
Aditya memacu mobilnya dalam kecepatan penuh. Setelah dirasa agak jauh dari lokasi kejadian dia segera mengemudikan mobilnya seperti biasa. Sepanjang jalan Rani terlihat murung. Dia benar-benar terlihat bingung saat ini.
“Kamu kenapa Ran?” tanya Aditya pelan.
“Aku merasa bingung Dit harus bagaimana, aku tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Padahal selama ini aku sudah bekerja keras,” jawab Rani dengan terbata-bata.
“Aku mengerti, kadang ada beberapa hal di kehidupan kita yang memang nggak sejalan dengan keinginan Ran, aku cuma bisa bilang begitu padahal aku sendiri belum tentu bisa setegar kamu,” hibur Aditya sambil tertawa kecil.
“Aku hanya merasa frustasi saja Dit, seolah sejak dulu memang aku harus selalu mengalami kemalangan. Aku sudah mencoba bangkit dari keterpurukan, Cuma sekarang semua hasil kerja kerasku lenyap seketika.”
“Lalu kenapa? Kamu kan masih bisa bangkit kembali.”
“Entah kenapa, sekarang aku merasa seberapa besar usaha diriku pun tetap saja hasilnya akan kembali dilahap kemalangan sama seperti ini.”
“Kamu tahu, Mbak Frita saat ini sangat khawatir sekali kepadamu, dia bahkan menyuruhku untuk mengikutimu. Kamu tidak sendirian Ran, aku yakin banyak orang yang akan membantu kamu bangkit kembali. Biarkanlah yang hilang, yang harus kamu lihat sekarang adalah wajah orang-orang yang sedang mengkhawatirkanmu,” jelas Aditya asal bicara.
Rani sambil tersenyum mendekatkan wajahnya kepada Aditya, hal itu sontak membuat Aditya menghentikan laju kendaraannya. Beradu pandang seperti itu dengan wanita cantik membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. Hatinya berdebar.
“Kamu kenapa Ran?”
“Tadi katanya aku harus lihat wajah orang-orang yang mengkhawatirkanku,” jawab Rani sambil tertawa.
“Ya nggak begitu juga dong Ran, kalau dilihat seperti itu aku bisa nabrak nanti,” ucap Aditya sambil ikut tertawa, dia merasa lega melihat Rani tertawa kembali.
“Aku nanti nginap di rumah kamu dulu boleh kan?” tanya Rani pelan, wajahnya tampak memerah, mungkin dia malu mengatakannya.
Aditya paham kalo sekarang Rani tidak punya tempat tinggal. Bahkan jika harus menyewa apartment mungkin uangnya tidak akan cukup. Jika dia memaksa untuk tinggal di hotel pasti gajinya akan cepat habis. Tapi Aditya juga tidak mungkin kalau membawa Rani ke rumah Frita.
__ADS_1
Pikiran Aditya terus berputar mencari jalan keluarnya. Dia tidak mungkin membiarkan Rani tinggal di kostan biasa, keamanannya tidak akan terjamin karena Hendrik pasti akan terus mencarinya. Aditya menghela nafas dalam, dia hanya punya satu pilihan untuk saat ini.
“Aku nggak punya niat yang aneh-aneh kok Dit, setidaknya aku hanya menginap mala mini saja, besok aku akan mencari kostan murah,” ucap Rani cepat, dia mungkin khawatir jika Aditya berpikir aneh-aneh tentang permintaannya.
“Aku paham kok Ran, tapi maaf, aku nggak mungkin membiarkanmu tidur di lantai atau cuma beralaskan tikar.”
“Nggak apa-apa kok Dit.”
“Aku yang nggak tega Ran, aku punya pilihan lain yang lebih baik kok.”
Rani hanya mengernyitkan dahinya. Mobil mereka berhenti di sebuah halaman butik. Aditya membelikan beberapa setela pakaian untuk Rani. Sebenarnya Rani menolaknya cuma Aditya terus membujuknya hingga mau. Mereka kemudian berhenti lagi di sebuah halaman apartment mewah.
“Kita mau menginap di sini Dit?”
“Iya, mulai hari ini kamu akan tinggal di sini.”
“Aku bukan orang kejam seperti itu Ran, aku mengenal baik pemiliknya. Dulu dia berhutang budi kepadaku, selama ini dia terus memaksaku untuk meminta sesuatu darinya sebagai ucapan terimakasih. Tapi aku menolaknya. Sekarang aku yakin dia dengan senang hati akan membiarkanmu tinggal di sini secara gratis bahkan seumur hidupmu,” ucap Aditya sambil tertawa kecil.
