
Aditya segera mengajak Clarissa dan Arnold untuk kembali pulang. Situasi di jalan itu tampak semakin ramai, hal ini membuat Aditya semakin khawatir. Banyak sekali orang orang sangar yang kemungkinan besar merupakan anggota geng berdatangan ke sana.
“Makin rame saja ya di sini,” gumam Arnold sambil melihat sekelilingnya.
“Iya, mana serem-serem lagi orangnya,” ujar Clarissa.
“Hus jangan bilang begitu. Sebaiknya kita cepat pulang,” kata Aditya.
“Emangnya kak Aditya bisa bawa mobil kempes kayak begitu?”
“Kalo pelan sih bisa saja, yang penting kita menjauh dulu dari tempat ini. Nanti kita cari bengkel terdekat di jalanan.”
Arnold dan Clarissa mengendarai mobil Pandu, sedangkan Aditya mengemudikan mobil milik Arnold yang kempes. Mereka bertiga mulai pergi dari jalan yang sering digunakan balapan itu. Di sepanjang jalan tampak banyak mobil sport yang berpapasan dengan mereka.
Aditya merasa hal itu tidaklah wajar, karena tidak mungkin jalanan di sana akan seramai itu oleh banyak mobil sport tanpa alasan yang jelas. Sepanjang jalan dia terus menerka nerka kiranya apa yang membuat mobil sport sebanyak itu melintas di sana.
Tiba-tiba saja mobil yang dikemudikan Clarissa menyalakan lampu sein kiri. Ketika Aditya perhatikan tampak di sana ada bengkel yang lumayan besar dan sebuah restoran di sampingnya. Aditya memasukan mobil ke bengkel, sedangkan Clarissa dan Arnold berhenti di depan restoran.
“Kak Aditya kami tunggu di dalam ya,” teriak Clarissa.
“Oke,” jawab Aditya sambil mengacungkan jempolnya.
“Ada yang perlu saya bantu Pak?” tanya pegawai bengkel.
“Ban belakang sebelah kanan saya bocor. Saya ingin mengganti ban dalam sekaligus ban luarnya, pake yang bagus saja ya.”
“Oke Pak silahkan di tunggu,” kata pegawai bengkel sambil mulai bekerja.
Di bengkel itu tampak ada beberapa mobil sport lain yang sedang diperbaiki. Di halaman restoran juga tampak beberapa mobil sport terparkir rapi. Aditya semakin bingung, sebenarnya ada acara apa di sekitar sana sampai dia melihat banyak sekali mobil sport.
Ada sebuah mobil di tempat parkir restoran yang begitu menarik perhatiannya. Sebuah mobil sport classik berwarna hitam yang cukup indah dan terkesan mewah. Sekilas saja dia bisa memperkirakan kalau pemiliknya pasti kaya raya. tampak mobil itu juga di modifikasi dengan setelan balap.
Aditya yakin orang yang mempunyai mobil itu juga sangat menyukai balapan. Setidaknya diantara mobil yang berpapasan dengannya malam ini yang paling mahal jika ditaksir harga keseluruhannya adalah mobil hitam itu.
“Anda mau ikut balapan juga?” tanya seorang pria di sampingnya yang sedang membaca koran.
“Balapan? Nggak, saya cuma kebetulan mampir karena mobil yang saya tumpangi bocor bannya,” jawab Aditya sambil memperhatikan pria itu. Topi hitam di kepalanya membuat sebagian wajahnya tidak bisa Aditya lihat dengan jelas.
“Kebetulan? Padahal saya kira tadinya anda baru selesai balapan,” ujar pria itu sambil tersenyum.
“Memangnya kenapa Pak?”
__ADS_1
“Saya melihat ban mobil anda masih baru. Namun grip pada ban itu tampak sudah menipis, saya pikir belum lama ini ban mobil anda bergesekan dengan aspal jalanan dalam kecepatan tinggi,” jelas si pria sambil terus membaca koran.
“Oh, mata anda ternyata begitu jeli juga,” puji Aditya.
Jujur saja dia mengagumi kemampuan analisis dan kejelian mata pria bertopi hitam itu. Dia rasa pria itu cukup berpengalaman dalam hal balapan, atau setidaknya dalam bidang otomotif.
“Jadi apa anda akan ikut balapan setelah dari sini?” tanya pria itu lagi.
“Tidak, lagipula saya tidak tahu di mana akan ada balapan. Saya setelah dari sini hanya akan pulang ke rumah,” jawab Aditya.
“Sayang sekali. Padahal aku dengar hadiahnya sangatlah besar.”
“Kalau memang benar hadiahnya besar, aku yakin kesempatan menangya pun sangatlah kecil. Terutama untuk amatiran seperti saya.”
“Kalau masalah itu aku juga sependapat.”
