
Aditya berjalan mengendap-endap bersama tiga orang yang ada di sampingnya. Mereka semua sudah bersiaga dengan pistol di tangan. Di depan sebuah pintu mereka berhenti lalu saling memandang. Aditya mengangguk lalu dia menendang pintu hingga rusak dan jatuh ke dalam. Tiga orang lainnya segera masuk dengan menodongkan pistolnya.
“Angkat tangan!” teriak seorang pria.
“Apa?” gumam seorang wanita dengan raut wajah kaget.
“Bukankah seharusnya mereka ada di sini?” ujar seorang pria lainnya.
“Tidak mungkin, aku sudah memastikannya kemarin, kalau mereka memang akan ke sini,” ujar Aditya. mereka berempat saling memandang menatap ruangan gelap yang kosong. Hanya ada meja dan kursi saja di sana. Tiba-tiba beberapa lampu langsung menyorot ke arah mereka. Sontak mereka menutupi mata dengan tangannya.
“Hahaha gue nggak pernah menyangka jika akan ada tikus-tikus rendahan masuk ke markasku. Gue berterimakasih kepada lu Belati Maut. Selama lu berada di geng Gagak gue sudah curiga dan ternyata memang benar lu adalah salah satu pasukan khusus militer yang ditugaskan untuk menyelidiki Black Mafia,” ujar seorang pria dengan suara disamarkan.
“Sebagai seorang Ketua dari Black Mafia gue benar-benar malu karena gagal mencegah penyusupan kalian, Hahaha tapi sekarang gue akan menebusnya!” tambah suara itu sambil tertawa puas.
“Cih, Aditya!” bentak seorang pria sambil memegang kerah Aditya.
“Gue nggak berkhianat Frans,” ucap Aditya.
“Sudah! Lihatlah di sekeliling kita!” bentak Leo. Ternyata mereka berempat sudah terkepung di ruangan itu. Di sekeliling mereka kini berdiri puluhan orang dengan senjata lengkap.
“Kita tidak punya pilihan lain selain lari,” ucap Kaila sambil mengokang pistolnya.
“Ini semua karena kecerobohan lu! Sudah gue peringatkan kalau lu jangan memperlihatkan kemampuan lu yang sebenarnya selama jadi anggota geng Gagak!” bentak Frans sambil menatap tajam Aditya.
“Tapi jika gue nggak melakukannya maka kita tidak akan pernah tahu di mana markas Black Mafia!” bantah Aditya.
“Sudah! Lebih baik kalian bersiap untuk melakukan rencana B,” ucap Leo sambil waspada.
Baku tembak dimulai setelah Kaila menembakan pistolnya. Suasana di sana sangat mencekam, kemampuan empat orang itu sangatlah luarbiasa bahkan puluhan orang yang menembak mereka berhasil mereka tumbangkan dengan cepat. Tapi dari luar terdengar suara kendaraan dalam jumlah banyak. Mereka berempat segera berlari dari ruangan itu.
Kecepatan berlari mereka juga diatas rata-rata. Di belakang mereka beberapa kendaraan berisi anak buah Black Mafia mulai mengejar. Namun empat orang itu dengan lincah berlari sambil menembaki musuh di belakangnya hingga kendaraan mereka meledak. Beberapa kali Leo dan Frans juga melemparkan granat ke arah musuh.
Kaila walaupun seorang perempuan tapi stamina dan kemampuannya juga sangat hebat. Dia bahkan berhasil menewaskan beberapa musuh walaupun sambil berlari. Namun tiba-tiba saja sebutir peluru mengenai kaki kanannya. Sontak Kaila menjerit sambil meringis kesakitan memegang kakinya.
“Kaila!” ucap Frans berbalik menghampiri Kaila. Frans berusaha menggendongnya namun musuh tampak semakin dekat.
“Sniper?” ujar Leo kaget.
“Kalian semua berlindung di balik pohon! Kelihatannya musuh mempunyai penembak jitu!” teriak Aditya.
__ADS_1
“Kaila, biar aku aku menggendongmu,” ucap Frans.
“Mustahil Frans, sebaiknya kamu pergi bersama mereka berdua. Jika kamu membawaku maka kita berdua malah akan tertangkap karena kecepatanmu akan berkurang,” tolak Kaila.
“Tapi jika kita mati di sini, pernikahan kita..” jawab Frans, air matanya mulai mengalir.
“Aku yakin di luar sana ada wanita yang lebih baik dariku Frans,” jawab Kaila sambil tersenyum. Air Matanya ikut mengalir.
“Tidak! Jangan berkata seperti itu!”
“Pergi Frans! Aku tidak mau kamu mati di sini!”
“Aditya! Leo! Pergi dari sini!” teriak Frans.
