Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 67


__ADS_3

Jimmy keluar dari mobil dengan wajah kesal. Namun tiba-tiba dari mobil mereka juga banyak orang keluar. di pihak Jimmy hanya ada tigabelas orang termasuk empat wanita. Sedangkan orang-orang yang mencegat mereka berjumlah dua puluh satu orang. Teman-teman Jimmy segera menarik teman mereka yang sudah babak belur.


“Apa maksudnya ini!” bentak Jimmy dengan wajah marah.


“Dia yang mulai duluan!” jawab seorang pria yang menghajar anak buah Jimmy.


“Terus sedang apa lu semua disini? Ngalangin jalan saja!” bentak anak buah Jimmy.


“Lah suka-suka gue dong! Kenapa lu ikut campur?”


“Eh lu nggak tahu apa, gue polisi!”


Semua anak buah Jimmy kemudian memperlihatkan tanda pengenal kepolisian mereka. Namun semua orang sangar itu malah tertawa sambil mencemooh mereka semua. Melihat gelagat buruk itu Jimmy kemudian menyuruh semua wanita untuk kembali sambil meminta bantuan.


Namun orang-orang itu serentak menyerang mereka semua, perkelahian tidak bisa dihindari. Mereka menyerang tanpa pandang bulu. Bahkan semua wanita anak buah Jimmy sudah tergeletak tidak sadarkan diri di jalanan. Hal itu sontak membuat Frita semakin ketakutan.


Dua anak buah Jimmy yang membawa pistol menjadi sasaran utama, mereka dihajar hingga pistolnya terlempar jauh ke tepi jalan. Frita kembali teringat dengan kejadian saat di hotel Universal. tubuhnya menggigil ketakutan. Dia bingung harus berbuat apa.


“Kejahatan lu semua sudah termasuk kejahatan yang berat!” ancam anak buah Jimmy.


“Hahaha percuma kalau berat juga jika tidak ada saksi mata dan kalian semua tewas!”


“Lu pikir bisa kabur dari jerat hukum hah! Kemanapun lu semua kabur, lu semua nggak akan selamat!”


“Eh paman gue itu anggota TNI, lu semua sudah bosen hidup ya!”


“Hahaha berkoarlah sesuka kalian selagi masih hidup!”


Anak buah Jimmy terus terusan mengancam mereka sambil berkelahi, namun hal itu malah membuat orang-orang itu semakin bengis menghajar mereka. Hanya Jimmy yang masih tenang, dia dengan mudah bisa menghadapi tiga orang musuh hanya dengan tangan kosong.


Melihat hal itu seorang pria sangar dengan tattoo di wajahnya maju menghadapi Jimmy, mereka saling jual beli serangan namun tampaknya kemampuan mereka terbilang seimbang. Perlahan satu persatu anak buah Jimmy ambruk ke jalanan dengan luka memar di bagian tubuhnya.


Kini hanya tinggal tersisa empat orang termasuk Jimmy. Aditya semakin heran ketika mendengar teriakan beberapa orang di depannya. Tiba-tiba mobil hitam di depannya melaju ke tengah jalan. Barulah dia melihat jika Jimmy dan kawan-kawannya sedang dikeroyok oleh beberapa preman.


“Cih! Kalau begini terus bisa-bisa kita yang kalah Bos,” ujar seorang anak buah Jimmy.

__ADS_1


“Beri aku sedikit waktu. Aku akan mencoba menghubungi Arya,” bisik Jimmy.


“Hahaha kalian sekarang seperti tikus yang ketakutan ketika melihat kucing,” ledek pria bertato.


“Kita apakan tikus ini Bos?”


“Kita habisi!”


Ketika beberapa orang mencoba menyerang, tiga anak buah Jimmy segera menghadapinya. Jimmy kemudian mengirimkan lokasinya kepada Arya dengan tulisan pesan ‘SOS’. Setelah selesai dia kembali maju menghadapi orang-orang itu. beberapa preman tampak sudah kewalahan menghadapi Jimmy.


Pria bertatto segera menghajar Jimmy hingga terpental ke tengah jalan. Jimmy bangkit, dengan cepat dia menyerang namun dengan mudah bisa di tahan. Pria itu balas melancarkan serangan cepat bertubi tubi hingga beberapa pukulannya berhasil mengenai Jimmy.


“Sebenarnya apa maksud kalian menghadang kami?” tanya Jimmy sambil mundur perlahan hendak mengambil pistol anak buahnya yang tergeletak.


“Serius mau tahu? soalnya bayarannya nyawa lu loh pak polisi,” ledek pria itu.


“Lu pikir gue takut mati apa!” tegas Jimmy.


