
Kedatangan Aditya ke rumahnya membuat Ratna terlihat senang. Dia bahkan langsung datang menyambutnya ke depan pintu rumah. Beberapa anggota geng yang belum pernah melhat Aditya terlihat terkejut.
“Oh Aditya, kenapa tidak bilang mau ke sini? Silakan duduk,” sapa Bima yang sedang duduk bersama para petinggi geng Merak.
“Saya buru-buru datang kemari,” jawab Aditya sambil duduk bersama Ratna.
“Apa yang membuatmu datang kemari?” tanya Viktor.
“Aku dapat kabar kalau Jaja mengundang semua geng yang ada di Bandung untuk bertemu malam ini di Villa miliknya,” jawab Aditya. hal itu membuat semua orang yang ada di sana terkejut karena ternyata Aditya mengetahui undangan Jaja.
“Lalu apa yang membuatmu datang ke sini?” tanya Bima.
“Saya hanya ingin tahu lebih jelas terkait undangan itu.”
“Geng Serigala mengundang kami ke markas besarnya malam ini dia bilang ingin membuat kesepakatan dengan semua geng di kota ini. Sekaligus ingin mengembalikan beberapa wilayah yang berhasil dia rebut dari geng lain,” jelas Brian.
“Lalu kalian akan menghadirinya begitu saja?” tanya Aditya dengan wajah serius.
“Kami tidak sebodoh itu, kami baru saja menyusun rencana agar tidak terjadi hal-hal yang diluar dugaan,” jawab Viktor.
“Memangnya menurutmu apa sebenarnya maksud Jaja dibalik ini semua?” tanya Bima dengan menatap tajam Aditya.
“Saya belum yakin tentang tujuan Jaja yang sebenarnya, tapi dia bukanlah orang baik seperti itu. Dia tidak akan mengumpulkan semua geng di kota Bandung jika tidak mendapatkan keuntungan dari itu semua. Karena itulah sebaiknya jangan pergi,” jawab Aditya.
“Masalahnya dia juga mengancam jika ada geng yang mendapat undangan namun tidak pergi ke acara itu maka dia akan dianggap musuh oleh semua geng dan akan diserang oleh semuanya,” kata Ratna.
“Ho, jadi dia tidak memberi pilihan kepada geng manapun selain datang ke acaranya ya, benar-benar licik,” gumam Aditya.
“Kami sudah menyusun rencana bahwa kami akan tetap pergi hanya saja kami akan membawa semua anggota geng kami. Selain itu Ketua akan tetap tinggal di sini, kami khawatir jika Jaja sengaja menjebak Ketua agar hadir di acara ini,” jelas Brian.
“Itu keputusan yang bagus, lagipula geng lain juga pastinya akan membawa semua anggotanya untuk berjaga-jaga. Kalau begitu aku ikut dengan kalian semua.”
“Jangan, kamu sebaiknya tinggal di sini bersama kakek, aku akan semakin tenang jika kamu ikut menjaga kakek,” tolak Ratna.
“Tapi jika terjadi sesuatu maka akan terjadi perang besar di tempat itu.”
“Kali ini aku setuju dengan Ratna. Jika memang perang itu terjadi kami yakin setidaknya kami bisa menghindarinya dengan aman,” sela Brian.
“Kamu sebaiknya menjaga Ketua di sini. Terlebih aku khawatir kalau Jaja kembali mengetahui rencana kami ini,” tambah Viktor.
__ADS_1
“Aku juga sebenarnya tidak ingin membiarkan mereka pergi sendiri Dit. Hanya saja itu adalah keputusan mereka,” kata Bima. Kata-kata Bima barusan mengingatkannya dengan kata-kata Leo dahulu waktu mereka berlari meninggalkan Frans dan Kaila.
“Kalau begitu aku tidak bisa memaksakan keinginanku lagi. Tapi aku meminta satu hal darimu Rat,” ujar Aditya sambil menatap Ratna.
“Aku nanti akan meneleponmu. Pastikan kamu tidak memutuskan panggilan telepon itu agar kami juga bisa mendengar apa yang terjadi dalam pertemuan nanti,” kata Aditya.
“Jangan khawatir aku akan melakukannya,” jawab Ratna sambil tersenyum.
“Sekarang mari kita membahas rencana untuk mengantisipasi jika sesuatu yang buruk terjadi dalam pertemuan itu,” kata Bima.
“Jika boleh memberi saran, aku punya sebuah rencana untuk mengantisipasinya,” kata Aditya sambil tersenyum.