“Eh, tapi aku yang nggak enak hati Dit, aku-“
“Kamu harus mempertimbangkan beberapa hal Ran, saat ini aku yakin Hendrik tidak akan semudah itu membiarkanmu lolos. Di sini keamanannya terjamin, aku juga tidak akan khawatir meninggalkanmu di sini.”
Rani ingin sekali menolak, namun dia tidak berdaya di hadapan ketulusan Aditya yang terlihat begitu mencemaskan dirinya. Mereka kemudian masuk ke dalam lalu memesan satu kamar. Aditya secara sembunyi-sembunyi menggunakan kartu kreditnya sebagai metode pembayaran sewa.
Mereka berdua kemudian pergi ke kamar yang disewa. Di sana mereka bisa leluasa melihat keindahan kota dari ketinggian. Rani terlihat begitu senang. Aditya sebenarnya tidak ingin menggunakan uang yang ada di kartu kreditnya itu. Setiap bulan nominalnya memang bertambah tapi semua itu hanyalah jejak kelamnya di masa lalu.
“Aku pulang dulu ya Ran,” ucap Aditya sambil melangkah pergi, tapi langkahnya tertahan oleh Rani yang tiba-tiba memegang tangannya.
__ADS_1
“Ada apa Ran?”
“Aku, aku sangat berterimakasih padamu Dit. Aku tidak tahu harus bagaimana membalasnya,” jawab Rani dengan terbata-bata. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Tidak apa-apa kok Ran, kamu tidak perlu pusing memutuskan bagaimana caranya membalasku. Aku melihatmu senang saja sudah cukup, aku hanya ingin kamu kembali bangkit dan gembira seperti biasa.”
“Aku, sebenarnya aku juga bingung dengan perasaanku. Awalnya aku mengira perasaanku begini karena hutang budiku kepadamu. Tapi sekarang aku sadar jika darii lubuk hatiku. Aku benar-benar mencintaimu,” ucap Rani dengan senyum manisnya.
Aditya sangat terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka jika Rani akan mengatakan hal seperti itu, hatinya semakin berdebar. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Pikirannya seakan kosong.
“Jangan menatapku seperti itu Dit, aku juga malu. Seharusnya memang wanita tidak mengatakan hal seperti ini, hanya saja aku sudah tidak sanggup memendamnya lebih lama lagi,” ucap Rani dengan tertunduk.
Aditya semakin bingung, dalam waktu dekat ini dia sudah mengalami kejadian mendebarkan itu selama tiga kali. Saat pura-pura masih koma di rumah sakit, saat di kediaman Bima Anggara dan saat ini.
“Maaf Ran, di hatiku sudah ada wanita lain. Maafkan aku, maafkan aku,” ucap Aditya pelan. Jawaban itu keluar begitu saja. Walaupun tidak bicara tapi dia merasakan keterkejutan dari tangan Rani.
“Tidak apa-apa kok Dit. Aku benar-benar mencintaimu. Aku merasa jika tidak akan bisa hidup tanpa dirimu, bahkan saat ini entah bagaimana nasibku jika kamu tidak ada. Karena itu aku tidak masalah jika harus jadi yang kedua, ketiga atau keberapapun. Tapi tolong jangan tinggalkan aku,” jawab Rani sambil meneteskan airmata, tangannya semakin erat menggenggam. Hal itu membuat Aditya semakin bingung.
“Kamu tahu, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Mari kita lanjutkan pembicaraan ini di lain waktu, mungkin saja nanti kamu bisa saja jadi satu-satunya wanita di hidupku, atau mungkin saja nanti kamu menemukan yang labih baik dariku. Tapi satu hal yang bisa aku pastikan saat ini. Seperti apapun masa depan nanti, aku tidak akan meninggalkanmu dalam kesedihan,” ucap Aditya sambil memeluk Rani.
“Karena itu sekarang kamu hanya perlu menjalani aktifitasmu seperti biasa,” tambah Aditya sambil menyeka airmata Rani.
Rani kemudian tersenyum senang. Aditya kemudian pamit pulang. Dia benar-benar bertindak tanpa berpikir tadi, mungkin saking bingungnya harus berbuat apa, dia tidak mau mengucapkan kata-kata yang bisa meruntuhkan semangat hidup Rani yang masih rapuh itu.
Di halaman parker apartment Aditya sadar jika ada beberapa orang yang sedang memperhatikan gerak geriknya. Dia kemudian berpura-pura berbalik arah ke sisi bangunan yang lain. Dua orang pria di balik tembok terus memperhatikan langkah Aditya dari kejauhan.
BERSAMBUNG…
__ADS_1