
“Waw, bener-bener luar biasa,” gumam seorang tamu.
“Gila, seumur hidupku baru kali ini aku melihat yang seperti itu.”
“Beruntung banget.”
“Kira-kira dia habis berapa ya?”
Semua orang terpana dengan isi dari kotak hitam yang baru dibuka oleh Diaz. Sebuah perhiasan cincin berlian yang indah dan mewah terpampang jelas di hadapan mereka. Aditya dan Ratna juga terlihat memperhatikan perhiasan mahal yang ada di dalam kotak kaca itu.
“Saya ingin menyampaikan bahwa besok malam senin saya akan melamar pujaan hati saya Frita, putri sulung dari ibu Gina Lisnia. Sebagai ungkapan cinta saya yang sangat dalam kepadanya, saya sengaja memesan cincin berlian mewah ini.”
“Asli nggak?” celetuk seorang tamu. Semua orang sepertinya menyetujui pertanyaan orang itu.
“Tenang semuanya, mohon tenang. Saya di sini juga sudah mendatangkan seorang yang ahli dengan masalah perhiasan, silakan Pak Dr. Robert Jamal beserta rekan-rekannya,” jawab Diaz.
“Terima kasih semuanya,” ucap seorang pria berumur sambil maju dari kerumunan para tamu beserta enam rekannya.
“Silahkan Pak Dr. Robert. Soalnya para tamu masih ragu dengan keaslian perhiasan yang dibawa oleh Keluarga pak Argawijaya,” tambah pembawa acara.
“Cih, kelihatannya orang itu hanya ingin pamer kekayaannya saja,” gerutu Ratna.
Dr. Robert beserta rekan-rekannya mulai memeriksa keaslian perhiasan yang dibawa oleh Diaz. Setelah sekian menit mereka akhirnya berhenti. Pembawa acara kemudian memberikan microphone kepadanya.
“Setelah saya melihat, menimbang dan mengingat. Saya pastikan bahwa perhiasan yang ada di dalam kotak kaca itu benar-benar asli. Selama ini saya tidak pernah mau disuap oleh siapapun. Jika ada yang masih meragukan pernyataan saya silahkan anda bawa ke ahli perhiasan yang anda percayai,” jelas Dr. Robert.
“Kira-kira harganya berapa ya?” tanya pembawa acara.
“Saya taksir harganya bisa sampai satu milyar.”
“Terimakasih pak Dr. Robert atas waktu anda. Silahkan anda semua kembali menikmati kemeriahan pestanya,” kata pembawa acara.
“Sekarang sebagai acara pembuka pesta ulang tahun pak Albert para hadirin dipersilahkan untuk berdansa dengan pasangan masing-masing. Yang tidak punya pasangan silahkan berdansa dengan tiang, maksud saya silahkan nikmati hidangannya. Saya sebagai pembawa acara pamit, sampai bertemu lagi di acara puncak nanti malam,” kata Pembawa acara.
Semua orang di sana bertepuk tangan meriah. Alunan musik mulai terdengar mendayu mengundang hasrat semua orang untuk bergerak mengikuti iramanya. Ayah Fred dan ibunya jadi orang pertama yang turun ke lantai dansa kemudian diikuti oleh beberapa tamu undangan lainnya. Diaz sambil tersenyum mengulurkan tangannya kepada Frita.
“Mari kita berdansa,” ajak Diaz sambil berlutut. Frita hanya menatap wajah asing yang akan menjadi suaminya itu. Gina yang duduk di belakangnya mencolek tubuh Frita.
__ADS_1
“Ayo Fri nikmati pestanya,” ucap Gina.
“Baik bu,” jawab Frita pelan sambil bangkit menerima uluran tangan Diaz. Mereka kemudian turun ke lantai dansa.
Aditya dengan nanar menatap dari kejauhan, hatinya kembali hancur saat ini. Dibalik tubuhnya yang kekar dan berotot, dibalik titelnya sebagai sang legenda di pasukan khusus militer, dibalik tatapannya yang sangat tajam, ternyata harinya tetaplah hati manusia biasa. Romansa kesedihan tersirat jelas dari raut wajah dan tatapannya.
Sekilas Frita juga melihatnya, raut wajah sedih yang belum pernah dia lihat selama ini dari wajah Aditya. tapi kini dia tidak bisa apa-apa lagi. Dia hanya memalingkan wajahnya sambil menahan air mata yang mulai terkumpul di pelupuk matanya.
“Maafkan aku Aditya,” batin Frita.
“Hatiku belum pernah sesesak ini lagi sejak hari kematian kalian semua,” batin ADitya sambil memegang tangannya sendiri, terkenang lagi di ingatannya hari di mana dia benar-benar ingin meninggalkan dunia ini.
“Apa aku menyesal masih hidup sampai saat ini?” gumam Aditya.
“Dit?” sapa Ratna sambil memegang pundak Aditya. dia paham apa yang sedang Aditya rasakan saat ini. Seharusnya dia senang jika Frita benar-benar menikah dengan Diaz karena saingannya akan berkurang. Tapi dia juga tidak mau melihat Aditya yang terpuruk seperti itu.