“Baiklah. Coba jelaskan,” perintah Bima dengan tatapan tajam.
***
Arya terlihat sangat sibuk di ruangannya. Dia sengaja ingin menyelesaikan tugasnya di kantor agar bisa segera pulang ke rumahnya. Terlebih malam ini dia akan menghadiri pertemuan semua geng yang akan dilaksanakan di markas besar gengnya.
“Sibuk banget kayaknya,” ledek Jimmy saat masuk ke dalam ruangannya.
“Sibuk, sibuk bantuin kek,” jawab Arya singkat.
“Haha memangnya kamu mau ke mana sih pagi-pagi begini sudah sibuk?”
“Cie yang istrinya sedang hamil tua sampe segitunya.”
“Iyalah orang sebentar lagi jagoanku lahir masa dibiarin begitu saja, Cuma saat ini aku sedang sibuk cari nama buat putraku nanti.”
“Emangnya anakmu laki-laki Ar?”
“Kata Dokter sih begitu waktu di cek di rumah sakit.”
“Kenapa tidak cari di internet saja? Kan banyak di sana.”
“Aku ingin menemukannya dengan hatiku sendiri, sudahlah gue mau cepet pulang,” kata Arya sambil membereskan pekerjaannya yang sudah selesai.
“Duh enak banget bisa cuti kayak begitu mah,” ledek Jimmy sambil tertawa.
“Makannya buruan nikah jangan ngarep Frita mulu,” balas Arya sambil melangkah pergi. Arya mengemudikan mobilnya menuju rumah. Diperjalanan dia menelepon seseorang.
__ADS_1
“Ada apa Ar bukannya kamu sedang sibuk?”
“Pekerjaan saya sudah selesai. Saya hanya ingin memberitahu anda kalau saya mendengar rumor kalau malam ini semua geng yang ada di kota Bandung akan berkumpul di salah satu bar milik geng Serigala.”
“Apakah kepolisian tahu hal itu?”
“Sepertinya belum, saya juga hanya mendengar sekilas saja karena yang tahu kepastiannya hanya Ketua dan wakilnya saja. Siang ini saya akan berangkat ke sana untuk memastikannya sendiri. Jika memang benar barulah saya akan mengabarkannya lagi kepada anda. Karena bisa saja itu hanya desas desus palsu.”
“Baiklah aku mengandalkanmu Ar. Tapi berhati-hatilah jangan membuat kesempatan kita lepas begitu saja. Aku khawatir mereka merencanakan sesuatu yang buruk.”
“Siap!” jawab Arya sambil mengakhiri panggilannya. Dia kemudian memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal menuju rumahnya. Sesampainya di rumah terlihat Mia menyambutnya dengan senang. Arya kemudian mengelus perut istrinya itu dengan lembut.
“Bagaimana mas, apa sudah dapat nama yang bagus untuk putra kita nanti?” tanya Mia.
“Belum Mi, aku sejak malam terus corat coret di buku tapi belum dapat yang pas,” jawab Arya sambil tersenyum.
“Di buku?”
“Ya, di buku diariku yang ada di kamar.”
“Kamu ini aneh mas, kenapa nggak cari saja yang bagus dari internet?”
“Aku ingin menamainya dari lubuk hatiku sendiri,” jawab Arya sambil berganti pakaian.
“Kamu mau ke mana lagi?”
“Aku ada tugas di luar sebentar, nanti malam aku kembali kok.”
“Ih, nggak makan siang di rumah dulu?”
“Nanti saja deh kita makan malam bareng ya, hari ini tugasnya cukup penting jadi nggak bisa aku tinggal begitu saja.”
“Kamu ini benar-benar pekerja keras ya.”
“Iya dong. Itu juga kan yang membuatmu jatuh cinta?” ucap Arya sambil mengecup kening istrinya.
“Papa nanti malam pulang ya de, jagain mama ya,” kata Arya sambil mengelus dan mencium perut istrinya.
Arya kemudian pergi sambil tersenyum melihat Mia yang melambaikan tangannya. Sejak istrinya hamil dia merasa begitu bahagia. Mereka berdua bahkan sudah mempersiapkan semua kebutuhan calon anak pertama mereka jauh-jauh hari.
__ADS_1
Mereka sepakat jika anaknya perempuan maka Mia yang akan menamainya, jika laki-laki maka Arya yang akan memberinya nama walaupun saat ini dia masih bingung dengan nama calon putranya.
BERSAMBUNG…