“Wuih keren banget pak polisi ini. Oke kalau begitu biar kuberi tahu.”


“Kelihatannya buruanku malah histeris begitu, baiklah. Seharusnya dia memang tidak boleh melihat hal mengerikan seperti ini,” ujar si pria sambil menembak lampu jalan, lampu mobil hingga suasana di sana gelap gulita hanya cahaya bulan yang remang-remang menerangi mereka karena terhalang oleh dedaunan pohon yang lebat.


Frita menjerit histeris. Sedangkan beberapa anak buah Jimmy kaget. Aditya dengan cepat keluar dari mobil berlari untuk menolong mereka semua. Jimmy sadar, ternyata yang mereka incar adalah Frita.


“Arya, cepatlah datang kemari,” batin Jimmy.


“Gue mengerti sekarang. Jadi kalian adalah komplotan penjahat di hotel Universal ya?” tanya Jimmy mencoba mengulur waktu.


“Ho, jangan samakan kami dengan orang-orang tidak berguna itu. Kami tidak akan pernah mengecewakan Ketua.”


“Begitu ya, seperti yang kuduga. Mereka memang berasal dari salah satu geng besar kota Bandung,” gumam jimmy sambil tersenyum.


“Lu kelihatannya senang saat tahu ajal lu sudah dekat,” kata pria itu sambil menodongkan pistol ke kepala Jimmy.


“Boos..” teriak anak buahnya.

__ADS_1


Jimmy hanya tersenyum pasrah. Setidaknya sebagai polisi, dia bangga bisa mati saat berusaha menangkap penjahat seperti ini. Suara tembakan terdengar namun malah satu anak buah pria bertatto yang tumbang ke jalan dengan peluru bersarang di dadanya.


Aditya ternyata menendang tangan si penjahat hingga arah pistolnya berubah. Jimmy terkejut melihat ada sekelebat bayangan muncul di hadapannya. Hati Frita tiba-tiba berdebar ketika melihat bayangan yang berlari dari kaca mobil Jimmy.


“Siapa lu?!” bentak pria bertatto.


“Jawab bangsat!” bentak pria itu karena Aditya tidak menjawab.


“Eh lu tuli ya!” bentak seorang pria lain sambil mendekatinya, namun dalam sekejap pria itu sudah tersungkur karena dibanting Aditya.


“Dasar keparat!” pria bertatto marah lalu maju bersama beberapa anak buahnya menghadapi Aditya namun serangan mereka semua masih bisa ditahan oleh Aditya.


Jimmy mencoba memperhatikan sosok Aditya yang semakin jauh merangsek ke dekat mobil musuh. Dia memang sengaja menjauh dari Jimmy dan yang lainnya takut identitasnya diketahui. Jimmy bangkit hendak mendekati Aditya namun beberapa musuh maju menghadapinya, dia lalu dibantu oleh dua orang anak buahnya. Kini hanya tersisa mereka bertiga saja.


Aditya dengan tehnik beladiri wing chun terus menghajar beberapa preman yang menyerangnya. Saat ini dia sudah berhasil menumbangkan lima orang musuh. Pria bertatto semakin marah, ketika hendak menembak Aditya tangannya ditendang hingga pistolnya terlempar.


“Lu sudah bosen hidup rupanya!” bentak pria bertatto.


“Lu jangan banyak bicara! Siapa yang lu incar hah!” bentak Aditya dengan mata penuh amarah.


“Emangnya lu peduli apa sama target gue?!”


“Jangan bilang kalo target lu itu wanita yang ada di sana!” tegas Aditya sambil menunjuk mobil Jimmy.


“Kalau iya kenapa?” tantang pria itu.


“Kalau iya, maka nyawa kalian sekarang berada dalam bahaya,” jawab Aditya dengan seringai mengerikan terukir di wajahnya.


Dengan bengis dia maju menghajar musuhnya, dia pikir kemungkinan saat ini mereka tidak semuanya membawa senjata. Karena itu ketika ada lawannya yang bertingkah mencurigakan Aditya segera menyerangnya.


Beberapa orang mulai mengerang dan menjerit kesakitan setelah dihajar Aditya. Namun tiba-tiba sorot lampu mobil menyala dari belakang mereka. Mobil hitam yang berada di belakang mobil Jimmy bergerak mendekat.


“Toloong...” tak lama kemudian terdengar suara Frita berteriak. Selang beberapa detik terdengar suara tembakan dari mobil Jimmy.


“Fritaa...” teriak Jimmy. Aditya semakin cemas, tubuhnya oleng ketika menerima beberapa pukulan dari lawan karena konsentrasinya buyar.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2