
Pesta itu digelar di salah satu gedung megah di kota Bandung. Para hadirin terlihat memenuhi seisi ruangan, menikmati santapan di piring mereka sambil bersenda gurau di berbagai sudut.
Di lobi depan, banyak yang antre untuk bisa segera masuk, karena saking penuhnya para tamu. Aditya tak menyangka pestanya bakal seheboh ini.
“Almarhum kakekku orang yang baik sebenarnya, meski kadang beberapa ada yang mengira ia berperilaku buruk. Jadi, enggak mengherankan bakal banyak yang datang,” kata Ratna dengan tenang.
Aditya justru yang tak tenang. Ia kini sudah yakini hubungannya dengan Frita ada di ujung tanduk. Ratna sepertinya tak peduli soal itu. Ia hanya terus berkata, “Ingat, ini demi kalian juga. Tanpa pernikahan ini, Setiawan Budi akan terus mengincarmu, Dit.”
“Aku bisa saja membunuhi mereka semua,” tukas Aditya dengan sedikit kesal.
“Dan mencederai janjimu pada kita semua? Janji bahwa kamu enggak akan lagi jatuh ke masa lalumu? Enggak akan lagi melukai atau membunuh siapa pun?” sahut Ratna sambil tersenyum. Ia sengaja menggoda Aditya dan menggamit lengannya, lalu melambai ke para tamu yang memandang mereka takjub dari depan pelaminan.
“Sudah. Jangan melambai terus, Ratna. Kamu bikin malu!” bisik Aditya.
“Musuhmu datang tuh,” ujar Ratna teenang. “Kita buat sekalian mereka sakit hati. Sekalian juga memastikan apa rencana ini berhasil!”
Aditya menatap ke kejauhan, ke arah pintu masuk ruangan besar itu.
***
“Apa ini? Undangan pernikahan cucu dari Bima?” gerutu Setiawan Budi saat itu. Ia ingat sosok tersebut sudah jadi musuh lamanya, tapi tak pernah mereka bersilisih atau saling sikat satu sama lain. Kedua pihak itu seperti sama-sama tahu kekuatan musuh dan memilih tak bertikai.
Kini, undangan macam ini mendadak datang?
Setiawan Budi memang tahu cucu Bima itu memang dekat dengan Aditya. Tapi tak menyangka pernikahannya justru dengan lelaki itu. Di undangan tersebut tertera bukan nama Aditya. Ratna sengaja bilang pada keluarganya yang penasaran, “Nama asli dia memang bukan Aditya.”
Maka, Setiawan Budi datang dengan lagak bos seperti biasa. Menaiki mobil mewah yang belum ‘terenggut’ darinya bersama beberapa anak buahnya, termasuk Hestu serta Rama Subandi. Mereka bertiga sosok sentral di kelompok penjahat tersebut untuk saat ini. Beberapa mata menatap mereka segan, lalu mundur memberi jalan sejak dari lobi.
“Wah, kenapa mereka ada di sini, ya?” bisik seseorang.
__ADS_1
“Iya juga. Ada urusan apa mereka dengan kedua mempelai?” sahut yang lain.
“Entahlah!”
“Semoga tak ada sesuatu yang buruk yang bakal terjadi!”
Tak ada yang tahu jawabannya. Bahkan Setiawan Budi juga tak tahu bakal bertemu orang yang paling ingin ia bunuh di dunia ini. Dan, begitu menatap sosok Aditya dari pintu masuk, lelaki tua itu justru tak bisa berkata-kata.
Ia hanya berbisik kepada dirinya sendiri, “Ha? Pemuda itu? Pemuda brengsek yang diasuh Salman itu?”
Setiawan Budi mendadak ingat lagi adegan di masa lalu, saat ia nyaris memperkosa wanita cantik yang bertugas sebagai koki di sebuah depot makan. Saat itu ia pikir ia bisa memasukkan tubuhnya pada tubuh wanita itu. Membuat wanita itu tak berdaya ketika sang suami tak ada. Namun, dari arah belakang, justru datang sesosok Salman yang tak lebih dari ‘ikan teri’ di kelompok Kakek Darma, yang datang menjadi pahlawan untuk membuatnya malu.
