
“Kamu kenapa Fri?” tanya Arya kaget sambil menahan Frita di pangkuannya.
“Kepalaku sedikit pusing Ar,” jawab Frita.
Arya kemudian membawa Frita di pangkuannya menuju kursi. Frita kemudian duduk di kursi sambil memegang kepalanya. Aditya yang hendak marah-marah mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka. Dia terkejut melihat kelakuan Frita. Semua orang di sana juga mulai memperhatikan mereka berdua.
“Kamu baik-baik saja? aku panggilkan dokter ya,” tanya Arya sambil bangkit.
“Tidak usah Ar. Aku baik-baik saja kok,” cegah Frita.
“Tapi tadi kamu bilang kepalamu sakit?”
“Sekarang sudah agak mendingan kok,” jawab Frita sambil tersenyum.
“Aku sudah khawatir tahu.”
“Maaf Ar, aku baik-baik saja kok sekarang.”
Melihat Frita tersenyum kembali membuat Aditya merasa lega karena nampaknya Frita baik-baik saja. dia juga menjadi bingung dengan apa yang terjadi. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh Jimmy.
“Eh iya. btw darimana kamu tahu tentang makanan dan minuman kesukaanku?” tanya Frita.
“Oh itu semua Jimmy yang menyediakannya. Dia sudah menitipkan semua itu di restoran hotel khusus untukmu,” jawab Arya.
“Duh aku jadi berasa ngerepotin nih.”
“Itu mah nggak seberapa Fri, Jimmy memang sengaja menyiapkannya sebagai permintaan maaf karena belum berhasil menangkap dalang penculikanmu.”
“Cek. Ekhem,” tiba-tiba Jimmy muncul di atap hotel sambil membawa microphone di tangan kanannya.
“Jimmy,” gumam Frita heran. Arya hanya tersenyum melihatnya.
“Selamat malam semuanya, dengan segala hormat saya mohon maaf sebelum kalau saya mengganggu kenyamanan kalian dalam menikmati keindahan malam ini. Saya punya persembahan untuk semua yang ada di sini, terutama untuk Rembulan kota Bandung. Semoga terhibur,” ucap Jimmy.
Lampu atap dimatikan dan hanya lampu yang ada di ruangan atap saja yang dibiarkan menyala. Bangunan atap memang berbentuk lingkaran yang lonjong, setengah lingkaran berupa outdoor dan setengahnya lagi indoor, ruangan indoor tersebut digunakan sebagai café tempat bersantai.
__ADS_1
Semua mata orang-orang yang ada di luar tertuju kepada ruangan café itu sambil menunggu persembahan yang dimaksud oleh Jimmy. Semua orang yang ada di café juga tampak saling melirik dengan penuh rasa penasaran. Lampu di ruangan juga dimatikan, hanya satu lampu di depan lift yang dibiarkan tetap menyala.
Jimmy melangkah mendekati Frita yang kelihatan bingung. Tiba-tiba pintu lift terbuka, semua mata tidak berkedip melihatnya. Sesosok pelayan dengan wajah cemas kemudian keluar sambil mencari Jimmy.
“Pak, ada enam orang yang tergeletak di dalam lift,” ucap pelayan itu kepada Jimmy.
“Apa? Lalu di mana mereka sekarang?” tanya Jimmy dengan wajah cemas.
“Kami sudah memindahkannya ke ruangan staff. Kami curiga kalau mereka adalah band yang bapak bilang akan menghibur para tamu mala mini di atap.”
“Sial,” gumam Jimmy sambil pergi dengan pelayan.
Suasana di hotel mulai gaduh karena mendengar hal itu. namun Arya kemudian bilang bahwa semuanya baik-baik saja tidak ada yang perlu di khawatirkan. Semua lampu kembali di hidupkan. Beberapa orang mulai membicarakan kejadian barusan. Bahkan diantanya ada yang menjadikan kejadian itu sebagai lelucon.
“Sebenarnya apa yang terjadi Ar?” tanya Frita penasaran.
“Sebenarnya malam ini kami berniat membuat kejutan untukmu Fri. sebagai permintaan maaf kami. Termasuk tempat ini, makanan dan minuman kesukaanmu bahkan Jimmy juga sudah memerintahkan beberapa anak buahnya yang ahli dalam bidang musik untuk menyanyikan lagu kesukaanmu di sini. Tapi tampaknya rencana itu gagal,” jawab Arya sambil tertawa kecil.
“Ih. aku malah jadi nggak enak dengernya. Tapi terimakasih banyak ya. Aku sendiri mengerti jika polisi membutuhkan waktu untuk menangkap dalang dari kasus yang kualami. Aku juga tidak berharap terlalu banyak, yang penting kalian sudah berusaha.”
