Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 307


__ADS_3

Aditya tahu Hestu berencana jahat pada mereka berdua. Jadi dia tidak benar-benar menenggak minuman tadi begitu tahu sang guru pingsan. Aditya berpura-pura dia juga pingsan.


“Apa yang terjadi?” kata Hestu pura-pura marah. “Kalian para pelayan goblok! Apa yang kalian berikan pada mereka? Bawa tamu-tamu terhormatku ini ke kamar!”


Para anak buah yang kekar pun segera menggotong Aditya dan Guru Tanpa Nama ke sebuah kamar yang tersembunyi di gedung itu. Sebuah kamar yang seperti sengaja Hestu siapkan untuk tujuan ini.


Aditya sempat melirik ke pojok kamar rahasia itu.


“Ada pisau dan kapak. Ada juga gergaji mesin?! Brengsek, mereka coba melukaiku ternyata!”


***


Ya, Hestu malahan bukan sekadar ingin melukai Aditya, tapi juga membunuhnya di tempat ini setelah acara jamuan bagi para politikus dan pengusaha rekanan barunya itu kelar.


Ia akan menghabisi kedua orang itu tanpa sisa. Akan ia mutilasi Aditya, dengan amat perlahan, menikmatinya, seperti yang dulu Setiawan Budi inginkan. Ia tidak akan pakai cara cepat seperti biasanya. Ia diam-diam sepakat jika membunuh dengan cara perlahan dan menyiksa itu mungkin menyenangkan.


“Aku akan membuktikannya sendiri pada kutu kecil tak berguna itu,” bisinya pada diri sendiri sambil membayangkan tampang Aditya.


Hestu membayangkan akan menjahit terlebih dulu mulut kedua korbannya itu agar tak menimbulkan suara berisik. Ia akan habisi tubuh mereka berdua seorang diri, dan meletakkan beberapa bagiannya dalam peti Setiawan Budi.


“Kau akan tahu, Tuan Budi. Betapa sebenarnya saya sosok yang sangat setia,” batin Hestu bangga, bahkan sebelum dia sukses menghabisi Aditya. Dia bayangkan kepala Aditya yang sudah terpotong itu akan dikubur bersama Setiawan Budi di dalam peti mati yang sama.


Namun, Hestu harus sedikit bersabar. Ia perlu menunggu para tamu jamuannya ini pulang terlebih dulu. Mereka terlalu senang mengobrol.


Hestu segera berbisik pada Nino, “Suruh siapa pun menjahit mulut dua orang tadi. Biar nanti aku tak kehabisan banyak waktu.”


Hestu melirik arloji mahalnya. Ia jelas tak bisa menyuruh para tamu itu segera pergi sekarang juga. Ia tak bisa berlagak kejam di tempat seterbuka ini. Padahal Aditya dan Rahman mungkin tak lama lagi akan bangun akibat reaksi obat tidurnya habis.


“Baik, Bos,” tukas Nino.


***


Dua orang cewek bertubuh seksi disuruh masuk ke ruang ganti. Si pesuruh itu tak lain adalah Nino Darsono.


Nino bilang, “Kalian bisa, kan?”


“Bisa kok,” jawab salah satu dari mereka dengan tampang ketus.


“Benaran sepuluh juta? Tapi kurang deh,” kata yang lain.

__ADS_1


“Banyak bacot! Oke, lima belas juta! Tawaran terakhir itu. Kalau enggak mau, loe mati saja!” bentak Nino kasar pada gadis seksi kedua.


Gadis seksi pertama yang tampak ketus itu cuma terkekeh geli. “Berapa pun yang kamu bayarkan, akan aku lakuin, Sayang! Mana jarum dan benangnya?” katanya.


Nino menyodorkan jarum jahit ukuran yang agak besar, dengan benang khusus. “Di kamar pojok itu. Kalian lakukan dengan cepat sebelum mereka bangun!”


“Oke,” kata si cewek seksi ketus dengan tenang.


Cewek kedua masih perlu menegaskan soal bayaran ekstranya. “Aku nggak bakal ditangkap polisi, kan? Lima belas juta terlalu kecil tahu!”


