
“Aaaa…” teriak orang yang ada di dalam toilet. Sontak teriakan itu membuat si pria kaget dan menyembunyikan pisau dengan cepat ke dalam bajunya lalu menutup pintu itu lagi. Dia tidak menyangka ternyata orang yang ada di dalam bukanlah Aditya.
“Maaf pak tadi saya buru-buru,” kata pria itu sambil berbalik hendak keluar. Namun dia dikagetkan dengan sosok Aditya yang sudah berdiri di pintu keluar.
“Kenapa mas?” tanya Aditya.
“Tadi saya buru-buru masuk ke toilet eh ada orangnya pak,” jawab si pria sambil tertawa kecil.
“Terus sekarang nggak jadi ke toiletnya?”
“Nggak pak udah nggak mules lagi, permisi pak,” jawab pria itu sambil melangkah melewati Aditya.
“Tunggu mas,” kata Aditya setelah pria itu melangkah agak jauh.
“Kenapa pak?” tanya pria itu berbalik.
“Dompetnya jatuh,” jawab Aditya sambil menunjuk dompet pria itu di lantai.
Hal itu membuat si pria terkejut dan meraba saku celananya tapi ternyata benar jika dompetnya tidak ada. Setelah mengambil dompet itu dia segera pergi meninggalkan Aditya. Aditya sendiri pergi menuju ke gedung keamanan.
***
Beberapa hari sudah berlalu sejak penangkapan William, kini kegiatan di perusahaan sudah berjalan normal seperti biasa lagi. Karyawan lama juga dipanggil untuk kembali bekerja. Kini setiap bagian di perusahaan menjadi ramai kembali. Semua karyawan akhirnya bisa bernafas lega karena semua kebijakan yang merugikan sudah dihapus oleh Pandu.
“Akhirnya kondisi perusahaan kembali normal,” ucap Dani.
“Ya, aku juga tidak menyangka jika pak Pandu bisa memulihkan perusahaan secepat ini, dia benar-benar hebat.” Jawab Aditya.
“Hei semuanya bagaimana kalau malam ini kita makan-makan untuk merayakan kebebasan kita kembali,” teriak Jana.
“Gue setuju. Sudah lama juga rasanya nggak makan bersama,” timpal Wira.
“Setuju!”
“Bagian keamanan juga ikut!”
“Okelah, gue punya rekomendasi restoran paling enak tapi murah nih!” teriak seseorang sambil menunjukan alamat di map ponsel.
“Lu pernah ke sana?”
“Gue belum sih, Cuma kata temen gue restoran ini bagus banget, lantai dua lagi.”
“Oh kata karyawan baru itu ya?”
__ADS_1
“Iya, dia bilang ada kenalannya yang bekerja di restoran itu, jadi kita bisa booking dengan harga murah juga.”
“Oh gue juga tahu tuh. Gimana kalau tempat itu kita booking malam ini?”
“Setuju!” jawab beberapa orang serentak. Aditya hanya tersenyum melihat semua orang kembali bersemangat seperti itu.
“Kamu juga ikut kan bos?” tanya Dani.
“Boleh tuh, lagian sudah lama juga aku nggak makan bareng-bareng begitu,” jawab Aditya. Setelah semua setuju mereka sepakat akan bertemu di restoran itu malam nanti.
Sore harinya Aditya bersama Frita pulang dari perusahaan. Kebahagiaan tersirat jelas di wajah Frita. Beberapa hari ini dia akhirnya kembali ceria setelah perusahaannya kembali normal seperti biasanya.
“Malam ini enaknya makan di mana ya Dit?” tanya Frita.
“Memangnya kenapa Mbak?”
“Ih, kalau lagi berdua kayak begini jangan panggil mbak deh,” kata Frita dengan kesal.
“Iya.”
“Malam ini aku mau ngajak ayah sama Clarissa makan di luar. Kamu ikut ya Dit.”
“Kalau malam ini nggak bisa, aku sudah ada janji sama temen.”
“Ih kamu itu selalu saja begitu, siapa sih? Sherly? Atau wanita nakal cucunya kenalan kamu?” tanya Frita sambil cemberut.
“Ish.”
