
“Aditya dan Dani menjalankan tugas bersama Mbak Sherly. Tugas ini sangat penting bagi perusahaan. Karena itu Glow & Shine Co. mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada kalian berdua,” ucap Rani.
“Terima kasih karena telah berhasil menjalankan tugas dengan baik. Atas kesuksesan kalian berdua, perusahaan telah memutuskan untuk memberikan penghargaan,” tambah Rani sambil memberikan amplop kepada Dani dan Aditya.
“Selamat ya Dit. Kamu benar-benar luarbiasa,” ujar Rani.
“Sama-sama Mbak,” jawab Aditya.
“Terus pemecatannya bagaimana?” tanya Jana.
“Oh iya, saya memang barusan telah menerima surat rekomendasi pemecatan itu. saya juga sudah menyampaikannya kepada Bu Frita. Dan dia menolaknya karena mana mungkin orang yang berjasa bagi perusahaan harus dipecat,” jawab Rani.
Semua orang di sana terdiam, Wira dan Jana terlihat malu. Sementara yang lainnya mulai memberikan ucapan selamat kepada Aditya dan Dani. Mereka juga meminta maaf karena sudah berkata kasar kepadanya. Aditya hanya tersenyum mendengar permintaan maaf mereka. Hanya Wira, Jana dan beberapa sopir lain yang tidak mengucapkan selamat.
Heni sendiri ikut meminta maaf kepada Aditya, kini dia mulai mengakui kemampuan Aditya dan loyalitasnya kepada perusahaan. Dia tidak percaya jika Aditya masih bisa diandalkan. Dani terlihat senang karena pada akhirnya beberapa temannya kembali menghormati Aditya.
Sore harinya Aditya sedang bersandar di mobil sambil menunggu bosnya. Tak lama kemudian Frita keluar bersama Rani. hari ini kelihatannya mood Frita sedang buruk, dia berjalan seolah tidak ada semangat sama sekali.
“Silahkan Mbak,” ucap Aditya sambil membukakan pintu mobil.
“Bye Ran,” ucap Frita.
“Bye juga Mbak, hati-hati di jalan,” balas Rani.
“Hari ini nggak ada yang ketinggalan lagi kan Mbak?” tanya Aditya sambil menyetir.
“Nggak ada.”
“Yakin? Nanti saya harus balik lagi ke sini.”
“Yakinlah!”
“Duh Mbak ini kalo marah cantik deh,” goda Aditya.
“Berarti aku harus marahin kamu terus ya!”
“Eh jangan, soalnya kalo nggak marah pasti lebih cantik lagi.” Ucap Aditya, Frita hanya terdiam saja tidak menanggapi godaan Aditya.
“Besok kan libur. Sebaiknya kamu refreshing gih nggak semangat banget hidup di dunia,” saran Aditya.
Frita tetap terdiam saja. Aditya tidak mengganggunya lagi. Dia pikir mungkin hari ii Frita banyak pekerjaan hingga kelelahan. Ya setidaknya dia juga agak tenang hari ini. Soalnya jika Frita sibuk pasti dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan rencana menjahilinya. Ditambah hari ini dia dapat uang bonus dari perusahaan, lumayan buat beli kuota.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah, Frita segera keluar dan pergi ke kamarnya. Mungkin dia sangat kelelahan. Pandu datang menghampirinya dan memberikan selamat atas usahanya. Clarissa yang baru datang juga ikut-ikutan memberikan selamat sebelum masuk ke dalam rumah.
“Aku penasaran dengan kejadian sebenarnya Dit. Terlebih aku dengar seorang anggota keamanan yang ikut denganmu terluka,” ucap Pandu sambil mengajak Aditya duduk di kursi teras rumah. Aditya kemudian bercerita.
“Saya pikir Presdir Unesia Corp tidak akan tinggal diam ketika Erik sudah melunasi hutang perusahaannya,” ujar Aditya setelah menceritakan kejadian sebenarnya.
“Kamu benar juga. Cepat atau lambat pastinya mereka akan bertindak kembali.”
“Benar pak, sebaiknya anda juga hati-hati.”
“Iya Dit. Terimakasih, aku percayakan Frita kepadamu.”
Malam harinya Frita tergolek di atas kasur. Dia merasa malas untuk keluar dari kamar. Seharian ini pemikirannya terus diporsir untuk menyelesaikan beberapa masalah di perusahaan. Beruntunganya besok libur jadi dia bisa kembali mengumpulkan energinya yang telah hilang. Notifikasi muncul di ponselnya ketika sedang mencari destinasi wisata di kota Bandung.
