Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 205


__ADS_3

Diana berhenti di teras dengan napas ngos-ngosan, dan gadis itu terlihat amat kesal. “Aku gak tahu ini ulah siapa, tapi aku yakin pasti Dirga!”


“Kenapa? Ada apa, Diana? Coba cerita kenapa anak Pak Lurah itu?” tanya Paman Salim tak mengerti.


Aditya menduga urusan Dirga dan Diana mungkin tak diketahui pamannya. Diana seperti tak menggubris pertanyaan Paman Salim. Bukan karena tak menghormati beliau, tapi karena terlalu gelisah.


“Flashdisk-ku hilang! Flashdisk dan buku catatanku! Pasti Dirga pelakunya!” jelas Diana sambil menatap wajah Aditya.


“Bagaimana kamu bisa yakin?” tanya pemuda itu.


“Ya, siapa lagi kalau bukan dia? Nggak ada warga sini yang pernah mengusikku selain dia. Dan pula, kalau itu ulah maling, mereka lebih senang menjual laptop daripada flashdisk, bukan?!” kata Diana dengan panik.


Aditya bergumam, “Benar juga.”


“Duh! Mana semua file tulisanku ada di situ lagi! Benar-benar cowok tak tahu diri dia!” jerit Diana semakin tak terkendali paniknya. Sampai-sampai para tetangga Paman Salim berdatangan karena mengira Aditya mungkin bertengkar dengan sang paman.


“Saya pikir kalian ribut seperti dulu,” celetuk salah satu dari mereka.


“Hus! Jangan sembarangan ngomong kamu, Budi!” tukas Paman Salim sambil matanya melotot ke si tetangga.


Aditya seharusnya bisa ketawa melihat ekspresi sang paman yang sedang marah ke tetangganya yang terlihat kocak tadi, tapi itu kalau situasinya normal. File tulisan bagi seorang penulis seperti Diana adalah sesuatu yang penting. Hampir seperti separuh jiwa yang terpisah dari tubuh si penulis itu.


“Oke, kamu tenang dulu,” kata Aditya. “Sejak kapan flashdisk itu hilang?”


“Tepat setelah pulang jalan denganmu tadi siang,” jawab Diana terlihat seperti tanpa berpikir.


“Kamu yakin?”


“Eh... enggak juga. Maksudku, aku baru memeriksa barang-barangku setelah mandi dan cuci baju. Kira-kira sejam setelah kita pulang.”


“Kenapa ini? Bisa tolong jelasin ke Paman?” potong Paman Salim yang masih juga tak paham kenapa Dirga bisa dibenci sebegitunya oleh Diana yang baik hati ini.


Diana mencoba menjelaskan sebisanya, tetapi dengan pemilihan kata yang hati-hati sebab di sekitar mereka ada para tetangga, bahwa Dirga selama ini sering mengusiknya. Reputasi anak lurah itu memang sudah coreng dari dulu, tapi tetap Diana harus hati-hati.


“Wah, begitu. Kamu ndak pernah cerita ke saya, Nak,” kata Paman Salim.


“Sudahlah, Paman. Sekarang yang penting kita temukan barang itu. Buku catatan itu juga penting?” kata Aditya.


“Sama pentingnya dengan flashdisk-ku.”


Mereka diam sejenak beberapa saat. Lalu Aditya meminta para tetangganya untuk bubar. Ini obrolan seharusnya tak didengar oleh mereka. Tuduhan tanpa bukti macam ini bisa berakibat fatal bagi Diana, apalagi kalau memang bukan Dirga pencurinya.


“Oke, sekarang kita temui Dirga. Kita tanyakan baik-baik,” ujar Aditya pada Diana.

__ADS_1


”Tapi sebelumnya sudah kamu pastikan nggak ada tanda-tanda pencuri masuk?”


“Sama sekali enggak. Semua barang tetap rapi. Entah gimana pelakunya bisa tahu di mana aku menaruh flashdisk itu! Seperti sudah hafal kebiasaanku saja!” terang Diana lalu terduduk lemas di teras sambil meremas rambutnya.


Lalu dia lanjutkan: “Dirga tahu di mana aku biasa menyimpan barang itu. Empat atau lima kali dia datang tanpa mengetuk pintu dan mengagetkanku ketika aku lagi asyik nulis di ruang tamu! Waktu itu pasti dia lihat kutaruh flashdisk-ku di tempat pensil. Itulah kenapa aku tahu dia pelakunya!”


“Kamu tenang dulu, Diana,” kata Aditya. “Kita hanya perlu bicara dengan Dirga.”


***


Dirga biasa nongkrong di sebuah balai-balai bambu dekat kantor desa. Tak jauh dari situ ada sungai yang terlihat lumayan kotor, karena jarang dibersihkan. Kebetulan di situ sedang berkumpul dua teman dekat Dirga juga yang bernama Bandi dan Pirlo. Ketiga pemuda itulah yang biasa berbuat onar di desa.


Begitu melihat Diana berjalan dari jauh menuju ke arahnya, Dirga langsung berkata, “Nah, ini kekasih hatiku akhirnya datang! Heh, kenapa loe ikutan juga orang aneh?!”


Sepertinya Dirga terlihat mulai berani pada Aditya, karena sekarang dia ada teman- temannya.


