Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 274


__ADS_3

“Sherly? Kamu di sini juga?” tanya Frita tak percaya, melihat Sherly entah berjalan dengan siapa ke tempat pesta ulang tahun Ovie ini.


Hendy Prakoso tak pernah mengenal Frita, begitupun sebaliknya. Frita pikir lelaki itu mungkin suami Sherly. Mungkin saja mereka sudah menikah dan Frita tak pernah diberitahu. Sherly waktu itu tiba-tiba pergi begitu saja dari perusahaan, mengundurkan diri.


Ovie, tanpa diduga, segera berkata, “Nah, ini dia Sherly.”


Frita langsung menyahut, “Jadi kalian berteman?”


Sherly hanya diam. Hendy Prakoso cuma tersenyum pendek. Ovie tak menjawab itu, kecuali berkata, “Sekarang kamu katakan yang sejujurnya saja, Sherly.”


“Apa ini? Kenapa sih kalian?” kata Frita kebingungan.


“Sherly mau bilang kalau dia hamil sama Aditya,” bisik Ovie ke telinga Frita.


Frita tentu saja shock, dan marah. Ia spontan berkata (tapi dengan suara yang juga berusaha dipelankan, karena saat itu sedang banyak tamu undangan), “Kalian jangan bercanda, ya! Mana mungkin!”


“Ya, memang benar kok,” sahut Hendy pendek.


Ovie memberi isyarat sambil mengangguk. Sherly dengan masih tertunduk dan tak terlihat senang sama sekali, menyodorkan sejumlah foto ke tangan Frita.


“Apa ini?” Frita bertanya begitu, tapi ia tak perlu bertanya lagi begitu matanya jelas menatap foto-foto syur itu.


Itu adalah foto-foto di saat Sherly dan Aditya berhubungan badan. Foto-foto yang entah bagaimana diambilnya. Yang jelas Aditya tak pernah menyadari itu. Ovie belum merasa puas. Ia melontarkan senjata terakhirnya.


“Ini dia sosok asli suamimu yang tercinta itu,” katanya sambil memberikan beberapa foto lain.


Foto-foto Aditya bersama beberapa wanita lain. Foto-foto syur yang menjelaskan banyak hal tanpa kata-kata.


“Ini pasti rekayasa!” kesal Frita, lalu membanting foto itu ke tangan Sherly yang sudah duduk di sampingnya.


“Benaran itu kok,” kata Ovie. “Kalau enggak percaya, tanya saja suamimu tuh!”


Hendy cuma meringis melihat sosok Aditya yang terlihat cemas.


Frita saat itu juga melihat Aditya mulai berjalan ke arah mereka. Ia tak tahan dan menyingkir secepat mungkin dari situ. Menjauhi Aditya sebisa mungkin.


Frita ingin lelaki itu musnah dari muka bumi. Berapa banyak wanita yang sudah tidur dengannya?

__ADS_1


“Sherly hamil? Dan, suamiku yang membuatnya begitu!” batinnya terluka parah.


Entah, ia kini sudah tak peduli lagi pada Aditya.


Ia memutuskan tak akan bicara lagi dengannya.


***


Itu terjadi begitu cepat. Aditya merasa ia baru saja berada di puncak sebuah roda. Dan kini roda itu mendadak tergelincir, berputar ke bawah, dan menjatuhkannya ke dasar tanah.


Aditya mengejar Frita dengan sia-sia usai melihat setumpuk foto di tangan Sherly, yang entah didapat dari mana saja. Ovie juga tak terlihat ada di mana, tapi Aditya tahu Ovie-lah yang menginginkan semua ini. Terlihat dari cara dia menekan Sherly tadi.


“Aku enggak tahu harus gimana, Dit! Aku enggak tahu!” Itu saja yang bisa Sherly katakan sebelum Aditya pergi.


Clarissa dan Julio mengikuti Aditya, tapi gagal menemukannya. Tempat parkir itu terlalu ramai. Lagi pula ada banyak tanaman dan pepohonan juga yang menghalangi penglihatan mereka.


“Gimana ini?” tanya Julio, merasa tak enak atas perbuatan kakak kandungnya. Ya, tentu saja kini mereka juga sudah tahu begitu melihat foto-foto syur itu.


“Kita telepon saja mereka,” balas Clarissa segera sigap menggeser-geser di layar ponsel pintarnya.


