Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 163


__ADS_3

Suasana di restoran itu mendadak tegang. Beberapa orang yang sedang makan di sana lebih memilih menjauh dengan penuh rasa cemas. Ratna masih berdiri dan menatap Jaja dengan tajam seolah menunggu dia menjawab pertanyaannya barusan. Jaja hanya tertawa kecil dengan sikap tenang.


“Jelaskan kepada kami apa maksud kalian barusan?” tanya Brian dengan mata penuh amarah.


“Kalian benar-benar kurang ajar juga!” bentak Viktor.


“Seperti yang Ketua bilang barusan kalau kami ingin meminta tiga wilayah kami yang kalian miliki sekarang ditambah satu wilayah kalian sebagai kompensasi, anggap saja sebagai biaya sewa,” jawab Gerald.


“Meminta tiga wilayah kalian kembali memang wajar, tapi kenapa kami harus memberikan satu wilayah kami sebagai biaya sewa?! Waktu itu jelas-jelas kita sudah sepakat dengan aturan mainnya!” bentak Ratna.


“Hei nona manis sebaiknya jangan ikut marah-marah. Nanti cepat tua loh,” goda Jaja.


“Lu jangan samain gue dengan wanita lainnya ya! Gue cucu Bima Anggara, ketua geng Merak! Gue pasti akan berusaha menjaga keutuhan geng Merak!”


“Kalau begitu turuti saja yang kami inginkan,” kata Gerald dengan tenang.


“Jika kami menolaknya?” tanya Verdi.


“Kalian pasti menyesal, kami bahkan akan merebut semua wilayah kalian dengan cara apapun juga.”


“Kalian pikir kami akan ketakutan?” tanya Viktor seolah menantang.


“Hahaha, tidak. Kami datang ke sini hanya ingin menempuh jalan damai pada awalnya. Tapi jika lu semua memang ingin seperti itu maka kami juga akan melayaninya,” kata Jaja.


“Sejak awal maksud lu berdua datang kemari memang ingin mendeklarasikan perang dengan geng Merak! Kalian berusaha mengintimidasi kami selagi ketua sedang terbaring lemah,” ucap Ratna.


“Memang itu maksud kalian sejak awal. Terbukti kalian menyulut amarah kami dengan meminta satu wilayah kami begitu saja,” timpal Verdi.


“Jadi sebenarnya selama ini kalian memang menunggu ketua kami lemah kemudian baru bergerak ya. Dasar pengecut,” tambah Brian.


“Jangan seenaknya menyimpulkan! Jika mau kami bisa saja menghancur leburkan geng kalian dengan mudah sejak dulu!” bentak Gerald bangkit sambil menggebrak meja.


“Tidak ada bukti yang bisa meyakinkan kami, Gerald,” ujar Viktor sambil bangkit. Suasana di sana semakin tegang saja tapi apa mau dikata bahkan pihak keamanan tidak berani memanggil polisi apalagi harus melerai mereka. Beberapa tamu lainnya memilih untuk menghabiskan makanannya secepat mungkin agar bisa segera pergi dari sana.


“Menyedihkan, ternyata selama ini kalian ketakutan dengan ketua kami,” ledek Verdi.


“Jadi kesimpulannya kalian menolak jalan damai kami ya? Kalau begitu dengan terpaksa sebagai ketua geng Serigala aku deklarasikan, kalau geng kita akan berperang untuk menyelesaikan masalah ini,” tegas Jaja sambil bangkit.


“Kami tidak akan pernah takut menghadapi manusia busuk macam kalian!” tegas Ratna.

__ADS_1


“Satu hal lagi untukmu nona manis, pastikan kamu selalu berdandan setiap hari karena bisa saja kamu akan berada di tempat tidurku secara tiba-tiba,” ujar Jaja sambil tertawa.


“Lu jangan mimpi!” bentak Viktor sambil maju melindungi Ratna.


“Hahaha cepat atau lambat kalian akan menyesali keputusan yang telah kalian ambil hari ini. Ayo Gerald kita kembali.”


“Baik Ketua. Dengar kata-kata ketua baik-baik!” tegas Gerald sambil menunjuk para petinggi geng Merak.


“Kalian pikir bisa pergi dari sini dengan mudah? Aku tidak menyangka jika kalian datang ke sini hanya berdua saja,” ucap Verdi sambil menghunuskan pisau.


“Apa menurut kalian kami sebodoh itu?” tanya Gerald sambil menunjuk kepala Verdi. Terlihat titik merah di kepalanya dari arah luar.


“Sniper?” gumam Brian kaget.


“Peperangan kita baru akan dimulai besok, hari ini anggap saja kalian sedang beruntung,” ucap Jaja sambil tertawa meninggalkan restoran itu bersama Gerald.


“Cih! Mereka benar-benar sudah merencanakan semua ini,” gerutu Viktor sambil menatap mobil Jaja yang pergi dari tempat parkir rumah sakit.