“Dit? Kamu baik-baik saja kan?” sapa Ratna kembali.
“Aku baik-baik saja Rat,” jawab Aditya sambil berusaha untuk tersenyum.
“Baiklah, kamu sih tadi malah ngaku-ngaku jadi pacarku segala. Coba kalau nggak pasti sudah banyak pria yang mengajakmu berdansa,” ucap Aditya sambil tertawa kecil.
“Kamu terlalu memaksakan diri, Dit,” gumam Ratna pelan.
Aditya mengulurkan tangannya kepada Ratna. Mereka kemudian bergandengan tangan sambil turun ke lantai dansa. Hal itu sontak menarik perhatian semua orang yang ada di sana. Fred sangat geram melihatnya tapi dia tidak berani lagi mengganggu Aditya, Fred pergi dari ruangan itu untuk menenangkan dirinya.
Gerakan Aditya dan Ratna begitu menarik perhatian, mereka sangat lihai, kompak dan serasi dalam berdansa. Setiap gerakannya benar-benar sesuai dengan irama musik yang mengalun. Gerakan Frita justru menjadi agak kaku ketika melihat lelaki pujaannya berdansa dengan wanita lain di ruangan yang sama. Jarak mereka juga tidak begitu jauh.
“Kamu kenapa Fri? kok tiba-tiba gerakanmu jadi kurang sesuai begitu?” tanya Diaz.
“Aku tidak apa-apa kok. Cuma agak kram saja sedikit,” jawab Frita pelan.
“Kram? Gimana kalau kita langsung periksa saja?”
“Nggak usah Di, ini nggak seberapa kok,” jawab Frita sambil berusaha untuk tersenyum. Dia mencoba untuk menyembunyikan rasa sedihnya.
Aditya juga sesekali melirik Frita. Bgitu pula sebaliknya dengan Frita. Terkadang tatapan mereka bertemu. Ratna yang menyadari hal itu hanya bisa menghela nafas, dia benar-benar tidak menyangka sedalam itu perasaan Aditya kepada Frita. Diaz juga semakin kesal karena Frita jelas-jelas lebih tertarik kepada Aditya daripada dirinya.
__ADS_1
“Hei aku baru sadar jika ternyata ada seorang gelandangan ikut berdansa di ruangan ini,” teriak Diaz sambil berhenti berdansa. Teriakannya menarik perhatian para tamu. Frita sendiri mulai khawatir.
“Jangan hiraukan dia,” bisik Aditya ketika melihat Ratna mulai kesal.
“Baiklah,” jawab Ratna. Mereka terus berdansa dengan tenang.
“Cih, heh lu yang pake topi!” teriak Diaz sambil menunjuk Aditya yang terus berdansa.
“Budeg apa gimana sih!” bentak Diaz sambil menghampiri mereka berdua, tangannya hendak menyentuh tubuh Ratna. Aditya segera menarik tubuh Ratna ketika melihat dia hendak menyerang Diaz.
“Apa maksud lu!” bentak Ratna marah.
“Hei hei nona manis, jangan marah begitu dong. Yang aku bentak itu dial oh,” kata Diaz sambil menunjuk Aditya.
“Menurut hadirin yang terhormat pantas tidak seorang pria dengan pakaian lusuh seperti itu berdansa dengan seorang wanita yang sangat cantik dan rapi ini?” teriak Diaz.
“Tidak!”
“Mustahil lah!” jawab beberapa tamu.
Tapi ada juga beberapa yang tidak setuju dengan perkataan Diaz, karena mereka sebelumnya sudah mengetahui kejadian yang ada di luar ruangan. Ada juga tamu yang tenang-tenang saja tidak menanggapi.
“Denger? Gue nggak tahu guna-guna macam apa yang lu gunakan kepada wanita secantik dia ini. Tapi yang jelas semua orang waras di sini tidak setuju jika lu berdansa dengan dia!” tegas Diaz sambil tertawa merendahkan.
“Eh yang nentuin siapa yang mau berdansa sama gue itu bukan lu! Tapi gue sendiri!” bentak Ratna.
“Kamu jangan ikut campur Fri!” tegas Gina sambil menarik tangan Frita yang hendak menghampiri mereka bertiga. Frita jujur saja tidak senang melihat perlakuan Diaz yang seenaknya dihadapan banyak orang menghina harga diri Aditya.
“Sudahlah nona manis jangan ikut campur ya, nanti hilang loh cantiknya,” goda Diaz sambil tersenyum. Ayah dan ibu Fred hanya mengawasi kejadian itu dari kejauhan sambil menikmati hidangan di meja mereka.
“Sebenarnya lu mau apa sih tiba-tiba ganggu kami?” tanya Ratna.
“Gue mau ngajak pria gelandangan itu untuk bertukar pasangan menari, kelihatannya dia sangat tertarik kepada calon istri gue,” jawab Diaz sambil tertawa puas. Aditya mengepalkan tangannya karena kesal dengan kata-kata Diaz barusan. Tampak Ratna juga semakin kesal.
“Gimana? mau nggak tuker pasangan dansa sama calon istri gue?” tanya Diaz.
BERSAMBUNG…
__ADS_1