Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 7


__ADS_3

Sejak pertemuan Sean dengan Ellena di kantor beberapa waktu yang lalu, pikiran Sean kembali sedikit terganggu. Entah mengapa keinginan Sean memiliki wanita itu untuk dirinya pribadi seolah kembali mendominasi di hatinya.


Setelah malam itu, Sean benar-benar tidak bisa nikmati wanita manapun yang sering dia gunakan untuk melampiaskan rasa stres. Tidak ada wanita yang mampu membuat hasratnya naik meskipun mereka sudah akan memulai hubungan panas. Bayangan wajah Ellena seolah menari-nari di pikiran Sean sejak saat itu.


Dan kini Ellena kembali muncul di hadapannya. Ellena yang selalu membuat dia penasaran dan juga sudah menipunya ternyata juga sudah membuat Sean menjatuhkan arti wanita di mata Sean.


Sean bertekad akan membuat wanita yang sudah membuat dirinya tidak tenang itu akan bertekuk lutut meminta cintanya. Meminta dirinya untuk menikahi dia dan mengejarnya.


“Mathias, cari tahu soal Ellena. Apa pun soal dia jangan ada yang terlewatkan. Laporkan juga bagaimana perkembangan pekerjaannya saat ini,” perintah Sean keluar untuk Mathias.


“Baik, Bos. Akan segera saya cari info itu. Kalau masalah pekerjaan, saya sudah mendapatkan sedikit informasi,” jawab Mathias.


“Apa itu?”


“Menurut kabar yang saya terima, Ellena memang dikenal sebagai pekerja keras di sini. Dia mengolah data dengan baik sehingga dia mendapatkan klien dalam jumlah banyak dan selalu melebihi target penjualan,” ucap Mathias memuji Ellena.


“Benarkah? Kok bisa ... apa ada orang di belakang dia?” tanya Sean penuh curiga.


“Sepertinya Pak Devan. Saya sempat mendengar ada yang mengatakan kalau Pak Devan banyak membantu dia mendapatkan data klien yang bagus. Tapi saya belum menyelidiki apakah Pak Devan juga ikut bermain di balik keberhasilan dia mendapatkan klien itu.”


“Cari tahu soal itu. Saya ga mau ada yang curang di sini. Eh tunggu, kenapa Devan baik ke Ellena? Apa mereka pacaran?” perintah Sean sambil mengetukkan ujung pena yang dia pegang ke meja.


“Setahu saya, Pak Devan memang suka pada Ellena, tapi Ellena sama sekali belum memberikan respon pada Pak Devan,” Mathias membuka satu fakta lain lain.


“Belum kasih respon? Maksud kamu Devan digantungin Ellena?” tanya Sean sambil melihat Mathias tanpa mengangkat wajahnya.


“Mungkin begitu, Bos. Soalnya di sini sepertinya sudah banyak yang tahu kalau Pak Devan suka pada Ellena. Banyak pekerja yang menyatakan patah hati melihat hal itu.”


Sean tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Mathias. Dia sampai menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mewahnya itu sambil terus tertawa dan mengangkat kepalanya melihat ke arah langit-langit. Sean memainkan pena yang ada di tangannya dengan kedua tangannya di depan dada.


‘Ellena berani gantungin Devan? Hahaha ... itu sangat lucu. Liat aja Ellena, sebentar lagi kamu bakalan ngemis cinta dari aku,’ tekad Sean dalam hati.


“Mathias, cari tau sekarang juga kebiasaan Ellena di kantor. Apa yang dia lakukan selama di kantor sampai dia pulang!” perintah Sean dengan nada tegas.

__ADS_1


“Siap, Bos. Akan segera saya laporkan.”


Mathias segera undur diri dari hadapan Sean. Dia ingin segera melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh Sean sekarang juga. Memang Mathias sejak dulu hampir tidak pernah melakukan kesalahan, kecuali kehilangan jejak Ellena.


Sementara itu di ruang kerja Ellena, wanita itu mulai kembali bekerja untuk memenuhi standar promosinya. Tapi pikiran untuk bekerja sedikit terganggu karena sosok Sean yang sepertinya menggoda pikirannya.


“Ell ...Ellena,” panggil Arina pada sahabatnya yang duduk di depannya.


Melihat Ellena tidak merespon panggilannya dan terkesan seperti sedang melamun, Arina pun segera mengetuk pembatas kaca yang memisahkan mejanya dan meja Ellena.


Tuk tuk tuk


“Apa?” tanya Ellena kaget sambil melihat ke arah Arina.


