Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 177


__ADS_3

Aditya duduk berhadapan dengan Jimmy, mereka kemudian memesan makanan setelah pelayan menghampiri. Belum mereka memulai pembicaraan pelayan tadi sudah datang kembali sambil membawa pesanan yang mereka berdua inginkan.


“Bagaimana kabar Frita saat ini Dit?” tanya Jimmy.


“Memangnya pak Jimmy nggak chattingan sama Mbak Frita?” Aditya malah balik bertanya.


“Kalau nggak ada urusan penting rasanya nggak enak kalau tiba-tiba ngechat dia tiba-tiba,” jawab Jimmy.


“Harusnya nggak masalah dong pak. Lagipula Mbak Frita juga nggak mungkin tiba-tiba marah.”


“Nanti akan aku coba deh. BTW kamu ada info baru nggak perihal Frita?”


“Saat ini sih belum pak, sudah hampir semuanya kan saya sudah ceritakan kepada pak Jimmy.”


“Begitu ya, kamu mau nggak membantuku memberi kejutan kepadanya di kantor nanti?”


“Duh, saya kasih tahu ya pak. Sebenarnya Mbak Frita itu paling serius kalau masalah pekerjaan. Dia paling nggak suka kalau ada orang yang tiba-tiba mengganggunya saat berada di kantor apalagi orang yang belum terlalu dekat dengannya.”


“Dia bakalan marah?”


“Marah sih nggak mungkin pak tapi nantinya kesan Mbak Frita akan buruk kepada orang itu.”


“Untung aku belum melakukannya, bahaya nanti. Oh iya menurutmu ada pria lain nggak yang sudah dekat dengan Frita?”


“Lumayan banyak sih pak. Namanya juga wanita cantik pak jadi saingannya juga pasti banyak, mungkin nanti hasil akhirnya malah diluar dugaan,” ujar Aditya sambil tersenyum.


“Maksudnya?”


“Ya maksudnya nanti nggak tahu siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Soalnya melihat orang yang menginginkannya juga banyak jadi susah untuk melihat siapa yang memang disukai oleh Mbak Frita.”


“Benar juga, masuk akal memang semua yang kamu katakan. Kamu ada saran nggak biar aku makin dekat sama Frita?”


“Menurut saya sih langkah pertamanya pak Jimmy harus sering berkomunikasi dulu sama Mbak Frita biar makin dekat. Lama kelamaan juga pasti akan semakin akrab. Nah kalau sudah akrab banget baru pak Jimmy bisa lanjut ke langkah berikutnya.”


“Kamu keren juga ternyata, kayak sudah berpengalaman banget kamu Dit,” kata Jimmy sambil tertawa.


“Kebetulan saya sering searching masalah seperti itu diinternet pak,” jawab Aditya sambil minum. Tanpa terasa makanan mereka sudah habis. Walau begitu tidak ada tanda-tanda Jimmy ingin berhenti mengobrol. Kelihatannya Jimmy sudah sangat percaya kepadanya. Tiba-tiba ada empat orang datang menghampiri meja mereka.

__ADS_1


“Kebetulan kita berjumpa di sini pria brengsek,” sapa Diaz sambil bertolak pinggang. Tapi Aditya tidak menoleh sedikitpun. Malah Jimmy yang menoleh dengan raut wajah kesal.


“Lu ngomong gitu ke gue?” tanya Jimmy.


“Eh bukan pak maaf, maksud saya pengemis ini,” jawab Diaz malu sambil menunjuk Aditya.


“Memangnya kalian punya masalah apa sih?” tanya Jimmy.


“Saya yakin pak nih dia ini dalang yang waktu itu menghadang saya lalu menculik Frita!” tegas Diaz sambil menunjuk Aditya.


“Lah ini orangnya Di?” tanya teman Diaz.


“Iya.”


“Harusnya kasih dia pelajaran biar dia kapok!”


“Hajar aja sampe mampus!”


“Bakar lalu buang ke sumur!” ujar teman-teman Diaz mulai memperkeruh suasana.


“Seharusnya orang seperti dia dikurung di penjara Pak. Jangan dibiarin nanti makin banyak yang jadi korban,” kata seorang teman Diaz sambil menatap Jimmy.


“Buktinya kan bisa polisi buat, biayanya berapa sih?” tanya teman Diaz sambil mengeluarkan dompet namun tangannya di tahan oleh Diaz.