Sakit hati itu menggumpal, dan kini justru membatu dalam jiwa Setiawan Budi. Ia tak tahu apakah mesti menembak kepala Aditya saat ini juga, ketika pemuda itu berdiri di panggung pelaminan, atau bagaimana?
“Haruskah kutembak dia sekarang juga?” batinnya mulai meragu. Setiawan Budi sadar kekuatan keluarga mendiang Bima tak luntur meski sosok itu telah tiada. Ratna memegang kekuasaan yang sama kuatnya dengan dirinya kini, dan bahkan mungkin ia sudah kalah setelah nyaris bangkrut.
Maka, Setiawan Budi mencoba berlagak sopan sebagai seorang tamu.
Aditya membalasnya dengan tersenyum sinis, “Seperti yang sudah Anda tahu. Di sini saya baik-baik saja, meski Anda sudah coba membuat saya celaka.”
Setiawan Budi tampak seperti tikus yang terkena jebakan, dan tak bisa melepaskan diri.
Ia hanya bisa bilang dengan ekspresi canggung. “Ah, kau bisa saja, Nak Adit!”
Hestu terlihat geram mendapati sang majikan diperlakukan seperti itu. Sekalipun ia mungkin sudah tak lagi peduli pada keadaan Setiawan Budi yang nyaris hancur, ia tidak sudi kelompok mereka dipermalukan.
Maka, Hestu berkata dengan sinis begitu menjabat tangan Aditya, “Lihat saja nanti. Akan ada akibat dari segala perbuatan.”
Setiawan Budi melirik marah pada Hestu dan menarik jasnya. “Kau cari tempatku duduk sana! Jangan bikin malu!” semburnya.
__ADS_1
“Jangan dengarkan dia,” lanjut Setiawan Budi pada Aditya dan Ratna. “Memang dia agak tidak waras.”
“Kami mengerti kok,” sahut Ratna tersenyum. Sebuah senyum yang sungguh demi apa pun membuat Setiawan Budi merasa terinjak-injak.
Hestu menunduk pergi seperti anjing galak yang tak berkutik di depan sang tuan.
Setiawan Budi juga berlalu menyusulnya turun dari panggung. Rama Subandi tidak banyak berkata-kata dan hanya menatap wajah Aditya tanpa sudi menjabat tangannya. Orang yang tak kenal mereka, mungkin berpikir Rama adalah mantannya Ratna, yang terpaksa datang ke pesta itu untuk sebuah perpisahan menyakitkan.
***
“Apa kubilang? Rencana ini berhasil, bukan?” tanya Rahman Sugandi pada Amy di dalam mobil. Mereka dalam perjalanan menuju hotel terdekat.
“Kita cabut lagi setelah ini?” sahut Amy Aurora enggan menanggapi perkataan sang guru baru saja.
“Ke mana?” tanya Rahman.
“Entah, ke tempat mana pun yang ada misi baru menunggu,” tukas Amy terlihat jengkel.
Rahman Sugandi menghentikan mobilnya, lalu menatap wajah Amy dalam-dalam. Ia tahu betapa terbakarnya hati Amy oleh kecemburuan, tapi ia tahu Amy adalah sosok yang profesional. Ia mungkin hanya kesal karena Ratna tadi tidak henti menempelkan tubuhnya pada tubuh Aditya.
“Tidak, Amy. Kita tidak akan ke mana-mana. Kamu lupa aku sudah pensiun? Saat ini kita hanya ada di sini untuk membantu Aditya,” jawab Guru Tanpa Nama.
“Oh, begitu,” kata Amy. Dia diam beberapa saat. Lalu bicara lagi, “Kalau aku ingin pergi?”
“Boleh saja. Tapi, kapan kembali? Dan, pergi ke mana kamu?” tanya sang guru.
Amy Aurora tak ingin menjawab. Ia ingin bilang pergi ke tempat yang sangat jauh, tapi bukankah di dunia ini tak ada yang benar-benar jauh? Ia pergi ke kutub utara pun, di hatinya masih terasa sakit akibat pernikahan sandiwara tadi.
“Tak terbayang betapa sakit hati istri Aditya kalau melihat itu semua,” tukas Amy setelah mereka diam beberapa saat.
__ADS_1
Rahman Sugandi tak berkata-kata. Kembali menyalakan mobil dan melaju ke hotel terdekat. Ia terlalu mengantuk untuk pembicaraan yang berat-berat.
Bersambung....