“Biar aku yang ngomong,” kata Aditya sambil berbisik pada Diana. Gadis itu pun mengangguk.


“Bro, bisa bicara sebentar?” tanya Aditya dalam jarak yang cukup aman untuk tidak didengar oleh kedua teman Dirga.


“Loe mau bicara, ya kemari! Gue bukan pembantu loe, Goblok!” kata Dirga kasar.


Bandi dan Pirlo tertawa senang melihat Aditya diledek begitu.


“Kenapa sih? Mau nonton atau enggak sih kamu?” tanya Dirga pada Diana, masih tak beranjak dari tempatnya duduk di balai-balai bambu.


“Tergantung kamu mau bicara di sini atau enggak!” jawab Diana dengan tegas. Tak pernah ada orang desa itu yang melihat Diana tampak semarah ini. Maka, Dirga kaget juga dan segera berdiri dari tempatnya duduk.


“Kenapa sih?” tanya anak lurah itu sambil mendekat ke Aditya dan Diana.


Bandi dan Pirlo tetap menunggu di balai-balai bambu dengan penasaran.


“Flashdisk-ku hilang. Baiknya kamu balikin sekarang!” kata Diana tak sabaran.


Dirga ternyata memang mencuri flashdisk itu. Sekarang benda itu terselip di saku kemejanya dengan aman. Bandi dan Pirlo jelas tahu itu. Mereka bertiga tadi yang masuk ke rumah Diana.


“Ayo, mana?! Kok kamu diam saja! Jangan-jangan memang kamu yang curi!” kata Diana.


Bandi dan Pirlo seperti sulit menahan tawa. Dan itu membuat Aditya semakin yakin kalau memang mereka mencuri benda berharga milik Diana tersebut.


Maka, Aditya kini bicara pada Dirga: “Jangan main-main dengan barang orang. Loe tahu sendiri Diana butuh barang itu, jadi cepat balikin.”


Akhirnya, Dirga yang sejak tadi terdiam saja, kini tertawa terbahak-bahak. Tanpa diduga, dia mengaku juga memang sudah mencuri flashdisk tersebut, tapi niatnya tidak jahat. Ia mengaku tidak pernah berniat jahat atas pencurian tersebut.

__ADS_1


“Mencuri kok kamu bilang nggak jahat! Kamu mabuk atau gimana? Cepat balikin!” sembur Diana.


“Ya, akan dibalikin, tapi ada syaratnya. Kamu harus nonton sama aku nanti malam. Gimana?” jawab Dirga dengan mantap. “Kalau sudah nonton, pasti kubalikin.”


“Kenapa kamu selalu mengganggu! Aku gak suka padamu, Dirga. Banyak cewek lain di desa ini yang bisa kamu pacari!”


“Ya, aku sukanya ke kamu saja kok,” kata Dirga dengan lagak tengil dan sok, yang membuat Aditya mulai habis kesabaran.


Kali itu Aditya tak lagi perlu bicara. Ia langsung menonjok mulut Dirga sampai si anak lurah tersebut jatuh berguling di tanah. Bandi dan Pirlo kaget melihat tinjuan yang spontan macam itu. Pasti Aditya bukan orang sembarangan, pikir mereka.


Dengan cekatan, Aditya memeriksa saku demi saku di tubuh Dirga dan menemukan flashdisk yang hilang. Diana tampak lega, tapi juga cemas karena kini Bandi dan Pirlo maju untuk membantu teman mereka.


Tentu saja, sekadar bocah-bocah kampung begini, bagi Aditya bukanlah masalah. Ia mudah saja membuat Pirlo yang jangkung pingsan, lalu mendorong Bandi yang gendut hingga tercebur ke sungai kotor.


Dirga mendapat tinjuan sekali lagi di mulut, membuat gusinya berdarah.


“Bangsat loe!” teriaknya kesakitan.


“Ayo, kita pergi. Aku takut terjadi masalah karena ini,” kata Diana pada Aditya.


“Ini juga sudah jadi masalah, tapi kamu jangan khawatir. Mereka terbukti mencuri barangmu. Mereka gak akan berani macam-macam. Kecuali mau bikin masalah,” tukas Aditya.


“Kamu belum tahu siapa Pak Lurah sih.”


“Ya, nanti juga bakalan tahu. Ayo, pulang.”


Mereka pun kembali pulang, meninggalkan Dirga dan kawan-kawan yang memikul rasa malu.


“Awas kau, keparat!” batin Dirga kesal.


***


Tak lama, di perjalanan pulang, dua orang asing yang terlihat rapi turun dari sebuah mobil. Mereka berjalan ke arah Aditya dan Diana. Aditya punya perasaan tak enak. Tapi dia mencoba tenang.


“Aditya, bukan?” tanya salah satu dari mereka.


“Ya, kalian siapa?”


“Kami utusan Pak Pandu. Ada hal mendesak yang harus kami sampaikan padamu,” kata seorang dari mereka.


Aditya teringat pada Frita. Perasaannya berkata: ia akan pergi lagi dari desa ini, ia akan kembali meninggalkan sang paman. Untuk berapa lama? Ia bahkan tak tahu! Dan itu sangat membuat Aditya tak nyaman.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2