama Subandi adalah pimpinan grup elite ini.
Sialnya, Shelly D tak tahu malam itu klub The King sedang menggelar salah satu pesta termewah yang pernah mereka buka, untuk ulang tahun Rama Subandi yang ke- 30.
Begitu mereka masuk ke dalam, yang ada bukannya mudah menemukan Aditya, tapi mereka harus melewati lautan manusia yang berjoget, mabuk, berlarian ke sana kemari dengan tawa ria. Itu benar-benar tempat yang mengerikan bagi Clarissa. Jujur saja, ia baru kali itu menemui klub malam segarang itu.
Shelly D beberapa kali pergi ke sini dengan teman-temannya sendiri. Jadi ia tahu di sinilah biasanya Lima Bintang nongkrong.
“Eh, kok tumben serame ini?” tanya Shelly D ke seorang yang berjoget oleh musik yang menghentak.
“Gawat,” gerutu Shelly D. “Kita harus gerak cepat, Teman-teman.”
“Kenapa?” tanya Yusi.
“Herman Kusuma pasti segera tahu aku ada di sini. Rama sudah lama tergila-gila padaku. Entah sudah berapa kali aku membuatnya sakit hati. Tapi, tidak di ulang tahun lelaki sok berkuasa itu!” kata Shelly D.
Sayangnya, ketakutannya terjadi juga. Herman Kusuma yang juga putra mahkota di salah satu grup bisnis terkemuka di Jakarta itu tiba-tiba menghadang Shelly D dari depan pintu toilet, bahkan sebelum bibir wanita itu kering.
“Kenapa loe nyebut-nyebut nama gue?” kata Herman, membuat Shelly D kaget.
“Herman! Tolong, beri gue jalan! Gue harus buru-buru!” kata Shelly D.
Herman seperti tak peduli ucapan Shelly D. Dia segera menatap Yusi dan Clarissa yang datang bersama penyanyi itu.
“Siapa nih orang?” katanya.
__ADS_1
“Temen gue. Tolong, minggir dulu, Herman,” kata Shelly D.
“Enggak bisa, Desi. Kali ini kamu harus menolaknya lagi?”
“Sudah kubilang aku nggak ada perasaan sama Rama! Tapi, oke nanti kalo sempat akan kuucapkan selamat ulang tahun pada temen loe itu!” jawab Shelly D.
“Hahaha, Desi, Desi! Kamu lupa ya, dulu bisa terkenal karena jasa siapa? Kalau bukan karena keluarga Rama, kamu masih cewek miskin tahu! Sudah miskin jangan sok beginilah!” tukas Herman dengan tampang meledek.
Clarissa dan Yusi pun tahu kalau nama asli Shelly D ternyata adalah Desi. Tapi soal ia menjadi terkenal karena jasa anak ketua partai politik, itu sama sekali bikin mereka berdua kaget.
“Tapi kayaknya enggak mungkin juga. Kan Shelly D memang berbakat di bidang tarik suara!” batin Clarissa kesal juga melihat Herman meledek idolanya.
Yusi mencoba menengahi, “Bro, kami ada perlu darurat. Ini tentang keselamatan teman kami. Jadi tolong beri waktu Shelly untuk itu.”
Herman menatap Yusi sambil meremehkan. “Loe ini siapa sih? Berani ngatur gue segala!”
Tanpa pikir panjang, Herman meninju mulut Yusi. Yusi tak siap sehingga ia segera ambruk ke lantai, tetapi langsung segera bangkit. Yusi tak ingin keributan, jadi ia tidak membalas.
Tapi, Herman dengan emosi berkata, “Bubar! Bubar semua!”
Perintah Herman segera membuat para pengunjung pesta berhenti menari. Si DJ di depan sana juga berhenti memainkan musik. Mereka tahu kalau Herman memberikan perintah, tak boleh ada yang membantah.
Dengan kasar, Herman segera mencengkeram tangan Shelly D dan menariknya ke arah pintu lift.
“Jangan begini, Bajingan!” bentak Shelly D, tapi ia jelas tak berdaya melawan otot tangan Herman Kusuma.
Yusi yang mencoba mencegah, malah dikeroyok oleh anak buah Herman yang tak tahu bagaimana, sudah ada di situ, mengepung mereka.
Alhasil, klub The King menjadi ribut malam itu. Orang-orang berlarian keluar. Dan tak ada yang tetap di sana selain para pegawai klub yang menonton Yusi dikeroyok, dan semua anak buah grup Lima Bintang.
Hanya saja, mereka tak tahu, di pojok ruangan, seorang lelaki duduk dengan wajah geram. Aditya tak berkata-kata ketika seorang bartender memintanya pulang. Ia malah jalan mendekat, ke keributan itu, dan mengepalkan tinju. Siap menghajar siapa pun yang ada di situ.
Bersambung...
__ADS_1