Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 91


__ADS_3

Aditya sampai di depan gerbang markas geng Merak. Pria yang mengantarnya segera pergi. Aditya berjalan santai ke dekat pintu. Dua orang pria yang berjaga mulai memberikan tatapan tajam ke arahnya.


“Permisi, aku ingin bertemu Ketua geng Merak,” ucap Aditya dengan ramah.


“Ada perlu apa? Memnganya lu sudah bikin janji sama ketua?”


“Aku ada urusan bisnis,” jawab Aditya. Kedua pria yang berjaga saling beradu pandangan.


“Oke.”


Mereka berdua membuka pintu gerbang untuk Aditya. Biasanya alasan bisnis adalah alasan terbaik yang akan diterima geng geng Besar. Karena pada dasarnya mereka memang memerlukan uang. Ketika Aditya hendak masuk secara kebetulan Viktor bersama seorang pria muncul dari dalam bangunan. Mereka berdua terlihat terkejut.


“Lu yang waktu itu kan?” tanya Viktor.


“Ya, gue ke sini ada sedikit urusan dengan Ketua geng lu,” jawab Aditya dengan santai.


“Cih dia masih hidup rupanya.”


“Apa yang lu maksud?” tanya Aditya. Amarahnya serasa sudah hamper meledak, dia rasa Viktor memang orang yang merencanakan penculikan itu.


“Gue cuma bilang kalau lu masih hidup.”


“Oh, jadi lu yang jadi dalang penculikan itu!” ucap Aditya.


Tak menunggu jawaban dari Viktor, Aditya segera menyerangnya dengan beberapa pukulan, Viktor hamper terkena beberapa pukulan dari ADitya namun dengan cepat pria di sampingnya menangkis pukulan Aditya. Viktor balas menyerang dengan tendangan, Aditya mengelak namun tendangan teman Viktor berhasil mengenai tubuhnya hingga terpental.


Aditya bangkit, kelihatannya semua lukanya memang sudah pulih. Kali ini dengan cepat dia menyerang menggunakan tehnik beladiri wing chun. Viktor hendak menangkap tangan Aditya namun dengan lincah telapak tangan Aditya berhasil menghajar tubuh Viktor hingga terpental. Temannya maju Aditya menghadapinya dengan gerakan yang sama.


Namun teman Viktor ini lebih tangguh, dia sudah terkena beberapa pukulan namun masih bisa berdiri bahkan membalas serangan Aditya. Pria melayangkan tinju kanannya namun ditangkis, tinju kirinya berhasil dihindari. Kaki Aditya hendak menyapu namun dia melompat ke belakang.


“Kelihatannya lu lebih lincah dari dia,” ujar Aditya.


“Lu juga kelihatannya bukan orang sembarangan.”

__ADS_1


“Brian, lebih baik lu jangan ikut campur. Akan gue ladenin orang ini.”


“Baiklah. Tapi orang itu benar-benar hebat,” jawab Brian.


Viktor membuka jaketnya. Aditya juga membuka jaket miliknya. Mereka berdua kini bersiap untuk pertempuran serius. Viktor maju melayangkan tinju kanannya, Aditya mengelak ke bawah sambil hendak meninju pertu Viktor, namun tinjunya sia-sia karena Viktor melompat kebelakang sambil menyilangkan kakinya menendang Aditya.


Aditya mengelak ke samping. Namun Viktor sudah siap dengan pukulannya Aditya meladeni tinju Viktor. Pukulan mereka beradu, Viktor terlihat meringis. Lalu kakinya melayang ke perut Aditya namun berhasil ditangkap oleh tangan Aditya. Ketika hendak menghantamanya Viktor segera bertumpu di kaki sebelahnya dan menendang Aditya ke belakang.


Tatapan Aditya semakin tajam. Dia menyeringai senang karena sudah lama tidak mendapat lawan yang hebat. Dia mulai memperagakan beberapa tehnik pencak silat andalannya. Viktor semakin waspada. Aditya melesat dengan pukulan tangan kanan ke kepala. Viktor hendak menangkisnya. Namun Aditya menarik tangan kanannya, ternyata tangan kirinya sudah melesat dibawah menghajar perutnya. Viktor tersungkur.


“Akan kubalas semua perbuatanmu!” teriak Aditya sambil melayangkan kakinya hendak menendang namun ditahan oleh Brian.


