Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 19


__ADS_3

"Mama... Nathan mau pulang," rengek Nathan sambil menarik-narik tangan Elelna yang sedang beradu pandang dengan Sean di depannya.


Tarikan tangan Nathan itu otomatis menyadarkan Ellena dari apa yang sedang dia lakukan. Ellena segera mengalihkan pandangannya ke samping di mana anak kesayangannya itu berdiri.


"Iya sayang, kita pulang ya. Nanti duduk belakang aja, biar bisa dipegangin sama Anma ya."


Ellena sempat melirik sebentar ke arah Sean sebelum dia berjalan ke arah motornya yang di parkir di sana. Ellena masih melihat Sean masih menatap tajam ke arahnya seakan tanpa berkedip. Ellena tahu, Sean pasti akan menangkapnya esok hari.


Ellena dan Siska segera membawa tas punggung dan juga kotak bekal mereka tadi lalu membantu Nathan naik ke atas motor. Ellena yang siap menyetir motor untuk menuju ke rumah mereka. Setelah memakai helm dan semua siap, Ellena pun segera melajukan motornya melintasi Sean tanpa rasa bersalah.


Sean menghembuskan napas kasar saat dia melihat Ellena keluar dari gerbang tanpa menyapanya. Dia merasa sangat kesal apa lagi pertanyaan dia semalam tentang sosok anak kecil yang di peluk Ellena belum juga terjawab.


Dan hari ini, Sean lagi-lagi disuguhi dengan pemandangan itu yang membuat dia semakin penasaran dengan sosok anak itu. Panggilan 'Mama' dari bocah itu terus saja terngiang di kepala Sean seolah dia yakin kalau anak itu pasti anak Ellena.


'Dia kaya aku. Mirip aku. Aku ga mungkin lupa wajah aku saat aku seusia


itu. Ell, apa dia anak aku? Apa dia anak kita?' tanya Sean dalam hati.


"Sean! Kamu ngapain sih?" tanya Luna sambil menepuk lengan Sean.


"Hem ... apa?" tanya Sean sedikit kaget.


"Kamu ngapain liatin pegawai songong kamu itu. Itu kasian Aura udah ngantuk, ayo pulang," ucap Luna sambil masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.


Sean menyadari kalau Aura sudah tertidur di gendongannya. Dia segera memberikan Aura kepada pengasuhnya yang berdiri di dekat pintu belakang mobil .Aura dan sang pengasuh masuk ke pintu belakang, sedangkan Sean segera berputar untuk menuju ke kursi pengemudi.


Sean segera melajukan mobilnya meninggalkan sekolah. Tapi pikirannya masih tertinggal pada sosok Ellena dan juga bocah kecil yang bersama Ellena tadi. Pandangannya menerawang jauh ke depan tidak mempedulikan Luna yang ada di sampingnya.


"Sean, kamu harus pecat anak buahmu itu. Dia sudah kurang ajar sama aku dan Aura," ucap Luna.


"Haah... kenapa? Emang dia kenapa?"


tanya Sean penasaran.


"Dia udah buat Aura hampir tenggelam


tadi."


"Kok bisa? Emang kenapa?"

__ADS_1


Luna menceritakan apa yang terjadi pada Aura dan juga Nathan di kolam ikan tadi. Dia memposisikan Aura sebagai orang yang menjadi korban dari tingkah jahil Nathan. Dia ingin membuat Sean percaya kalau Nathan anak nakal di sekolah.


Tapi Sean hanya bisa tersenyum mendengar cerita dari Luna. Dia sangat mengenal Luna selama ini dan pasti yang diceritakan oleh wanita itu adalah kebalikan dari fakta yang sebenarnya.


"Nathan? Nama anak itu Nathan ya. Gimana keadaannya sekarang?" tanya Sean yang sedikit puas setelah dia tahu nama anak Ellena.


Kamu pilih nama yang bagus buat anak kita, Ell,' ucap Sean dalam hati. Dia sangat yakin kalau Nathan adalah anak kandungnya.


"Kok kamu malah nanya keadaan anak itu sih? Harusnya kamu tuh nanya keadaan Aura. Kamu aneh," protes Luna.


"Aura kan udah aku liat. Ya aku nanya keadaan dia aja. Lagian kamu bisa ga sih ga manjain Aura kaya gitu. Dia kelewat bandel tau ga."


Luna menoleh ke arah Sean, "Kamu bilang Aura terlalu manja trus bandel? Kamu tega bilang kaya gitu sama anak kita?" ucap Luna dengan nada kesal.


Sean menginjak rem mobilnya dengan sangat dalam. Kebetulan di depan sedang ada lampu merah. Tangan Sean menggenggam setir dengan sangat kuat lalu menatap tajam kepada ada Luna yang ada di sebelahnya.


