Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 104


__ADS_3

Arfa kemudian maju dengan cepat. Edgard juga berhasil menangkis semua serangan cepat Arfa. Tapi Arfa langsung menggunakan kakinya, Edgard mengelak, Arfa kembali melayangkan tinjunya. Edgard kembali berhasil menahan serangan Arfa. Mereka berdua mulai saling jual beli serangan. Semua orang di sana mulai bersorak kembali.


“Serangan mereka benar-benar cepat,” puji Ratna.


“Tapi kekuatan serangan mereka berbeda,” ucap Aditya.


“Maksudmu?”


“Lihatlah, orang dari geng Serigala itu memang cepat bisa menahan serangan Arfa. Namun tubuhnya goyah karena tekanan tenaga Arfa yang kuat,” jelas Aditya.


“Jadi menurutmu Arfa akan memenangkan duel ini?”


“Harusnya dia menang, tapi aku rasa dia harus waspada karena tadi saja Gilang melakukan kecurangan.”


Edgard berusaha menghindari beberapa serangan Arfa. Kelihatannya dia mulai merasakan sakit ketika menahan serangan Arfa. Dengan cepat Arfa terus menyerang Edgard seolah tidak pernah merasakan lelah. Edgard mulai terpojok. Tiba-tiba satu serangan Arfa meleset cukup jauh dari Edgard, dengan cepat Edgard membalas meninju tubuh Arfa hingga terjungkal kebelakang.


Arfa kembali bangkit. Dia kembali menyerang Edgard namun bebrapa serangannya kembali meleset. Edgard dengan mudah berhasil kembali meninju tubuh Arfa walaupun dengan refleks yang baik Arfa berhasil menghindar sedikit. Edgard kembali menyerang Arfa namun dengan baik semua serangannya dihalau oleh Arfa.


“Apa yang terjadi?” gumam Ratna.


“Aku tidak tahu, tiba-tiba Arfa terlihat kewalahan seperti itu,” jawab Aditya dengan tatapan tajam ke arena duel. Ternyata bukan hanya mereka berdua yang kebingungan hampir semua orang di sana heran karena Arfa tiba-tiba terpojok.


“Apa yang lu lakuin bangsat!” teriak Arfa sambil menjaga jarak.


“Apa maksud lu? Gue bingung,” jawab Edgard.


“Cih! Gue tahu lu berbuat curang! Air Drian! Ambilin gue air!” perintah Arfa sambil terus waspada.


Edgard terus menyerang Arfa, seolah tidak membiarkan lawannya menarik nafas. Arfa terus berusaha menghindar namun beberapa serangan tetap mengenai tubuhnya. Adrian segera datang kembali ke sana dengan membawa air putih.


“Lu kenapa Ar?” tanya Adrian.


“Cih, mata gue tiba-tiba kehilangan fokus. Pandangan gue cuma samar-samar. Lempar airnya!” jawab Arfa.


“Jangan Ar!” teriak Aditya. Semua orang melirik ke arahnya.

__ADS_1


“Aku yakin yang dia gunakan itu serbuk kimia, jika kamu menggunakan air, matamu akan semakin iritasi parah,” jelas Aditya.


“Kurang ajar! Dasar pengecut! Lu bener-bener ngeremehin gue ya!” teriak Arfa.


“Hahaha jangan cari-cari alasan! Coba buktikan dulu jika memang aku curang!” jawab Edgard.


Arfa memejamkan matanya dan berkonsentrasi. Edgard hanya tertawa kecil melihat kelakuan lawannya. Dia kemudian menyerang Arfa dengan cepat tapi kali ini Arfa berhasil menghindar dengan sempurna. Edgard melakukan serangan bertubi-tubi, namun Arfa berhasil menghindari semua serangannya dengan mudah. Hal itu membuat semua orang di sana berdecak kagum dengan kemampuan Arfa.


Dalam keadaan masih bingung Edgard kembali mundur tapi Arfa dengan cepat berhasil menyerangnya dengan dua pukulan beruntun. Edgard terpental sambil meringis kesakitan. Arfa terus menyerang Edgard secara bertubi-tubi. Kali ini Edgard kembali berhasil dipojokkan oleh Arfa. Beberapa kali Edgard harus menjauh menjaga jarak.


“Gila, kemampuannya hebat.”


“Tidak salah jika dia menjadi salah satu petinggi geng Gagak.” Beberapa orang di sana terdengar memuji kemampuan Arfa.


“Dia benar-benar hebat,” gumam Ratna.


“Apa dia bisa melihat walau matanya terpejam seperti itu?” ujar Sherly pelan.


“Dia sudah terlatih untuk itu. Diantara mereka bertiga, Arfa adalah yang paling unggul dalam kekuatan dan daya tahan tubuhnya, dia benar-benar seorang maniak pertarungan,” ucap Aditya sambil tersenyum.


