Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 191


__ADS_3

Aditya diturunkan dengan kasar oleh anak buah Si Tua Leo. Ia baru tahu di mana mereka berada malam itu setelah ikatan bandana pada kedua matanya dicopot. Bandara. Ya, mereka sedang berada di bandara pribadi milik Leo Kurniawan.


Si Tua Leo berujar, “Gue kira loe gak setenang ini. Seharusnya loe bertanya-tanya di kota mana kita dipenjara, bukan? Dan loe seharusnya heran kenapa kita pergi ke sini malam ini? Tempat macam apa ini sih?”


“Ini bandara pribadi milik Anda, Pak Tua. Saya tahu itu.”


“Oh, ya? Apa lagi yang loe tahu, Bangsat?” kata Si Tua Leo dengan geram. Lantas memberi isyarat pada anak buahnya untuk membuka pintu sebuah gedung yang berada di bagian timur bandara itu.


Mereka berjalan beriringan ke arah gedung itu. Karena Aditya tidak juga menjawab pertanyaannya, Si Tua Leo yang berjalan paling depan kembali berkata, “Apa yang loe tahu, heh?!”


“Amy Aurora bukanlah wanita sembarangan, meski saya mengenalnya dengan cara lain,” jawab Aditya.


“Ya? Teruskan!”


“Amy Aurora punya nama besar di kalangan para penyelundup Thailand. Jujur saja saya gak terlalu tahu siapa dia sebenarnya, tapi kami sempat tidur berkali-kali dan dia meminta bayaran pada saya untuk itu.”


“Untuk apa?”


“Untuk menemani saya tidur.”


“Ya, gue dengar tentang ‘cewek misterius’ itu di Thailand,” kata Si Tua Leo sambil menatap ragu pada Aditya. Sepertinya Amy bukan sesuatu yang baru bagi Leo, hanya saja ia tak tahu pasti siapa Amy. Wanita itu benar-benar misterius.


“Apa tugas Amy itu?”


“Saya juga kurang begitu tahu, tapi kabarnya tidak ada penyelundupan yang dapat disahkan tanpa campur tangan dia,” jawab Aditya.


“Hmm .... menarik juga. Amy Aurora, kata loe?”


“Ya, Amy Aurora. Itulah namanya,” ujar Aditya.


“Apa untungnya buat gue soal Amy Aurora ini, ha?! Kenapa gue harus menolong loe hanya karena si Aurora ini?!”


“Saya kira hanya dia yang bisa membantu Anda nanti, apa pun tujuan Anda,” tukas Aditya sambil memikirkan kemungkinan yang bakal dia hadapi nanti. Karena dia tahu pembajakan mobil lapis baja para napi itu jelas bukan bagian dari rencana Komandan Malik.


“Oh, ya? Jangan terlalu pede loe!” ledek Si Tua Leo.


Saat itu mereka sudah akan memasuki gedung yang tampak seperti kantor biasa di sudut bandara pribadi itu.


Si Tua Leo ngedumel tentang pilotnya yang terluka malam ini karena adu tembak dengan polisi tadi. Ia harus menunggu pilot lain yang saat ini masih dalam perjalanan.

__ADS_1


“Nah, selagi kita menunggu, baiknya loe cari tahu siapa Aditya bangsat ini,” bisik Si Tua Leo pada salah satu anak buahnya.


Anah buah itu mengangguk dan pergi ke ruangan lain, sementara Si Tua Leo dan Aditya serta sebagian besar anak buahnya beristirahat sejenak di semacam aula dalam gedung itu.


Tak berapa lama, seorang pelayan datang menyajikan mie ayam kegemaran Leo. Ia juga menyajikan itu untuk Aditya.


“Loe makan dulu sana! Gue yakin yang bakal terjadi nanti menyulitkan loe. Paling tidak gue jadi tuan rumah yang baik sebelum loe mati,” kata Si Tua Leo pada Aditya.


Lalu mereka berdua makan menggunakan sumpit, dengan diiringi tatapan para anak buah Leo pada Aditya.


Aditya sudah bersiap sejak awal. Ia tak membiarkan siapa pun melukai dirinya. Maka, meski ia juga menikmati mie ayam itu, ekor matanya tetap mengawasi tiap titik di mana anak buah Si Tua Leo berdiri.


Aditya jelas tahu tadi Si Tua Leo menyuruh seorang anak buahnya berbuat sesuatu yang entah apa, tapi mungkin itu berkaitan dengannya. Ke mana anak buah yang satu itu sih? Batin Aditya terus bertanya-tanya.


Ketika si anak buah yang sempat menghilang ke ruangan lain tadi kembali sepuluh menit kemudian, Aditya sudah tahu nyawanya berada di ujung tanduk.


Anak buah itu berbisik pada si Tua Leo yang masih menikmati mie ayamnya. Lalu penjahat tua itu menatap mata Aditya dengan geram.


“Rupanya loe bukan pembunuh bayaran biasa, ya?” katanya dengan suara yang seolah siap menelan anak kecil. Terlihat betul betapa murka wajah Si Tua Leo.


Aditya menghela napas lega mendengar itu. Pembunuh bayaran. Ya, itulah peran yang ia mainkan untuk misi kali ini. Setidaknya Komandan Malik bekerja dengan baik bersama tim IT mereka, untuk mengubah identitas asli Aditya di internet.


Aditya merinding membayangkan apa yang bakal terjadi jika si anak buah tersebut justru menemukan dia termasuk dari pasukan khusus yang ditugaskan untuk misi-misi tingkat tinggi. Kalau itu yang terjadi, misi tingkat-S kali ini dipastikan gagal.