“Ya aku mengerti. Sebenarnya malah kami yang merasa tidak berguna Fri. sudah beberapa hari semenjak kejadian itu namun kami masih belum menemukan titik terang. Mana kejutannya gagal lagi,” ucap Arya sambil tertawa kembali. Frita ikut tertawa.
Tidak biasanya dia mengambil kesimpulan ceroboh seperti itu, apa mungkin ini semua ada hubungannya dengan perasaan di dalam hatinya. Dia sendiri bingung untuk menjawabnya. Di lain sisi dia ingin Frita selalu membencinya. Namun ketika dia di dekati oleh Arya dan Jimmy rasa ketidakrelaan muncul di dalam benaknya.
“Ada apa Jim?” tanya Arya ketika menerima panggilan dari Jimmy.
“Ar cepat segera ke sini. Aku butuh bantuanmu,” jawab Jimmy.
“Baiklah,” ucap Arya sambil mengakhiri panggilan.
“Aku akan membantu Jimmy sebentar Fri. maaf ya kalau harus aku tinggal.”
“Iya, nggak apa-apa kok.”
Arya kemudian pergi ke lantai bawah tempat Jimmy berada. Frita menghela nafas dalam lalu menikmati minuman yang masih ada di gelasnya. Makanan yang disediakan oleh Jimmy tidak dia sentuh sedikitpun. Dia merasa tidak enak dengan kejadian hari ini. Dia merasa bingung dengan maksud Jimmy melakukan semua itu.
__ADS_1
Frita menatap langit yang indah malam itu. hatinya semakin kacau saat ini. Dia sadar jika Arya bukanlah orang yang menyelamatkannya waktu itu, hal itu sudah dia pastikan sendiri. Aditya menghampirinya.
“Malam ini indah juga ya,” sapa Aditya.
“Itu sebelum kedatanganmu ke sini,” ucap Frita kesal ketika Aditya menghampirinya.
“Lagian kenapa kamu nggak pulang saja sih?”
“Ya sesekali kan aku juga ingin nginep di hotel. Lagipula tugasku kan melindungimu.”
“Aku nggak butuh perlindunganmu tahu! lagian di sini aku juga sama polisi kok.”
“Lah mana? Buktinya kamu sendirian di sini.”
Frita tidak menjawab. Wajahnya terlihat kesal. Tiba-tiba ada pelayan yang menghampiri mereka sambil membawa segelas air di nampan lalu menawarkannya kepada Frita. Aditya hendak mengambilnya namun Frita lebih dulu memegang gelas itu dengan tangannya. Dia mengalah. Ketika Frita hendak meminum air di gelas dengan cepat Aditya mengsmbil gelas air itu darinya dia merasa curiga dengan air yang ada di gelas.
“Kamu kenapa sih Dit?! Kalau mau minum sebaiknya ngambil sendiri!” bentak Frita karena kesal airnya di rebut. Aditya hanya diam sambil mencium bau air itu.
“Vodka?” ujar Aditya pelan dengan wajah kaget.
“Apa? Maksudmu itu minuman keras?” tanya Frita ikut kaget.
“Ya. Terlebih ini type yang memiliki kandungan alkohol delapan puluh delapan persen. Jika kamu meminumnya bukan hanya kesadaranmu yang akan hilang. Tapi nyawamu juga terancam,” jelas Aditya. Dia memperhatikan semua orang di atap hotel. Namun sosok pelayan tadi tampak sudah hilang.
Frita terlihat masih belum terlalu percaya dengan kata-kata Aditya. Dia kemudian mengeluarkan korek api dan membakar gelas itu hingga semua orang di atap kaget melihatnya. Frita baru percaya setelah melihat hal itu.
“Tapi bagaimana kamu tahu?” tanya Frita penasaran.
“Sebaiknya kamu segera kembali ke kamar. Lagipula sudah malam,” perintah Aditya.
“Tap-“ belum sempat Frita menolak. Tangannya sudah digenggam Aditya hingga terpaksa dia mengikuti langkah sopirnya itu.
“Lain kali sebaiknya berhati-hati kalau minum di tempat seperti ini,” ujar Aditya dengan tatapan waspada melihat sekitarnya.
“Iya,” jawab Frita pelan sambil terus menatap Aditya. Dia bisa merasakan kepedulian Aditya dari nada bicara dan sikapnya saat ini.
__ADS_1
Setelah Frita masuk ke kamar, Aditya bergegas mencari sosok pelayan yang berniat jahat kepada Frita. Dia yakin pelayan itu bukanlah pelayan biasa. Kemungkinan dia adalah bagian dari komplotan yang dulu pernah menculik Frita di Hotel Universal.
BERSAMBUNG…