“Jangan macem-macem dia nggak seperti itu,” bisik Diaz.


“Kalau kalian mencoba menyuapku setidaknya lakukan dengan lebih sopan!” tegas Jimmy..


“Maaf pak.”


“Eh lu ngaku nggak!” bentak teman Diaz yang lain sambil menarik kerah baju Aditya hingga berdiri.


“Ngaku lu bangsat!” bentak yang lain ikut mendekat.


“Bajingan juga ni orang. Mukanya ngeselin banget!” ujar yang lain sambil menghajar Aditya. dua teman Diaz yang lain juga ikut menghajar Aditya. Jimmy ikut bangkit dia merasa keberadaannya tidak dianggap sama sekali oleh anak-anak orang kaya itu.


“Jangan hajar dia! Habisi saja!” bentak Diaz sambil ikut menendang Aditya. para pegawai café mulai khawatir namun mereka tidak bisa apa-apa.

__ADS_1


“Dasar keturunan pengemis emang!” ledek Diaz sambil meninju Aditya tapi tinjunya berhasil di tangkap.


Jimmy yang menyaksikan kejadian itu sangat terkejut. Bahkan Diaz dan teman-temannya juga ketakutan melihat raut wajah Aditya yang marah. Bukan hanya mereka ternyata yang merasakan hal itu, hampir semua tamu dan pegawai café tampak terdiam.


“Lu jangan coba-coba menghina orang tua gue!” bentak Aditya. satu pukulan keras mendarat di wajah Diaz hingga keluar darah dari hidung dan mulutnya.


“Kalau kalian ingin cari masalah bilang saja! Jangan bawa-bawa orang tua gue apalagi sampai menghina mereka!” bentak Aditya sambil menghajar tiga teman Diaz hingga terkapar kesakitan, padahal Aditya hanya menggunakan sedikit dari tenaganya dengan alasan adanya Jimmy.


“Kalau begini harusnya dia dipenjara kan pak?” rengek Diaz sambil memegang kaki Jimmy.


“Ya kalian berlima akan dipenjara!” tegas Jimmy sambil menatap Aditya.


“Saya tidak keberatan,” ucap Aditya. Jimmy kemudian menelepon anak buahnya untuk membawa mereka berlima ke kantor polisi termasuk kendaraan Diaz dan kawan kawannya.


Tak lama kemudian datang mobil polisi untuk mengangkut narapidana. Aditya, Diaz dan tiga temannya diborgol oleh polisi. Mereka dibawa ke kantor polisi sesuai dengan perintah Jimmy. Mobil yang dibawa Diaz dan rekan rekannya juga ikut dibawa.


Setelah sampai di kantor polisi Arya terlihat terkejut karena Jimmy membawa Aditya beserta empat orang lainnya ke kantor dengan tangan terborgol. Mereka kemudian duduk untuk diminta keterangan oleh Jimmy dan Arya.


“Seperti yang kalian tahu kalian ditangkap karena berbuat kegaduhan di ruang public. Kalian juga berkelahi di café milik orang lain dan mengganggu kenyamanan para tamu,” ujar Jimmy.


“Tapi harusnya si brengsek itu doang yang di tangkap pak,” bantah Diaz.


“Iya pak masa kami juga ikut ditangkap.”


“Bapak butuh berapa untuk membebaskan saya?”


“Bilang saja berapa dolar pak,” timpal Diaz.


“Ini bukan masalah uang! Ingat kalian yang telah memulai perkara ini, kalian juga yang menghajarnya duluan. Besok kalian akan diadili di persidangan oleh hakim!” tegas Jimmy.


“Bawa mereka!” perintah Jimmy. Mereka berlima kemudian di bawa menuju sel tahanan.


“Apa maksud ini semua Jim?” tanya Arya sambil keheranan.


“Seperti yang kamu dengar tadi,” jawab Jimmy sambil menceritakan semua kejadian yang sudah terjadi di café tadi.


Arya hanya mengangguk saja menanggapinya. Namun dia merasa kalau Aditya memang sengaja melakukan hal itu dengan tujuan tertentu. Arya perlahan menatap Aditya dari kejauhan. Aditya hanya tersenyum melihat sikap Arya seperti itu. Dia memang sengaja melakukan hal itu dengan sebuah tujuan yang pasti.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2