Edgard kembali bangkit, dari bibirnya terlihat bercak darah. Arfa terlihat masih fokus berkonsentrasi, mendengar lawannya sudah bangkit kembali Arfa kembali menerjang dengan beberapa pukulan, namun Edgard menghindar sambil menjaga jarak. Arfa tanpa lelah menyerang lawannya, beberapa serangannya berhasil mengenai tubuh Edgard hingga kembali terpental.


“Hahaha, kelihatannya pengecut tetaplah pengecut. Jadi cuma segitu saja kemampuanmu hah?” ledek Arfa.


“Heh, jangan belagu dulu. Permainan kita baru saja dimulai,” jawab Edgard.


“Hahaha, aku menutup mata saja sudah kewalahan seperti itu, sekarang cara curang apa lagi yang akan lu perlihatkan?”


“Diam keparat! Kalau memang curang cepat buktikan!”


Duel sengit diantara mereka berdua kembali terjadi, kini Edgard menyerang Arfa dengan membabi buta. Tapi semua serangan Edgard bisa ditahan. Edgard dengan cepat menubruk Arfa dengan tubuhnya hingga ambruk di lantai. Arfa berusaha melepaskan cengkraman tangan Edgard di lehernya.


Edgard terus berusaha mencekik Arfa, dengan cepat Arfa menghentakkan perutnya hingga tubuh Edgard goyah, lehernya ditarik ke belakang oleh kaki Arfa. Dalam sekejap tubuhnya sudah terbanting ke lantai. Arfa bangkit lagi lalu menendang Edgard hingga kembali tersungkur.


Edgard kembali bangkit. Tiba-tiba kaki Arfa gemetar lalu ambruk ke lantai, kakinya terlihat lemas, dia hanya bisa berlutut sambil berusaha berdiri. Dengan cepat Edgard menendang Arfa hingga terpental ke kerumunan orang. Kini terlihat Arfa berusaha mengangkat tangannya namun kembali terkulai lemas.

__ADS_1


“Hahaha kelihatannya lu benar-benar kehabisan tenaga,” ucap Edgard sambil tertawa puas.


“Apa yang terjadi?” gumam beberapa orang di sana.


“Kenapa Arfa tiba-tiba terlihat lemas?” tanya Ratna.


“Cih, kelihatannya dia kembali berbuat curang kepada Arfa,” gumam Aditya.


“Maksudnya?”


“Aku yakin saat dia mencekik Arfa, dia menggunakan bahan kimia lain di tangannya hingga serbuknya terhirup oleh Arfa. Karena itulah efeknya bisa membuat tubuhnya lemas tak bertenaga,” jelas Aditya sambil mengepalkan tangannya karena geram.


“Keparat! Aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini! Gue bersumpah lu bakalan mati di tangan gue!” bentak Arfa sambil berusaha terus bangkit.


“Hahaha, kalau begitu biarkan gue yang ngabisin lu duluan di sini!” teriak Edgard.


“Edgard melompat dengan kaki hendak menghujam ke dada Arfa, serangan seperti itu jelas-jelas mengancam nyawanya. Adrian yang geram hendak maju menggantikan Arfa berduel, namun dalam sekejap tubuh Edgard sudah melayang hingga mendarat ke sebuah meja yang ada di sana. Aditya sudah berdiri di arena duel dengan wajah penuh amarah.


“Sudah Ar, kemampuanmu memang hebat. Untuk saat ini jangan memaksakan diri,” bisik Aditya di telinga Arfa.


“Bos, dimana orang itu bos. Gue pasti habisin dia! Pasti!”


“Tentu saja, tapi sekarang bukan waktunya. Sebaiknya kamu sekarang pergi ke rumah sakit untuk memulihkan diri. Biarkan aku menangani sisanya,” bisik Aditya menghibur Arfa.


“Egi! Bawa Arfa ke rumah sakit, sekalian obati dirimu juga. Aku yang akan melanjutkan duel ini!” perintah Aditya.


Egi dengan cepat melaksanakan perintah Aditya. Semua orang di sana sangat terkejut karena malah Aditya orang terakhir dari geng Gagak yang maju ke arena duel. Aditya menatap Goni yang seakan tidak peduli dengan keadaan Arfa, hal itu membuat Aditya semakin jengkel kepadanya. Tapi jika Adrian yang maju dia khawatir akan celaka kembali, terlebih kemungkinan orang terakhir yang akan maju dari geng Serigala adalah Gerald.


“Wah-wah, tak kusangka kalau lu yang akan maju selanjutnya, kelihatannya lu emang sudah bosan hidup,” kata Edgard sambil tertawa sinis.


“Gue cuma nggak bisa menahan diri melihat kecurangan terus dilakukan di dalam duel ini,” jawab Aditya dengan tenang.


“Hah, sudah gue bilang jika memang gue curang, buktikan!”


“Semuanya akan terbukti setelah lu terkapar di lantai,” ledek Aditya.

__ADS_1


“Dia akhirnya maju juga, sesuai dengan rencana,” gumam Gerald.


BERSAMBUNG…


__ADS_2