Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 127


__ADS_3

“Bisa saja ini cuma kebetulan belaka,” gumam D sambil menyerang Aditya dari belakang.


“Kita tidak akan tahu sebelum membuktikannya secara langsung,” ujar E sambil menerjang.


“Pisau harus dilawan dengan pisau juga!” kata si C sambil ikut menyerang.


Serangan D berhasil dihindari Aditya sedangkan serangan si E ditahan dengan kakinya, lalu tebasan si C ditahan oleh pisau belati. Aditya menendang si E sambil melompat, pisau belatinya juga berhasil menyayat tangan si C. si D berhasil menangkap Aditya dari belakang namun cengkramannya lepas setelah Aditya menusuk kaki kanannya.


Heni bangkit lalu menghajar A yang sedang terkesima melihat pertarungan Aditya. tanpa ampun Heni terus menghajarnya terutama tangan kirinya yang sudah patah. Si D berusaha membantu namun Aditya menyerangnya walau tebasan pisau belatinya hanya menggores leher si D.


“Gue tidak menyangka jika kalian mengenali belati milikku ini,” ucap Aditya sambil memainkan pisau belatinya.


“Menarik,” ujar B, kemudian dia menyerang dengan siletnya. kelenturan tubuh dan kelincahannya dalam bergerak memang luar biasa, beberapa kali siletnya hampir mengenai Aditya.


“Silet memang tajam, tapi kurang kuat jika harus menghadapi pisau,” kata Aditya sambil menahan semua serangan B, beberapa silet miliknya mulai patah dan berserakan.


“Tapi pisau terlalu besar serta mudah dilihat, jadi tidak efektif untuk membuat serangan yang mengejutkan,” kata B. tapi tiba-tiba dia kaget karena dari pipi dan lehernya terasa darah mengalir disertai rasa perih.


“Lu memang benar, tapi ujung pisau terkadang luput dari perhatian lawan,” kata Aditya.


Semua leher penjahat yang berhadapan dengan Aditya tadi sudah tersayat oleh pisau belatinya. Hanya A saja yang tidak tersayat karena sedang dihajar oleh Heni. Mereka semua mulai termenung cukup lama.


“Jika dia mau leher gue pasti sudah terkoyak,” gumam e sambil memegang luka di lehernya.


“Jadi dia benar-benar orangnya ya,” ujar C.


“Sekarang, giliran gue yang unjuk kebolehan,” ucap Aditya sambil maju menyerang.


Aditya dengan beringas menyerang empat orang lawannya. Serangan Aditya saat ini lebih cepat dari tadi karena dia memang mengurangi kekuatan serangan agar kecepatan geraknya meningkat. Si C menjadi korban pertama, tubuhnya sudah beberapa kali tersayat oleh Aditya sebelum akhirnya dia terpental ke tembok setelah menerima tendangan.


Si E dan D berusaha untuk menyerang bersama namun semua pola gerakan mereka selama ini sudah terbaca oleh Aditya, dengan mudah Aditya meliuk liukan tubuhnya untuk menghindar sambil memainkan pisau belatinya untuk melukai mereka berdua.


Si B yang berusaha membantu juga menjadi sasaran Aditya selanjutnya. Selagi teman-temannya sedang kewalahan si C dengan cepat melemparkan pisaunya ke lampu ruangan hingga pecah. Keadaan di sana menjadi gelap. Tiba-tiba asap mengepul tebal, aromanya sangat menusuk hidung dan perih.

__ADS_1


“Gas airmata?” gumam Aditya sambil menutup mata dan menggunakan jaketnya sebagai masker.


“Kita tidak mungkin melawannya,” kata C.


“F, kita mundur,” kata D melalui earphone.


“Bantu gue bawa A,” perintah E.


Tak lama kemudian terdengar suara kaca pecah. Heni juga mulai batuk-batuk. Aditya segera membawa Heni keluar dari ruangan itu. Dari kejauhan terdengar Suara sirine mobil polisi semakin mendekat. Bersamaan dengan berhentinya mobil polisi terdengar juga suara mobil menjauh dari restoran itu.


Aditya membawa Heni ke lantai satu, di sana ternyata sudah berkumpul beberapa rekan-rekannya termasuk Wira dan Jana serta beberapa staff dan pelayana restoran. Semuanya terlihat terluka, bahkan kebanyakan orang di sana mendapatkan luka cukup parah hingga harus segera dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulan.