“Kita tidak punya pilihan lain selain mengumpulkan kekuatan untuk melawan mereka, lalu pastika hal ini jangan sampai ke telinga kakek. Aku takut setelah mendengarnya kakek malah akan semakin sakit,” ujar Ratna.


“Kami juga mengerti.”


“Dia belum pulang juga rupanya,” ujar Viktor dari kejauhan.


“Ada apa ini?” tanya Brian sambil menatap Aditya tajam.


“Tadi setelah aku datang dari toilet dua orang ini sedang tertidur di kursi, eh pas aku bangunin mereka malah mencoba menyerangku,” jawab Aditya dengan tenang.


“Kalian kenapa menyerangnya?” tanya Ratna.


“Maaf bos. Sebelumnya kami dihajar oleh orang menggunakan jaket dan masker. Kami pikir dia orangnya,” jawab mereka berdua.


“Sudah kubilang kalau aku tidak pakai jaket seperti yang mereka maksud. Aku malah tidak punya masker,” bantah Aditya.


“Ratna kamu periksa ketua di dalam,” perintah Brian. Ratna mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa keadaan Bima.


“Ketua baik-baik saja. Kelihatannya juga tidak ada orang yang menyelinap ke dalam,” jawab Ratna setelah kembali keluar.


“Tuh kan, pasti mereka mimpi doang,” kata Aditya.

__ADS_1


“Tapi bos kami benar-benar serius tadi.”


“Sudahlah sebaiknya kalian kembali ke bawah dengan yang lainnya,” perintah Brian. Mereka hanya mengangguk sambil pergi. Sementara Ratna menarik Aditya menjauh dari sana untuk menanyakan keadaan yang sebenarnya.


“Memangnya benar apa yang dikatakan mereka Dit?” tanya Ratna sambil duduk.


“Memang benar, tapi aku berhasil menghentikannya,” jawab Aditya.


“Siapa orangnya? Dari geng mana?” tanya Ratna terlihat emosi.


“Aku tidak tahu, setelah dia tahu kalau ada orang lain di ruangan itu dia segera kabur lewat jendela. Yang jelas dia bukan berasal dari geng kalian.”


“Dasar! Kalau tahu siapa orangnya akan aku sisit kulitnya hingga mati!” gerutu Ratna.


“Rat, aku ingin meminta sedikit bantuanmu. Aku yakin seseorang dari petinggi geng Merak mencoba meracuni kakekmu,” ucap Aditya, kemudian dia menjelaskan alasan kenapa dia curiga seperti itu. Ratna hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan Aditya dengan baik. Wajahnya terlihat terkejut dengan alasan Aditya.


“Sial! Kenapa bisa salah satu dari mereka berbuat seperti itu!” gerutu Ratna sambil mengepalkan tangannya.


“Aku mengatakannya kepadamu karena aku yakin kamu bukanlah pelakunya, jadi tolong awasi gerak gerik mereka bertiga sampai aku bisa memecahkan trik mereka dalam melakukannya.”


“Akan aku lakukan Dit.”


“Satu hal lagi, aku ingin kamu bersikap seperti biasa saja kepada mereka, jangan sampai mereka curiga nantinya kita malah semakin kesusahan karena kewaspadaan mereka akan semakin meningkat, jangan mengkhawatirkan kakekmu. Karena selagi dia terbaring di ruangan itu pelakunya tidak akan berani berbuat macam-macam.”


“Baik Aditya,” ucap Ratna sambil tersenyum manis.


“Oh iya, apa yang dibicarakan Jaja dengan kalian?” tanya Aditya sambil menatap tajam Ratna.


“Ah tidak ada apa-apa mereka hanya datang untuk menjenguk saja. Mereka kemudian mengajak kami makan-makan sebagai bukti perdamaian kedua geng. Oh iya kamu menginap saja ya di sini,” jawab Ratna sambil tersenyum manis, dia juga mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


“Maaf Rat aku saat ini tidak bisa. Mungkin kapan-kapan aku akan kembali datang untuk menjenguk kakekmu,” jawab Aditya.


“Ah kamu ini,” ucap Ratna sambil cemberut, sedangkan Aditya hanya tertawa melihat kelakuan Ratna itu.


“Terimakasih ya kamu mau datang menjenguk kakek. Entah kenapa tapi aku mulai merasa tenang saat ini,” ucap Ratna.


“Sama-sama. Aku juga akan kembali datang ke sini lagi kok, aku pulang dulu ya kalau ada apa-apa langsung hubungi aku saja,” ucap Aditya sambil melambaikan tangannya.


Ratna juga melambaikan tangan dari kejauhan. Aditya segera pergi menggunakan taksi online menuju kediaman Pandu. Sepanjang perjalanan dia terus memikirkan identitas pelaku dan triknya dalam meracuni minuman Bima namun saat ini pikirannya masih buntu. Dia menghela nafas dalam karena dia juga sadar kalau Ratna mencoba menyembunyikan sesuatu darinya, dia yakin kalau tujuan Jaja datang ke sana bukanlah seperti yang Ratna katakan.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2