
“Ada apa Mbak?” tanya Aditya.
“Ini Dit hari ini ternyata ada rapat penting diantara para pemegang saham dan pak William, tapi Mbak Frita dilarang untuk ikut,” jawab Rani.
“Loh kenapa bisa?”
“Makanya sekarang dia benar-benar kesal Dit. Dia benar-benar seakan tidak dihargai saat ini.”
“Kalau seperti itu sih sudah keterlaluan namanya Mbak. Kalau pak Pandu tahu hal ini dia pasti tidak akan setuju, lagipula Mbak Frita kan Direktur di perusahaan ini. Aneh banget.”
“Sekarang ayah sedang menelepon para pemegang saham untuk mendiskusikan masalah ini,” jawab Frita.
Tiba-tiba seorang karyawan menemui mereka, dia mengatakan jika Frita diperbolehkan untuk ikut di dalam rapat ini. Frita bangkit lalu pergi menuju ruangan rapat. Karyawan itu segera mengikuti langkah Frita.
“Benar-benar sudah kacau perusahaan ini,” gumam Rani.
“Sebenarnya mereka semua sedang rapat apaan sih?”
“Aku juga tidak tahu, tiba-tiba para pemegang saham datang ke kantor dan bersiap untuk melakukan rapat. Kelihatannya hanya Frita dan aku saja yang tidak diberitahu oleh mereka.”
“Aneh banget.”
“Aku benar-benar pusing banget akhir-akhir ini, permasalahan di perusahaan terasa semakin rumit saja.”
“Sudahlah Ran, aku rasa ketika pulang nanti Pak Pandu bisa mengatasi semua ini,” hibur Aditya.
“Terimakasih ya Dit. Aku benar-benar beruntung bisa mengenalmu,” ucap Rani sambil tersenyum.
“Loh kok tiba-tiba bilang terimakasih?”
“Iya aku berterimakasih karena selama ini kamu selalu bersedia mendengar keluh kesahku, terlebih aku sekarang bisa dapat tempat tinggal juga karena kamu.”
__ADS_1
“Oh, masalah itumah nggak perlu dipikirin, aku juga senang bisa membantumu. Aku pergi dulu ya.”
Aditya kemudian pergi meninggalkan Rani, dia berniat untuk menguping pembicaraan dalam rapat yang sedang berlangsung. Dengan cepat dia berhasil menyelinap di luar ruangan rapat. Terdengar rapat sedang berlangsung.
Sepanjang rapat berlangsung semua orang di sana seolah memojokan Frita, bahkan setiap pendapat Frita yang masuk akal juga selalu dibantah oleh mereka semua. Mendengar hal itu membuat darah Aditya berdesir marah, kelihatannya mereka memang bekerja sama untuk memojokkan Frita. Aditya mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tapi posisinya saat ini tidak memungkinkan baginya untuk ikut campur.
“Sudahlah bu Frita, setiap kebijakan yang saat ini sedang berlangsung tidak mungkin kami merubahnya lagi, lagipula kebijakan itu baru berjalan beberapa hari kok. Jika sudah satu tahun berjalan tapi tidak ada perubahan baru kita membahasnya lagi,” ucap seorang pemegang saham.
“Pasti ada memang perubahan tapi perubahan yang merugikan, baru beberapa hari berjalan saja kita sudah melihat hasil buruknya di perusahaan saat ini, produksi menurun, income menurun, para pegawai berpengalaman banyak yang keluar,” sanggah Frita dengan nada kesal karena sejak tadi pendapatnya selalu dibantah.
“Saya sudah mendengar planning dari pak William untuk mengatasi masalah ini, jadi kami tidak akan mengubah kebijakan itu! Bahkan jika pak Pandu yang meminta sekalipun!” tegas pemegang saham.
“Tap-“
“Masalah seperti itu sebaiknya tidak usah dibahas lagi. Harus berapa kali sih kami meyakinkan anda?” potong pemegang saham lainnya.
“Pak William sebaiknya segera bahas masalah lain lagi sekarang.”
Frita sontak sangat terkejut mendengarnya. Aditya juga sangat kaget, giginya gemertak karena menahan amarah. Sekarang dia sudah paham alasan kenapa William membuat kebijakan aneh di perusahaan, dia juga sudah bisa menebak sedikit hubungan antara William, Daniel dan Jaya Sebastian, dia memahami situasinya saat ini.
“Apa maksud anda?” tanya Frita.
“Maaf Fri, aku tidak bermaksud menutupi ini semua darimu. Tapi jika aku mengatakannya mungkin hatimu akan sedih karena itulah pada awalnya aku melarangmu untuk ikut serta dalam rapat ini.”