Malam harinya Aditya berpamitan kepada Pandu untuk pergi ke restoran yang sudah disepakati. Pandu mengizinkannya. Sementara Frita terlihat masih kesal karena ajakannya sampai saat ini selalu ditolak Aditya, dia juga curiga jika Aditya malah ketemuan dengan Sherly atau Ratna. Aditya berangkat menggunakan taksi online.
Aditya akhirnya sampai di restoran yang menjadi tujuannya. Letaknya memang di pinggiran kota bandung dan agak jauh dari bangunan lainnya. Tapi teman temannya bilang bahwa biasanya restoran ini selalu ramai karena makanannya yang enak dan harganya juga murah, selain itu pemandangan di sekitarnya juga cukup menarik.
“Sepi amat, apa karena sudah di booking ya?” gumam Aditya.
“Hey bos, baru sampe juga?” tanya Dani yang baru sampai dengan ojek.
“Iya nih Dan.”
“Wah, dari luarnya sih lumayan ini, kok bisa murah begitu ya harganya,” ujar Dani.
“Katanya temannya dia punya orang dalam di sini jadi harganya jadi murah,” jawab seorang sopir yang baru sampai ke sana.
“Ayo kita masuk, kelihatannya sudah ada beberapa orang yang sudah menunggu di dalam,” ajak sopir itu.
__ADS_1
Mereka bertiga masuk ke dalam. Ternyata di sana baru ada empat orang. Heni dan tiga orang anggota bagian keamanan. Di meja mereka juga sudah ada beberapa minuman dan makanan ringan yang tersedia.
“Baru segini doang yang datang?” tanya Dani.
“Iya nih padahal sudah lewat beberapa menit loh dari waktu janjian,” jawab Heni sambil melihat jam tangan.
“Loh, padahal diluar aku lihat ada motor milik Wira,” kata Aditya.
“Iya ya,” timpal sopir.
“Mungkin itu motor milik pelayan yang sama persis,” jawab seorang wanita dari bagian keamanan.
“Mana pelayannya?” tanya Dani.
“Noh dia,” jawab Heni sambil menunjuk pelayan yang datang.
“Maaf pak, bu, ini minumannya dulu ya, makanan utamanya mau dibawa sekarang?” ujar si pelayan sambil menaruh beberapa meinuman.
“Nanti saja mbak kalau sudah datang semuanya. Sekarang makanan ringannya saja dulu,” jawab Heni.
“Kamu sakit Mbak? Pucat amat,” tanya Aditya.
“Eh, nggak pak saya cuma kecapean dikit, soalnya hari ini saya lembur.”
“Hati-hati mbak minum banyak Vitamin dan banyakin istirahat, nanti sakit loh,” kata Dani sambil tersenyum.
“Huu modus!” ledek semua orang di sana.
Pelayan itu hanya tersenyum. Lalu pergi kembali ke dapur. Aditya terus memperhatikan keadaan di sana. Baginya terlalu banyak hal yang janggal di restoran ini. Kasir satu orang, pelayan satu orang entah ada berapa chef yang sedang berada di dapur.
“Kok pelayannya cuma sendirian ya?” tanya Aditya.
“Mungkin mereka mengira yang membooking restoran ini hanya sedikit kali,” jawab seorang bagian keamanan.
“Tetap saja terlalu aneh menurutku,” gumam Aditya.
“Oh iya, aku ke toilet dulu ya,” ujar seorang sopir yang masuk bareng tadi. Dia kemudian pergi menuju toilet, mata kasir terus memperhatikannya dengan wajah cemas.
Beberapa menit berlalu empat orang kembali datang ke restoran, sekarang di restoran itu baru berkumpul sebelas orang. Namun sopir tadi masih belum kembali dari toilet. Hal itu membuat Aditya mulai khawatir. Seorang pria dari bagian keamanan pergi ke toilet. Tiba-tiba dia terdengar berteriak keras sambil meminta tolong.
Dani, Aditya dan dua pria lainnya pergi menuju toilet untuk mengecek ke toilet. Mereka berempat kaget ketika melihat pria yang tadi masuk ketakutan dan wajahnya pucat. Dani dan Aditya segera mengahmpirinya.
“Ada apa bro?” tanya Dani.
__ADS_1
“Itu.. lihat, itu..” jawab pria itu sambil menunjuk ke dalam toilet. Sontak semua orang melihat ke dalam toilet. Mata mereka terbelalak melihat sopir yang belum kembali tadi sudah terkapar bersimbah darah.
BERSAMBUNG…