"Jangan pernah bilang kalo Aura anak aku. Dia bukan anak aku!" ucap Sean tegas dengan sorot mata yang sangat tajam. Sean mengatur emosinya karena saat ini ada Aura bersama mereka berdua


Luna menyipitkan matanya dan memanyunkan bibirnya tanda dia sangat kesal dengan apa yang dikatakan oleh Sean. Selama ini ternyata Sean belum juga menganggap Aura adalah anaknya dan tentu saja hal ini yang selalu membuat Luna kesal pada pria yang sangat dia cintai.


Sean kembali melemparkan pandangannya ke arah depan. Tangannya masih mengepal erat di setir mobil karena dia menjadi sangat kesal pada Luna saat ini. Apa lagi setelah dia mendengar cerita kalau Luna dan anaknya melukai Nathan yang kemungkinan adalah anak kandungnya.


"Ga jadi, lagi ga mood!" jawab Sean singkat.


“Sean kamu udah janji sama Aura."


"Aura tidur. Kita pulang!" ucap Sean semakin tegas.


Sean tidak memedulikan protes dari Luna saat. Dia terus menjalankan mobilnya menuju ke arah rumah wanita itu. Yang ada dipikiran Sean saat ini adalah ingin segera menurunkan wanita itu di rumahnya, lalu pergi ke rumah Ellena secepat mungkin. Sean tidak bisa menunda kapan dia mendapat jawaban


tentang status Nathan dari wanita yang selalu mengganggu pikirannya itu.


Mobil berhenti di depan gerbang tinggi rumah Luna. Sean tidak bergerak dan menunggu Luna segera turun sambil membawa anaknya itu. Sean sudah ingin melajukan mobilnya lagi ke arah rumah Ellena.


“Mbak, buka gerbang. Mobil Sean mau masuk," ucap Luna sambil menatap tajam ke Sean.


Sean menghembuskan nafasnya kasar. Dia melihat tatapan mata Luna yang tajam kepadanya. Sean bukan tidak bisa membantah apa yang dikatakan Luna, tapi dia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan kalau dia menolak apa yang diinginkan Luna.


Mobil Sean akhirnya masuk ke pelataran rumah mewah milik Luna. Sean mencoba untuk masuk ke dalam rumah karena akan sangat tidak sopan kalau dia datang tidak menyapa orang tua Luna terlebih dahulu.

__ADS_1


"Tolong bawa Aura ke kamar ya, sayang "ucap Luna yang seketika berubah menjadi sangat lembut.


"Eeh udah tidur ya Aura. Makasih ya Sean kamu udah mau jemput Luna dan Aura di sekolah," sapa Maya, mama Luna.


"Ga papa, Tante. Mumpung lagi libur juga," jawab Sean ramah.


"Ya sudah sini biar Tante gendong Aura, kamu pasti buru-buru ya?"


"Sean bakal di sini kok, Ma. Nanti setelah Aura bangun, kami mau ke mall. Iya kan sayang?" ucap Luna sambil mengajak Sean masuk menuju ke lantai dua di mana kamar Aura berada.


Maya yang mendengar ucapan putrinya itu menjadi tidak enak dengan Sean. Dia hanya bisa tersenyum merasa bersalah pada pria yang selalu dia susahkan itu.


Sean meletakkan Aura di atas tempat tidur. Dia kemudian memasang selimut untuk menutupi tubuh mungil Aura yang terlelap.


Luna yang ada di belakang Sean segera melingkarkan tangannya di pinggang Sean . Pemuda itu sontak kaget dengan apa yang dilakukan Luna kepadanya. Tangan Sean refleks menepis tangan Luna yang melingar di pinggangnya.


"Kamu kenapa sih?" protes Luna.


"Ga usah kaya gini. Aku lagi ga mood,"


ucap Sean.


"Kita udah lama ga kencan. Kita kencan di kamar aku yuk?" bujuk rayu Luna.


"Lun! Stop it! Jangan minta sesuatu yang berlebihan. Aku ga akan bisa."


"Kamu kenapa sih?? Kita pasangan Sean, udah sangat wajar kalo kita melakukan itu semua. Tapi kenapa kamu selalu tolak aku? Emangnya aku kurang cantik?" protes Luna yang merasa ditolak Sean.


"Ini bukan masalah cantik, Lun."


"Trus apa? Apa dia lebih baik dari aku? Apa dia rayu kamu di kantor? Apa kamu suka sama dia? Iya kan, kamu tergoda sama dia kan?"


"Luna cukup!! Jangan bahas ini lagi dan jangan libatkan dia lagi!!" ucap Sean kesal.


"Bilang aja kalo emang kaya gitu. Dia emang orang yang kaya gitu pasti!” ucap Luna penuh emosi.


Sean melihat ke arah Luna dengan tatapan tajam, "Sudahlah, aku mau pulang. Capek ngomong sama kamu," jawab Sean menahan diri lalu dia pergi meninggalkan Luna.


"Jangan pergi Sean!! Ini belum selesai, SEAAAN!!" teriak Luna yang terdengar di seluruh ruangan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2