
“Lu lumayan hebat juga ternyata,” puji pria bertato.
Aditya menghajar lawannya dengan membabi buta, serangan musuh seolah tidak dia rasakan sedikitpun. Tiga orang pria sudah tumbang oleh Aditya.
“Kalo cuma berhadapan sama sampah kayak kalian mah nggak perlu buang tenaga banyak,” ledek Aditya.
Kini hampir semua pria itu mengincar Aditya. Namun dengan sigap Dani menghalau dua orang dari mereka. Saat ini dani benar-benar kagum dengan kemampuan beladiri Aditya yang sangat hebat.
“Sayang sekali, gue bukan tipe orang yang mudah terpancing emosi,” jawab pria itu sambil tertawa.
“Sayang sekali juga, gue itu cowo normal mau lu tipe kayak gimanapun juga gue nggak tertarik.”
“Hahaha, kayaknya lu emang sudah bosen hidup!” bentak pria itu. kini dia turun tangan menghadapi Aditya.
Aditya menghadapi lima orang termasuk bosnya. Seorang pria menyerang dari samping, seorang dari belakang, pria bertatto dari depan. Namun Aditya berhasil menghindar dan menangkis semua serangan mereka. Dua orang menyerang dari setiap sisi namun Aditya melompat sambil menendang leher mereka hingga tersungkur.
Mereka berdua bangkit kembali, Aditya kembali diserang tiga orang namun dia dengan cepat merebut salah satu tongkat kayu milik musuhnya dan balik menghantam mereka hingga meringis kesakitan. Aditya memainkan tongkat itu di tangannya sambil memperlihatkan gerakan beladiri yang dia kuasai.
“Gimana, masih mau lanjut?” tanya Aditya sambil memberika isyarat tantangan kepada musuhnya.
“Cih. Tadinya gue mau biarin lu hidup. Tapi nyatanya lu sendiri yang lebih memilih mati,” ujar pria bertatto sambil menghunuskan pisau dari pinggangnya.
“Kita habisin saja mereka di sini Bos!”
“Kelihatannya mereka berniat membunuh kita Bos,” ujar Dani sambil berdiri di dekat Aditya.
“Dari tadi juga memang begitu, bedanya saat ini mereka menggunakan pisau saja,” jawab Aditya dengan santai.
“Sebaiknya mulai sekarang kamu jangan segan menyerang titik lemah mereka,” saran Aditya.
“Tapi kalau mereka mati gimana Bos?”
“Ya daripada kamu yang mati. Kita kan cuma membela diri.”
Semua musuhnya maju, Aditya menghantam tangan seorang pria hingga pisaunya terlempar. Dani dengan cepat menyapu kaki pria di depannya hingga tumbang, lehernya dengan cepat dihantam lagi oleh kaki Dani. Kelihatannya kata-kata Aditya tadi bisa menguatkan tekad Dani untuk tidak segan-segan menyerang titik vital lawannya agar bisa selamat.
__ADS_1
Aditya tersenyum. Dengan cepat dia melompat dan menghantam kepala seorang pria lagi hingga darah keluar dari hidung dan mulutnya, beberapa kali Dani terkena sabetan pisau si pria bertatto namun dengan cepat Aditya membantunya melawan pria itu hingga tersungkur ke tanah.
“Terima kasih Bos,” ucap Dani.
“Jangan lengah!” ujar Aditya.
Tiga orang pria maju menyerang Dani, salah satu tongkat kayu lawannya berhasil mengenai leher Dani hingga dia terkulai lemas ke tanah. Aditya semakin beringas ketika melihat Dani tumbang. Dengan cepat dia memutarkan kayu di tangannya hingga mengenai kepala dua orang lawannya.
“Gila ni orang kayak kesambet setan,” gumam pria bertatto.
“Kita sebaiknya bersamaan nyerang dia Bos,” ujar anak buahnya.
“Gue dari belakang.”
“Gue dari sampingnya. Bos dari depan.”
Mereka bertiga berbagi tugas untuk menyerang dari berbagai sisi. Mereka mulai melangkah berputar mengelilingi Aditya. Melihat hal itu Aditya tampak waspada sambil memainkan tongkat kayu di tangannya. Secara serentak mereka menyerang. Pria di belakang Aditya mengayunkan pisaunya.
Pria di sampingnya melayangkan tendangan sedangkan pria bertatto menghujamkan pisaunya ke arah perut Aditya. Dengan cepat tubuh Aditya berputar, dia menendang orang di belakangnya sedangkan tongkat kayu menghantam leher pria di sampingnya hingga tak sadarkan diri. Dia juga menghindari serangan pria bertatto.
