Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 239


__ADS_3

Aditya melangkah masuk ke ruang tamu Paman Salim.


Ia segera menghampiri sang paman yang duduk di kursinya di samping Deri.


“Paman, tidak apa-apa?” tanya Aditya cemas.


“Aku baik-baik saja, Dit,” jawab Paman.


“Loe gimana?” tanya Yusi pada Deri.


“Parah. Teman Dirga yang namanya Bandi itu menuduhku membunuh sobatnya dan juga adik kandungnya!” terang Deri dengan kesal.


“Tapi mereka tahu kamu bukan pelakunya, bukan?”


“Ya, jelas.”


Deri lalu menceritakan siapa-siapa saja yang mati mendadak sampai sore ini. Total sudah ada 38 orang. Tambahan seorang lagi sepanjang perjalanan mereka dari lapangan kecamatan kemari, yang cukup Aditya kenal sebab dulu teman masa kecilnya.


Banyak nama yang Aditya kenal dalam daftar korban yang Deri sengaja buat. Dari daftar itu, terlihat benar si pelaku melakukannya tanpa motif. Bahkan sangat acak dan tak teratur. Cara kematian para korban juga berbeda-beda.


“Ada yang mencurigakan akhir-akhir ini?” tanya Aditya.


“Kami baru tiba dari Bandung saat Dirga dikabarkan mati kemarin. Tapi semua kata warga normal saja. Tidak ada yang aneh,” jawab Deri dengan ekspresi yakin seratus persen.


“Ada orang-orang asing ke desa ini?”


“Tidak juga.”


Aditya merasa aneh, tapi sangat mungkin pelakunya bersembunyi di tempat tertentu di sudut desa. Paling mungkin ada di hutan di sisi tengggara dan timur desa. Di sana ada hutan jati yang tak terlalu luas. Mungkin warga harus mencarinya ke sana.


“Nanti malam warga mulai ronda lagi. Pintu-pintu dikunci. Semua sudah sepakat untuk bekerja sama,” kata Deri.


Aditya merasa semua sudah berjalan dengan semestinya. Maka, ia memutuskan untuk pergi dulu ke kamar mandi. Mengguyur kepalanya sebentar di sana rasanya akan sangat baik baginya.


Ketika keluar dari kamar mandi, Aditya terkejut melihat sosok Ratna ada di situ.


“Ratna?! Kamu kenapa ada di sini?!” tanya Aditya yang kini terlihat memiliki luka di bagian dadanya.

__ADS_1


Perbannya harus diganti. Jahitan si perawat di rumah Sherly tadi malam sepertinya juga sudah terlepas entah kenapa.


“Kamu kenapa ini?” tanya Ratna lalu menghampiri Aditya.


“Certianya panjang.”


Ratna meminta tolong Garin yang mengantarnya ke sini untuk mengambilkan kotak P3K di mobilnya.


“Di dash board, tertutup kain lap,” teriak Ratna pada Garin yang sudah berlari ke luar rumah.


“Oke,” sahut Garin terdengar samar suaranya.


Beberapa detik kemudian, mereka masih belum mencurigai sesuatu.


Setengah menit berlalu, ketika Aditya sudah terlalu lama duduk sementara Ratna berada di depannya sembari memeriksa lukanya, Garin belum juga balik.


“Loe ke mana aja sih, Gar?” teriak Ratna kesal. Lalu gadis itu pun menyusul sang teman keluar.


Aditya, Deri, Yusi, dan Paman Salim terkejut mendengar teriakan Ratna yang begitu keras dan tiba-tiba.


Ratna menjerit sebab melihat Garin kini sudah berbaring tak bernyawa, dengan luka tembak di kepalanya. Ia berbaring persis di samping mobil Ratna, dengan tangan yang memegang kotak P3K.


“Ya, sekarang apa yang kita lakukan?” tanya Yusi.


Ratna merasa tak ada waktu untuk bersedih. Mereka berlarian kembali ke dalam rumah Paman Salim setelah ia memungut kotak P3K tersebut.


“Dit, sini kuganti perbanmu!” kata Ratna dengan wajah tegang. Air mata mengalir di wajahnya, tapi gadis itu terlihat siap jika diminta untuk menghajar seseorang.


Masalahnya, Ratna dan Aditya tak tahu siapa yang harus mereka hajar.