“Sial,” gumam Viktor bangkit lalu menyerang kembali.


“Jangan ikut campur!” Aditya berputar sambil menendang Brian. Lagi-lagi Brian mengelak. Aditya kembali maju.


“Tahan tangan kanannya!” perintah Viktor.


Brian menangkap tangan kanan Aditya, namun kaki kiri Aditya sudah melesat ke kepalanya Viktor menggunakan kakinya menahan tendangan Aditya. Namun sekuat tenaga Aditya menghentakkan kaki kanannya kebawah. Kaki kirinya menendang perut Brian hingga jatuh.


Beberapa orang mulai terpental, Aditya bagaikan singa ganas yang kelaparan. Dia mengamuk di depan bangunan markas geng Merak. Di pikirannya kini yang terbayang hanya Frita dan Clarissa. Dia tidak akan memaafkan orang-orang yang menyakiti mereka. Nyali mereka mulai ciut ketika melihat sorot mata Aditya yang penuh amarah.


“Jangan takut!” teriak Brian.


“Dia hanya sendirian! Kita bisa menghabisinya sekarang!” teriak Viktor sambil ikut maju.


“Maju kalian semua! Akan aku habisi kalian di markas kalian sendiri!” teriak Aditya sambil terus mengamuk.


“Ada apa ini?” tanya Ratna yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah mewah.


“Aditya?” gumam Ratna ketika melihat Aditya sedang mengamuk di halaman rumah.


Aditya terus menghajar semua orang yang ada di sana. Viktor saja sekarang masih belum bisa mengimbangi Aditya. Setiap orang yang mendekatinya dalam sekejap sudah tergeltak terkena serangan Aditya.

__ADS_1


“Dia benar-benar iblis,” gumam Brian sambil melihat Aditya yang mengamuk. Keringat dingin mulai keluar.


“Berhenti!” teriak Ratna. Namun keributan tidak kunjung berhenti.


Ratna kemudian mengambil pistol dari dalam rumah lalu menembakannya ke udara. Mendengar ada suara tembakan barulah keributan berhenti. Aditya terlihat menatap tajam ke arah Ratna. Nafasnya masih memburu karena menahan emosi.


“Aku mohon hentikan keributan ini. Aku yakin kalian hanya salah paham,” ucap Ratna.


“Dia yang memulai duluan!” sanggah Viktor sambil menunjuk Aditya.


“Aku tidak akan mengampuni orang pengecut yang hanya bisa menculik gadis kecil!” teriak Aditya.


“Menculik?” gumam Brian dan Ratna. Mereka sekarang mulai paham dengan maksud Aditya.


“Kami tidak pernah menculik siapapun sampai saat ini, kami tidak suka cara menjijikan seperti itu hanya untuk mendapatkan uang,” kata Brian.


“Terlebih ketua kami tidak akan pernah menerima orang seperti itu,” tambah Ratna.


Aditya mulai mengatur nafasnya. Ia berusaha untuk percaya kepada apa yang dikatakan oleh mereka berdua. Dia sadar jika tadi dia terlalu terbawa emosi hingga langsung menyerang begitu saja.


“Sebaiknya kita bicarakan ini di dalam. Kalian semua bubar!” perintah Brian.


Aditya menatap tajam Viktor seolah mengancam jika dia benar dalangnya maka tidak akan bisa lolos begitu saja. Mereka berdua kembali mengenakan jaket lalu pergi mgnikuti langkah Ratna dan Brian. Mereka menyusuri beberapa ruangan yang mewah.


“Sebaiknya masalah ini kita bicarakan dengan Ketua,” usul Brian.


Mereka sampai di sebuah pintu ruangan. Brian kemudian mengetuk pintu itu. Dari dalam terdengar ada seseorang mempersilahkan mereka untuk masuk. Di dalam ruangan terlihat begitu banyak benda antik yang bersih terawat dan enak dipandang. Di sebuah kursi terlihat seorang pria yang sudah berumur sedang duduk sambil tersenyum.


“Selamat datang di kediamanku, Aditya Laksmana,” sapa orang itu.


“Anda?” gumam Aditya, matanya menatap tajam kepada sosok pria yang sedang duduk di kursi.


Ratna, Brian dan Viktor hanya saling pandang. Mereka tidak menyangka sedikitpun jika Aditya mengenali identitas Ketua geng Merak.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2