Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 170


__ADS_3

Semua anggota geng Serigala yang berjumlah seratus lebih kini mengepung Aditya dan Ratna. Gerald dan Gilang tampak begitu senang melihat tidak ada jalan keluar bagi mereka berdua.


“Bagaimana rasanya dikelilingi oleh orang yang ingin menghabisimu Aditya?” tanya Gilang.


“Sayang sekali gue nggak merasakan apapun,” jawab Aditya dengan santai.


“Begitu ya, sayang sekali padahal gue sengaja membuat kejutan seperti ini khusus buat lu doang,” kata Gerald sambil tertawa.


“Aku tidak akan terkejut. Hal ini memang cukup wajar dilakukan oleh para pengecut seperti kalian,” ledek Aditya.


“Lu emang paling bisa buat gue marah!” bentak Gilang.


Gilang ikut maju untuk menyerang Aditya, sedangkan Gerald menyaksikan sambil meredakan rasa sakitnya setelah di hajar Aditya tadi. Aditya sengaja menyerang barisan yang lebih dekat dengan mobil Ratna. Dia sengaja melakukan itu agar Ratna bisa kabur dengan mobilnya.


Belasan orang Aditya terjang secara membabi buta. Gilang tidak membiarkannya bergerak. Terpaksa Aditya harus menghadapi Gilang dulu agar bisa kembali membuka jalan. Hanya dalam sepuluh serangan saja Gilang berhasil ditendang hingga terpental. Aditya kemudian menggunakan teknik beladiri silat untuk membuka jalan lebih cepat.


“Sekarang!” teriak Aditya setelah jalan terbuka lebar.


Ratna segera berlari menuju mobilnya. Tapi sebelum sampai dia berhasil ditendang lalu di tinju hingga darah keluar dari mulutnya. Ratna meringis kesakitan sambil terkulai ke jalan. Ternyata Verdi sejak tadi sudah bersiap menghalau Ratna yang berniat kabur. Aditya yang melihat hal itu tampak mengepalkan tangan, giginya terdengar menggertak.


“Sayang sekali, gue tidak akan membiarkan lu kabur begitu saja, Ratna,” ucap Verdi sambil tersenyum.


“Penghianat! Lu pasti akan menyesali apa yang telah lu perbuat selama ini! Dasar bajingan!” umpat Ratna dengan tatapan tajam.


“Oi oi, jangan begitu dong manis. Kita ini kan sama-sama petinggi geng Merak.”


“Pria brengsek sepertimu harusnya mati saja!”


“Hahaha asal lu tahu, sejak beberapa tahun yang lalu gue ketika gue gabung ke geng Merak itu memang karena perintah bos Jaja. Jadi sejak awal gue nggak pernah berkhianat kepada siapapun.”


“Bajingan! Setelah lu mencoba meracuni kakek. Sekarang lu berani menjebak kami!”

__ADS_1


“Meracuni? Hahaha apa buktinya gue meracuni kakek lu? Bukannya lu sendiri yang memberikan dia air minum?”


“Lu pasti gue habisi sekarang juga!” bentak Ratna sambil bangkit. Tapi lagi-lagi Verdi segera menendang tubuhnya hingga tersungkur.


“Ver! Dia bagian Ketua!” bentak Gerald.


“Tenang saja bos. Wanita keras kepala seperti dia tidak akan mati hanya dengan serangan seperti itu,” ucap Verdi sambil menghampiri Ratna.


“Pengecut!” teriak Aditya. semua orang kaget karena Aditya melesat dengan cepat menuju Verdi.


“Ini untuk Bima!” teriak Aditya sambil meninju perut Verdi hingga muntah darah.


“Ini untuk rekan-rekan yang lu hianati!” kini tinju Aditya mengenai wajah Verdi.


“Ini untuk anak buah yang lu hianati!” serangan ketiga Aditya menghantam tangan Verdi hingga terdengar suara tulang patah, Verdi sudah tidak sanggup menjerit lagi.


“Dan ini untuk seorang wanita yang lu sakiti! Ratna!” teriak Aditya sambil menendang leher Verdi hingga kembali muntah darah, kepalanya miring ke kiri. Tubuh Verdi ambruk kehilangan nyawa.


“Siapa lagi yang mau tewas di tanganku! Maju!!!” teriak Aditya dengan mata menyala nyala dipenuhi amarah yang sidah tidka bisa dia tahan lagi. Semua anggota geng Serigala yang mengepungnya mulai terlihat ketakutan melihat Aditya seperti itu. Gerald bahkan terdiam saja, dia tidak pernah menyangka akan seperti itu jika Aditya benar-benar sudah marah.


