Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 23


__ADS_3

Rani terus mencoba melepaskan genggaman tangan Yana. Angga hanya tertegun tidak berani lagi menghajar Aditya. Dia hanya diam melihat Aditya mendekati Yana. Aditya memegang pundak Yana hingga membuatnya kaget dan melepaskan genggaman tangannya pada Rani.


“Jujur saja gua paling nggak suka melihat seorang pria yang bersikap kasar kepada wanita,” kata Aditya dengan nada tinggi di hadapan Yana.


“Eh lu itu Cuma sopir. Jangan berani bentak-bentak sama gua ya! Kalo mau gua bisa saja meminta Pak Pandu memecatmu!” ancam Yana sambil tertawa lebar.


“Coba saja kalau emang bisa,” ujar Aditya sambil tersenyum mendengar perkataan Yana.


“Oke. Besok gua bakalan temuin pak Pandu dan minta dia buat mecat lu!”


“Gua setuju Yan. Ngapain juga sopir kayak gini dipertahanin,” timpal Angga.


Ketika mereka asik berdebat, dari kejauhan terdengar suara orang ramai teriak teriak disertai suara motor yang berisik. Pemilik kedai segera sibuk beres-beres dan merapikan kedainya seakan mau tutup. Beberapa pelanggan yang mengetahui apa yang akan segera terjadi segera membayar pesanannya dan beranjak pergi dari kedai itu.


“Maaf Pak, Mbak. Tolong segera bayar makanannya. Sebaiknya kalian juga segera pergi dari tempat ini,” ucap pemilik kedai yang tampak panik.


“Memangnya kenapa pak?” tanya Rani ikutan cemas.


“Itu tu geng Gugun,” jawab pemilik kedai semakin cemas.


“Geng apa? Nggak pernah denger juga gua,” jawab Yana sambil tertawa.


“Lah palingan juga geng gengan bocah,” timpal Angga ikut tertawa.


Melihat mereka semua tidak menghiraukannya si pemilik kedai malah menutup pintu masuk dan membiarkan mereka berdiri di luar kedainya tanpa membayar. Rani berusaha memanggil kembali pemilik kedai untuk membayar makanannya. Namun si pemilik kedai tidak muncul sedikitpun.


Terdengar suara motor-motor semakin dekat. Tampak gerombolan orang berjumlah dua puluh orang berkendara sambil teriak-teriak. Rani gemetar melihatnya. Wajah orang-orang itu tampak sangar dan menyeramkan dengan tattoo memenuhi sekujur tubuhnya. Gugun tampak mengendara paling depan. Dia kemudian berhenti di pinggir jalan ketika melihat Rani.


Aditya terkejut melihat Gugun ada di gerombolan itu. Emosinya kembali memuncak karena dia tahu kalau Gugun telah mencoba untuk menculik Frita. Dia jelas tidak bisa membiarkannya berkeliaran begitu saja. tapi dia juga tidak mau identitasnya terbongkar di depan Rani. Setidaknya untuk hari ini. Aditya kembali mencoba menekan emosinya.


“Bos kenapa kita berhenti di sini?” tanya anak buah Gugun.


“Pucuk dicinta ulam pun tiba,” jawab Gugun sambil tersenyum melihat Rani.


“Apa artinya Bos?”


“Ya gua nggak tahu lah.”

__ADS_1


“Lah terus kenapa kita berhenti di sini?”


“Noh liat ada cewe cakep. Kita bawa saja dia, sisanya pinta saja uangnya.”


“Wih, bener juga Bos. Okelah kita sikat!”


Sambil tertawa Gugun dan anak buahnya mendekati empat orang yang berdiri di luar kedai. Yana dan Angga tampak merinding ketakutan melihat geng itu mendekati mereka. Aditya pikir tampaknya Gugun sama sekali tidak mengenalinya.


“Neng cantik. Boleh dong abang kenalan,” kata Gugun pada Rani, dia sengaja pura-pura tidak tahu. Rani tidak menjawab sedikitpun, dia tampak begitu ketakutan ketika didekati Gugun.


“Apa Lu liat-liat gua? Udah bosen hidup apa!” bentak Gugun ketika ditatap Yana.


“Nggak kok bang. Saya Cuma liat tattonya doang, keren banget,” puji Yana sambil tersenyum.


“Iya lah! Ini cewe siapanya lu? Pacar lu?” tanya Gugun.


“Iya dong bang. Cantik kan?” jawab Yana cepat dengan bangga.


“Oh. Jadi kalo gua mau bawa ni cewe harus ngadepin lu dulu dong?” tanya Gugun sambil memegang kerah baju Yana.


Rani sangat kesal mendengar jawaban Yana. Dia tidak menyangka ternyata Yana hanyalah pria pengecut yang hanya berani menindas yang lemah. Dalam hatinya Rani bersumpah tidak akan menerima cinta Yana sampai kapanpun. Mendengar hal itu Gugun tampak tertawa.


