Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 6


__ADS_3

“Kamu penipu, Ell!” ucap Sean sambil menatap tajam ke arah wanita yang ada di depannya.


“Saya ga pernah menipu Anda!” jawab Ellena tegas.


“Kamu perawan!” jawab Sean tidak kalah tegas.


“Memangnya kenapa kalo saya perawan? Tidak ada perjanjian yang melarang seorang perawan untuk tidur dengan Anda kan?”


“Mana ada orang kerja di klub malam masih perawan. Mana ada wanita bayaran seperti kamu masih perawan. Kamu bohongi saya!” Sean tetap menuduh Ellena.


Ellena menatap tajam pada netra Sean yang juga menatap tajam kepadanya. Ellena masih bingung kenapa kalau memang dia masih perawan. Tapi kini tebakan Ellena berubah, apa mungkin sejak malam itu Sean tidak bisa melupakannya.


Sean semakin geram pada Ellena. Wanita yang dia temui 7 tahun lalu tidak terlalu banyak bicara seperti Ellena yang sekarang. Sepertinya waktu banyak mengubah wanita yang ada di depannya saat ini.


“Tidak semua orang di dalam klub itu seperti apa yang Anda bayangkan, Pak. Dan kerja sama kita sudah berakhir sejak saya selesai melakukan tugas saya. Tidak ada penipuan atau hal yang belum selesai. Anda sudah terpuaskan dan saya juga sudah mendapatkan semua bayaran saya. Saya harap, hal ini selesai dan tidak akan menjadi panjang, Pak.”


“Kamu ... kamu berani ancam saya?”


“Saya bukan mau ancam Bapak. Tapi saya harap Bapak tidak akan mempersulit pekerjaan saya di sini. Saya cuma mau kerja, Pak.”


Sean melihat ke arah Ellena dari atas sampai ke bawah. Penampilan wanita itu memang terlihat biasa saja seperti pekerja kantor lainnya. Sebuah celana panjang dipadu dengan blus berleher tinggi dan berpita terlihat sangat manis untuk penampilan seorang wanita cantik seperti Ellena. Sean menganggukkan kepalanya berkali-kali saat menatap Ellena.


Tapi hal ini berbanding terbalik dengan Ellena. Dia seolah kembali teringat akan sikap Sean saat pertama kali melihat Elena di ruang kerjanya pada malam itu.

__ADS_1


Sean juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pemuda tampan itu saat ini. Ellena sedikit melengkungkan tubuhnya ke dalam tanda dia tidak suka dengan pandangan Sean.


“Ok! Kalo memang itu mau kamu. Bekerja yang baik, tapi kalau kamu sampai merayu di sini, apa lagi demi jabatan ... saya tidak akan segan memecat kamu,” ucap Sean tegas.


“Terima kasih Pak, kalau begitu saya permisi dulu. Dan perlu Bapak tahu, saya bukan orang seperti itu!" jawab Ellena tegas.


Tanpa memedulikan ada Sean di sana, Ellena segera meninggalkan pemuda arogan yang tiba-tiba memanggilnya itu. Elena benar-benar tidak ingin lagi berhubungan dengan pemuda tampan namun aneh di matanya yang sempat dia kagumi dulu.


Ternyata di balik pintu kokoh yang membatasi ruangan kerja Sean dan juga bagian luar ada seorang pemuda lain yang berdiri di balik pintu yang sengaja sedikit dia buka. Pemuda itu mendengarkan semua yang dikatakan oleh Sean dan Ellena di dalamnya.


Devan ... Devan mendengar semua yang terjadi di dalam ruangan Sean. Dia tidak sengaja melihat Mathias berjalan bersama dengan Ellena menuju ke ruangan Sean. Karena penasaran dengan kejadian tadi pagi, Devan memutuskan untuk mengikuti ke mana mereka melangkah.


“Ternyata ini yang menyebabkan si playboy itu berhenti dengan petualangan panasnya. Dia pernah tidur sama Ellena dan ga bisa move on? Cih! Ini bukan Sean. Jelas ini bukan Sean. Cowok yang suka banget sama cewek cantik pasti cuma mau bikin Ellena jadi sasarannya lagi. Ga bisa! Gw harus lindungin Ellena. Ini ga bisa didiamkan!” gerutu Devan yang bersembunyi di balik dinding saat Ellena keluar dari ruangan Sean.