“Jadi anda sendiri ada di sini karena ingin ikut balapan?”
“Tidak. Aku hanya ingin melihatnya saja, aku dengar ada beberapa orang menarik yang akan mengikuti balapan ini.”
“Orang menarik?”
Aditya selama ini memang pernah mendengar nama itu beberapa kali, namun dia tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan orangnya. Dia pikir jika orang seterkenal itu mengikuti balapan, maka bisa diasumsikan bahwa balapan yang di selenggarakan bukanlah balapan yang sederhana.
Kemungkinan besar anggota-anggota geng besar juga akan hadir untuk mengikuti atau menyaksikan balapan yang akan berlangsung. Jika hal itu benar maka keputusannya untuk segera meninggalkan jalanan yang biasa dijadikan arena balap sudah tepat. Mobil Arnold sudah selesai diperbaiki. Aditya membayar uang pembayarannya.
Aditya kemudian mengemudikan mobil ke tempat parkir restoran. Dia kemudian masuk ke dalam, tampak Clarissa melambaikan tangannya. Aditya pergi menghampirinya. Dia kemudian memesan beberapa makanan.
“Sudah selesai kak perbaikannya?” tanya Arnold.
“Sudah. Sehabis makan kita langsung pulang saja,” jawab Aditya.
“Tapi kok dari tadi aku lihat dari sini, kayaknya banyak sekali mobil sport yang menuju ke jalanan tadi ya?” tanya Clarissa heran.
“Yah aku dengar sih katanya mau ada balapan besar di jalanan tadi.”
“Eh. Kalau begitu gimana kalau kita nonton dulu kak?”
“Tidak boleh Ris, nanti makin malam kita pulang.”
“Yah kak Aditya nggak asik lah.”
__ADS_1
Aditya memperhatikan tamu yang ada di sekitarnya. Dia penasaran dengan pemilik mobil sport hitam classik yang ada di tempat parkir. Tapi di sana tidak ada seorang pun yang menurut Aditya memenuhi kriteria pemilik mobil itu. Mungkinkah di lantai dua atau tiga? Dia tidak bisa menebaknya.
“Oh iya, tadi aku lihat ada mobil hitam bagus loh di tempat parkir,” ujar Arnold.
“Yang mana?” tanya Clarissa. Tampaknya dia tidak memperhatikannya.
“Di depan tadi. Aku jadi ingin membelinya.”
“Ya tinggal beli saja Ar.”
“Masalahnya aku yakin ayah nggak akan setuju kalau aku membeli mobil seperti itu.”
“Kok begitu?”
“Mobil itu termasuk mobil mewah classik. Aku yakin biaya perawatannya dalam setahun bisa melebihi harganya sendiri,” sela Aditya.
“Eh, kak Aditya juga melihatnya?” tanya Clarissa agak kesal ternyata hanya dirinya yang tidak memperhatikan mobil itu.
“Tentu saja. aku yakin di Indonesia sendiri tidak banyak orang yang memiliki mobil seperti itu. karena itulah ketika melihatnya, mobil itu bisa menarik perhatian semua orang.”
“Aku jadi penasaran,” gumam Clarissa.
Aditya kemudian menjawab beberapa pertanyaan dari Arnold yang penasaran dengan kemampuan beladirinya. Dia hanya bilang jika semua itu berkat latihan yang diikutinya di kantor.
Clarissa tampak mengangguk tanda mengerti, pastinya Clarissa juga tahu bahwa bagian keamanan kantor Glow & Shine memang hebat. Bahkan tidak jarang banyak perusahaan lain yang menggunakan jasa bagian keamanan dari Glow & Shine.
Aditya juga dengar kalau Glow & Shine sendiri menerima pelatihan bagian keamanan dari perusahaan lain, mereka dilatih di sana agar menjadi lebih hebat dan bisa diandalkan oleh perusahaannya.
“Kalian jangan bilang masalah ini sama siapapun ya.”
“Loh kok gitu kak?” tanya Clarissa.
“Kalau kalian bilang pastinya orang tua kalian akan marah-marah,” jawab Aditya.
“Iya juga ya,” gumam Clarissa.
“Aku akan membantu meyakinkan orang tua kalian agar tidak dimarahi ketika pulang nanti, karena itu jangan sampai kejadian malam ini bocor kepada siapapun,” bujuk Aditya. Tampak Clarissa dan Arnold mengangguk setuju.
Arnold kemudian bangkit hendak pergi ke toilet. Tiba-tiba saja dia menabrak seorang wanita yang berpapasan dengannya. Pria di samping wanita itu tampak begitu marah. Arnold sudah meminta maaf karena berjalan sambil main ponsel. Namun pria itu tidak terima, dia kemudian menendang Arnold. Clarissa bangkit karena geram melihat kejadian itu.
BERSAMBUNG…
__ADS_1