“Bagus, berarti lu tahu siapa gua. Kalau gitu cepetan keluarin uang lu semua!” bentak Gugun.


“Eh cantik, kamu nggak usah keluarin uang kok. Kalo kamu mau malah aku bisa saja ngasih berapapun buat kamu. Yang penting kamu mau diajak senang-senang,” kata Gugun sambil mengelus dagu dan pipi Rani.


“Cepetan keluarin semuanya!” bentak anak buah Gugun yang sedang mengumpulkan uang Yana dan Angga.


“Eh ****** sini uang lu juga!” bentaknya lagi ketika melihat Aditya diam saja.


Rani sedikit menoleh kearah Aditya seakan meminta tolong. Aditya hanya menghela nafas dalam. Gugun tampak kesal melihat Aditya santai-santai saja di situasi seperti ini. Ketika Aditya hendak bergerak mendekati Gugun dengan cepat dia ditarik oleh anak buahnya Gugun dibawa kejalanan kemudian dikelilingi hingga keadaannya tidak bisa dipastikan dari luar.


Yana tampak senang melihat Aditya dikerubungi anak buah Gugun. Dia yakin pasti tamat riwayat Aditya. kenyataannya Aditya bisa menghindari dan menangkis beberapa serangan anak buah Gugun. Namun sehebat apapun dirinya tentu tetap kesusahan jika harus menghadapi orang sebanyak itu. Tampak pipinya sudah terluka oleh sabetan pisau milik lawan.


“Adiiiit..” Teriak Rani ketika melihat Aditya dibawa oleh anak buah Gugun.


“Sudahlah cantik jangan hiraukan orang seperti dia,” kata Gugun sambil meraba tubuh Rani.

__ADS_1


“Jangan!” teriak Rani mencoba berontak sambil menjauh.


“Sudahlah, nikmati saja” ujar Gugun sambil tersenyum.


Yana sangat kesal melihat kelakuan Gugun. Dia tidak menyangka jika Gugun sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Namun apalah daya, Yana hanya bisa menahan emosi melihat pujaan hatinya berontak dan menjauh dari Gugun.


Tiba-tiba saja Aditya berteriak. Gugun berhenti mendekati Rani. Dia melihat apa yang sedang terjadi di jalanan. Tampak Aditya sedang menghunuskan pisau yang telah dia rebut ke arah para anak buah Gugun.


Gugun tampak kesal melihat tidak ada anak buahnya yang berani mencoba mendekati Aditya. ketika Gugun melangkah menuju jalan tampak sebuah mobil hitam berhenti di dekat mereka. Seorang pria bertopi hitam dan membawa tongkat turun dari mobilnya. Tiga pria lain juga turun dari mobil. Gugun mencoba mendekatinya.


“Kalian mau ikut campur hah?” tanya Gugun.


“Kebetulan, kelihatannya kalian orang kaya juga. Keluarin semua uang lu!” bentak Gugun kepada pria bertopi sambil memegang kerah bajunya.


“Hah?” ujar si pria sambil menunjukan wajahnya dan menatap tajam Gugun.


“Aku nggak nyangka kalau ada tikus berkata begitu kepadaku,” kata si pria lagi. Gugun tampak ketakutan setelah tahu siapa pria itu.


Wajah Gugun ditinju oleh pria itu hingga terkapar di jalan sambil meringis kesakitan. Dari hidung dan mulutnya tampak mengucur darah segar. Semua orang yang ada di sana terkesima melihat kejadian itu. Pria itu berjalan mendekati Aditya. Yana tersenyum senang sambil mendekat agar bisa melihat lebih jelas jika pria itu nanti menghajar Aditya.


“Lama tidak berjumpa Bos,” ucap pria itu sambil mengajak bersalaman.


“Aku tidak menyangka akan berjumpa denganmu di sini, Putra Wacana,” kata Aditya sambil bersalaman.


“Ada apa dengan kakimu hingga kau harus memakai tongkat seperti itu?” tanya Aditya.


“Oh, ini cuma buat gaya-gayaan saja biar keren seperti bos besar.”


“Jangan panggil aku bos. Nanti orang-orang di sini salah paham.”


“Baiklah. Saya hanya ingin menghormati bos saja.”


Mendengar percakapan mereka berdua membuat Yana kaget. Gugun dan anak buahnya bahkan lebih kaget lagi. Mereka tidak percaya jika seorang ketua geng Kujang memanggil Aditya dengan sebutan Bos. Dengan cepat mereka semua segera kembali ke motor dan pergi meninggalkan tempat itu.


Melihat Gugun dan anak buahnya pergi membuat Yana semakin ketakutan. Dia takut Aditya akan balas dendam kepadanya karena perbuatannya tadi. Aditya melirik ke arah Yana. Melihat tatapan Aditya membuat Yana berkeringat dingin.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2