Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 92


__ADS_3

“Lama tidak berjumpa Aditya,” sapa ketua geng Merak dengan ramah.


“Anda benar-benar masih menjabat sebagai ketua geng ini?” tanya Aditya seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.


“Kenapa, apa karena aku sudah kakek kakek?”


“Bukan, saya hanya kagum karena di usia anda saat ini masih bisa mengatur geng sebesar ini. Itu berarti kekuatan anda masih disegani oleh semua anak buah anda.”


“Hahaha, aku mungkin masih bisa mengimbangimu, sama seperti dulu.”


“Saya awalnya berpikir jika geng Merak telah melakukan penculikan kepada kenalan saya. Tapi jika anda masih menjabat sebagai ketua mungkin hal itu memang tidak akan pernah terjadi.”


“Kamu terlalu berlebihan Aditya, bisa saja ada beberapa anak buahku yang membangkang dan melakukan hal itu. Tapii saat ini aku bisa pastikan jika mereka tidak melakukannya.”


“Sekali lagi saya minta maaf.”


“Heh, makanya lain kali jangan asal serang saja,” gerutu Viktor.


“Sudahlah Viktor, dia hanya salah paham. Lagipula sudah sewajarnya dia mencurigai kita.”


“Baik Ketua.”


“Aku ingin mengobrol sebentar dengan Aditya, kalian bisa keluar.”


Semua orang yang ada di sana hendak keluar. Viktor dengan terpaksa juga keluar dari ruangan itu. Aditya hanya terdiam, dia sekarang mulai memikirkan kemungkinan lainnya. Ratna juga hendak keluar namun Ketua geng Merak mencegahnya. Ratna terlihat heran lalu menanyakan alasannya.


“Aku memang tidak mau orang lain mendengar pembicaraan tidak penting kami. Tapi untuk cucuku sendiri, aku ingin kamu ikut dalam pembicaraan ini.”


“Cucu?” tanya Aditya kaget sambil menatap Ratna yang tersenyum malu.


“Ya, dia adalah cucu kandungku, Ratna Riani. Jika kalian bersikap seperti itu kelihatannya kalian berdua sudah pernah bertemu sebelumnya.”


“Ya, aku pernah bertemu dengannya saat balapan.”

__ADS_1


“Menarik sekali, aku malah ingin melihatnya. Lalu siapa yang menang.”


“Yang menang adalah Aditya kek. Dia benar-benar pembalap yang gila,” sela Ratna sebelum Aditya menjawab.


“Hahaha dia memang sudah gila dari dulu. Beberapa pembalap liar asing juga pernah menantangnya ketika hendak membeli barang di pasar gelap. Tapi mereka semua kalah.”


“Aku sebenarnya penasaran dari tadi, sejak kapan kamu mengenal kakek ku?” tanya Ratna sambil menatap tajam Aditya. Ketua geng Merak dan Aditya saling pandang.


“Aku dan kakekmu, Bima Anggara. Sudah mengenal sejak lama. Waktu itu aku masih jadi tangan kanan Ketua geng Gagak,” jelas Aditya, baru juga segitu Ratna terlihat sudah sangat terkejut mendengarnya.


“Kamu dulu tangan kanan ketua geng Gagak?” tanya Ratna.


“Dia bahkan lebih berkuasa daripada ketuanya sendiri, bisa dibilang yang membuat geng Gagak bisa bersaing dengan dua geng besar lainnya adalah Aditya,” jawab Bima.


“Tapi aku pernah dengar jika setelah kamu keluar dari geng Gagak, kamu membentuk geng baru kan?” tanya Bima.


“Aku memang pernah membuat geng baru dengan nama Kujang. Aku sebenarnya hanya ingin mencari sebuah jawaban. Tapi setelah aku tidak menemukannya aku memutuskan untuk meninggalkannya.”


“Geng Kujang yang sekarang dipegang Putra Wacana?” tanya Ratna semakin kaget.


Bima Anggara hanya tersenyum, dia paham maksud Aditya. Mata Ratna semakin berbinar karena kagum kepada Aditya. Dia tidak menyangka jika orang seperti Aditya dulunya adalah orang yang sangat hebat.


“Lalu saat ini, apa kamu sudah menemukan jawaban yang kamu cari?” tanya Bima.


“Memang belum, tapi aku merasa jika aku saat ini sudah berada di jalan yang tepat untuk meraihnya,” jawab Aditya dengan mantap.


“Jawabanmu tadi belum memuaskan loh, kapan dan kenapa kamu bisa mengenal kakek ku?” tanya Ratna, dia terlihat berusaha untuk terus bisa berbincang dengan Aditya.