“Oh, jelas masalah! Loe pernah bekerja sama dengan pemerintah untuk menghabisi pimpinan geng di Bandung. Asal loe tahu, orang-orang yang loe bantai di situ sebagian besar sobat karib gue di masa lalu!”


“Saya cuma bekerja dan saya bisa bekerja untuk siapa pun,” tukas Aditya dengan tenang.


Si Tua Leo tetap saja terlihat tidak senang, lalu menyuruh para anak buahnya untuk menyerang Aditya.


Namun Aditya terlihat lebih siap, karena berhitung sejak awal; ia bisa menangkis tendangan dan terjangan dari beberapa anak buah Si Tua Leo dari arah belakang dan sampingnya.


“Bangsat!” pekik anak buah yang bertubuh paling kekar. Dia ambruk setelah bola matanya ditusuk sumpit milik Aditya.


“Heh, sini loe! Maju sini!” kata seorang bertato iblis di bagian lehernya.


Aditya maju menghantam jidat orang itu hingga ambruk dan menusuk lehernya dengan sumpit yang sama. Darah berceceran di sana sini hanya akibat sumpit yang bisa Aditya gunakan sebagai senjata.


Hal yang sama terjadi pada tiga orang berikutnya yang mengepung Aditya dalam formasi lingkaran. Mereka membawa samurai di tangan masing-masing. Lucu sekali sebab samurai itu sama sekali tak berguna. Kalah oleh sumpit yang masih berada dalam genggaman tangan Aditya.

__ADS_1


Dua orang berikutnya mencoba menghabisi Aditya dengan senapan serbu, namun mereka lebih dulu binasa. Aditya berhasil melempar sumpit itu sedemikian rupa sampai menusuk tenggorokan salah satu dari mereka, lalu dengan gesit ia lompat dan merebut senapan dari orang kedua dan menembak kepalanya.


Si Tua Leo tak menyangka itu. Kurang dari semenit, tujuh anak buahnya tumbang dan kemungkinan besar mereka yang ditusuk sumpit sudah mati kehabisan darah saat nanti pilotnya tiba di tempat ini.


“Brengsek loe!” kata Si Tua Leo dengan suara menggeram rendah.


Para anak buahnya yang tersisa terlihat ketakutan dan tak yakin untuk menyerang Aditya. Tentu saja Aditya dengan senang hati menghabisi mereka semua jika itu yang si Tua Leo inginkan.


Hanya saja, Aditya tahu ini saatnya dia harus berhenti.


“Saya yakin kita bisa bekerja sama, Pak,” kata Aditya melemparkan senapan serbu tadi ke lantai dan mengangkat kedua tangannya.


“Apa maksud loe, Bocah Tengik?!”


“Saya kira yang barusan saya kalahin orang-orang terbaik Anda bukan? Nah, biar saya yang menggantikan tugas mereka. Anda gak perlu membayar banyak orang. Anda tahu kemampuan saya lebih hebat dari tujuh pembunuh terbaik Anda.”


Si Tua Leo terlihat mulai mengendalikan diri begitu menatap wajah Aditya yang seperti memohon sesuatu padanya. “Kerjasama? Apa yang bisa gue harapin dari orang yang sudah membunuh para anak buah kesayangan gue?”


“Bayaran hanya untuk satu orang, dan yang terpenting soal Amy Aurora. Saya bisa memperkenalkan kalian berdua.”


“Loe tahu Thailand sudah seperti sarang buat gue, kan? Gak ada yang bisa berbuat macam-macam di sana.”


“Ya, saya tahu, tapi Anda belum mengenal Amy Aurora. Bagaimana mungkin raja mafia yang menguasai sebagian Thailand justru tidak kenal siapa itu Amy Aurora?”


Si Tua Leo tak bisa berkata apa-apa lagi. Aditya menjanjikan kesetiaan padanya. Ia pun bersedia mempekerjakan Aditya sebagai pembunuh bayaran baru. Dan ia tentu akan lebih siap dari saat ini jika pemuda sial itu mencoba macam-macam.


Maka, setelah pilot mereka datang, rombongan yang kini terlihat lebih sedikit itu berjalan ke luar.


Hanya saja, pilot itu berkata, “Kita tidak bisa terbang malam ini, Tuan.”


“Kenapa?!” tanya Si Tua Leo geram.


“Interpol dan militer menunggu di bandara pribadi Tuan di Thailand sejak sejam yang lalu.”


Dengan kesal, Si Tua Leo menembak kepala pilotnya saat itu juga karena dianggap lamban. Mereka lalu menumpang mobil yang sama untuk menuju ke pelabuhan. Di sana si Tua Leo memerintahkan orang kepercayaannya menyiapkan kapal barang untuknya kabur.


“Bajingan-bajingan itu nggak tahu gue punya orang lebih hebat di pelabuhan,” kata Si Tua Leo pada Aditya.


Aditya tak berkata apa-apa. Ia tahu pasti keadaan ini sebagai imbas dari kegagalan Malik mengatur penyerbuan pada mobil lapis baja mereka. Kini tentara dan polisi jelas panik dan berusaha memburu Leo Kurniawan sebelum meninggalkan perbatasan negeri.

__ADS_1


Tapi ia tahu apa yang mesti dilakukan. Nancy dan Rudi pasti saat ini sudah berada dalam pesawat menuju ke Thailand, menunggu kedatangannya bersama rombongan Si Tua Leo.


Bersambung....


__ADS_2