“Hi, selamat malam Rembulan,” kirim seseorang di nomor WA nya.
“Dia yang kemarin ngaku penggemar rahasia kan,” gumam Frita. Kemudian dia menamai nomor itu dengan nama ‘Siapa?’.
“Aku sebenarnya mencoba untuk menahan diri agar tidak mengirimkan pesan kepadamu, tapi sungguh ternyata rindu itu memang berat.”
“Dasar orang aneh. Kamu siapa sih?” balas Frita.
“Jangan sok puitis! Kalau nggak ngaku nanti aku laporin polisi!” balas Frita disertai emoji marah.
“Uniknya jalan ini, meski aku diancam seperti itu entah kenapa hati ini malah berdebar debar.”
“Lebay!”
“Aku sebenarnya chat kamu bukan cuma karena rindu, tapi aku baru saja menemukan soal matematika yang sulit banget kujawab.”
“Memangnya seperti apa?”
“Satu tambah satu sama dengan berapa ya?”
“Lah, ya dua lah masa soal segampang itu nggak bisa kamu jawab. Ngaco deh.”
“Duh maaf, soalnya hari ini di pikiranku cuma ada kamu doang. Soal segampang itupun tidak bisa kujawab.”
“Lebay!” balas Frita disertai emoji melet.
“Selamat malam, have a nice dream,” balas penggemar rahasianya dengan emoji yang sama.
__ADS_1
Frita tersenyum sendirian, entah kenapa dia sekarang merasa semangat lagi. Dia semakin penasaran dengan identitas pemilik nomor itu. Kelihatannya rasa penasarannya akan terbawa hingga ke mimpi di malam ini.
“Apa! Kamu sudah melunasi hutang perusahaan kita?!” teriak Jaya Sebastian di telepon.
“Iya pah, aku tidak punya pilihan lain lagi soalnya orang yang datang kemari mengancamku,” jawab Erik.
“Dasar, kamu saja yang nggak bisa diandalkan masa menghadapi tiga orang saja nggak bisa!”
“Sabar Mas,” suara Ibu Erik terdengar coba menenangkan suaminya.
“Tapi mereka kuat-kuat pah. Semua anak buahku kalah.”
“Gunakan otak dong! Jangan gunakan kekerasan terus, bisa-bisa nanti Glow & Shine balik menuntut kita.”
“Gimana kalo laporin mereka ke polisi pah.”
“Denger ya Rik. Kalau kamu mempolisikan mereka maka dengan bayaran yang besar kita hanya bisa menyingkirkan ketiga orang itu saja. perusahaan Pandu tidak akan rugi sedikitpun! Lagipula ayah bukan tipe orang yang suka ngeluarin duit sia-sia doang seperti kamu.”
“Tapi pah-“
“Sudah jangan coba memperpanjang masalah ini lagi! Ayah kelihatannya memang masih belum bisa mempercayakan perusahaan kepadamu, kelihatannya Pandu dan Frita lebih cerdas darimu. Akan ayah tunjukan bagaimana caranya menggunakan otak!” kata Jaya sambil mengakhiri panggilan.
Jaya terlihat memegang kepala karena pusing. Sedangkan istrinya mencoba menenangkannya. Dia tidak menyangka jika dengan mudahnya Erik akan melunasi hutang Unesia. Padahal dia sudah sengaja melakukan hal itu agar bisa membuat rugi Glow & Shine Co.
“Sabar mas, aku yakin kok nanti Erik juga akan berkembang menjadi lebih baik lagi,” hibur istrinya.
“Tapi bu sampai kapan kita harus menunggu?! Lihat Frita saja sudah berkontribusi banyak sama perusahaannya, lah anak kita malah cuma memikirkan Frita doang.”
“Iya mas. Aku yakin kejadian seperti ini akan membuat Erik semakin berkembang.”
Jaya Sebastian tidak menanggapi lagi omongan istrinya. Pikirannya sekarang sedang sibuk mencari rencana lain untuk bisa menghancurkan perusahaan Glow & Shine Co. tiba-tiba ponselnya berdering.
“Selamat malam pak Presdir Unesia Corp,” sapa orang yang menelepon.
“Selamat malam juga,” jawab Jaya dengan nada senang. Dia tampak tersenyum lebar setelah mengetahui identitas si penelepon.
“Hahaha kelihatannya anda sangat senang menerima panggilan dari saya.”
“Tentu saja.”
BERSAMBUNG…
__ADS_1