Aditya sempat bertanya saat Ratna merawat luka di dadanya, “Kenapa kamu bisa ada di sini, Ratna?”


“Aku menyadap teleponmu, Dit. Maafkan aku ya,” jawab Ratna datar.


“Tapi, kamu tahu tempat ini, desaku ini, sekarang sedang dalam bahaya, kan?” kata Aditya.


“Ya, aku tahu dan aku memang berniat membantu.”

__ADS_1


Aditya terdiam sejenak, lalu kembali bersuara setelah Ratna kelar mengikat perban di dadanya, dan segera bersiap mengambil senjata di mobilnya dengan sangat hati-hati. Gadis itu mengendap-endap ke arah pintu depan.


“Tunggu, kamu ke mana?” tanya Aditya.


“Senjataku di mobil!”


“Pakai ini saja, Ratna!” potong Yusi, yang menyodorkan tas milik Aditya. Di sana ada sejumlah senapan dan pistol dan entah senjata apa pun yang memungkinkan untuk situasi mereka saat ini.


Paman Salim diminta berdiam diri di bawah kolong meja, di sudut ruangan di mana terdapat sebuah lemari dan tumpukan kayu di dekatnya, sehingga posisi itu akan aman baginya. Tak ada penembak jitu atau penyerang yang bisa melukainya. Penyerang, siapa pun dia, harus melalui pintu depan dan belakang yang kini dijaga mereka berempat.


“Menurutmu, ini ulah siapa?” tanya Aditya pada Ratna.


“Mungkin aku sedikit tahu informasi tentang orang itu. Beberapa menit yang lalu aku meminta bantuan hacker kenalanku untuk melacak aktivitas mencurigakan dari desa ini melalui satelit, dan ketemu.” Ratna membuka ponsel pintarnya dan menunjukkan sebuah foto.


“Siapa dia?”


“Takeshi Yobu. Samurai asal Jepang. Tentara pecatan karena melanggar peraturan. Kabarnya juga pembunuh bayaran. Tapi cuma itu yang bisa kita tahu,” jelas Ratna.


Aditya memandangi foto Yobu. Alis tebalnya yang menunjukkan ketegasan. Mata tajamnya yang menandakan kekeraskepalaan. Entah siapa orang ini dan apa urusan dia membunuh orang-orang desa.


Karena situasi di luar sana sangat gelap, Aditya dan yang lain hanya bisa menunggu sampai kiranya penjahat itu menyerang mereka. Mungkin saja Yobu tak bekerja seorang diri, bisa jadi ia membawa entah berapa orang anak buah, bukan?


“Di sini tertulis ia selalu bekerja seorang diri. Sosok lone wolf yang misterius dari lembah berhantu di Jepang. Itu julukannya,” kata Ratna.


“Bisa jadi itu tipuan. Agar orang seperti kita tak waspada,” ujar Aditya.


Mereka tetap di posisi itu sampai esok tiba. Ketika suasanya sudah sangat terang, di luar kehidupan berjalan sangat lamban. Hanya segelintir orang yang berani keluar demi mencari nafkah. Sebagian besar tetap mengurung diri.


“Aku tak tahu mesti sampai kapan harus begini? Kita harus memburu Takeshi Yobu, karena kalau tidak, kita kehabisan waktu! Kita tak tahu apa saja yang sudah dia miliki sejauh ini!” kata Aditya.


Saat itulah terdengar telepon dari Bandung. Sebuah kabar menggembirakan, bahwa Christian Santoso berhasil ditangkap usai melakukan perlawanan. Adu tembak dengan Skuad Malam membuatnya terluka dan ia mengumpat tidak keruan selama perjalanan digiring ke kantor polisi.


Aditya senang Frita dan keluarganya mendapatkan keadilan. The Green Devil kini juga sudah harus lebih hati-hati berkeliaran, sebab polisi mengetatkan pencarian pada sosoknya.


Yang membuat Aditya belum tenang justru sosok lain tak dikenal bernama Takeshi Yobu ini.


“Siapa dia dan apa maksudnya menyerang desa ini? Apa firasatku benar? Ah, tapi itu tak mungkin. Sangat tidak mungkin!”

__ADS_1


Aditya tak berhenti bertanya-tanya sampai sang paman akhirnya tertembak siang itu juga.


Besambung...


__ADS_2