Aditya balas menerjang pria bertatto dengan tehnik beladiri wing chun kecepatan tangannya benar-benar diluar nalar. Semua tinju dan pukulannya membuat pria bertatto tidak sadarkan diri. Secepat kilat dia juga menghajar orang terakhir hingga muntah darah dan terkapar di tanah.
“Kelihatannya dia hanya pingsan,” gumam Aditya sambil mngangkat Dani ke dalam mobil. Kemudian Aditya mencoba masuk ke dalam rumah namun gagal.
“Cih, kelihatannya di kunci dari dalam.”
Sementara itu di dalam kamar, Erik membaringkan Sherly di atas kasur. Dengan tatapan penuh nafsu Erik terlihat tertawa kecil. Dia kemudian meletakan Ponsel miliknya di tempat yang pas agar bisa merekam semua kejadian di kamar itu.
“Dengan begini dia tidak akan tunduk kepadaku, jika tidak ingin vidionya aku sebarkan,” gumam Erik.
“Aku tidak pernah menyangka jika ada wanita yang mampu mengalihkan perhatianku dari Frita. Yah walau begitu, aku masih lebih memilih Frita sebagai istriku, mungkin dirimu hanya akan jadi simpananku.”
Dia kemudian melepas semua pakaiannya sambil bersiul hingga tidak tersisa sehelai benangpun. Perlahan dia mendekati tubuh Sherly, harum tubuhnya membuat nafsu Erik semakin membara. Perlahan dia membuka kancing baju Sherly.
“Ekhem..” Aditya batuk di ambang pintu sambil merekam semua aktivitas Erik dengan ponsel barunya. Erik menoleh karena kaget.
__ADS_1
“Duh maaf ganggu, silakan diteruskan lagi bos,” ujar Aditya. Erik kemudian meneruskan membuka baju Sherly. Aditya terkejut, kelihatannya Erik sudah tidak waras lagi. Dengan cepat dia menendang Erik hingga tersungkur.
“Lu ngapain ganggu hah!” bentak Erik.
“Lu sudah nggak waras ya?!” jawab Aditya.
“Kalau lu mau, kita bisa gantian tapi gue dulu!”
“Eh lu pikir gue sebejat lu ya?”
Erik baru sadar ternyata yang ada di sana adalah Aditya, sambil merekam semua aktivitasnya. Dengan cepat dia mengambil bantal untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bulat. Aditya pikir mungkin awalnya Erik mengira dia adalah anak buahnya karena terlalu fokus dengan tubuh Sherly.
“Lu kenapa bisa sampai masuk ke sini hah?” tanya Erik sambil merangkak mendekati pakaiannya, namun dengan cepat Aditya melempar pakaian Erik ke luar kamar.
“Lu pikir gue bakalan mati gitu? Sampe segitu pedenya nggak ngunci pintu kamar,” jawab Aditya.
“Habisi orang ini! Dia ada di dalam rumah!” teriak Erik dengan keras memanggil anak buahnya.
“Percuma, semua anjing liar di rumah ini sudah terkapar,” jawab Aditya dengan santai.
“Eh lu jangan ngerekam gue ya! Kalau nggak lu bakalan nyesel!” gertak Erik, padahal tubuhnya sendiri sudah gemetar ketakutan.
“Sorry, rasa takut gue udah gue jual,” jawab Aditya sambil tertawa kecil. dia menyadari jika Erik juga merekam semua kejadian di kamar itu. dia kemudian menghentikan rekaman video di ponsel Erik dan menghapus filenya.
“Begini saja. gue mau lu membayar semua hutang perusahaan lu kepada perusahaan Glow & Shine Co hari ini juga! Kalau nggak gue bakal sebarin video ini biar seluruh dunia tahu termasuk Frita!” ancam Aditya.
“Jangan aku mohon jangan sebarin, jangan sampai Frita tahu masalah ini. Aku nggak bisa hidup tanpa Frita,” rengek Erik.
“Oke, asal lu membayar hutang perusahaan lu hari ini juga!”
“Pasti! pasti aku bayar, gue juga bakalan tambahin lima puluh juta asal video itu jangan disebarin.”
“Oke setuju. Kalau begitu transfer uangnya sekarang juga!” perintah Aditya sambil menyodorkan ponsel Erik.
Erik sambil gemetaran mencoba mengirimkan pembayaran hutang perusahaannya melalui internet banking. Setelah selesai dia kemudian menunjukan buktinya kepada Aditya. Dia kemudian meminta Aditya menghapus videonya. Aditya lalu menunjukan bahwa video itu sudah di hapus. Dia juga mengancam Erik agar jangan melibatkan polisi, Erik hanya mengangguk.
__ADS_1
“Oke, gue anggap masalah ini sudah selesai. Tapi karena sudah nyusahin gue, lu bakal gue kasih hadiah perpisahan,” ucap Aditya sambil tersenyum.
BERSAMBUNG…