“Ya, tapi dia malah menyuruh ayahnya agar bisa membuatnya ikut serta dalam rapat ini,” sindir seorang pemegang saham.
“Sudahlah, kita dengarkan saja dulu.”
“Seperti yang kita tahu selama ini bahwa peran pak Pandu sebagai Presdir benar-benar berperan penting dalam perusahaan, tapi beliau memang kurang berani dalam mengambil kebijakan yang menguntungkan, beliau lebih memanjakan para karyawan dengan berbagai kebijakannya.”
“Dia sudah tahu mana yang terbaik untuk perusahaan,” sela Frita karena tidak suka ayahnya di jelek-jelekan.
__ADS_1
“Saya juga tidak sepenuhnya menyalahkan beliau karena setiap manusia pasti punya kekurangan. Tapi coba kita renungkan, jika para karyawan sangat dimanja ketika ada krisis keuangan atau krisis ekonomi di Negara kita, maka mereka malah akan protes dan berhenti bekerja karena kebijakan yang menyesuaikan dengan keadaan,” ucap William.
“Jika dari mulai sekarang kita mulai menerapkan kebijakan ketat kepada para karyawan seperti saat ini, maka ketika krisis ekonomi melanda. Maka kinerja mereka tidak akan berubah karena mereka sudah terbiasa sebelumnya dengan pendapatan yang minim dan tidak merasakan penurunan berarti,” tambah William.
“Cih, itu logika macam apa coba,” gumam Aditya.
“Nah karena itu saya pikir karena pak Presdir saat ini juga sudah tidak aktif diperusahaan, bahkan sekarang perusahaan bisa menentukan kebijakannya sendiri, mungkin beliau sudah siap untuk pensiun. Saat ini saya pikir sudah seharusnya kita memilih Presdir baru agar perusahaan lebih leluasa dalam mengambil kebijakan, tapi tentunya sebagai penghargaan atas jasa-jasa Presdir sebelumnya, perusahaan akan mengalokasikan dana setiap bulan untuk beliau.”
Semua orang di sana bertepuk tangan mendengar penjelasan William, hanya Frita yang terdiam kesal. Dia merasa jika keputusan seperti itu masih terlalu terburu-buru. Apalagi dia sendiri masih belum siap untuk menjadi Presdir.
“Silahkan para bapak ibu yang terhormat untuk menentukan pilihan kiranya siapa yang akan diangkat sebagai Presdir baru. Saya sendiri memilih bu Frita sebagai penerus Presdir perusahaan,” ucap William sambil tersenyum kepada Frita. Sementara Frita sendiri mulai bingung.
“Saya yakin jika Pak Pandu juga akan setuju dan senang mendengar putrinya menjadi Presdir baru di perusahaan,” tambah William.
“Keparat!” ujar Aditya sambil mengepal kuat-kuat.
“Sadarlah Frita, dia sejak awal tidak pernah bermaksud seperti itu! Dia hanya mencoba untuk mengambil simpati para pemegang saham,” gerutu Aditya.
“Bagaimana bapak ibu, apa kalian semua setuju jika bu Frita menjadi Presdir perusahaan ini selanjutnya?” tanya William.
“Kami tidak setuju!” jawab perwakilan pemegang saham.
“Loh kenapa?”
Para pemegang saham mulai membeberkan beberapa alasan mereka. Frita tidak bisa apa-apa saat ini. Matanya hanya berkaca-kaca menahan tangis hingga rapat selesai. Para pemegang saham segera pergi setelah memberikan ucapan selamat kepada William yang sudah resmi jadi Presdir baru perusahaan Glow & Shine Co. hanya tinggal mengadakan acara seremonialnya saja.
William juga meminta maad kepada Frita karena tidak bisa memperjuangkannya jadi Presdir, dia berjanji akan menjalankan kewajibannya dengan baik. Frita hanya terdiam lesu. William kemudian pergi dari ruang rapat. Aditya kemudian mengikutinya dari belakang. Di sebuah sudut bangunan yang sepi William mengeluarkan ponselnya, Aditya semakin mendekat.
“Bagaimana Will?” tanya seorang pria yang di telepon William.
“Sukses, hanya tinggal menunggu acara seremonialnya saja. Kita hanya perlu menjalankan rencana selanjutnya,” jawab William sambil tersenyum puas. Setelah selesai menguping pembicaraan William, Aditya segera pergi ke tempat sepi. Dia kemudian menghubungi seseorang.
__ADS_1
BERSAMBUNG…