Setelah Ellena masuk ke dalam lift, Devan menunggu beberapa saat untuk dia masuk ke ruangan Sean, saudara sepupunya itu. Selama beberapa hari ini dia memang belum pernah menyapa sepupunya yang baru saja pindah dari Amerika itu.


“Waah Pak Presdir, maaf banget kalo aku baru sempet nyapa kamu sekarang,” ucap Devan sambil melangkah ke arah Sean berdiri.


“Ga papa. Lagian ga penting banget kok. Mathias, siapkan rapat sekarang juga,” perintah Sean pada asistennya.


“Baik, Bos.”


‘Brengsek! Tetep aja sombongnya. Ga ngehargain gw banget yang lagi dateng buat nyapa dia,’ gerutu Devan kesal dalam hati.

__ADS_1


Devan mencoba untuk tersenyum melihat Sean yang masih saja tetap menjengkelkan. Dia pikir setelah kepergian Sean ke Amerika selama 7 tahun dan tidak pernah kembali ke Indonesia, bisa merubah sedikit sifat arogan dan sombongnya itu, tetapi ternyata itu semua salah.


Sean yang memang tidak pernah menganggap Devan sebagai saudaranya, duduk di kursi kerjanya dan kembali menatap berkas yang ada di atas meja. Dia seolah tidak menganggap ada Devan di depannya saat ini.


“Kamu bakal hadiri rapat promosi pegawai?” tanya Devan berbasa basi.


“Ya. Aku harus lihat kualitas orang yang dipromosikan. Kalo mereka ga layak, akan aku tolak saat itu juga.”


“Kamu punya kriteria khusus?”


“Pasti! Kalo ga, aku ga akan di pilih jadi presdir di sini,” Sean mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah Devan, “Dan itu juga termasuk buat kamu,” ucap Sean tegas.


Devan mengepalkan tangannya dengan kuat di bawah meja. Rahangnya mulai mengetat keras tapi bibirnya berusaha untuk tersenyum saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh Sean. Sesuatu yang sangat tidak layak diucapkan oleh seorang saudara yang sama-sama membesarkan perusahaan ini.


Padahal dulu saat kakak Sean yang memimpin perusahaan ini, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Tapi baru beberapa hari saja Sean duduk di posisi tertinggi, dia sudah seperti dihina oleh Sean.


Ellena kembali ke ruangannya, dia akan bersiap untuk mengikuti rapat karena dia termasuk salah satu karyawan yang akan dipromosikan. Hatinya masih menggerutu mendengar apa yang tadi disampaikan oleh Sean. Sungguh ucapan yang sangat tidak masuk akal untuk dijadikan alasan.


‘Memangnya kenapa kalo aku masih perawan. Harusnya dia bisa bangga saat mendapatkan perawan seseorang dengan harga segitu. Aku saja menyesal memberikan itu pada orang yang ternyata sangat suka dengan banyak gadis. Dasar orang aneh. Awas aja ya kalo dia nanti nyusahin kerja aku. Bakalan aku protes dia nanti,” gerutu Ellena geram karena harus bertemu lagi dengan orang yang tidak dia harapkan.


Ellena sudah duduk di ruang rapat bersama dengan beberapa orang yang sedang dipromosikan. Ellena menyapa satu-persatu orang yang ada di sana yang dia kenal. Wanita itu memang dikenal sangat ramah oleh semua orang, jadi dia memang layak untuk mendapatkan promosi saat ini.


Pintu ruang rapat terbuka. Ada sosok Sean yang masuk dengan langkah yang pasti, tatapan Sean langsung tertuju pada sosok Ellena yang duduk tidak jauh dari pintu masuk. Tatapan tajam dan mengintimidasi Ellena sedikit membuat nyali Ellena menciut saat menatap balik ke mata Sean.

__ADS_1


“Kalian yang dipromosikan, tunjukkan kinerja kalian yang bagus. Saya janjikan kalau memang dalam 3 bulan masa promosi ini kalian bisa menunjukkan performa bagus dalam perusahaan, saya bisa rekomendasikan ke posisi yang lebih tinggi dari posisi promosi kalian saat ini. Jadi berlombalah memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Tapi ... jangan berani berbuat curang! Saya tidak akan memberikan maaf untuk satu kali kesalahan, apa lagi penipuan!” ucap Sean tegas sambil menatap ke arah Ellena.


Bersambung....


__ADS_2