“Kalian kenapa bisa terluka seperti itu?” tanya Aditya sambil mendudukan Heni.


“Kami berusaha melawan satu orang penjahat tapi kemampuannya benar-benar hebat, bahkan malah kami yang kewalahan,” jawab Dani sambil meringis memegang tangan kanannya.


“Aku pikir kalian akan dengan mudah melarikan diri,” ujar Heni sambil memegang kakinya.


“Bagaimana ceritanya? Bukankah seharusnya penjahat itu terkunci di dalam ruangan?” tanya Heni.


“Terkunci?” tanya Aditya mengernyitkan dahinya.


“Ya, selepas kita berpencar untuk mencari yang lain kami menyusuri beberapa ruangan di lantai satu, kami berpendapat jika gudang adalah tempat yang cukup cocok menyembunyikan orang banyak. Lalu kami pergi ke sana dan ternyata benar dugaan kami. Kami berusaha untuk memancingnya keluar dari gudang, setelah dia masuk ke satu ruangan kami segera menguncinya dari luar,” jawab Heni.


“Dari mana kalian mendapatkan kuncinya?”


“Di lantai satu kami menemukan beberapa kunci ruangan di tempatnya. Terus memangnya bos sendiri nggak bawa kunci ke lantai dua?” Dani bertanya balik.


“Oh, kebetulan semua ruangannya nggak dikunci,” jawab Aditya, padahal dia membuka kuncinya menggunakan kawat.


“Terus bagaimana bisa kalian malah berkelahi lagi dengannya?” tanya Heni.


“Setelah bu Heni pergi untuk menyusul bos, kami melepaskan ikatan para sandera yang ada di gudang belum selesai kami membuka semuanya si penjahat itu sudah datang kembali dan berdiri di depan pintu. Awalnya kami takut dia membawa pistol, tapi yang dia bawa hanyalah pisau. Kami berusaha untuk melawannya namun dia benar-benar tangguh,” jawab Dani.

__ADS_1


“Jadi karena itu mereka malah mendapatkan luka cukup parah?”


“Ya, dia benar-benar lihai, beruntungnya dia segera berlari keluar ketika kami sudah sangat kewalahan.”


Para korban yang terluka parah sudah di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Aditya merasa bersalah dengan semua kejadian yang menimpa mereka di restoran itu, gara-gara dia semua teman-temannya malah terluka karena penjahat yang mengincarnya.


“Sebaiknya kita juga segera pergi ke rumah sakit untuk diperiksa,” ajak Aditya.


“Ya, aku bahkan baru kali ini melihat bu Heni sampai babak belur seperti itu,” jawab Dani sambil tersenyum.


“Mereka bukanlah penjahat kelas teri, bahkan jika satu lawan satu pun kemungkinan besar aku akan kalah,” jawab Heni sambil bangkit. Tiba-tiba ada suara mobil yang kembali berhenti di depan restoran itu. Jimmy dan Arya keluar dari dalam mobil.


“Tunggu, apa kalian juga bisa menjelaskan kronologis yang terjadi di sini?” tanya seorang polisi menghampiri Aditya.


“Tapi kami ingin pergi ke rumah sakit dahulu,” jawab Aditya.


“Tidak akan memakan waktu lama kok, terlebih kelihatannya kamu tidak terluka parah,” sela Arya sambil tersenyum.


Aditya hanya terdiam mendengarnya. Dia menghela napas kemudian mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya. Dia menyerahkan kartu itu kepada Dani sambil membisikan sesuatu di telinganya.


“Kamu serius bos?” tanya Dani kaget.


“Aku serius Dan.”


“Tapi-“


“Sudahlah, aku tidak masalah kok. Lagipula usaha sampinganku belum lama ini menuai kesuksesan,” jawab Aditya sambil tersenyum. Dani hanya mengangguk. Dia kemudian pergi bersama Heni untuk menuju ke rumah sakit.


“Jadi apa yang perlu saya ceritakan kepada bapak-bapak sekalian?” tanya Aditya.


“Kamu ikut dengan kami sebentar,” ajak Jimmy dengan tatapan tajam.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2