Semua anggota geng Serigala memberanikan diri untuk menyerang Aditya. sambil tertawa mengerikan Aditya menerjang membalas serangan. Kini emosinya benar-benar sudah tidak bisa dibendung. Semua serangan yang dia lancarkan kali ini lebih mematikan dari sebelumnya.


Tanpa lelah Aditya terus menghadapi semua gempuran geng Serigala. Sudah banyak anak buah Gerald yang terkapar di jalan setelah menerima serangan Aditya yang tanpa ampun. Namun sehebat apapun dia tetaplah manusia biasa. Beberapa serangan dari lawan mulai mengenai tubuhnya.


Ketika Aditya sedang terpojok oleh serangan geng Serigala tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara konvoi kendaraan.yang sangat banyak. Gerald, Gilang dan semua anak buahnya terkejut sambil melirik kearah sumber suara. Aditya semakin kaget ketika melihat Egi yang mengendarai motor berada di barisan paling depan.


“Egi?” gumam Aditya.


“Geng Gagak?” ucap Gerald.


“Kenapa mereka datang kemari?” ujar Gilang.

__ADS_1


“Apa yang sedang kalian lakukan di wilayah geng Merak ini?” tanya Egi setelah turun dari motornya. Anak buahnya yang ada sekitar Sembilan puluhan ikut turun dari kendaraannya.


“Lu juga punya urusan apa di sini?” tanya Gerald.


“Hah? Lu nggak salah ngomong begitu? Wilayah gue di sini berbatasan langsung dengan wilayah geng Merak sedangkan wilayah lu semua sangat jauh dari sini. Apa maksudnya?”


“Cih, sebaiknya lu jangan ikut campur masalah ini. Atau lu juga ingin berperang dengan geng Serigala hah?!” bentak Gerald.


“Hahaha masalah perang atau tidaknya itu urusan Ketua kita. Gue berhenti di sini karena gue khawatir kalian juga akan membuat masalah di wilayah gue!” tegas Egi sambil menghampiri Aditya.


“Kenapa kamu kemari Gi?” tanya Aditya.


“Anak buahku ada yang melihat bos pergi mengejar geng Serigala tadi, jadi gue datang ke sini karena khawatir terjadi sesuatu.”


“Jujur saja aku benar-benar senang karena kamu datang ke sini, tapi aku rasa Ketua tidak akan senang dengan hal ini.”


“Ya kemungkinan besar begitu. Hari ini kami juga sebenarnya berjanji untuk makan-makan di sebuah restoran. Tapi itu bisa diurus nanti,” jawab Egi sambil tersenyum.


“Jika kalian memang ingin ikut campur jangan salahkan gue kalau kalian babak belur!” bentak Gilang.


“Kita lihat saja nanti,” jawab Egi sambil mengacungkan tangannya dengan simbol penyerangan.


Semua anggota geng Gagak berteriak sambil maju menyerang geng Serigala. Aditya melesat berhadapan dengan Gerald sedangkan Gilang berhadapan dengan Egi. Pertarungan sengit kembali terjadi. Kini di perkelahian itu geng Serigala terlihat mulai terpojok karena kebanyakan tenaga mereka habis saat berhadapan dengan Aditya.


Aditya yang masih marah karena ulah Verdi tadi melampiaskan kekesalannya kepada Gerald. Hal itu membuat Gerald kewalahan meladeni serangan Aditya. disisi lain Egi juga telah berhasil memojokkan Gilang hingga beberapa kali serangannya berhasil membuat Gilang tersungkur ke jalan. Gilang kemudian bergerak mendekati Gerald.


“Kelihatannya kita tidak mungkin kita menghadapi mereka berdua dengan cara seperti ini,” ucap Gilang.


“Kedatangan geng Gagak memang tidak pernah diduga sebelumnya. Saat ini kita tidak punya pilihan lain lagi,” ujar Gerald dengan terengah-engah.


“Wah-wah mana tadi yang berkata ingin menghabisiku?” ledek Egi.

__ADS_1


“Hahaha geng Gagak, sebentar lagi kalian akan merasakan akibatnya,” jawab Gerald sambil tertawa. Dia kemudian mengacungkan tangannya ke atas sambil membuat sebuah simbol.


BERSAMBUNG…


__ADS_2