Begitupun Aditya yang tak pernah mengangkat, meski nomornya bisa dihubungi.


***


Aditya mencari di seluruh sudut tempat parkir, tapi gagal menemukan Frita. Ia pikir istrinya itu masih ada di dekat-dekat sini saja, karena mobilnya masih terparkir rapi di tempatnya.


Namun, Aditya segera sadar.


“Bodoh! Kan bisa saja dia pulang dengan taksi!” katanya.


Aditya lalu berlari ke mobil Frita, tapi kemudian teringat lagi kalau kunci mobil itu dibawa oleh Frita.


“Sial! Kenapa otakku jadi lamban begini?!” geram Aditya pada dirinya sendiri.


Aditya memang tidak bisa berpikir jernih sejak beberapa menit yang lalu. Ia seperti jatuh dihantam palu raksasa di bagian belakang kepalanya, tapi sayang ia tak mati dan justru tersiksa. Menjadi orang bingung yang tak tahu harus berbuat apa demi membuat sang istri kembali..


Tapi, apa mungkin Frita masih sudi bersamanya?

__ADS_1


“Itu kesalahanku sendiri di masa lalu. Perempuan-perempuan yang tidur denganku itu! Kenapa harus begini?!” batinnya menyesal.


Aditya tak tahu lagi harus pergi ke mana, kecuali ke rumah Frita. Atau mungkin ke apartemen Frita yang baru dibeli beberapa waktu lalu. Bisa jadi ia kabur ke sana. Bukan ke tempat Pandu atau Gina.


Aditya pun memesan taksi online, yang datang tak lama kemudian. Ia menyuruh si sopir mengebut ke alamat rumah Frita.


Tentu saja Frita tak ada di sana. Aditya dengan panik meminta lagi sopir itu untuk mengantarnya ke alamat apartemen. Namun lagi-lagi Frita tak ada di sana. Kini Aditya hanya berjalan dengan kepasrahan total. Ia merasa benar-benar kalah, tanpa bisa untuk melawan.


Lagi pula, apa yang mesti dilawan?


Aditya pikir, “Aku bisa melawan para bajingan itu. Aku bisa membunuh mereka satu per satu dengan mudah. Tapi aku tak bisa melawan masalah macam ini!”


Di tengah kegelisahannya, Aditya tak sadar seseorang sedang mengamatinya di jauh sana. Bukan. Itu bukan seseorang. Itu tiga orang. Tiga orang yang pernah mendapatkan masalah berkat dirinya.


Salah satu dari seseorang itu memberi isyarat pada para anak buahnya, “Ya, kalian bisa beraksi sekarang.”


Seseorang kedua berkata pelan, setengah berbisik pada seseorang yang pertama itu, “Apa tidak bisa nanti-nanti dulu?”


“Tolol kamu! Keburu dia fokus, tahu!” sahut seseorang yang ketiga.


Mereka berada di dalam sebuah mobil mewah. Yang terparkir tak jauh dari depan gedung apartemen tersebut.


Tak lama, mereka melihat sejumlah lelaki, membawa senjata. Ada yang membawa tongkat, ada juga yang membawa pedang, batu, botol pecah, dan entah berapa banyak lagi jenis senjata untuk pertarungan jarak dekat.


Mereka bisa saja menyuruh seorang penembak bekerja. Hanya perlu satu peluru dan seorang penembak andal untuk membalas dendam. Tapi balas dendam yang seperti itu terlalu singkat dan kurang nikmat.


Balas dendam yang nikmat adalah membuat hancur hati lawanmu, sekaligus juga membuatnya cacat seumur hidup.


“Kamu yakin kita gak bakal digiring lagi ke kantor polisi, Bang?” tanya seseorang yang paling muda di antara mereka.


“Dik, kamu harus banyak belajar setelah ini. Kita sudah lolos dari persoalan besar itu. Para pendemo Papa bahkan sudah bungkam. Semua yang bicara hanyalah uang. Ini sih persoalan kecil,” kata seseorang yang duduk di bangku kemudi.


Mereka bertiga tak lain Rama Subandi, Rako Subandi, serta Reza Bastomi.


Ketiganya tersenyum licik saat tahu Aditya menyadari dirinya dikepung oleh entah berapa banyak preman.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2