Nino sudah nyaris menamparnya, tapi si cewek ketus segera menarik temannya itu. “Kamu kenapa sih? Tinggal jahit mulut orang lain saja banyakan protes!”


Nino akhirnya melepas keduanya pergi ke kamar yang dimaksud.


“Memangnya gampang jahit mulut orang lain? Kamu sering, ya?” tanya si tukang protes.


Si cewek ketus cuma tertawa sambil menggandeng lengan teman barunya itu untuk berjalan ke arah kamar di mana Aditya dan Rahman kini terbaring.


“Enggak gampang kali, tapi aku pernah kok,” katanya.


“Oh, ya?”


Namun, Nino tak tahu sesuatu.


***


Kedua cewek itu masuk ke kamar yang sama sekali tak dijaga. Hanya ada Aditya dan Rahman yang terbaring di sana. Penjaga malah merokok di luar ruangan. Ia bilang, “Kalian ngapain?”


“Mau jahit bibir para tawanan,” kata si cewek ketus sambil mengelus dada kekar si penjaga.


Penjaga itu cuma ketawa kegirangan. Membiarkan dua cewek seksi tersebut masuk. Keduanya pun masuk dan menutup pintu di belakang mereka.


Si cewek ketus menyadari Aditya tak benaran pingsan, jadi ia bilang, “Biar kujahit si tua ini. Kulitnya jelas lebih alot. Kamu yang muda dan ganteng itu.”


Si tukang protes kali ini tak protes, meski agak geli juga harus menjahit bibir lelaki tampan macam Aditya.


Namun tanpa diduganya, Aditya segera membuka mata begitu cewek tukang protes itu menumpangi perut Aditya. Dan Aditya menyemburkan minuman berisi obat tidur ke wajah si cewek itu.


Cewek itu hampir saja menjerit ketakutan.

__ADS_1


“Tenang! Aku nggak akan menyakitimu!” bisik Aditya. “Asal jangan berisik!”


Si cewek ketus masih terlihat tenang. Ia lempar jarum jahit dan benang dari Nino tadi dan mencoba membangunkan Guru Tanpa Nama.


“Pak Gandi, bangun! Bangun, Pak!” bisik cewek ketus itu.


“Tidak bisa, Rinda,” kata Aditya menghampiri Rinda yang gagal membangunkan sang guru.


“Pakai ini saja,” tukas Aditya menyodorkan kaos kaki baunya ke tangan Rinda.


“Ih, kamu saja kalau itu,” ujar Rinda merasa geli.


Aditya tertawa pelan dan menyodorkan kaos kaki baunya ke dekat hidung Rahman Sugandi.


Seketika lelaki paruh baya itu pun terbangun.


“Brengsek. Barusan aku pingsan, ya?” tanya Guru Tanpa Nama.


“Ya. Ayo cepat pergi,” bisik Rinda.


Si cewek tukang protes cuma berdiam di pojok ruangan, ketakutan. “Jadi kalian sudah saling kenal, ya?”


“Ya, ayo pergi juga! Kami mau kabur. Kamu bisa dibunuh benaran sama Nino yang brengsek itu,” kata Rinda.


Mereka berempat pun cabut dari sana. Tanpa Aditya sadari, Rinda sebenarnya sudah bekerja sejak awal undangan itu ditujukan padanya. Gadis itu segera menelusuri lokasi persemayaman Setiawan Budi. Mencari tahu sudut-sudut bangunan untuk kabur jika diperlukan.


Dan, itu sangat berguna.


Mereka berhasil kabur tanpa membuat penjaga tadi curiga. Terutama tanpa bikin si Hestu juga curiga.


Alhasil, ketika Hestu memasuki kamar itu dan tak menemui siapa pun, ia marah dan menembak jidat penjaga kekar tadi.


“Bajingan! Bisa-bisanya mereka kabur!”


Nino bilang, “Mereka kabur sebelum pelacur-pelacur tadi masuk ke sana. Mereka berdua lapor padaku, Bro. Tapi penjaga bodohmu diam saja.”


Nino tahu andai ia tak berbohong, ia jelas juga tak selamat dari amarah Hestu. Dia pun kini menyimpan dendam pada Aditya. Menunggu saat sampai ia bisa membalasnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2