“Udah cek grup chat terbaru belum?”


“Emang ada kabar apa?” tanya Ellena bingung.


“Katanya, Pak Sean lagi cari cinderella,” jawab Arina sambil menunjukkan obrolan grup chat di ponselnya.


“Aduuh ... lu tuh pinter tapi kalo beginian kok begonya ga ketulungan. Maksudnya cari calon istri. Paham ga sih?” tutur Arina gemas.


“Ya emang trus kenapa? Kamu mau daftar?” tanya Ellena datar.


Arina menggelengkan kepalanya dan menahan rasa kesalnya, “Ini bukan masalah pendaftaran Ellena ... emangnya kamu ga penasaran ama siapa calonnya nanti. Kebayang ga siapa nanti yang bakalan jadi pendamping cowok tampan super tajir itu?”


“Ga tuh. Biasa aja, ga penasaran sama sekali,” jawab Ellena yang kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi.


Arina tertawa sendiri mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Sepertinya kalau masalah percintaan sahabatnya ini memang sangat aneh, dari dulu ditaksir oleh Devan juga sama sekali tidak pernah ditanggapi. Padahal banyak wanita yang mengantri untuk mendapatkan cinta Devan.


Jam makan siang tiba. Ellena dan Arina seperti biasa akan memilih makan siang di kantin kantor saja. Selain harganya murah, menunya juga selalu bervariasi setiap hari. Itu cukup untuk mereka berdua yang sedang menghemat pengeluaran.


“Ell ... bisa ngobrol bentar?” tanya Devan saat dia melihat Ellena mengantri di depan meja saji kantin.

__ADS_1


“Tapi saya mau makan, Pak,” jawab Ellena sambil menunjuk antrean yang lumayan panjang.


“Nanti saya yang ambilkan pake kartu saya. Ini penting, tentang klien kamu.”


“Oh, baiklah,” jawab Ellena setuju lalu segera mengikuti langkah Devan.


Pimpinan kelas atas di kantor ini memang memiliki kartu makan pribadi sehingga tidak perlu mengantri panjang. Karena jaminan itulah Ellena setuju untuk mengikuti ke mana Devan mengajaknya.


Kini Devan dan Ellena terlihat sedang membicarakan suatu hal yang tampak serius di sudut kantin. Mereka memilih berdiri agar tidak mengganggu orang lain yang sedang menikmati makan siang.


Namun tiba-tiba pandangan semua orang yang ada di kantin tertuju di pintu masuk. Orang yang tidak pernah disangka akan menginjakkan kakinya di tempat itu, siang ini datang masuk ke dalam kantin. Sean masuk ke kantin kantor bersama Mathias.


Sementara banyak orang yang menjadi canggung saat melihat pimpinan tertinggi ada di tempat itu, mata Sean justru menyapu semua area kantin ini. Dia seolah sedang mencari seseorang yang ada di dalam kantin.


Setelah menemukan siapa yang dia cari, Sean segera melangkahkan kakinya ke sasarannya siang ini. Langkah kaki Sean menuju pada Ellena yang berdiri di sudut kantin.


“Sean,” sapa Devan yang kaget saat melihat Sean mendatangi dirinya.


“Ellena,” sapa Sean sambil menatap wanita cantik itu dan mengabaikan Devan.


“Ada apa?”


“Saya baru dengar tentang kinerja kamu. Ternyata kamu pekerja keras ya. Hmm ... gimana kalo kamu saya tawari jadi sekretaris saya. Sekretaris pribadi saya,” ucap Sean dengan senyum mengembang.


Ellena kembali dibuat kaget dengan sikap Sean, “Sekretaris? Apa saya ga salah dengar?” tanya Ellena meragu.


“Kenapa? Apa itu berlebihan?” tanya Sean lagi.


“Hmm ... anu. Itu Pak ...,” Ellena bingung menjawab saat tatapan mata Sean menjadi lembut dan senyumnya sangat menawan di depan dirinya saat ini.


Sean melihat kebingungan yang ada di wajah Ellena. Karena itu secara perlahan-lahan Sean memajukan wajahnya mendekati wajah Elena. Dia ingin sedikit bermain dengan wanita yang menggoda hatinya itu.


Melihat apa yang dilakukan oleh Sean, tubuh Elena serasa membeku. Kini nafas segar Sean kembali bisa dia rasakan menyapu seluruh wajahnya. Ellena tidak bisa menolak, badannya sedikit melengkung ke dalam dan dia refleks memejamkan matanya saat wajah Sean semakin dekat dengannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2