“Apa?” gumam Aditya
“Aku tidak akan meninggalkan kalian berdua di sini!” teriak Leo.
“Aku dan Kaila akan menghambat mereka di sini. Kalian pergilah!”
“Bodoh! Kami tidak akan meninggalkan kalian!” teriak Aditya.
“Jangan pernah melupakan kami, sampaikan permintaan maaf kami kepada keluarga kami. Tolong katakan jangan batalkan pernikahan kami,” ucap Kaila.
“Tapi-“
“Sudahlah Dit. Itu adalah pilihan mereka berdua,” ucap Leo, matanya tampak berkaca-kaca.
“Baiklah,” ucap Aditya pelan sambil berlari kembali bersama Leo.
“Pada akhirnya kita berdua akan berakhir di sini,” gumam Frans sambil tersenyum menatap calon istrinya.
“Itu adalah pilihanmu, jangan menyalahkanku nanti,” balas Kaila sambil tersenyum.
Aditya berlari sambil menitikan airmatanya. Dari kejauhan mereka berbalik ketika mendengar dentuman keras dari arah dua rekannya berada. Kelihatannya itu adalah ledakan bazooka atau granat. Airmata mereka berdua mulai mengalir.
“Frans.. Kaila..” gumam Aditya sambil memukul pohon.
“Sudahlah kita harus cepat pergi!” kata Leo sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
Mereka berdua kembali berlari di tengah hutan untuk menghindari kejaran musuh. Namun di depan mereka ternyata sudah berdiri beberapa orang dengan senjata lengkap. Sontak hal itu membuat mereka berdua terkejut.
“Mereka bahkan sudah memprediksi jalur kabur kita?” gumam Leo.
“Cih, Kalian pasti akan kuhabisi!” teriak Aditya sambil menyerang.
“Tunggu Aditya! kita sebaikn-“ belum selesai Leo berkata, tubuhnya sudah bersimbah darah lalu ambruk ke tanah setelah terkena tembakan sniper yang ada di atas pohon.
“Leo!” teriak Aditya.
“Cih!” gerutu Leo, tangan kirinya memegang sebuah granat, sedangkan tangan kanannya melempar tanda pengenal miliknya kepada Aditya.
“Pergilah!” teriak Leo dengan sisa tenaganya, tubuhnya sudah bersimbah darah, bahkan dari mulut dan hidungnya juga keluar darah. Granat di tangannya dia lemparkan ke depan tubuhnya sendiri.
“Leo!” teriak Aditya seiring dengan dentuman hebat yang terdengar akibat ledakan granat.
“Leo!” teriak Aditya bangun dari tempat tidurnya dengan nafas terengah-engah. Air matanya mengalir tanpa sadar. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi tubuhnya. Perlahan dia menatap kedua tangannya yang bergetar hebat.
“Leo, Frans, Kaila..” gumam Aditya sambil mengepalkan kedua tangannya.
“Kenapa Dit?” tanya Pandu yang tiba-tiba datang ke kamar Aditya. Frita juga ikut masuk dengan wajah cemas.
“Aku tidak apa-apa pak. Hanya mimpi buruk saja,” jawab Aditya sambil menyeka air matanya.
“Kamu baik-baik saja kan Dit?” tanya Frita.
“Aku baik-baik saja kok. Maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat kalian semua,” ucap Aditya samba tersenyum.
“Syukurlah kalau memang baik-baik saja. Aku sangat khawatir karena kamu tiba-tiba berteriak tadi.
“Maaf, saya hanya mimpi buruk pak. Sebaiknya bapak kembali istirahat karena sekarang juga baru jam tiga dini hari,” kata Aditya sambil tertawa kecil.
Pandu kembali pergi dari kamar Aditya. Frita juga ikut pergi walau dia terlihat masih khawatir dengan keadaan Aditya. selama ini dia tidak pernah melihat Aditya menangis seperti itu sebelumnya. Setelah mereka berdua pergi Aditya berdiri lalu berjalan menuju lemari baju.
Dia kemudian mengeluarkan lima tanda pengenal militer. Tanda pengenal itu adalah miliknya, ayahnya, dan ketiga temannya Leo, Frans serta Kaila. Setelah menggenggam erat tanda pengenal itu dia kemudian mengalungkannya di leher sambil menghela nafas dalam. Aditya duduk termenung di kasurnya dan tidak tidur lagi.
“Aku berjanji, kali ini mereka semua akan menerima kembali apa yang telah mereka lakukan kepada kalian,” gumam Aditya. sekitar pukul lima pagi tiba-tiba saja ponselnya berdering. Tampak ada panggilan telepon dari Putra.
BERSAMBUNG…
__ADS_1