“Oh, itu dulu saat aku masih menjadi tangan kanan ketua geng Gagak. Aku terlibat konflik dengan geng Merak. Waktu itu kalau tidak salah aku merebut klien kakekmu yang ingin membeli beberapa senjata. Mulai saat itu kami sering terlibat keributan.”


“Lalu kenapa kalian bisa tiba-tiba jadi akrab betgini?”


“Dulu kami berdua pernah dijebak oleh intel bayaran. Ketika kami sedang berkelahi tiba-tiba beberapa polisi datang menyergap. Pada akhirnya kami harus bekerja sama untuk melarikan diri, aku hamper tertangkap waktu itu tapi kakekmu malah menolongku,” kenang Aditya.

__ADS_1


“Dulu dia benar-benar anak yang keras kepala, dia merasa paling kuat dan bisa mengatasi lawan seperti apapun. Makanya sekarang aku kaget ketika dia bisa bersikap tenang seperti ini,” timpal Bima. Aditya langsung tertunduk.


“Kelihatannya dia kembali mengalami kejadian mengerikan untuk kedua kalinya,” ujar Bima sambil tersenyum.


Aditya hanya tersenyum, Ratna tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan mereka berdua. Tapi dia paham jika bertanya pun mereka mungkin tidak mau mengatakannya. Dia bisa merasakan kesedihan dari Aditya ketika kakeknya membahas masa lalunya.


“Ngomong-ngomong Aditya. Menurutmu cucuku ini orangnya seperti apa?” tanya Bima, Ratna langsung cemberut karena mereka malah membahas dirinya.


“Gimana ya, dia orang yang temperamental. Nekat, tidak mau kalah, mungkin hampir sama seperti anda,” jawab Aditya sambil tertawa diikuti oleh Bima.


“Tapi, kemampuan menyetirnya benar-benar hebat. Selain itu dengan penampilan dan kecantikannya dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau,” tambah Aditya. Ratna mulai salah tingkah.


“Lalu jika kamu memang tertarik kepadanya, kenapa tidak kamu jadikan istri saja,” ucap Bima sambil tersenyum.


Aditya terdiam bingung, sementara Ratna teersipu malu dia tidak menyangka jika kakeknya akan berbicara seperti itu di depan Aditya. Sementara itu Aditya benar-benar tidak tahu apa yang harus dia katakan saat ini. Ucapan Bima malah mengingatkannya kepada Frita.


“Ih kakek kalo bercanda suka berlebihan deh,” ujar Ratna sambil cemberut.


“Hahaha maaf, aku cuma bergurau. Tapi jika memang benarpun aku sebenarnya tidak masalah,” kata Bima. Aditya ikut tertawa untuk menutupi kebingungannya.


Bima kemudian membicarakan masalah penculikan, dia bilang jika sebenarnya geng Merak menerima info bahwa Aditya di culik dari seorang anggoranya. Ratna juga bilang kalau dia selama beberapa hari sudah mencari Aditya ke beberapa tempat termasuk perusahaan Glow & Shine, namun dia tidak mendapatkan info jelas keberadaan Aditya.


Setelah puas berbincang Aditya pamit pergi, dia ingin segera kembali ke rumah sakit sebelum Frita datang. Ratna kemudian menyiapkan mobilnya untuk mengantar Aditya. Sepanjang perjalanan Ratna terus bersikap lembut dan ramah kepada Aditya, hal itu membuat Aditya semakin bingung dengan perasaan di hatinya.


“Aku senang kamu baik-baik saja Dit aku sangat khawatir kalau kamu kenapa-napa,” ucap Ratna.


“Aku baik-baik saja kok Rat.”


“Kapan-kapan kalau ada waktu kamu bisa mampir kok ke rumah kami. Aku yakin kakek akan semakin senang. Aku baru kali ini melihat kakek bisa tertawa lepas seperti itu. Aku senang jika kakek bisa tertawa bahagia seperti itu.”


“Kalau ada waktu aku pasti mampir kok. Aku juga senang bisa bertemu kakekmu lagi, beban di pikiranku saat ini serasa semakin ringan.”


“Kamu bisa kok curhat denganku.”

__ADS_1


Aditya hanya tersenyum. Mereka sudah sampai di halaman rumah sakit. Aditya keluar bersama dengan Ratna. Frita yang juga baru datang dari rumahnya terdiam sambil menatap mereka berdua. Aditya dan Ratna melihat kekesalan di wajah Frita ketika pandangan mereka bertemu.


BERSAMBUNG…


__ADS_2